Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Rahasia suamiku


__ADS_3

Tubuhku gemetar dan langsung menundukan pandangan saat mata tajam itu menelisik menatapku. Ia seperti memindaiku dari atas sampai bawah. Takut banget, sumpah. Takut ditanya hal-hal yang tidak bisa kujawab.


Nggak semua mertua itu jahat kan? Tapi ...


"Kamu anak kecil, kenapa mau sama anak saya yang sudah berkepala tiga?" Akhirnya wanita middle age itu bertanya setelah sempat bergeming dan hanya menatapku cukup lama.


Pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan oleh Rara saat itu--saat dimana hari berlangsungnya pernikahanku.


Apakah aku juga harus memberi jawaban sama dengan yang waktu itu aku katakan? Tapi sepertinya akan berdampak negatif, karena yang bertanya kali ini ialah seorang wanita yang berstatus sebagai mertuaku. Akan sangat kacau jika aku mengeluarkan sikap bar-barku diawal pertemuan ini.


"Kak Nada bilang ..."


Ra, plis ...


Drrttt....


Pyuh! Selamat. Hampir saja aku mati kutu karena takut Rara akan mengadukan jawabanku waktu itu, pada Nyonya Veronika. Rara harus pergi sebentar untuk menjawab panggilan seseorang yang tadi menelponnya.


"Aku--"


"Kata Kak Gibran, dia akan segera pulang," kata Rara usai menutup telponnya. Dia berjalan, dan kembali duduk di tempat semula.


"Sayang, nggak sopan kamu motong pembicaraan!" Nyonya Veronika mengingatkan.


Eh, wait! Beliau kan mertuaku, masa aku harus manggilnya Nyonya terus. Oke, sebagai bentuk penghormatanku pada sang suami, aku panggil Mama saja. Bodo amat mau diaku apa nggak.


"Maaf, Ma." Rara menunduk.


Kemudian, Mama kembali mengalihkan pandangan ke arahku.


"Lanjutkan!" titah Mama.


"Aku menyukai Mas Gibran."


"Terus?"


Dahiku mengernyit.


"Terus?" Bingung, aku malah balik bertanya.


"Selain alasan itu."


"Hmmm ..."

__ADS_1


"Sudah saya duga, kamu masih labil. Alasan nikah saja tidak tahu. Bagaimana nanti kamu mengurus suamimu? Anak-anak kalian kelak? Sanggup? Nggak takut babby blues?"


Lha, timbang tidak tahu alasan nikah saja dibilang labil. Dan andai Mama tahu saja, pernikahan aku dan Mas Gibran ini terjadi karena sebuah accident.


Walau pun memang aku menyukai anakmu, tapi bukan berarti accident itu membuatku senang karena bisa bersatu dengan Mas Gibran. Tidak sepenuhnya. Karena bagaimana pun ... ah sudahlah, percuma juga. Manusia nggak bakal ngerti kalau tidak merasakan sendiri.


"Aku akan belajar."


Mama mendengkus.


"Apa menurutmu--"


Ucapan Mam terpotong oleh sebuah suara pintu utama yang tiba-tiba terbuka. Kita bertiga sontak berdiri saat mengetahui siapa yang datang.


"Selamat siang, Nyonya Veronika!" Mas Gibran pulang tepat dijam satu siang. Entah apa yang membuat lelaki dingin itu bolos kerja hingga pulang seenak jidatnya.


Lelaki bertubuh tinggi tegap itu berjalan gagah dengan raut yang tidak menyenangkan---ke arah tiga wanita yang sedang berdiri berjejeran di depan sofa tamu.


Kala tiba di hadapan, aku melihat ada yang berbeda dari ekspresi Mas Gibran saat ia menatap Mamanya. Seperti ada luka besar yang bersembunyi di balik raga kokoh juga tampang tegarnya.


"Gibran, kamu sudah pulang?" Mama terlihat takut saat menanyakan itu.


"Ada perlu apa Mama datang kemari?"


Dan sungguh Mas Gibrang sangat ahli dalam merubah raut wajah. Hanya dengan beberapa detik saja dia kembali datar dan dingin setelah menampakan raut tak biasa pada Mamanya itu.


"Mama mau menginap di sini selama dua minggu. Apa kau keberatan, putraku?"


"Tidak. Menginaplah sepuasnya. Karena besok aku akan pergi ke kota Tangerang bersama istriku."


Lho, kok besok? Bukan kah aku mintanya minggu depan. Harusnya masih ada sisa lima hari lagi untuk sampai ke hari sabtu.


"Mengunjungi mertuamu?"


"Benar."


Aish, kedua orang ini. Ternyata bukan sikapnya saja yang dingin dan datar. Tapi obrolon mereka berdua pun terdengar kaku dan hambar layaknya dua orang asing yang baru saling kenal. Wat hepen, sih? Aku jadi curiga.


***


"Jika kamu tak menuruti permintaan Mama kali ini, Mama tidak akan segan memberitahu semua rahasia tentangmu pada istri bocahmu itu."


Langkahku terhenti mendengar kata-kata itu. Kutarik kembali tangan yang hampir menyentuh handle pintu yang sebelumnya sudah sedikit terbuka.

__ADS_1


Aku memilih mematung di depan pintu guna mencuri dengar percakapan ibu dengan anak lelaki yang tak lain suamiku.


"Ancaman Mama tidak akan mempan untukku." Mas Gibran bicara dengan penuh penekanan.


"Kau yakin?"


"Of course."


"Kau yakin Nada tidak akan meninggalkanmu saat tahu bahwa lelaki yang dicintainya ternyata anak hasil hubungan gelap dari seorang milliyarder ternama dengan wanita simpanan-nya?"


Deg!


Simpanan? Apa itu artinya Mas Gibran anak yang terlahir dari pernikahan tidak sah?


"Cih! Akhirnya Mama mengakui itu. Mengakui bahwa Mama menjadi pihak ke tiga diantara hubungan Papa dengan istri pertamanya."


"Kau yakin istri kecilmu itu tidak akan membencimu saat tahu bahwa suami yang begitu didambakannya memiliki seorang anak dari rahim perempuan bayaran?"


Jguar ...!!


Duniaku seolah runtuh. Ribuan belati menusuk terlalu dalam tepat di jantung hatiku. Membuatnya hancur berkeping-keping dan berantakan.


Kepalaku berputar hingga penglihatanku mulai mengabur. Aku tidak bisa fokus lagi mencuri dengar percakapan dua orang yang berada di dalam ruang kerja Mas Gibran. Kututup perlahan pintu yang sedikit terbuka itu.


Kutegakan tubuh dengan tatapan lurus ke depan. Bibirku bergetar, lidahku pun terasa kelu hingga tak bisa mengeluarkan suara meski hanya sepatah kata. Sel-sel dalam tubuhku seolah terlepas dari raga. Lemah tak berdaya. Bahkan kini aku tak bisa berdiri di atas kakiku sendiri.


Hampir saja gelas yang berada di tanganku ini terjatuh bersamaan dengan tubuhku yang merosot di belakang pintu saat mendengar pengakuan mengejutkan dari seorang wanita yang belum 24 jam berada di rumah ini.


Dadaku terasa sesak bagai dihimpit oleh bebatuan besar yang sangat menyakitkan. Lalu, tetes demi tetes air mata jatuh tepat ke dalam gelas berisi kopi hitam yang kubuat untuk Mas Gibran.


Ternyata, wanita yang kusebut Mama itu tak hanya datang seorang diri. Akan tetapi dia membawa segenggam ungkapan yang berhasil membuatku nyaris kehilangan kewarasan saat mengetahuinya.


Tuhan, mengapa kisahku semenyakitkan ini?


Bahuku mulai berguncang seiring derasnya air mata yang terus mengalir di pipi. Lalu, kugigit bibir bawah demi tidak mengeluarkan jerit tangis agar kedua orang yang berada di dalam itu tidak mengetahui keberadaanku.


Setelah ini, aku akan berpura-pura tidak tahu, dan bersikap sewajarnya, lalu secara perlahan menjauh dari kehidupan mereka.


Cukup sudah semua dibutakan oleh cinta.


Aku akan melepasmu Mas Gibran. Aku akan membiarkanmu terbang bebas dan hinggap di bunga mana pun yang kau mau dan ingini. Tidak ada alasan lagi untukku bertahan bersamamu. Semua tak lebih dari sekedar luka. Luka yang kau gores dengan begitu manis ke dalam hatiku.


Untuk Nyonya Veronika, terima kasih sudah datang dan memberitahu semua rahasia itu padaku.

__ADS_1


__ADS_2