
"Nada!"
Sebuah panggilan berhasil mengehentikan langkahku. Aku berbalik.
"Davin? Ngapain lu di sini?" tanyaku heran. Pasalnya rumah lelaki itu bukan di daerah sini. Dan lagi ini sudah jam setengah delapan malam. Ah, mungkin saja dia mau ngapelin ceweknya.
"Aku mau jenguk kamu. Maaf, baru bisa sekarang. Kemaren-kemaren aku ada acara."
"Oh gitu. Oke, nggak apa-apa. Lagian gue juga udah sembuh kok, thanksn yah." sahutku. Eh tunggu, kok tumben dia manggilnya 'aku-kamu'?
"Nih." Dia mengulurkan satu paper bag dan satu kantok kresek ke arahku. Entah apa isinya aku tidak tahu.
Ragu kuulurkan tangan.
"Tadi aku ke rumah kamu, tapi kamu nggak ada. Bu Dewi bilang kamu lagi jajan," sambungnya setelah aku menerima pemberian dia.
Hampir setiap malam aku emang keluar untuk sekedar beli jajanan. Dan ini, baru saja aku hendak menyebrang sebelum akhirnya tertahan karena panggilan dari Davin.
Sebenernya aku agak sungkan menerima apa saja dari cowok. Bukan cuma sama dia. Tapi semua laki-laki.
Yang pacaran aja kalo sudah putus minta dibalikin semua tuh barang-barang yang sudah dia kasih. Apalagi aku sama Davin, yang jelas-jelas nggak ada hubungan apa-apa selain teman satu kelas.
Bisa saja kan sewaktu-waktu dia minta di kembalikan semua barang-barang yang sudah dia kasih ke aku. Mending aja aku lagi ada uang. Kalo nggak? Bisa mampus aku. Tapi aku yakin Davin bukan cowok seperti itu.
"Ini buat gue semua?" tanyaku sembari mengacungkan paper bag dan kantong kresek yang dia kasih tadi.
"Iya. Aku sengaja beli oleh-oleh itu buat kamu."
Aku manggut-manggut. Bicara oleh-oleh, berarti dia habis jalan-jalan. Bodo, ah. Nggak penting.
Setelahnya, aku mengajak Davin mampir ke rumah. Tapi dia menolak dengan alasan harus cepet pulang. Ya sudah, kubiarkan dia pulang usai mengucap terima kasih.
Kuputar balik langkah dan tidak jadi jajan. Udah dapet bingkisan ini. Aku tertawa geli mengingat kemunafikanku sendiri. Bilang sama orangnya nggak mau. Tapi makanan sama barang-barang pemberiannya selalu diterima. Habisnya kalo aku tolak takut bikin dia sakit hati.
Kalian juga mungkin faham kali, yah. Cowok, kalo sudah sakit hati itu ngeri. Mainnya jalan pintas. Meski nggak semua, tapi kebanyakan begitu.
Karena itu juga Ibu selalu mewanti-wanti untuk jangan bersikap judes sama cowok. Ya, gimana, ya. Aku yang punya setelan wajah jutek, baru natap aja dikira benci. Belum lagi sifatku yang cuek dan masa bodo. Wah, habis deh aku dikata-katain mereka.
'Lain kali jan gitu, ya, Nad.' Aku menasehati diriku sendiri.
"Tadi ada Davin nyariin kamu. Ibu bilang kamu lagi jajan," seru Ibu saat aku tiba di rumah.
__ADS_1
"Iya. Udah ketemu, kok, sama orangnya. Dia ngasih ini." Aku memperlihatkan pemberian Davin tadi pada Ibu.
"Nggak kamu suruh mampir orangnya?"
"Udah. Tapi dia nggak mau. Lagi buru-buru kayaknya."
Menyandarkan diri di sofa, aku membuka bingkisan dari Davin. Ternyata isi paper bag ini baju piyama.
"Cantik sekali," gumamku seraya berdiri. Mencoba mengepaskan piyama pink bermotif buah peach ini di badan.
"Nak Davin itu orangnya royal, yah. Sampe beliin kamu baju segala." Ibu ikut duduk di sampingku.
"Yang di kantong kresek itu Ibu buka aja. Kayaknya makanan, deh."
"Salah kamu. Ini buah-buahan," sahut Ibu usai mengeluarkan buah yang kulihat ada alpukat dan buah naga. Dua buah favoritku.
"Sama aja buat di makan."
Ibu mendengkus.
"Wa'alaikumussalam," sahutku dan Ibu saat kami mendengar ucapan salam dari Bapak.
"Dari temen sekolah, Pak," jawabku sambil melipat kembali baju piyama yang tadi kucoba. Nggak di pake sih. Cuma di pas-in doang.
"Cowok?" tanya Bapak lagi.
Aku mengangguk.
"Nak Davin itu loh, Pak. Yang sering main ke sini." Ibu menyahuti.
"Siapa pun dia, jangan terlalu sering nerima hadiah dari cowok." Bapak mendudukan diri di samping Ibu.
'Ngomong begitu, Bapak nggak ngerasa dirinya cowok, tah?' Aku membatin.
"Bapak perhatiin juga kayaknya Nak Davin itu suka sama anak kita, Bu." Bapak menoleh ke Ibu. Kulihat tangan jahilnya menjalar menelusuri badan Ibu. Selanjutnya, perlahan tapi pasti Bapak mendaratkan bibirnya ke bibir Ibu. Meski cuma sekilas, tapi berhasil membuatku melongo dan dengan susah payah menelan salivan.
Astaga! Di sini aku seperti nyamuk.
"Ya, nggak apa-apa lah, Pak. Namanya anak menuju gede. Bapak dulu juga gitu, kan?" Ibu memindahkan tangan Bapak yang masih setia di atas pahanya. Bukannya berpindah, Bapak malah menarik tangan Ibu dan memeluknya erat-erat. Mereka berpelukan seakan aku tidak ada bersamanya. Bodohnya aku tetap melihat kelakuan mesvm mereka. Ternoda sudah mata ini.
'Kalian kalo mau bikin adek bayi, jangan di sini, atuh!' batinku meronta. Antara kesal dan marah. Kesal karena aku belum punya pasangan. Dan marah karena mereka melakukan itu di depan mataku.
__ADS_1
Dari sini aku mengetahui satu hal. Bahwa sifat mesvmku ini turunan dari mereka.
"Mana ada. Bapak prinsipnya ta'aruf, lamar, nikah. Nggak ada pacar pacaran." Kali ini posisi mereka normal. Mungkin hasrat masing-masing sudah mulai reda. Aku tak perlu khawatir lagi adegan vul9ar apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Lha, siapa yang bilang pacaran. Ngaco, nih, Bapak." Ibu melengos dengan raut kesal.
"Lama-kelamaan kan, nanti sama-sama suka, ya otomatis pacaran."
Bapak dan Ibu masih saling adu argumen masing-masing. Aku yang berada duduk lesehan di bawah refleks menengokkan kepala ke kiri dan ke kanan. Di mana Ibu dan Bapak saling debat.
"Jangan sok tahu!"
"Sudahlah. Sepertinya Ibu perlu asupan." Tanpa kuduga, Bapak menggendong Ibu ala bride style dan membawanya masuk ke kamar. Membuat Ibu memekik kaget dan pasrah dengan kelakuan Bapak.
'Asupan' aku kembali bergumam dengan tatapan lurus ke depan. Menatap pintu kamar Ibu yang tertutup rapat. Ada apa di balik sana?
Asupan yang dimaksud Bapak itu makanan, kan?
***
"Guys, nanti malam ada film bagus, lho." Dengan girangnya Siti memberitahu berita tidak penting itu.
Aku memutar bola mata malas, tapi tidak dengan yang lain. Mereka nampak antusias terutama Sari yang emang doyan banget nonton bioskop.
Kali ini layar lebar akan mengangkat film adaptasi dari sebuah novel yang lagi viral. Pastinya menyangkut tema perselingkuhan dengan ending yang mudah ditebak. Duh, nonton nggak, yah. Sumpah! Bukan seleraku banget. Aku lebih suka film tembak-tembakan. Atau nggak film komedi.
"Harus nonton ini," seru Sari.
"Bener." Siti menyetujui. "Kira-kira tiketnya berapa, yah?"
"Palingan seperti biasa." Si Sari hapal bet sama harga tiket.
"Kalian mau pada nonton?" tanyaku pada ketiga orang di sampingku. Kami sedang menuju gerbang sekolah setelah beberapa menit lalu bel pulang berbunyi.
"Ya, dong. Film seru ini." Bener-bener tidak mau ketinggalan nih si Siti.
"Aku ikut." Selalu. Rani juga nggak mau kalah.
Apalah dayaku yang kagak nafsu sama yang begituan. Daripada ke bioskop, aku lebih suka nonton di hp sambil rebahan di kamar. Berasa healing aja gitu.
Di dekat gerbang, Rani dan Siti berbelok ke kiri untuk menjemput kendaranya. Sementara aku dan Sari langsung menuju ke luar menunggu jemputan. Bedanya Sari dijemput oleh sopir pribadi, sedangkan aku dijemput angkutan umum yang biasa antar jemput anak sekolah.
__ADS_1