Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Amarah Gibran


__ADS_3

"Bajingan!"


Mas Gibran menarik punggung pria yang masih berada di atasku, lalu mengahajarnya.


"Berani sekali kau menyentuh milikku!"


Bugh! Bugh! Bugh!


Kepalan maut terus melayang ke wajah pria jahat itu. Anehnya, kenapa dia tidak melawan saat Mas Gibran terus memukulinya hingga babak belur.


"Mas! Cukup." Aku memeluk Mas Gibran dari belakang. Mencegah lelaki tampan ini yang mungkin saja akan menghabisi pria jahat itu.


"Aku takut dia akan melaporkanmu," lirihku di belakang punggungnya.


"Sebaliknya. Aku akan melaporkan si bedebah ini atas kasus pelecehan."


Pria itu terlihat menyeringai sembari mengusap sudut bibir yang berdarah dengan jarinya.


"Laporkan saja. Dengan begitu, secara tidak langsung kau juga akan menjebloskan ibumu ke penjara."


"Gibran, aku tau kau membenci ibumu. Tapi aku tau pasti kau tidak akan melakukan itu." imbuhnya dengan raut meringis menahan sakit.


Mas Gibran menarik kerah pria itu dan sedikit mengangkatnya ke atas.


"Jelaskan kenapa kau bisa bersandiwara dengan perempuan itu." ujar Mas Gibran penuh penekanan.


Aku tau, perempuan yang Mas Gibran maksud itu pasti Mama.


"Ibumu yang memintaku untuk meniduri istrimu, Gibran."


"Lalu tanpa berfikir kau menyanggupinya?"


"Tentu saja. Aku sudah lama tidak bermain dengan wanita. Apalagi kulihat istrimu itu sangat menggoda." Pria itu melirikku dengan tatapan lapar.


"Dasar brengsek!"


Bugh!


"Hahahaha. Sory, Gibran. Tapi harga yang ditawarkam ibumu itu sangat menggiurkan." Pria itu terkekeh sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Bayangkan saja, aku diberi tugas untuk meniduri seorang perempuan, lalu setelahnya mendapat bayaran yang sangat tidak sedikit jumlahnya. Menarik bukan?"


Kurang ajar!"


Bugh!


Mas Gibran kembali melayangkan tinju pada wajah pria itu tanpa melepas cengkramannya.


"Di mana sekarang perempuan itu berada?"


"Kau ingin bertemu dengannya?" tanya pria itu mengejek.

__ADS_1


"Cepat katakan!"


"Baik. Besok temui aku di kafe dekat kantormu. Aku akan datang ke sana bersama ibumu yang bodoh itu."


Bugh!


Brak!


Pria itu tersungkur akibat tinjuan dan dorongan Mas Gibran yang begitu keras. Kemudian Mas Gibran menarikku keluar dari kamar hotel luck-nut itu.


Aku takut. Karena suami tampanku itu menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia terlihat masih sangat emosi karena kejadian tadi. Wajahnya memerah dengan urat leher yang keluar.


Kupejamkan kedua mata dengan mencengkram erat celana joger yang kupakai.


Ciiitt!


Mobil berhenti secara mendadak. Mungkin saja Mas Gibran mengerti dengan ketakutanku hingga ia meraih tanganku sambil berujar.


"Maaf. Lain kali kau harus hati-hati pada pesan yang masuk dari nomor tak dikenal."


Aku membuka mata, lalu mengangguk patuh.


Angin malam membuat tubuhku sangat kedinginan. Ditambah saat ini aku hanya memakai kaos pendek saja, karena hoodie kebesaran itu telah dirampas paksa oleh pria jahat di hotel.


Lagi-lagi Mas Gibran mengerti akan keadaanku yang kini sedang mengelus lengan karena menggigil. Lelaki itu kemudian melepas jas-nya, lalu memakaikannyan padaku. Aku tersenyum.


Setelahnya, mobil kembali melesat. Kali ini dengan kecepatan sedang.


*****


Mungkin saja lelaki itu tidak mau menyentuhku karena ada sentuhan pria jahat itu di tubuh ini.


Usai dirasa benar-benar bersih, aku keluar kamar mandi dengan bibir gemetar karena saking dinginnya.


"Kenapa tidak pakai air hangat saja mandinya?" tanya Mas Gibran kesal. Aku tau dia khawatir.


"Mas nggak bilang." jawabku pelan. Aku mendudukan diri di samping Mas Gibran yang kini tengah duduk di bibir ranjang.


Kulihat Mas Gibran menghela nafas.


"Kenapa tidak inisiatif sendiri?" Sepertinya lelaki berkaos soft blue itu jengkel pada tingkah laku istrinya ini.


Aku diam saja sembari menunduk. Mas Gibran mengangkat daguku lalu merapihkan anak rambut yang sedikit menghalangi wajahku.


"Mana keramas lagi. Belum besok kamu juga harus keramas pagi-pagi." ucapnya membuatku mengernyit bingung, namun segera tertunduk malu saat mengerti ke mana arah pembicaraan Mas Gibran. Kurasa pipiku bersemu merah.


"Wajahmu menghangat." Mas Gibran menangkup wajahku dengan kedua tangannya seraya tersenyum. Aku tau dia sedang menggoda.


"Mas ...." aku melepas tangan Mas Gibran dan hendak beranjak. Meskipun sudah sah, aku kadang masih malu-malu berduaan dengannya. Aku takut libidoku meningkat karena terlalu lama memandang wajah tampan itu.

__ADS_1


"Mau ke mana?" Dia meraih tanganku membuat langkahku terhenti.


"Pake baju, biar nggak dingin."


Mas Gibran tersenyum penuh arti.


"Nggak usah. Biar aku yang menghangatkanmu."


Perlahan, Mas Gibran menghapus jarak yang tercipta diantara kita. Handuk putih yang melilit di tubuhku telah dilepasnya dengan mudah. kami saling memagut kasih dengan kelembutan.


Tangan itu mengelus pelan perutku.


"Aku ingin menjenguknya." ucapnya dengan suara serak.


Aku yang sudah diliputi gairah hanya menjawab dengan anggukan pasrah. Kemudian Mas Gibran mulai menanggalkan semua pakaiannya.


Untuk kesekian kalinya tubuh kami menjadi satu. Mereguk indahnya surga duniawi dalam mahligai cinta pernikahan.


*****


"Non Nada kenapa pagi-pagi melamun?" Suara Mbak Fitri mengejutkanku yang sedang duduk sendirian di bangku taman.


Perempuan berkepala tiga dengan wajah penuh jerawat itu terlihat merapihkan beberapa pas bunga yang berantakan akibat hujan lebat pagi tadi.


"Nggak papa, Mbak. Nada cuma rindu Bapak sama Ibu saja."


"Kan Bisa telpon, Non. Atau nggak Non Nada minta anterin Tuan saja buat ke Tangerang."


"Mas Gibran sibuk, Mbak." Aku turun dan ikut merapihkan bunga bunga itu.


"Iya, sih. Tuan Gibran itu suka sibuk. Beliau itu paling nggak bisa yang namanya cuma diam diri doang di rumah. Tapi misal Non ngomong minta dianterin, pasti Tuan anterin kok, Non. Secara Tuan sudah cinta banget sama Non Nada." ungkapnya panjang lebar.


"Hehe. Iya, Mbak." Lalu tatapanku tertuju pada bunga berwarna putih berbentuk unik dan lucu, sedikit mirip dengan anggrek.


"Ini namanya bunga apa, Mbak Fit?" tanyaku seraya menunjuk bunga berkelopak lucu itu.


"Mbak nggak tau, Non. Cuma kata Bik Munah, bunga itu kesayangannya Non Rara karena hadiah ulang tahun ke 17 dari Tuan Gibran."


Mendengar itu aku jadi pengen juga dikasih bunga sama Mas Gibran.


"Ya, sudah, Mbak. Nada masuk dulu, ya. Pengen ngemil. Laper."


"Iya, Non. Makasih sudah bantuin rapihin bungannya."


"Oke."


Aku merebahkan diri di atas kasur. Mengecek ponsel, tepatnya mencari hasil jepretanku tadi yang memfoto bunga lucu di taman samping rumah. Lalu kumasukan gambar bunga itu ke google, guna mengetahui apa nama dan spesies dari bunga lucu tersebut.


"Oh, ternyata namanya Ghost Orchid." Aku membaca artikel di ponsel yang menjelaskan bunga itu.

__ADS_1


Bunga Ghost Orchid berasal dari Peru, dan harga per satu tangkai bunga ini mencapai empat ribu dollar atau sekitar 56 juta rupiah. Busyet!



__ADS_2