Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Bertemu mantan istri suami


__ADS_3

"Mbak Nilam?" Aku sedikit terkejut saat berpapasan dengan mantan istri suamiku itu.


"Rupanya kau serius juga menginginkan suami saya."


Perempuan glamour itu tersenyum mengejek menatapku. Dia bergelayut manja pada lengan lelaki berkulit sawo busuk di sampingnya. Mungkin lelaki itu juga lah yang selama ini menjadi selingkuhan Mbak Nilam.


Dalam hati aku berkata dengan mode julid.


'Mbak Nilam meninggalkan cowok sekeren Om Gibran demi cowok berkepala plontos yang modelnya kayak kang ojeg begini? Fix, dah minus tuh mata'


Om Gibran mengeratkan genggaman tanganku, lalu gerakannya seolah mengatakan bahwa dia tidak mau melihat dua sejoli itu dan ingin segera pergi. Om Gibran pun selalu memusatkan pandangannya ke arah kanan, sama sekali tak menatap pemandangan di depan mata yang menurutku terasa lucu.


"Tunggu, Om!" Desisku menahan tangan Om Gibran yang menarikku hendak melewati Mbak Nilam.


"Mbak Nilam sedang apa di sini?"


"Saya sedang jalan-jalan santai dengan suami baru saya. Dan saya bangga memiliki dia karena tak menuntut wanitanya untuk menjadi seorang Ibu." Dikalimat terkahir Mbak Nilam menekan ucapannya seraya melirik ke arah Om Gibran.


Kulihat Om Gibran berdecih.


"Selamat ya, Mbak Nilam atas pernikahan barunya. Aku harap suatu saat nanti Mbak Nilam nggak akan ngemis-ngemis minta balikan sama suami baik yang sudah Mbak sia-siakan. Dan terima kasih juga karena telah membuat Om Gibran menjadi duda hingga akhirnya kita berdua bisa menikah dan bahagia seperti saat ini."


Kepala kusenderkan di lengan kekar Om Gibran.


Mengelus, dan sekejap memejamkan mata.


"Hahaha ... tidak akan! Justru saya bahagia bisa terlepas dari ikatan pria dingin yang selalu menomor satukan kerjaannya."


"Harusnya kau berkaca terlebih dahulu sebelum mengatakan itu, Nilam!"


"Aku tidak menyangka Mas Gibran bakal menikahi bocah yang usianya sepantaran dengan adikmu."


"Bukan urusanmu!"


Tubuhku hampir saja terhuyung kala Om Gibran menarik paksa tanganku dan berjalan tergesa melewati Mbak Nilam yang masih berdiri bersama suami barunya.


"Om nggak panas, kan, tadi?" tanyaku saat Om Gibran sudah nangkring di atas motor gendut miliknya sembari mengenakan helm.


"Buat apa?"


"Ya, kali aja, gitu."


"Dia hanya masa lalu. Dah, buruan naik, atau saya tinggal!"


"Eh, jangan dong. Nanti kalau ada yang nyulik gimana? Emang Om mau kehilangan istri mungil yang menggemaskan ini?"

__ADS_1


Aku segera naik, lalu melingkarkan kedua tangan di pinggang Om Gibran. Seneng banget rasanya bisa jalan-jalan berdua bareng suami walau hanya sebentar. Itu pun karena inginku belajar motor.


Sampainya di rumah, kurasakan getar ponsel di saku celana joger yang kupakai.


Beberapa kali aku mengucek mata, memastikan bahwa nama yang kulihat di layar ponsel tidak lah salah.


"Ada apa dia menelponku, setelah sekian purnama tidak ada kabar." gumamku seraya menatap layar ponsel yang masih saja berdering karena tak kunjung aku angkat.


"Kenapa?" Om Gibran bertanya setelah memarkirkan motornya dan melihatku masih mematung di depan pintu utama.


"Nggak. Om masuk duluan saja."


"Siapa juga yang mau nunggu."


Kuhela nafas panjang dengan bola mata memutar jengah. "Selalu saja begitu."


"Halo?" sapaku kala memutuskan mengangkat panggilan dari Sari. Aku membalik badan, lalu melangkah ke tiang rumah yang berdiri kokoh menahan pelapon teras, kemudian menyenderkan diri di sana.


"Nad, lu di mana, sih?! Ngilang tanpa kabar, tanpa jejak. Minggu depan wisuda, woy!"


"Bukannya lu yanga nggak ada kabar?" Kuputar balik pertanyaan bernada sindiran itu.


"Gue baru balik dari RS sejak kejadian malam itu. Asma gue kambuh, dan harus dirawat. Ini juga baru siuman, cuma gue langsung minta pulang aja. Nggak betah di RS, bau obat." jelas Sari yang langsung membuatku merasa tidak enak karena sempat mengira yang tidak-tidak.


"Yeh ... ni anak. Kata Rani, tiap dia datang ke rumah lu, lu selalu nggak ada. Lagi di mana emangnya?"


"Gue ...." ucapanku menggantung di udara, bingung harus dari mana dan bagaimana ngejelasinnya.


"Nanti pas pulang gue ceritain, deh." smbungku akhirnya.


Aku yakin Bapak dan Ibu pasti menutupi aib tentang anaknya ini. Hingga mereka tidak memberitahu teman-temanku sebelum aku yang menjelaskannya secara langsung.


"Oke. Baydewey eniwey baswey, lu tahu kabar Siti nggak?"


"Kagak. Emang kenapa tuh bocah?"


"Dia MBA, dan sekarang defresi."


"What?! Maksud lu, Siti hamil di luar nikah?"


"Iya. Panjang juga ceritanya. Makanya lu buruan pulang. Napa jadi gini, sih. Pusing gue sama kalian. Satu ngilang, satu terpuruk, satu lagi ngambang. Si Rani kalau gue tanya lama bet koneknya."


"Gue usahain minggu depan pulang."


"Harus pokonya. Emang lu nggak mau hadir di acara kelulusan kita? Sadis bet lu!" Aku hanya tertawa menanggapi kesarkasan Sari.

__ADS_1


"Ya, sudah. Gue tutup ya, telponnya. Mau bobo siang dulu. Sehat-sehat lu di sono. Bye!"


Belum sempat kujawab ucapannya, Sari sudah lebih dulu mematikan sambungan secara sepihak. Aku terbengong untuk beberapa saat. Siti MBA, dan sekarang dia defresi. Tentang ceritanya waktu di club malam itu, apa dia baik-baik saja?


Dan tentangku, aku tidak bisa menebak ekspresi mereka kala tahu ceritaku yang tak jauh atau mungkin sama dengan Siti. Menikah karena sebuah kecelakaan.


***


"Om?"


Aku merangkak pada Om Gibran yang sedang duduk menyender di dashbord ranjang dan terlihat sibuk dengan laptop di pangkuannya.


"Hmm."


"Minggu depan kita pulang, yah. Aku kangen Ibu sama Bapak. Dan lagi ..."


Beberapa menit aku menggantung ucapan.


"Dan lagi apa?" tanyanya tanpa mengalihakan pandangan dari layar di hadapan. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.


"Minggu depan wisuda kelulusanku. Selain ingin hadir, aku juga pengen ketemu sama besti-besti aku."


"Oke."


"Oke, pulang?"


"Iya. Tapi mungkin saya nggak bisa ikut. Pekerjaan di kantor sudah bener-bener menumpuk. Nanti saya suruh Vino buat anter kamu pulang."


Bugh!


Om Gibran menyilangkan tangannya saat sebuah guling kupulkan ke kepalanya.


"Apa-apaan sih kamu, Nada!" pekiknya terkejut dengan apa yang kulakukan barusan.


"Egois banget sih jadi laki! Ternyata bener yah yang dikatakan Mbak Nilam siang itu. Om Gibran itu cuma mentingin kerja, kerja, dan kerja. Sama sekali nggak peduli sama aku. Aku benci Om Gibran!" teriakku sebelum akhirnya menenggelamkan seluruh tubuh di bawah selimut dengan posisi memunggungi lelaki egois itu.


Sesakit ini rasanya menikah dengan orang yang tak mencintai. Percuma juga jadi istri kalau nggak dipeduliin. Harusnya aku tolak saja ajakan nikah Om Gibran waktu itu. Toh aku belum hamil ini. Tapi, nanti siapa juga yang mau sama perempuan bekas sepertiku. Aaakkh! Stress aku rasanya.


Cintaku bertepuk sebelah tangan. Mencintai sepihak, dan sakit pun hanya sepihak.


Selang beberapa menit, kurasakan tangan kekar melingar di pinggangku.


"Aku minta maaf ...," lirih Om Gibran seraya mengecup ubun-ubunku berkali-kali.


Kuusap tangan yang masih melingkar di pinggangku. Memejam dengan sisa bulir yang terus menetes. Eh, tunggu! Aku, katanya? Tumben nggak pake 'saya-kamu.

__ADS_1


__ADS_2