Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Hanya Fitnah


__ADS_3

"Dengerin aku, aku nggak ada apa-apa sama wanita itu. Semua kata-katanya fitnah. Dia menjebakku agar mau menikahinya."


Mas Gibran berucap pelan tepat di telingaku. Tangannya membelai lembut lenganku. Sesekali kuarasakan dia juga mengecup ubun-ubunku. Posisiku saat ini berbaring dengan membelakianginya.


Aku tidak tau dia sedang berbohong atau tidak. Tapi dari nada dia bicara, seolah seperti sedang frustasi.


"Dan sialnya lagi wanita ular itu mempengaruhi Mama untuk membantunya," ucapnya lagi. Dan itu berhasil membuatku berbalik badan menghadapnya.


Aku menelisik mata elang itu. Mencari kebohongan yang sialnya tak kudapati.


"Aku memang anak yang terlahir dari wanita simpanan, tapi bukan berarti sifat buruk Papaku itu menurun padaku. Demi apa pun aku berani bersumpah, aku tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita mana pun selama masih terjalin dengan satu wanita yang kuharap bisa bersama selamanya."


"Ucapan Mama tentang wanita bayaran itu hanya akal-akalan Mama agar aku mau menuruti keinginannaya."


Aku mengernyit.


"Mas, kamu tau aku mendengar semua itu?" tanyaku akhirnya.


"Hm. Harusnya waktu itu kamu masuk saja. Jangan cuma mendengar dari luar."


"Tapi bagaimana bisa kamu tau? Apa kamu memiliki ilmu batin?"


Mas Gibran terkekeh.


"Di depan pintu ruang kerjaku selalu terpasang cctv. Dari situ aku melihatmu berdiri. Lalu menangisi sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Saat pagi pun matamu sembab."


Ya ampun, aku jadi malu karena tertangkap basah memdengar obrolan Mas Gibran dengan Mama kala itu.


"Maaf," ucapku lirih sambil menelusupkan wajah di dada bidangnya.


"It's okey."


"Lanjutkan tentang Mbak Renita." Aku kembali menangak. Kutatap wajah tampan itu dari dekat.


"Dia wanita licik. Menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Dia juga dengan mudah mempengaruhi Mama supaya bisa mendekatiku. Tepatnya menginginkan uangku."


"Mempengaruhi apa maksudmu, Mas?"


Mas Gibran merubah posisi. Menatap langit-langit kamar. Mungkin memorinya berputar mundur pada kejadian beberapa tahun silam.


"Sebelum aku menikah dengan wanita berprofesi model, dia sudah lebih dulu mendekatiku."


"Wanita model yang Mas maksud itu Mbak Nilam, kan?"


"Benar."


Lucu sekali. Mas Gibran seperti sangat ogah buat nyebut nama Mbak Nilam.


"Lalu Mas Gibran memilih menikahi Mbak Nilam, kemudian Mbak Renita tidak terima?"


"Bisa jadi begitu. Yang jelas, pada usia dua tahun pernikahanku, wanita penipu itu menjebakku dengan menaruh obat tidur di dalam minumanku. Lalu memotret gambar seakan kita tidur satu ranjang."

__ADS_1


"Tunggu! Wanita penipu itu Mbak Renita, kan?"


"Hm."


Elah, Bang! Niat denger penjelasan malah seliwetan begini.


"Mas, kamu sebut namanya saja. Aku bingung dengernya." ucapku jengkel.


"Fahami saja." sahutnya enteng.


Ck! Harusnya cewe yang mesti difahami. Bukan malah sebaliknya.


"Oke, terus?"


"Dia bertindak seolah aku menidurinya. Padahal aku sangat yakin, bahwa aku tidak melakukan itu padanya. Mirisnya semua itu terjadi atas bantuan Mama. Wanita yang dalam darahku megalir darahnya." Mas Girban memiringkan badannya dan menarikku ke dalam dekapan.


"Itulah mengapa sampai saat ini aku membenci Mama. Mama dengan tega menjebak anak kandungnya sendiri hanya karena uang."


Ternyata ini alasan Mas Gibran selalu bersikap dingin pada Mamanya.


Aku berfikir keras. Bukannya Mama istri dari simpanan miliyarder? Harusnya dia juga banyak uang, kan? Tapi kenapa dia harus tega menjebak anaknya sendiri hanya demi duit.


"Kalau cuma karena uang, kenapa tidak minta langsung sama Mas Gibran saja? Mas kan, kaya?"


"Dulu hartaku tak sebanyak sekarang. Dan ibu dari anak kecil yang memanggilku Papa waktu di restoran, dia adalah anak seorang pembisnis kaya raya yang ingin Mama jodohkan denganku."


"Berarti pernikahan Mas Gibran sama Mbak Nilam tidak direstui oleh Mama?"


"Aku tidak tau, karena aku melihat Mama fine fine saja waktu aku menikahi model kala itu."


"Iya. Tapi masih ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Mas Gibran."


"Tentang?"


"Mbak Nilam."


Mas Gibran langsung terdiam. Dia sepetinya tidak mau membahas tentang masa lalu bersama istri pertamanya. Tapi karena aku terlalu ingin tau, jadi lanjut saja.


"Sebenarnya apa yang membuat kalian berpisah. Kudengar Mas Gibran yang menjatuhkan talak pada Mbak Nilam."


"Kalo dia yang jatuhin talak, ya nggak bisa. Karena dia perempuan."


"Mas!" Aku mencubit pelan pinggangnya. Sedang begini masih sempet-sempetnya dia bercanda.


"Mungkin jodohnya hanya sampai situ."


"Iya, tapi kenapa?" tanyaku kekeh. Ingin dijawab detik ini juga.


"Nggak papa."


"Mas ...."

__ADS_1


"Lebih baik kita tidur." Mas Gibran malah semakin erat mendekapku.


Mau tidak mau aku harus menelan semua kekepoanku hingga manusia batu ini mau bercerita dengan sendirinya.


*****


"Aku bosan ...!" teriakku menggema di dalam kamar. Semoga saja ruangan kini kedap suara, agar orang di kamar sebelah tidak mendengar keributan yang kubuat hari ini.


Usai Mas Gibran berangkat ke kantor, aku mengurung diri di kamar. Menonton drakor yang kata orang-orang menyenangkan.


Tapi kenyataannya apa? Aku tidak suka dengan drama yang kutonton saat ini. Si pemeran cewek terlalu bucin dan suka bertindak konyol.


Eh, bentar! Ini aku lagi nggak ngomongin diri sendiri, kan?


Lalu kutonton lagi drama yang masih terputar di layar ponsel. Ceritanya si pemeran cewek seorang artis. Dia tergila-gila sama cowok tampan tetangga apartemennya yang ternyata juga seorang dosen di kampusnya..


Si cowok yang memiliki stelan cold dan calm, terlalu gengsi untuk menyatakan bahwa sebenarnya dia pun ada rasa pada cewek itu.


Yang jadi masalahnya, si pria tampan itu bukan asli mahluk bumi. Melainkan berasal dari planet lain. Astaga, si cewek kayak kagak ada cowok lain lagi apa sampe suka sama alien.


Walau pun cakep, ya kagak dari planet lain juga kali.


Dahlah, skip! Kini aku menyusuri mbah google. Mencari rekomendasi film romantis komedi yang dimana si pemeran cowonya kagak kaya kulkas dua pintu.


Lama aku mencari, hingga tak terasa hari sudah hampir dzuhur. Begini saja sudah menghabiskan waktu berjam-jam. Ah, non faedah!


Akhirnya aku keluar menuju dapur, mencari bahan makanan untuk membuat menu apa saja yang kumau. Resep aku comot google.


Beberapa menit sudah aku berkutat di dapur.


Video resep masakan yang sedang kutonton itu seketika terhenti karena sebuah panggilan video masuk dari Sari.


"Istri om om ganteng lagi ngapain, tuh?" seloroh Sari saat aku menjawab panggilannya.


Kurang asem bet ya tuh bocah. Salam kagak, maen jeplak aja.


"Apaan?!"


"Busyet! Galak bener, Nyonya."


"Jan bikin gue darting, ya!" ucapku memberi peringatan. Di seberang sana, Sari malah terbahak.


"Santay, Bumil. Gue cuma mau ngasih tau, besok di Mall ada sale besar-besaran. Hampir semua brand pakaian by one get one."


"Wah, benarkah?" Aku yang suka diskonan, bertanya dengan semangat.


"Tentu saja bohong!"


Klik!


Sari memutus sambungannya.

__ADS_1


"Sari ...!!" Aku berteriak dengan emosi tertahan. Kemudian mengumpat pada teman luck-nut yang selalu suka mengerjaiku.


'Semoga kamu kwalat, Sari'


__ADS_2