Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Two prince with three dwarf


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


.


.


.


Berhubung hari ini hari minggu, aku mengusulkan Mas Gibran buat ngajak aku beserta dua temanku jalan-jalan ke beberapa tempat wisata sebagai healing. Biar nggak mumet menghadapi realita.


Aku sudah bersiap-siap di ruang tamu bersama Rani juga Sari. Dua bocah itu tampil sigap saat semalam aku memberitahu bahwa esoknya akan pergi healing.


"Nad, kita bawa baju ganti nggak, nih?" tanya Sari. Dia bilang katanya pengen renang. Karena itu ia terus menanyakannya.


"Bentar, aku tanya Mas Gibran dulu."


Mas Gibran masih di atas, dan masih siap-siap. Lalu tak berapa lama derap sepatu beradu lantai membuat kepalaku refleks menoleh ke arah sumber suara.


"Mas, kita perlu bawa salinan, nggak?" tanyaku pada Mas Gibran yang sedang menuruni tangga sembari memakai jamnya.


Kulihat Sari dan Rani melongo menatap lelaki tampan itu. Mungkin baru kali ini mereka melihat Mas Gibran berpakaian seperti itu.


Suamiku itu mengenakan jeans hitam dan kaos polos berwarna putih dengan dilapisi jaket kulit berwarna hitam juga. Rambut ia sisir rapi belah samping. Persis kaya oppa-oppa korea idola Sari.


Entah kenapa, aura Mas Gibran semakin keluar saat mengenakan kaos putih. Aku suka dengan cara Mas Gibran ngomong, cara berjalannya yang tegap, sikapnya yang kalem dan semua yang ada pada diri laki-laki itu aku menyukainya. Pokoknya aku padamu, Mazeh!


"Nggak usah. Nanti beli di sana saja." Mas Gibran langsung berjalan keluar tanpa menghiraukan kita bertiga yang sejak beberapa menit lalu sedang menunggu dirinya di sofa tamu.


"Gue bener-bener terhipnotis oleh pesona Om Gibran." ucap Sari sambil geleng-geleng kepala.


"Nad, kamu beruntung banget punya suami ganteng kayak Om Gibran." Rani pun tak kalah takjub. Arah matanya bahkan mengikuti Mas Gibran sampai laki-laki itu menghilang di balik pintu.


"Sadar, sadar!" Aku mengusap wajah mereka berdua dengan telapak tangan. "Kudo'akan kalian juga semoga cepet menyusul. Dapet suami baik, tampan, dan tajir!" Lalu aku melangkah keluar yang langsung diikuti Sari dan Rani.


*****


"Nad, play musik, dong." bisik Sari. Sedari tadi bocah itu tidak mau diam dan terus menyenggol lenganku karena katanya merasa sepi. Kalau Rani, dia sudah terlelap lima belas menit yang lalu.

__ADS_1


"Elah, Ri. Dari tadi lu grasak-grusuk mulu pengen musikan? Ck! Sayangnya Mas Gibran nggak terlalu suka musik." Aku mengulang kata-kata Mas Gibran waktu itu.


"Yah, Nad ...." ujarnya lesu sambil merosotkan bahu.


"Lu mending tidur aja kayak Rani. Ntar kalau sudah sampe gue bangunin." ucapku memberi usul. Saat ini aku sedang malas meladeni siapa pun karena perutku terasa mual.


Mendengar keributanku, lantas lelaki yang duduk tepat di bangku depanku menoleh. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Sari pengen musikan."


Tanpa kata lagi Mas Gibran langsung menyalakan musik. Memutar lagu milik salah satu band rock Amerika asal Las Vegas, yang berjudul Bad Liar.


Pada saat bagian reff dan nada tinggi, Rani terbangun. Dia sepertinya terkejut. Aku tertawa melihat ekspresinya yang planga-plongo. Sementara bocah di sampingku, sudah asyik joged-joged.


Sari tampak happy dengan musik yang mengalun. Kuperhatikan sesekali Om Vino melirik Sari dari kaca spion. Jodohin nggak, ya?


Citt!!


"Mas!" Spontan aku memeluk Mas Gibran dari belakang meski terhalang jok. Mas Gibran pun langsung menggenggam tanganku erat. Tubuh laki-laki itu tetap seimbang karena sepertinya tangan kirinya memegang hand grip di atas kepala.


"Damn't!" umpat Mas Gibran.


"Kenapa berhenti tiba-tiba?" tanya Rani persis kayak orang linglung.


"Maaf, Tuan, Nona. Saya kehilangan fokus." Wajah Om Vino sangat menunjukan rasa bersalahnya.


"Kalau suka, nikahin! Jangan cuma dilihatin." Kata-kata bernada sindiran itu keluar dari mulut Mas Gibran. Sepertinya kita satu pemikiran. Om Vino kehilangan fokus karena terlalu sering memperhatikan Sari.


Sedangkan Om Vino hanya diam saja. Mungkin lelaki itu malu karena sudah tertangkap basah curi-curi pandang pada salah satu temanku.


Kini tekadku semakin bulat. Akan kujodohkan mereka berdua. Semoga saja Tuhan merestui. Aku juga akan meminta bantuan Mas Gibran untuk melancarkan rencanaku. Aku yakin Mas Gibran pasti mau.


Om Vino kembali melajukan kendaranya dengan kecepatan sedang. Hingga dua puluh menit kemudian kita telah sampai di Taman Margasatwa Ragunan. Di sini kita hanya sebentar, sekedar menjenguk hewan-hewan beserta para family-nya.


Usai membeli tiket dengan harga reatif murah, kita berlima lalu berkeliling untuk melihat berbagai macam hewan dan tanaman.


Dari mulai hewan reptil, mamalia, hingga hewan buas seperti beruang dan harimau semuanya tersedia di kebun binatang ini.

__ADS_1


Posisi kami berjalan sangat lucu. Dua di depan ada Mas Gibran dan Om Vino. Sementara aku, Rani, dan Sari mengekor di belakang mereka. Tubuh tinggi kedua laki-laki itu membuat aku dan dua temanku terlihat sangat kecil. Layaknya dua pangeran dengan tiga kurcaci peliharaan. Kalau bahasa Inggrisnya (two prince with three dwarf)


Next. Walaupun bernama kebun binatang, tempat ini juga turut menyimpan berbagai macam spesies flora yang cukup lengkap.


Selain itu pengunjung juga bisa menikmati sajian pentas satwa yang diadakan secara rutin beberapa kali dalam sehari.


Info lainnya kalian bisa cek gugelโœŒ๐Ÿป


*****


Setelah dari kebun binatang, kita berlanjut menuju Dufan. Ingin mencoba beberapa wahana air yang ada di sana.


"Mas, nanti aku mau naik halilintar."


Sedari dulu aku ingin sekali mencoba wahana satu itu. Ingin meraskan bagaimana rasanya kita saat terhantam badai. Bukan cuma badai kehidupan.


"Jangan aneh-aneh! Kamu lagi hamil."


"Kalau gitu aku pengen coba wahana niagara gara saja." Kalau yang pasti dibolehin.


Namun ternyata dengan tegas Mas Gibran menolak. "Nggak boleh!"


Tanganku berkacak pinggang dengan memasang wajah angry birds. "Terus bolehnya apa, bambang?!"


Lalu jari Mas Gibran menunjuk salah satu wahana yang sedang berputar dengan banyak orang di sana. Aku langsung menekuk wajah. Masa ke Dufan cuma naik komedi putar?


Namun beberapa menit kemudian ide untuk mengusili Mas Gibran muncul di kepala.


"Sama Mas Gibran, tapi." ucapku seraya tersenyum. Kulihat Om Vino tertawa saat aku mengajak suamiku menaiki komedi putar.


Mas Gibran malah diam saja tanpa ekspresi.


"Maaf, Nona, tapi apa itu tidak merendahkan harga diri Tuan, yang notabene-nya seorang Presdir jika menaiki wahana itu?"


"Kan sa--"


"Nada!" Terlihat Sari dan Rani berlari ke arahku dengan pakaian yang sudah basah.

__ADS_1


"Kamu main sama mereka saja." ujar Mas Gibran sembari mengarahkan dagunya pada kedua temanku. Kemudian ia berlalu pergi bersama Om Vino.


Dasar suami batu!


__ADS_2