Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Luka


__ADS_3

Setiap menit aku menatap jam dinding yang menggantung di sana. Menunggu jarum jam mengarah ke angka lima, tepat kepulangan Mas Gibran.


Saat sudah menunjuk angka lima, aku harus menunggu lagi selama tiga puluh menit untuk Mas Gibran sampai di rumah.


Menit berlalu dan kudengar suara klakson dari luar. Itu pasti Mas Gibran. Aku segera melangkah menuju pintu depan untuk menyambut kedatangannya. Senyum sumringah tak luput dari wajahku.


"Mas," sapaku dengan senyum manis sembari mengulurkan tangan hendak mencium tangan suamiku.


Lelaki itu menautkan alisnya.


"Tumben."


Senyumku langsung surut.


Kebiasaan! Istri berubah lebih baik bukannya seneng, malah respon seperti itu. Untung sayang! Kalau nggak, sudah kujual ke tokped kamu, Mas.


Meski begitu, Mas Gibran tetap menyodorkan tangannya yang langsung ku salimi.


"Sini tasnya aku yang bawa." Aku merebut tas hitam dari tangan Mas Gibran tanpa menunggu persetujuan dari sang empu.


"Nggak usah, sini. Berat itu." Mas Gibran berusaha meraih tasnya yang sudah kubawa lebih dulu.


"Pengen apa?" tanya Mas Gibran kala kita sudah berada di kamar.


Nah! Ini nih yang kusuka. Ternyata dia langsung peka.


"Aku mau kembang." jawabku to the point.


Mas Gibran yang sedang melepas jam di tangan, seketika menoleh dengan tatapan bingung.


"Kembang?" tanyanya kemudian.


"Bunga, kalo nggak ngerti."


"Tau. Bunga apa." balasnya sok tahu. Padahal tadi jelas banget dia tidak ngerti saat aku bilang kembang.


"Bunga yang kayak punya Rara. Hadiah dari Mas Gibran saat dia ulang tahun ke 17."


"Tau dari mana?" Tatapannya terlihat mengintrogasi.

__ADS_1


"Kalo itu Mas nggak perlu tau. Intinya aku mau bunga itu. Yang bentuknya lucu. Nanti malem harus beli. Kalo nggak nanti dede bayiknya ileran."


"Itu bunga langka. Nggak mudah dapetinnya."


"Aku nggak mau tau." ketusku sambil bersedekap dada dengan raut masam.


"Aku mau mandi dulu."


Entah sengaja mengindar atau bukan, lelaki yang sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk itu segera masuk ke kamar mandi. Mataku mengikutinya sampai ia kembali keluar setelah hampir dua puluh menit berada di sana.


Rambutnya yang hitam basah terlihat segar ditambah otot six pack di perutnya yang membuatku tanpa sadar menelan ludah. Mas Gibran benar-benar seperti pemuda berusia dua puluh tahun. Dalam dirinya, usia itu hanya angka.


Aku terus memperhatikan dia yang kini sedang memilih baju di lemari. Punggung Mas Gibran terlihat mulus tanpa parut atau pun bekas luka. Aku jadi ingin tahu seberapa tampan Papanya hingga bisa berhasil membuat benih secakep ini.


Semoga saja anakku mirip dia. Karena kalo mirip aku nanti hidungnya mancung ke dalem. Wk.


"Mas!" pekikku saat dengan tanpa dosanya Mas Gibran melepas handuk yang melilit di pinggangnya. Menampilkan .... ah sudahlah nggak perlu kuceritakan. Kalian pun pasti faham. Bocil harap minggir!


"Kenapa? Bukannya sudah sering lihat?" Mulai! Mas Gibran dengan mode mesumnya.


Setelah Mas Gibran memakai pakaian lengkap, aku kembali menodongnya dengan tagihan kembang. Jangan sampai suamiku itu melupakan permintaanku.


"Mas pasti bisa membelikan itu. Uang Mas Gibran banyak."


Mas Gibran merengkuhku ke dalam pelukan. Aroma lemon bekas dia mandi menguar dari tubuhnya. Aku suka berlama-lama berada dalam pelukan Mas Gibran.


"Sayang, dengar aku. Ini bukan perkara banyak uang atau pun tidak ingin menuruti permintaanmu. Tapi bunga yang kamu mau itu termasuk salah satu bunga paling langka di dunia yang keberadaannya sudah terancam punah. Biarlah bunga misterus itu tumbuh dimana seharusnya ia berada. Dan kalau kamu masih tetap ingin bunga itu, kamu bisa merawat punya Rara. Dia juga pasti senang bungannya ada yang mengurusi." ungkap Mas Girban panjang lebar.


Jujur, aku suka cara bagaimana Mas Gibran menjelaskan. Lelaki itu mencoba agar aku mengerti dengan penuturan halus yang dia berikan tanpa sedikit pun terlihat kesal.


"Baiklah." ucapku akhirnya. Oke, ini bukan masalah besar. Aku tidak harus merajuk pada Mas Gibran. Toh, masih ada bunga punya Rara yang bisa kulihat setiap hari.


"Bagus! Anak pintar." Mas Gibran mengacak rambutku membuat bibirku maju beberapa senti.


"Mas,"


"Kenapa, hm?"


"Gimana hubunganmu dengan Mama?"

__ADS_1


Seketika raut Mas Gibran langsung berubah. Dia beranjak menuju sofa, kemudian memangku laptop. Membuka benda itu, lalu mulai fokus pada layarnya. Mendadak aku merasa bersalah pada lelaki itu.


Semenjak menikah denganku, Mas Gibran selalu kena masalah. Entah karena Mama atau pun orang lain yang mencoba menjahatiku. Apa aku kabur saja, ya?


"Apa seharusnya kita pisah saja?" ucapku ragu-ragu. Aku takut dia ngamuk.


Mas Gibran menutup laptopnya secara kasar sembari menatapku tajam.


"Apa maksud kamu?!" tanyanya sedikit menyentak.


"Kita selesai."


Dia berdecak lalu menghela nafas panjang. Mas Gibran sepertinya mengontrol emosinya agar tidak kelepasan.


"Nada, kamu sudah dewasa. Sudah bersuami, dan sebentar lagi akan menyandang status ibu. Berhentilah berpikir dangkal. Walaupun karena sebuah accident, tapi aku menikahimu bukan untuk main-main."


"Soal masalahku dengan Mama, itu bukan hal yang baru. Aku sudah sering berselisih dengannya. Bukan seperti apa-apa. Mama hanya sedang dibutakan oleh harta. Dan aku selalu jadi perantara untuk ia mendapatkan itu."


"Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja selama kamu masih tetap di sisiku. Aku hanya butuh suportmu buat ngadepin semua itu. Pleas, stay with me."


"Maaf." Aku menunduk malu.


Harusnya aku bersyukur bersuamikan dia. Baik, tampan, tajir lagi. Ini malah mau disia-siakan. Untung nggak jadi. Kalau beneran pisah, nggak kebayang bakal senyesel apa aku nanti.


"Hm. Apa kamu tidak ingin bertemu ibu?" Mas Gibran seolah membalikan pertanyaanku tadi padanya.


Aku diam saja. Saat ini aku masih kecewa sama ibu juga bapak. Masih nggak nyangka kalau aku ini bukan anak kandung ibu. Padahal banyak yang bilang wajah kami mirip.


"It's okey kalau kamu masih belum mau ketemu sama mereka. Tapi kamu harus ingat, bagaimana pun juga Bu Dewi itu sudah merawat kamu dari kecil. Dan Pak Ahmad, aku yakin beliau punya beberapa alasan kenapa merahasiakan itu sama kamu."


Mas Gibran berdiri, lalu menghampiriku yang masih setia di tepi ranjang.


"Menangislah jika kamu mau." Mas Gibran meraih tanganku kemudian memelukku. Detik itu juga aku tak bisa menahan bulir bening yang sejak tadi menghalangi pandanganku.


Kalau dipikir-pikir, nasibku dengan nasib Mas Gibran itu tidak jauh beda. Dari masalah keluarga, hingga nasab yang masih belum jelas arahnya.


Takdir memang unik. Dengan cara-Nya, Tuhan menyatukan aku dengan Mas Gibran, sepasang manusia yang ternyata sama-sama terluka. Luka yang hanya bisa dirasakan oleh kita berdua.


Semoga aku dan Mas Gibran bisa melewati ini, dan kembali damai dengan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2