Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Mencari info


__ADS_3

"Matamu kenapa sembab begitu?" Lelaki gagah dengan jas licin yang melekat di tubuhnya itu menoleh ke samping di mana aku duduk sebelum dia menarik kursi dan mendudukan diri di sana.


Padahal sedari tadi aku menundukan pandangan agar tidak bersitatap dengannya. Tapi ternyata aku kecurian. Dia terlihat acuh, namun menyadari.


Ini yang kubenci ketika terlalu lama menangis. Mataku berubah bengkak seperti disengat lebah. Dan itu bertahan selama seharian. Atau bahkan bisa berhari-hari jika nangisnya lebih lama lagi. Terlebih dengan suara jerit yang ditahan.


Semalam, aku berhasil mengelabui Mas Gibran dengan pura-pura tidur duluan. Tapi di meja makan ini, perkataan Mas Gibran itu sontak membuat Mamer dan Rara melihat ke arahku. Lalu aku harus memberi alasan apa?


"Kak Nada pasti sudah tidak sabar pengen ketemu orang tuanya."


Tepat! Rara menyahuti.


"Ah iya, itu benar," jawabku sedikit gugup dengan sudut bibir yang kupaksakan melengkung ke atas.


Mas Gibran menatapku penuh selidik. Sepertinya dia curiga. Apakah aku tidak pandai dalam hal berbohong? Bodo amat lah. Apa pun itu alasan yang membuatku menangis, nggak penting juga buat mereka.


Aku mulai menyuap nasi dengan sayur pakcoy serta potongan daging udang crispy, ke dalam mulut. Satu kali, dua kali, masih oke. Tapi pada saat suapan ke tiga. Perutku mendadak mual.


Gegas aku berlari menuju kamar mandi dapur dengan tangan kanan memegangi perut serta tangan kiri membekap mulut. Sampai di sana, semua makanan yang baru kumasukan tadi langsung keluar tanpa bisa ditahan lagi.


Dalam kamar mandi aku berjongkok sambil terus memuntahkan isi perut. Lalu, kurasakan pijatan tangan seseorang di leherku, membuat kepalaku yang tiba-tiba pening ini sedikit terasa ringan. Itu pasti Mas Gibran.


Benar. Dia dengan sigap menghampiriku dan melakukan apa yang memang saat ini aku butuhkan.


Hoek!


Kali ini hanya cairan bening yang keluar disertai sedikit warna yang membuat lidahku terasa pahit. Mungkin sudah tidak ada lagi limbah dalam perutku.


Setelah dirasa baikan dan perut sudah tidak terasa mual, Mas Gibran menuntunku naik ke atas untuk istirahat usai dirinya membersihkan bekas muntahanku tadi. Sedikit salut sih, saat seorang Gibran mengurus semua itu tanpa ada ekspresi jijik di wajahnya.


Aku bersandar di dashboard ranjang, merasakan tubuh yang akhir-akhir ini melemah. Sementara Mas Gibran, lelaki itu kembali turun, mungkin hendak melanjutkan sarapan yang tertunda, atau mungkin juga mau langsung berangkat kerja. Tapi kalau berangkat, pasti dia pamitan dulu.


"Masih mual?" tanya Mas Gibran saat ternyata dia masuk dengan membawakan segelas teh hangat di tangannya.


Aku menggeleng sebelum menyahuti.


"Sudah agak mendingan."


Mas Gibran kemudian mengulurkan segelas teh hangat itu untuk segera kuminum. Dia membantu memegangi gelas, lalu meletakan benda itu di atas nakas setelah aku meneguk sedikit isinya.


"Mas,"


"Hmm."


"Aku pengen makan bubur kacang ijo."


Lelaki itu mengernyit dan seperti tengah menerawang sesuatu yang entah apa aku tidak tahu.


"Akan aku belikan setelah pulang kerja nanti. Atau mau sekarang?"


"Pulang kerja saja."

__ADS_1


Dia manggut-manggut, lalu tangannya menarik laci nakas yang berada di samping kanannya duduk, untuk mengambil sesuatu di sana.


"Ini." Mas Gibran mengulurkan benda kecil bertuliskan salah satu merk minyak angin aromatherapy, ke padaku.


"Aku harus segera berangkat kerja. Kalau ada apa-apa langsung telpon saja," sambungnya kemudian setelah aku menerima minyak angin tersebut.


Mas Gibran melirik benda yang melingkar di pergelangan tangan, lalu dia merogoh ponsel yang berdering di saku dalam jas-nya.


"Tunggu saja. Aku akan segera turun."


Klik! Sambungan dia putuskan setelah berkata demikian.


"Siapa?" Aku bertanya.


"Vano," sahutnya seraya memasukan kembali ponsel ke dalam saku jas dalam.


"Oh."


"Aku berangkat." Mas Gibran mengecup keningku sebelum benar-benar pergi untuk berangkat bekerja. Salah satu rutinitas wajib setelah hubunganku dengannya sudah membaik.


***


Usai mengunci pintu kamar ini rapat-rapat, aku segera menggeledah seluruh lemari guna mencari info apa saja tentang keluarga suamiku.


Aku sungguh ingin tahu bagaimana kisah kehidupan Mas Gibran di masa silam. Juga mencari tahu asal muasal bagaimana lelaki itu terlahir dari perempuan ke dua.


Saat mengorek masa lalu, pasti ada saja yang akan membuat hati ini sakit. Tapi tak apa. Aku sudah siap dengan segala resikonya.


Nihil. Semua laci-laci itu tak lebih hanya sekedar berisi sapu tangan dengan berbagai warna gelap yang selalu dibawa Mas Gibran ketika hendak berangkat ke kantor.


Kemudian, aku kembali mengobrak-abrik lemari yang juga berukuran besar. Semua kuteliti dengan kembali merapihkan baju-baju yang sempat bergeser.


Kosong. Dalam lemari besar berwarna hitam ini juga aku tak menemukan selembar kertas apa pun di sana.


Lalu dengan gerak cepat dan tergesa, aku berpindah pada sudut satu ke sudut yang lain.


"Hah ...." aku menghela nafas panjang setelah lelah mencari sesuatu namun tak kunjung didapat.


"Sebenarnya di mana Mas Gibran menyimpan berkas-berkas penting itu?" gumamku pada diri sendiri.


Aku berfikir keras, di mana kiranya Mas Gibran menyembunyikan akses pribadi miliknya.


Tok! Tok!


Aku menoleh kala mendengar sebuah suara ketukan pintu yang lebih mirip disebut dengan gebrakan. Disusul dengan suara teriakan memanggil namaku.


"Nada!"


"Nada!"


Aku memutar bola mata jengah. Baru beberapa detik tak mendapat respon saja, sudah teriak-teriak lagi. Ck, ini yang aku tidak suka sama Mama mertua. Berisik dan terlalu ikut campur.

__ADS_1


Ceklek!


"Ada apa, Ma?"


"Mama mau jalan-jalan sama Rara. Kamu di sini saja, yah. Jangan ke mana-mana. Dua ART yang pulang kampung juga sudah kembali, namanya Mba Fitri sama Mba Iyah. Jadi kalau kamu ada perlu, minta tolong mereka saja. Jangan sampe kamu keluar sendiri."


Dahiku mengernyit, tak suka.


"Memangnya Mama mau jalan-jalan ke mana. Kenapa Nada nggak dibolehin ikut?"


Enak saja, mereka berdua akan pergi jalan-jalan, sementara aku dari kemarin nyumpel terus di rumah. Glowing kagak, stres iya.


"Kalau Mama ajak kamu, Mama bakal kena omelan Gibran. Sudah lah kamu manut saja."


"Hhh, ya sudah. Hati-hati. Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak."


"Kalo inget."


Dih.


"Eh, tunggu!" Dengan tangannya, Mama menahan pintu yang hampir kututup.


"Apa lagi, Ma?" tanyaku jengkel.


"Kamu biasa dikasih jatah berapa sama anak saya?"


"Jatah apa? Kasur apa dapur?"


Plak!


Aw!


"Aku aduin sama Mas Gibran, lho, Ma." Ancamku sembari mengelus lengan yang sedikit terasa nyeri. Lumayan juga geplakannya.


"Lagian kamu. Ditanya serius malah jawab bercanda."


"Lho, siapa yang bercanda. Aku serius, kok. Memang dalam rumah tangga itu ada dua jenis nafkah, kan? Nafkah lahir sama nafkah batin. Nah, diantara dua itu mana yang Mama tanya?"


"Uang. Berapa uang yang selalu kamu terima dari Gibran?"


Haha, akhirnya to the point juga. Dari tadi aku juga ngerti sih, kemana arah pembicaraan Mama. Ya pasti tentang uang.


"Mama mau tahu aja, atau mau tahu banget?" tanyaku menggoda. Lalu terlintas ide konyol untuk sedikit mengerjai perempuan sosialita ini.


"Lama. Cepat katakan!"


"Sini." Aku memberi isyarat pada Mama untuk mendekat agar kubisiki.


"OMG! Really?!" Kagetnya setelah aku memberitahu nominal sehari yang Mas Gibran kasih ke aku.


Aku mengangguk dengan menahan tawa.

__ADS_1


Setelah Mama berlalu pergi, aku segera menutup pintu, lalu tertawa puas membayangkan ekspresi lucu di wajah Mama yang terlihat sangat syok saat mengetahui berapa digit angka yang aku katakan. Dasar mata duitan!


__ADS_2