
Ternyata gadis cantik yang menemaniku akad itu adiknya Om Gibran. Pantas saja wajah mereka mirip. Dan saat ini aku sedang bersama dia, ipar cantik yang sudah kuanggap juga sebagai besti karena usia yang hanya terpaut satu tahun. Rara namanya.
Rara duduk di bibir ranjang sambil terus mengomentari hubungan asmaraku dengan Kakaknya. Sesekali dia menyelipkan tawa kecil karena dirasa lucu.
Sedangkan aku duduk di depan cermin rias sembari mengahapus riasan wajah dan melepas kebaya yang mulai terasa pengap di badan.
"Aku tidak menyangka punya Kakak ipar seumuran denganku." Dia kembali berkomentar.
"Aku juga tidak mengerti bagaimana kalian bisa menyatu sementara Kak Gibran belum lama cerai dari Mbak Nilam." Layaknya kereta, tuh mulut laju saja kalau belum sampe ke tujuan.
"Rara, sudahi dulu bicaramu! Lebih baik bantu aku melepas ini." Melihatku kesulitan membuka kebaya bukannya membantu dia malah asyik berceloteh.
Sifat gadis itu benar-benar bertolak belakang dengan Kakaknya yang dingin. Dari selesai acara sampai saat ini betah sekali dia bicara panjang lebar.
"Btw, kenapa kamu bisa menikah dengan lelaki yang usianya terpaut jauh denganmu?" tanya Rara sambil membantuku melepas resleting belakang.
"Ya, kalau cowoknya tampan dan tajir kenapa nggak?"
"Astaga! Kau ini jujur sekali." Dia terkekeh dan menatapku dari cermin.
"Hahaha. Kau pun begitu juga, kan?"
"Tapi aku tidak suka lelaki tua."
"Siapa yang tua?"
"Ups! Orang yang sedang kita bicarakan datang," bisiknya di telingaku.
Dari pantulan kaca, aku tertawa kecil melihat ekspresi Rara seperti seorang murid ketahuan nakal oleh gurunya. Kayaknya bentar lagi akan ada pertarungan live antara kakak vs adek.
"Maksudku aku tidak suka laki-laki tua yang galak." Rara meralat ucapannya.
"Siapa laki-laki tua galak yang kau maksud?"
"Iya Kak Gibran lah. Ups!" Dengan cepat Rara membekap mulutnya sendiri. Aku seperti melihat diriku dalam diri Rara. Suka bicara lemes tanpa aling-aling. Seneng bet punya ipar kayak dia. Yes! Akhirnya aku punya partner buat ngerjain Om Gibran.
"Keluar, kamu!"
"Kakak mau ngapain?"
"Mau bersenang-senang sebagai pengantin baru."
"Memangnya Kakak tidak ke kantor? Lagian ini juga masih siang."
__ADS_1
"Jangan banyak tanya. Keluarlah!"
Rara melipat kedua tangan di dada dengan bibir maju beberapa senti, lalu keluar dari kamar dengan mengentakkan kaki. Dan tinggalah kita berdua. Aku dengan Om duda nyebelin. Eh, ralat ding. Dia kan sudah jadi suamiku.
"Om mau ngapain?" Aku beringsut mundur sambil mengeratkan handuk yang kupakai saat melihat Om Gibran melangkah ke arahku sembari melepas jas dan kemejanya.
"Saya akan menjawab pertanyaanmu dengan tindakan." Dia mulai melepas kemeja dan melonggarkan sabuk celana.
Perut six pack-nya terpampang nyata di hadapan. Membuatku susah payah menelan salivan.
Usai menanggalkan pakaian, Om Gibran mengangkat tubuhku dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu mengunci tubuhku di dinding membuatku tidak bisa berontak lagi.
Srrrr.... bunyi air dari shower berhasil menyamarkan suara-suara luck-nut yang kami ciptakan di bawah guyuran air.
***
"Aku tidak menyangka Kak Gibran bakal seganas itu sama bocah seperti kamu."
Karena melihat banyak tanda merah di leherku, Rara jadi membahas itu. Padahal yang dia lihat hanya di bagian leher saja. Aku tidak tahu akan segimana syoknya dia kalau aku perlihatkan di bagian lain yang tentunya ada lebih banyak stempel merah cap bibir Kakaknya.
"Ck! Kamu juga bocah. Dan menurutku hal itu wajar-wajar saja bagi suami istri." Bohong. Sebenarnya pun aku setuju dengan ucapan Rara. Bagaimana bisa Om Gibran tega 'mengha-jarku' tanpa ampun selama berjam-jam. Basah-basahan pula. Untung aku nggak kena flu.
"Ya, kan, kalo aku belum jadi istri. Dan asal kamu tahu saja, yah. Pas Kak Gibran masih sama Mbak Nilam kayaknya nggak gitu-gitu amat deh."
"Memangnya kamu tahu urusan ranjang mereka?"
"Hehe. Aku lupa kalau sedang berada di tempat umum." Mataku bergerak ke sana kemari memastikan bahwa orang-orang pada sibuk dengan urusannya dan tak mendengar obrolan kami.
Malam ini, atas izin dari Pak suami aku pergi ke supermarket ditemani adik ipar. Rencananya aku akan membeli kebutuhan dapur untuk stok satu bulan ke depan.
Rara dengan patuh kusuruh dorong troli. Sementara aku memilih dan mengambil apa saja yang memang dibutuhkan.
Mumpung lagi sama Rara, aku ingin menanyakan hal-hal yang belum dan harus kuketahui. Ibu mertua contohnya.
"Eh, Ra, aku boleh tanya sesuatu nggak?" Aku bertanya sambil memasukan dua botol saus sambal pilihanku ke dalam troli yang di dorong Rara.
"Apa? Tentang Kak Gibran?"
"Salah satunya."
"Tanya saja."
"Tapi kamu harus jawab jujur, yah."
__ADS_1
"Hm."
"Dan ceritakan sedetail-detailnya."
"Siap, Kakak ipar!"
Aku tertawa melihat Rara merentetkan empat jarinya di dahi. Baru kali ini aku kenal sama orang langsung akrab begini.
Ekhem!
Mau mulai pertanyaan, tapi kok aku rada bingung yah. Mau manggil Kakaknya Rara apa. Kalo Om, dia kan sudah resmi jadi suamiku. Mas, kayaknya nggak banget deh. Ayang, terlalu alay. Abang, dikira tukang ojeg kali. Kak Gibran, lha emangnya dia kakak aku apa. Jadi? Oke kupanggil seenaknya saja. Senyamannya lidahku mau manggil dia apa.
"Kalau sarapan, biasanya Kakak kamu suka makan apa?"
"Apapun yang bisa dimakan."
"Serius dong, Ra. Kamu sudah janji lho mau jawab jujur."
"Beneran. Kak Gibran itu nggak ribet soal makanan. Sekalipun dia lagi ingin makanan sesuatu, kalo misal yang dimasak bukan itu, pasti dia makan juga kok." Rara menjelaskan dengan tangan ikut bergerak layaknya guru sedang menerangkan pelajaran dalam kelas.
"Tapi yang paling dia suka apa?"
"Hmmm. Nasi ketan."
"Nasi ketan?!"
"Iya. Dulu kalo di rumah Mama, Kak Gibran suka banget di masakin nasi ketan. Buatnya juga nggak ribet. Kayak masak nasi biasa, udah. Paling kasih parutan kelapa buat toping."
Aku manggut-manggut mengingat jawaban Rara. Sambil terus bertanya, kubelokan kaki menuju kelompok sayur dan buahan. Sementara Rara mengekor di belakang dengan trolinya.
Dari vlog yang aku tonton di aplikasi merah, orang yang berbelanja bulanan akan membeli dua atau tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya.
Maka dari itu aku membeli banyak sekali berbagai jenis buah dan sayuran. Masing-masing buah mungkin ada sekitar dua atau tiga kilo-an. Sedangkan sayur, aku memilih tiga ikat bayam, dua ikat kangkung, segumpal sawi putih, dan dua kilo terong ungu.
Setelahnya, aku membeli ikan yang terdiri dari udang besar, dua kilo ayam, lobster, dan bayi gurita. Lalu, aku juga membeli makanan siap saji seperti pop mie, mie instan, nuget, sosis dan pentol bakso.
Kemudian, karena aku suka banget ngemil, aku membeli banyak cemilan makanan ringan dan berat untuk stokku selama satu bulan, kalau cukup. Kalau nggak, ya beli lagi.
Semoga saja aku tidak salah membeli. Masalah bayar, Om Gibran sudah memberiku kartu yang katanya berisi banyak duit di dalamnya dan bisa membeli apa saja termasuk seisi supermarket ples pegawainya. Fix, pulang dari sini harus mampir ke mall buat belanja baju.
Rara terbengong-bengong melihat betapa banyak dan menumpuknya belanjaan yang kubeli.
"Kak, ini mau masak buat hajatan apa gimana?" tanya Rara dengan mata membulat.
__ADS_1
"Sudah kamu diam saja. Aku next pertanyaanku tadi, yah." Kulihat Rara masih menggeleng-gelengkan kepala seraya menatap takjub isi troli yang sudah menggunung.
"Kak Gibran pasti kaget melihat ini," gumamnya kemudian masih dengan mata melongo.