Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Harapan


__ADS_3

Aku mengangkat tangan Om Gibran dari pinggangku, lalu berbalik menghadapnya. Menyadari aku yang habis menangis, lekas Om Gibran menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.


"Sekali lagi aku minta maaf," ucapnya lirih.


Kugerakan punggung tangan hendak menyentuh keningnya. Nggak panas, tapi kok hari ini Om Gibran rada aneh, ya? Apakah ini pertanda bahwa manusia batu itu telah melunak?


"Om tumben nggak pake bahasa 'saya-kamu'?"


Bukannya menjawab, Om Gibran malah merengkuhku ke dalam dekapan. Erat, hingga aku kesulitan bernafas.


"Om, bisa mati nih anak orang!" pekikku seraya mendorong kuat tubuh Om Gibran untuk menjauh, memberi jarak diantara kita.


Wajahku terasa menghangat saat kedua tangan Om Gibran terulur dan menangkupnya. Bisa kupastikan pipiku sudah berubah warna seperti tomat mentah karena sentuhan dan tatapan tak biasa itu.


"Mulai sekarang jangan panggil aku Om. Aku ini suamimu. Nggak sopan kamu!"


Lha? Baru nyadar dia kalau aku istrinya? Ck! Kentara nggak peduli banget sih, kamu Om.


"Terus aku harus manggil apa?" tanyaku malu-malu. Padahal biasanya juga malu-maluin.


"Terserah. Asal jangan panggilan itu." Secepat kilat Om Gibran menempelkan bibirnya ke bibirku. Kayak iklan, lewat doang.


Baru tahu aku kalau cowok juga bisa jawab terserah. Kirain kaum betina doang.


Sesaat aku pura-pura berfikir untuk mencari ide, panggilan apa yang cocok buat suami gantengku ini.


"Mas aja, gimana?"


Berganti Om Gibran yang tampak berfikir.


"Boleh."


"Oke, Mas Gibran!" Aku terkekeh geli menyebut seperti itu.


"Kenapa ketawa?" Dia bertanya dengan dahi mengernyit.


"Nggak. Lucu aja. Nggak biasa manggil itu."


"Lama-lama juga biasa." Om Gibran kembali menarikku ke dalam pelukannya.


"Ya, iyalah. Sue!"


Dalam dekapnya, aku bisa menikmati aroma parfum pada tubuh lelaki tampan ini. Seperti seseorang yang sudah lama kehilangan kasih sayang, aku begitu nyaman dengan posisiku saat ini.


"Aaakkkhh ...!" pekikku saat Om Gibran menggulingkan tubuhnya, dan menjadikanku berada di atasnya.


"Tubuh kecilmu agak sedikit berisi, dan sudah terasa berat saat aku menangkatnya."


Om Gibran memasukan kedua tangannya ke dalam crop top yang aku kenakan, lalu mengusap-usap pelan punggungku sebelum akhirnya dengan mudah dia melepas pengait bra, kemudian menarik dan melemparnya secara asal.

__ADS_1


Kupukul pelan dada bidangnya.


"Ini juga sepertinya membesar." ucapnya sambil me-remas salah satu buah dadaku. Membuatku melotot, kemudian memejam dengan menggigit bibir bawah agar tidak mengeluarkan suara *******.


Perlahan kudekatkan bibir ini ke telinganya. Mengecup sekilas cuping itu, lalu berucap penuh penekanan. "Masih sore!"


Segera aku bangkit dan keluar dari kamar demi menghindari keremukan badan juga kelelahan fisik akibat 'hajaran maut' dari seorang Gibran.


Tak kupedulikan dia yang berteriak memanggilku untuk kembali. Aku bergidik ngeri kala membayangkan sekali main saja Om Gibran bisa tahan sampe ber jam jam. Sedangkan dalam 24 jam hampir tiga kali main. Kalo begini caranya bisa cepet tuir aku.


"Baru jam lapan maen sosor-sosor aja." gerutuku sembari berjalan menuruni tangga.


Menuju dapur aku berpapasan dengan Rara. Rupanya bocah itu masih kelaparan setelah satu jam lalu kita makan malam. Dia berjalan sambil mendekap erat snack bergambar kingkong di dadanya.


Saat melihatku matanya seperti memastikan sesuatu.


"Astoge, Nada semprul! Minimal kalau habis main jangan buru-buru pake baju dulu! Mana langsung berkeliaran lagi. Bikin malu kaum betina saja." sentaknya sembari menutup mata dengan snack yang dibawanya, entah karena melihat apa.


"Kenapa sih, kamu?" Aku berkacak pinggang, menatapnya tak mengerti.


"Itu!" Rara menunjuk dadaku yang langsung membuatku tersadar bahwa saat ini aku tak memakai bra karena dilepas oleh Om Gibran.


Mataku membulat dengan kedua tangan menyilang di dada. Setelahnya aku berlari secepat kilat dari hadapan Rara seraya berteriak dan terus memegangi dada, menuju lantai dua di mana kamarku berada.


"Ada apa?!" tanya Om Gibran dengan raut terkejut. Sepertinya lelaki itu hendak keluar, memastikan suara teriakanku tadi. Namun kepalang aku keburu masuk kamar.


"Kenapa?"


"Mana bra-ku?!"


Dia menunjuk sesuatu yang tergeletak di lantai.


"Ambil yang baru saja. Itu sudah kena lantai, takut kotor. Atau nggak usah pake sekalian. Mau tidur ini." usulnya disertai seringai yang langsung membuatku bergidik ngeri.


Aku berjalan gontai, lalu menghempaskan diri di atas kasur. Sudahlah, mau keluar lagi pun rasanya nggak pede. Mending tewe mimpi saja. Malu sekali ketangkep basah sama adek ipar.


***


Hooekk! Hoek!


Tangan kiriku memegangi perut seraya terus memuntahkan isinya. Sementara Om Girban memijat tengkukku, membantu aku mengeluarkan semua makanan di dalam perut.


Pagi-pagi entah kenapa badanku terasa meriang, mual, dan lemas. Kepala pun terasa berat seperti memikul beban hidup yang tak ada habisnya.


Hoek! Hoek!


Ini kali ke tiga aku mengeluarkan sisa makanan yang masih mengendap di dalam perut. Beberapa kali bolak-balik toilet benar-benar membuat tubuhku lemas tak bertenaga.


Hingga akhirnya aku terkulai lemah di atas ranjang dengan wajah memucat seperti orang tak bernyawa.

__ADS_1


"Om .. eh, Mas?" Aku bergerak hendak duduk dan bersender.


"Baringan saja. Aku sedang meminta Bik Mun membuatkan teh hangat, juga membawakan buryam untukmu sarapan," seru Mas Gibran yang sedang memasang dasinya kembali setelah sempat terjeda karena harus membantuku bolak-balik toilet.


Setelah memakai jas, Mas Gibran duduk di sampingku seraya mengusap dan memijat kepalaku yang semakin terasa pusing.


Seingatku, semalam tidak makan yang aneh atau macem-macem. Hanya makan malam biasa, nasi dengan ayam bakar dan beberapa sayuran. Tapi kenapa bisa tumbang begini.


'Sakit nggak ada yang tahu, Nad!' Kata hatiku mengingatkan.


Tok! Tok!


"Tuan!" Terdengar suara panggilan Bik Mun dari luar.


"Masuk saja, Bik!" Mas Gibran menyahuti sambil mengompres dahiku yang baru kusadari ternyata demam tinggi.


"Permisi," Bik Mun membawa nampan berisi teh hangat dan semangkuk buryam yang diminta Mas Gibran.


"Tolong taruh di atas meja ya, Bik. Terima kasih."


Setalah menaruhnya, Bik Mun langsung keluar, tapi tak lama kemudian ketukan pintu kembali terdengar.


"Bik Mun?" teriak Mas Gibran memastikan.


"Bukan. Ini aku!" Dari suara cemprengnya aku bisa menebak bahwa itu adalah Rara.


"Masuk!"


Ceklek!


"Kakak, istrimu kenapa?" tanya gadis yang mengenakan dress selutut berwarna navy itu sembari naik ke atas ranjang, duduk di sampingku berbaring.


"Tadi dia muntah-muntah. Sepertinya masuk angin."


"Hah, muntah-muntah?!"


"Hm."


"Itu mah bukan masuk angin kali, Kak. Tapi masuk baby!"


Sontak aku dan Mas Gibran saling berpandangan dengan ekspresi yang berbeda. Aku mengernyit, sedangkan Mas Gibran menatapku penuh tanya. Kalo diingat-ingat tamu bulananku sudah telat satu bulan. Apa mungkin?


"Biar lebih jelas, Kakak panggil dokter Ega saja." Rara memberi usul.


"Sudah. Mungkin sedang dalam perjalanan."


"Semoga saja aku beneran bakal dapat keponakan."


Kembali Mas Gibran menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada harap harap cemas di hatiku kala mengingat betapa inginnya Mas Gibran punya anak. Takut hasil nanti akan mengecewakan dia.

__ADS_1


__ADS_2