Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Unboxing


__ADS_3

"Bikin ulah apalagi kamu?!"


Aku mengerucutkan bibir mendengar itu. Sebuah pertanyaan yang lebih pantas disebut dengan cibiran. Lihat istrinya terluka bukannya obatin malah mengintrupsi begitu.


Di belakang Om Gibran berdiri, ada Om Vino yang terlihat menahan tawa.


"Kakak ipar mau latihan jadi pembalap, Kak," jawab Rara sembari meneteskan obat merah di lututku yang terluka. Lalu menutupnya dengan plester.


"Bukan nanya kamu." tukas Om Gibran tanpa memutus tatapan tajamnya dariku. Ya ampun, galak banget sih nih orang. Jual suami di tokped dosa nggak, sih?


"Aku cuma belajar motor, nggak aneh-aneh!" sahutku tanpa menatap ke arahnya. Sebel banget tiap hari disuguhi muka jutek. Untung cakep.


Siang tadi sekitar jam setengah tiga, aku meminta Rara untuk mengajariku nyetir motor. Awal-awal sih lancar. Dan nggak sesulit yang kubayangkan. Udah pernah juga.


Apesnya itu saat Rara melepasku nyetir sendiri, tiba-tiba saja ada seseibu melintas dengan pasukan bebeknya. Membuatku oleng hingga akhirnya nyungsep di semak-semak berlumpur. Jadilah mukaku cemong.


Si Rara ngakak banget ngelihat kejadian itu. Karena kesal, aku pun menarik tangan Rara agar ikut terjun ke semak seperti yang kualami. Alhasil bukan hanya aku yang mukanya kaya badut, tapi Rara juga. Impas, kan? Satu sama.


"Vin, anter Rara pulang."


Belum sempat Om Vino bergerak, Rara sudah lebih dulu membuka mulutnya.


"Nggak mau! Aku masih mau nginep di sini."


"Kalau gitu jangan ikut petakilan kayak Kakak ipar tengilmu itu!"


"Aku, kan, emang dari dulu suka petakilan, Kak."


Hampir saja aku menyemburkan tawa kalau tidak melihat ekspresi yang ditunjukkan Om Gibran. Pun dengan Om Vino. Bibir lelaki itu berkedut seperti ingin meledakkan suaranya. Tak kusangka si Rara polos juga ternyata.


"Masuk kamar!" titah Om Gibran seraya memijat pangkal hidungnya. Mungkin dia mulai frustasi menghadapi kelakuan istri dan adiknya yang sama-sama suka bikin rusuh. Kata Sopo, yang sabar ya, bos.


Tanpa banyak kata, Rara berlalu memasuki kamarnya yang berada di sebelah kamar tamu di lantai satu ini.


"Vin, kau tunggu di ruangan kerja saya."


"Baik, Tuan." Gegas Om Vino menaiki tangga untuk menuju ruang kerja Om Gibran yang berada di lantai dua, tidak jauh dengan kamar utama.


Setelah dua orang itu pergi, Om Gibran kini duduk di sebelahku. Lelaki itu mencengkram pelan wajahku dengan pandangan meneliti.


Om Gibran mengambil kapas di kotak P3K dengan ditetesi cairan anti septik. Lalu menempelkannya di beberapa titik bagian wajahku.


Aku meringis perih saat kapas itu mulai menyentuh kulitku. Mungkin saat jatuh terperosok tadi, wajahku tergores daun tajam hingga membuatnya luka-luka.

__ADS_1


"Aw!" pekikku kala Om Gibran menempelkan kapas itu dengan sedikit menekan.


"Tahan dikit."


Setelah dibersihkan dengan cairan anti septik, Om Gibran mengompres luka-luka itu menggunakan obat merah.


Saat sedang mengobati, mataku menatap puas wajah Om Gibran yang begitu tampan. Wajah tegas, alis hitam, mata elang, dan bibir seksinya itu yang selalu membuatku candu.


Rautnya terlihat khawatir, mengundang rasa GR dan menduga bahwa di hati lelaki itu sudah ada cinta untukku. Semoga saja lah, yah. Atau jangan-jangan sudah cinta?


Huup ...!


Mataku langsung berkelap-kelip saat tiba-tiba Om Gibran meniup wajahku.


"Mikir apa sampe lihatinnya nggak ngedip gitu?" Senyum devil terbit di bibir manis Om Gibran. Bukannya terlihat mengerikan, dia malah terlihat menggemaskan di mataku. Susah emang kalau orang lagi jatuh cinta.


"Aku nggak mikir apa-apa, Om. Jangan seudzon, deh!" sanggahku seraya mengalihkan pandangan. Padahal tadi otak sudah traveling ke mana-mana melihatnya di depan mata.


Harusnya tadi aku tinggal hap aja kali, yah. Kali aja Om Gibran mau gaya baru di sofa. Biar tuh dua jomblo meronta pengen kawin juga. Gila! Frontal bet ya aku.


"Besok biar saya yang ngajarin."


Tanpa diperjelas pun aku sudah mengerti arah pembicaraan Om Gibran.


"Nanti saya absen satu hari." Dia berdiri hendak melangkah. Namun segera aku panggil.


"Hmmm ... Om?"


Dia menoleh, lalu mengernyit. "Kenapa?"


"Om nggak mau coba main di sini gitu?" Sambil tersenyum nakal, aku menepuk-nepuk sofa bekas tadi dia duduk. Genit sama suami sendiri mah nggak apa-apa kan, yah. Udah halal ini. Dapet pahala malah kalo ngajak duluan, kata Ustadz.


Netizen bilek: ya ngga di tempat terbuka juga!


"Mau?" Dia malah balik bertanya. Sambil tersenyum pula.


Anggukin ngga, nih? Kok malah jadi deg-deg an ya.


Hening tercipta untuk beberapa saat.


Nggak mau munafik, ah. Samar kuanggukan kepala.


Kemudian Om Gibran membalik badan dan kembali duduk di sampingku. Perlahan dia mulai menghapus jarak, lalu melebarkan jas yang dipakainya guna menutupi adegan lidah yang saling mengecap.

__ADS_1


"Kak! Aku aduin Mama, ya!"


Teriakan cempreng dari Rara membuat aktivitas unboxing bibir kita langsung terhenti. Om Gibran segera mengelap bibirku yang sudah basah dengan jempolnya. Pun dengan bibirnya. Kemudian dia pergi dengan gaya so cool tanpa memedulikan Rara yang sudah memasang tampang garang.


Sementara aku, lekas kurapihkan baju yang sedikit acak-acakan. Lalu dengan tanpa dosanya berlalu pergi menyusul sang suami yang sudah berada di atas. Tepat saat berpapasan dengan Rara, Kukerlingkan sebelah mata disertai senyuman jahil untuk adik iparku itu.


Heran juga aku. Biasanya kan kalo orang habis di rudapaksa itu bakalan trauma. Bahkan hanya dengan melihat wajah si pelaku, korban bisa langsung histeris. Lah ini kok, aku awalnya doang yang marah. Selanjutnya malah ketagihan. Serius nanya, itu normal nggak, sih? Wk.


Apa karena si pelaku orang yang dicintai, jadi ikhlas-ikhlas saja?


***


Aku tak bisa menyembunyikan raut bahagiaku kala melihat panggilan video dari Ibu terpampang di layar ponsel. Segera kutarik tombol hijau ke atas untuk mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Ibu sama Bapak apa kabar?" tanyaku berbinar walau tak melihat Bapak di sana.


Perempuan berjilbab maroon di layar ponsel itu mengulum senyum.


"Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah kita semua sehat. Kamu di sana gimana?"


"Sehat juga."


"Suami kamu sehat juga nggak?"


Deg!


Apakah Ibu sudah menerima Om Gibran sebagai menantunya? Kalo iya, tidak ada yang mampu kuucapkan selain kata 'syukur' pada Yang Maha Kuasa. Aku sangat sangat bahagia.


"Alhamdulillah, suami Nada sehat. Tapi sekarang dia lagi mandi."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti titip salam aja. Ibu cuma mau tahu kabar kalian saja. Juga mau minta maaf sama anak Ibu yang sudah Ibu usir."


"Iya, Bu, nanti Nada salamin. Nada juga minta maaf sama kalian berdua. Bapak mana, Bu?"


"Biasa, lagi manggul beras."


"Berangkat kerjanya pagi banget, yah?"


"Iya. Semalam Bapak ditelpon bosnya suruh datang lebih awal."


"Udah dulu ya, Nak. Ibu mau lanjutin nyuci. Terus nanti kalo kalian mau ke sini, ke sini saja. Ibu sama Bapak sudah menerima kalian. Mungkin sudah jodohnya juga kamu sama Pak Gibran. Bule tetangga sebelah yang selalu kamu idam-idamkan." ucap Ibu panjang lebar sembari tertawa kecil.


"Hehe. Iya, Bu. Dah ... wassalamu'alaikum." Ibu memutus sambungan setelah menjawab salamku.

__ADS_1


__ADS_2