
Setelah perang dunia ketiga bersama Mas Gibran dan Om Vino, aku kembali mengunjungi rumah Ibu. Tapi semuanya nampak tak ada yang berbeda dari pertama kali aku datang. Masih senyap dan sepi.
Ditambah keadaan rumah yang begitu gelap menandakan bahwa tidak ada penghuni di dalam rumah sederhana ini. Ke mana perginya mereka?
"Ibu sama Bapak ke mana, sih, sebenernya? Kok, belum pulang pulang juga."
"Nomornya masih belum aktif?" tanya Mas Gibran.
Aku mengecek ponsel. Pesan yang kukirim pada Ibu masih centang satu. Lalu menggeleng pelan pada Mas Gibran.
"Apa Nona punya kunci cadangan?" tanya Om Vino. Lelaki sipit itu tampak sedang merencanakan sesuatu.
Lagi-lagi aku menggeleng.
Sekalipun sedang bepergian jauh, aku memang tidak pernah memegang kunci cadangan rumah. Suka pelupa, jadi takut ilang. Kan gawat kalau orang jahat yang nemuin. Bisa-bisa barang-barang di rumahku pada nggak ada.
🎶Jika cinta dia.... jujurlah padaku...
Tinggalkan aku di sini tanpa senyumanmu...
Jika cinta dia.... kucoba mengerti...
Nada dering baru yang kustel untuk sebuah panggilan seluler. Awalnya aku semangat untuk mengangkat, karena mengira panggilan itu dari Ibu. Namun diri ini kembali melemah saat tau siapa si penelepon yang ternyata bukan Ibu.
"Halo,"
"....."
"Kapan?"
"....."
"Oh, oke."
Sari mengabarkan bahwa dia ingin menemuiku besok. Katanya ada banyak hal yang mau dia tanya dan ceritakan. Dia mengajaku bertemu di kafe dekat sekolah.
"Siapa?" tanya Mas Gibran.
"Sari, temanku," sahutku seraya memasukan ponsel ke dalam saku sweater. Nggak ada yang bakal menghubungiku karena memang aku nggak sepenting itu. Termasuk kedua orang tuaku, mungkin?
Hadeh... seudzon-ku kumat! Astagfirullah.
"Dahlah, mending kita pulang saja." ajakku sambil menggaet tangan Mas Gibran. Di belakang, Om Vino mengikuti.
Kalau sudah begini, pikiranku selalu saja menduga yang tidak-tidak. Padahal sebelum berangkat aku menghubungi Ibu bahwa aku dan Mas Gibran akan pulang ke rumah Ibu. Sekarang mereka malah tidak ada di rumah.
Seharusnya kalau Bapak sama Ibu mau pergi minimal kasih tau dulu lah. Biar aku nggak kecewa kayak gini. Asal Bapak sama Ibu tahu saja, harapanku sangat besar buat ketemu kalian. Aku rindu...
"Jangan berpikir macam-macam. Mungkin orang tuamu hanya sedang ada urusan di luar sana. Mereka pasti akan segera pulang." Mas Gibran menoleh ke belakang, lalu meraih tanganku dan kemudian menggenggamnya.
Tak kujawab apapun ucapannya.
__ADS_1
Aku menurunkan kaca mobil. Melihat sendu orang-orang berlalu lalang kesana kemari. Terkadang, aku mengira satu diantara mereka itu adalah Ibu.
Sedih bet ya. Aku merasa seperti Haci yang sedang mencari induknya.
Sampai di apartemen, aku langsung menghempaskan diri di atas kasur setelah sebentar mencuci kaki. Sementara Mas Gibran, lelaki itu kembali sibuk dengan laptopnya. Sepertinya pekerjaan dia sedang sangat menumpuk hingga mau tak mau dia harus bekerja hingga larut malam seperti semalam.
Dan Om Vino, dia katanya mau pulang ke rumah orang tuanya yang berada di kota Jakarta Pusat. Aku sudah melarang biar besok saja Om Vino pulangnya. Tapi sahabat suamiku itu bersikekeh ingin pulang malam ini juga.
***
"Tumben masih pagi udah rapih, mau ke mana?" ucap Mas Gibran saat aku berjalan menghampirinya.
Lelaki itu sedang duduk di kursi makan dengan laptop di hadapan dan segelas minuman panas di sampingnya. Terlihat dari asap yang mengepul dari gelas kecil tersebut.
Eh, si bambang. Liat istrinya rapi begini bukannya dipuji malah ditanya mau ke mana. Biasa liat aku kek gembel kali ya, dia? Jadi rapih dikit langsung ditanya begitu.
"Mau ketemu teman-teman di kafe dekat sekolah." Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya.
Lalu tanganku mengipas uap panas yang masih menguar dari minuman Mas Gibran. Tidak ada aroma wangi dari minuman itu, karena memang itu hanya air putih panas biasa. Salah satu kebiasaan Mas Gibran di setiap pagi.
Lelaki di depanku menoleh pada minuman yang sedang kukipasi.
"Biarin aja. Nanti juga ilang sendiri," ucap Mas Gibran.
"Iya, tapi ini masih panas banget buat diminum."
"Mau dianterin, nggak?"
"Oke." Mas Gibran mengangguk.
"Mas nggak sarapan?"
Dia melirik.
"Istriku nggak bisa masak, jadi terpaksa harus sarapan di kantor."
Aku terbelalak. Itu adalah kata-kata sindiran halus yang Mas Gibran ungkapkan di pagi hari untukku. Malunya sampe ke ubun-ubun.
"Kata siapa aku nggak bisa masak?!" sanggahku tak terima.
"Kata suamimu barusan," sahut Mas Gibran tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Jari jemarinya menari indah di atas keyboard.
"Aku ini sebenarnya bisa masak, Mas. Cuma ya emang rada males aja orangnya."
"Bisa kalo males ya buat apa?"
Yaelah, masih pagi dah ngajak berantem aja nih om-om. Tapi ya ada benarnya juga sih. Ibarat pisau tajem kalo nggak pernah dipake ya bakal karatan.
Aku memutar bola mata malas sambil berdecak.
"Kapan temanmu akan menjemput?"
__ADS_1
Mas Gibran menyesap air hangat itu sedikit demi sedikit.
"Kayaknya bentar lagi, kenapa? Mas kalo mau berangkat, berangkat aja nggak papa."
"Ya, sudah. Nanti kabari kalo sudah sama temanmu." Mas Gibran menutup laptopnya, lalu beranjak setelah menghabiskan minuman hangatnya.
"Siap, bos!"
"Oiya, itu sarapan buat kamu jangan lupa dimakan." Dia menoleh, dagunya menunjuk sesuatu yang ada di atas meja dapur.
"Apa itu?"
"Makan saja." ucapnya sambil kembali meneruskan langkah.
Aku mengambil bingkisan itu dan membawanya ke meja makan. Pas dibuka ternyata isinya burger. Enak bet ya jadi istri orang kaya. Pagi-pagi sarapannya pake burger. Bukan maen!
Mas Gibran, makin cinta deh aku sama kamu. Eh, tapi nggak boleh terlalu bucin. Nanti sakit hati. Orang tampan emang gitu, nyakitin. Apalagi ini berduit.
"Nada!"
"Iya, Mas."
Baru juga mangap, udah dipanggil aja. Gegas aku menghampiri seseorang yang memanggil. Mas Gibran sudah berdiri di depan pintu.
"Ada apa?"
"Buka mulutmu!"
Keningku mengernyit.
"Cepat buka!"
Meski bingung dan masih belum mengerti, akhirnya aku membuka mulut.
Astaga! Mataku membulat dengan kelakuan Mas Gibran saat ini. Dia menyuruhku membuka mulut hanya untuk dia lahap.
Setelahnya, Mas Gibran berangkat kerja usai beberapa menit kami saling membelit lidah.
Aku mengusap bibir yang masih basah sambil tersenyum.
"Sarapan pembuka sebelum makan burger."
Kembali ke meja makan, ponselku berbunyi. Itu pasti Sari.
"Iya?"
"Gue otewe." Sari memberitahu.
"Oke."
Sebelum Sari sampai, aku harus segera menghabiskan burger ini dan merapihkan kembali dandanan yang sudah acak-acakan karena ulah Mas Gibran. Aku bahkan merasa liptinku sudah hilang tak berbekas akibat pagutan liar tadi.
__ADS_1