
Atas desakan teman-teman luck-nutku itu, aku terpaksa ikut nonton bisokop malam ini. Jam tujuh, mereka sudah stay di rumahku.
"Jangan pulang di atas jam sepuluh!" pesan Ibuku saat kami akan berangkat.
Sebetulnya Ibu sama Bapak nggak ngizinin aku buat ikut mereka. Entah gimana awalnya Siti sama Sari bicara sama Ibu hingga membuatku diizinin buat pergi malam ini.
Ibu juga tadinya cuma kasih aku waktu sampai jam sembilan, tapi lagi-lagi ketiga temanku memohon buat tambah satu jam, dan akhirnya aku boleh pulang dengan batas waktu jam 10. Tidak boleh lebih dari itu. Telat dikit, auto coret dari KK.
***
25 menit perjalanan kita sampai di Mall.
Tempat bioskop berada di lantai tiga. Dari lantai satu kami naik lift menuju lantai tiga. Memesan empat karcis berserta makanannya. Lumayan mahal buat aku si kantong kere.
Setelah itu kami berjalan menuju kursi merah di pertengahan. Sengaja memilih barisan tersebut biar nggak kedekatan, juga tidak kejauhan.
Aku sudah duduk, Sari dan Siti juga.
"Sebentar! Kok kayak ada yang kurang." Aku ingat-ingat sebenernya apa yang ketinggalan.
Makanan udah, minuman udah, film juga bentar lagi mulai. Lalu apa, yah?
"Rani!" seru kami bertiga saat menyadari ketiadaan si cewek berkacamata itu.
Aku, Sari, dan Siti serentak menengok ke samping kanan. Lalu menghembuskan nafas lega kala mendapati Rani sedang berjalan ke arah kami.
"Astaga! Tuh bocah kenapa bisa mencar gitu." seloroh Siti.
"Dia jadi kek anak ilang gitu, yak," kata Sari sembari melihat Rani yang sesekali membenarkan kacamatanya karena melorot. Padahal idung dia kagak dempes-dempes amat. Tapi kacamatanya terus saja turun. Salah size kali, yak?
"Ran, buruan. Film dah mau mulai, nih!" teriak Sari. Membuat beberapa orang menengok ke arah kita.
"Ssttt .. Sar! Teriakan lu mengundang banyak mata." Aku jadi merasa risih dengan pelototan orang-orang yang memandang sinis.
"Biarin, dah. Kesel gue sama si Rani. Leletnya melebihi kura!"
"Sabar, say." Siti menepuk pundak Rani sambil menahan tawa.
"Keburu lampunya dimatiin." Sari melipat kedua tangan di dada. Lalu beralih menatap layar besar di depan yang belum juga menampilkan film.
__ADS_1
Jujur, kesel juga lihat si Rani jalan seletoy itu. Berasa pen aku tarik aja tuh rambut kepangnya. Dari tadi jalan kagak nyampe-nyampe juga. Mana pop corn yang dia bawa saling berjatuhan gitu. Biar kutebak, nyampe bangku habis dah tuh brondong jagung.
Oke, kulihat dia sudah mendekat. Tapi entah minsnya nambah atau dia yang jalannya sambil tidur, hingga tiba-tiba saja dia tersandung sesuatu membuat tubuhnya ambruk di atas pangkuan laki-laki yang duduk selang satu kursi di sebelahku.
"Damn! Kalo jalan pake mata!" sentak lelaki itu sembari menjauhkan Rani dari pahanya.
"Maaf. Aku tidak sengaja." Rani meminta maaf sambil mencoba berdiri dari pangkuan lelaki tersebut. Dia meraba-raba kacamatanya yang terjatuh.
"Buahahaha!" Siti, si paling dur-jana itu tertawa kencang melihat temannya terjatuh. Dia emang suka banget bahagia diatas penderitaan orang. Boro-boro nolongin malah ngakak. Agak lain emang.
"Jhahaha ..." Sari ikut tertawa di samping Siti.
Sementara aku, dengan mulut mengembung menahan tawa, mencoba beranjak. Membantu Rani dan membersihkan pop corn yang bertabur indah di baju laki-laki itu.
Kemudian aku menuntun Rani untuk duduk di sebelahku. Bersebelahan dengan laki-laki tadi yang menjadi korban kecerobohan Rani. Setelahnya tawaku meledak. Aku tahu itu telat, tapi setidaknya aku tak se-luck-nat kedua temanku yang lain.
Ya Allah, sumpah! Aku ngakak parah melihat Rani jatuh di pangkuan Om-Om. Bisa pas gitu jatuhnya. Kayak orang sengaja mau pangku.
Lampu sudah dimatikan. Film pun sudah dimulai. Baru opening saja aku sudah pengen pulang. Nggak semangat nonton, kecuali bareng ayang, eh? Emang punya?
'Lha, samping rumah itu?'
'Ya, mau lah. Orang gue se-lucu gini.'
'Dih! Narsis bet, yak.'
Batinku berperang.
Tak terasa film sudah setengah jalan. Karena rasa kantuk, akhirnya aku tertidur menyender di bahu Siti. Tak kupedulikan suara tangis haru orang-orang yang melihat adegan di film. Paling juga pemeran cewek disakiti lakinya.
"Nad, bangun! Film dah kelar, hey!" Kurasakan seseorang menggoyang-goyang bahuku. Aku mengucek mata. Ternyata film sudah selesai. Bangku juga mulai terlihat sepi. Karena orang-orang mulai berhamburan menuju keluar.
"Bentar! Gue ngumpulin nyawa dulu. Takut oleng." Aku masih setengah sadar. Nggak tahu kenapa nih mata sepet banget. Padahal aku biasa tidur larut malam. Tapi malam ini, aku merasa sangat merindukan kasur empukku bersama kawan-kawannya.
"Bangun! Bangun!" Siti menyiprati air di wajahku. Membuat mata ini melotot dengan sempurna.
"Tou! Basah, keles!" sungutku seraya mengibaskan baju yang sedikit basah karena percikan air minum dari Siti.
"Habisnya, lu. Liat tuh, dah pada sepi!" Dia menujuk kursi belakang.
__ADS_1
Aku menatap sekeliling. Benar juga. Di sini hanya tinggal kita berempat. Lekas aku bangkit.
"Gue juga ngantuk, nih." Sari berjalan di belakangku. Aku menoleh dan berhenti. Seperti lampu merah yang menghentikan kendaraan, Rani dan Siti ikut tertahan di belakng Sari.
"Lu jangan ngantuk, Sar. Lu kan nyetir." Kok aku rada nyesel, yah, ikut mereka. Mendadak feeling jadi tidak enak.
"Kalo gitu kamu aja yang bawa mobil, Nad." Rani memberi saran. Membuatku memutar bola mata jengah. Motor aja kagak bisa apalagi mobil. Rani pun tahu itu.
"Gue maunya lu yang nyetir, Ran." Kubalikan omongan si Rani.
"Aku kan nggak bisa bawa mobil," jawabnya lemah. Sepertinya ngantuk juga tuh bocah. Di belakngnya, Siti sibuk menguap.
"Terus lu pikir gue bisa gitu?" Aku berkacak pinggang. Kemudian berbalik badan dan lanjut melangkah dengan menghentakan kaki. Kalo ngomong sama si Rani, aku kayak orang lagi PMS. Emosi mulu bawaannya.
Sampai di luar, aku, Rani, dan Siti menunggu Sari yang sedang mengambil mobil di parkiran. Kami bertiga seperti cabe-cabe-an menunggu jemputan dari doi.
"Guys, GC!" seru Sari sambil menurunkan kaca mobilnya.
Sesuai permintaan. Gerak cepat kita bertiga masuk ke dalam mobil. Aku duduk di depan samping Sari. Sedangkan Rani dan Siti di bangku kedua.
Selanjutnya, Sari melajukan kendara dengan kecepatan tinggi. Tangan kiriku berpegang erat pada hand grip yang berada di atas kepala guna mempartahankan posisi duduk agar tidak geser.
"Sari, lu bawa mobil jan kek orang kesurupan gitu, dong. Gue takut!" Siti terlihat panik.
"Iya, Ri. Pelan-pelan aja. Asal kita nyampe dengan selamat." Sumpah! Aku serasa lagi naik roller coaster. Jantungku seakan mau keluar dari tempatnya.
Sementara Rani tetap tenang pada duduknya. Mungkin saja dia molor. Aku tidak tahu karena dia duduk tepat di belakangku.
"Pala gue pusing. Ngantuk juga. Pengen cepet sampe rumah." Suara Sari terdengar lemah. Semoga saja dia tidak pingsan.
Ciit...
"Astagfirullah, Sari!" Aku terlonjak kaget saat Sari nge-rem mendadak.
"Budug!" Siti mengumpat.
"Akh! Kepalaku." Rani meringis di belakangku. Sepertinya dia kejedot.
Aku menoleh ke samping kanan. Sari terlihat menyender sambil memijat kepalanya.
__ADS_1
'Plis, jangan pingsan.' pintaku dalam hati.