Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Seperti sengaja


__ADS_3

"Ri, gue boleh minta tolong, nggak?"


Sari menyikut lenganku.


"Lu, kek ama siapa aja. Gue tolongin selagi gue bisa."


Aku tersenyum ragu. Saat ini aku dan Sari sedang duduk di kursi plastik di pinggir jalan. Kita berdua sedang memesan dua mangkuk bakso mercon untuk dimakan di tempat.


Tadi, selepas dari kafe dan jalan-jalan di taman, mendadak aku ingin makan yang berkuah. Jadi sebelum pulang, aku mengajak Sari makan bakso di pinggir jalan, tempat langganan kita semasa pulang sekolah.


"Btw, lu mau minta tolong apa?" Sari menggeser kursinya menjadi berhadapan denganku.


"Gue pengen ketemu Ibu sama Bapak," lirihku kemudian.


"Ya ampun, Nada, gue kirain apaan. Tinggal pulang ke rumah aja apa susahnya? Kalo lu malu, gue anterin." ucap Sari yang sok mengerti dengan apa yang kualami.


"Itu masalahnya. Sejak pertama gue dateng, ortu gue nggak ada di rumah. Gue nggak tau mereka pergi ke mana."


"Maksud lu?" Sari mengernyit keheranan.


Aku mengambil nafas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Sebelum mengeluarkan suara, aku menerima semangkok bakso super pedas dari uluran tangan Mang Wawan, si tukang bakso andalan berkumis tebal.


"A--"


"Bentar!" Sari memotong ucapakanku, lalu berteriak pada si tukang bakso. "Mang! Minta tambah saos!"


Segera Mang Wawan mengulurkan botol berisi saos sambal pada Sari.


"Ck! Jadi gini, Permata Sari, gue ke sini kan langsung menuju rumah Ibu, nah, pas sampe sana ternyata si penghuni kagak ada semua. Padahal jauh sebelum itu kita sempet video call-an. Dan Ibu bilang mereka sudah nerima Mas Gibran sebagai menantunya. Taunya pas kita berkunjung mereka malah kabur. Gitu!" jelasku panjang lebar.


"Lu yakin mereka udah nerima status baru lu?" tanya Sari setelah ia memasukan anakan bakso ke dalam mulutnya.


"Gue juga nggak tau, sih."


"Kemungkinan itu masalahnya."


"Jadi gue harus gimana?" tanyaku frustasi. Aku menusukkan garfu ke bakso paling besar, lalu memakannya dengan arrogant. Kulihat Mang Wawan bergidik ngeri melihat itu.


"Ya, udah. Habis ini kita ke rumah ortu lu. Cari tau ke mana sebenernya mereka. Sekarang kita habisin dulu baksonya. Kasian Mang Wawan, dia dah mau keliling lagi tuh keknya."


Aku mengangkat wajah. Terlihat Mang Wawan sedang duduk di bahu jalan sambil sesekali menyeka peluh yang membanjiri keningnya.


Wajah lelah tua itu mengingatkanku pada Bapak.


***

__ADS_1


Jam menunjukan pukul tiga sore saat aku tiba di rumah Ibu. Kubuka pager yang tidak digembok.


Baru saja aku menutup pager kembali, seorang ibu paruh baya memanggilku. Dia tetangga belakang rumah yang sering berjualan ikan. Namanya Bu Laksmi. Beliau menghampiriku yang masih berdiri di depan pager bersama Sari.


"Nada, kan?" tanyanya meyakinkan.


"Iya. Ada apa Bu Laksmi?"


"Kok, baru liat, ya. Ke mana aja, Neng?"


"Ehehe, habis liburan, Bu. Ngomong-ngomong ada apa, ya, Bu Laksmi?"


"Eh, ini, minggu lalu Ibu pinjem uang sama ibu kamu, sekarang mau bayar. Kemarin ke sini malah nggak ada orang. Jadi sore ini Ibu ke sini lagi."


"Hmmm." Jujur bingung mau nyahut apa. Karena sekarang pun Ibu sama Bapak belum juga balik.


"Bu Dewi-nya sudah pulang, kan? Apa masih jalan-jalan?"


Tunggu! Dari pertanyaannya, sepertinya Bu Laksmi tau ke mana orang tuaku pergi.


"Pasti enak banget Bu Dewi sama Pak Ahmad karena diajak jalan-jalan pake mobil mewah." ungkap Bu Laksmi tanpa diminta.


Sari melirikku. Dia lalu memberi kode yang entah apa maksudnya, aku tidak mengerti. Aku juga bingung harus bagaimana memancing Bu Laksmi agar menceritakan apa yang dia lihat tentang orang tuaku. Karena kalau ditanya langsung, aku takut beliau curiga dan mikir ke mana-mana.


"Kapan Bu Dewi perginya, Bu?" Tiba-tiba Sari bertanya.


"Nggak, Bu. Nada cuma cerita dirinya doang. Yang lainnya mah kagak."


Pintar! Aku tau Sari sedang membantuku mencari informasi tentang orang tuaku yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Tengkyu banyak-banyak, my friend.


"Ibu liat sih tiga hari yang lalu. Perginya juga terlihat buru-buru. Kerennya itu, yang bawa mobil mewahnya perempuan."


"Tua?"


"Hm, mungkin seumuran Ibu, ya. Cuma karena dia berduit, jadi kelihatannya awet muda gitu."


Aku terdiam memikirkan sesuatu. Siapa kiranya perempuan yang dimaksud Bu Laksmi ini.


"Ibu bisa titipin uangnya ke kamu aja nggak, Neng Nada?"


"Oh, iya, Bu, boleh."


"Ini," Bu Laksmi mengulurkan uang kertas berwarna biru ke arahku.


"Makasih, ya. Salamin juga ke ibu kamu." Bu Laksmi kemudian pergi setelah kujawab iya.

__ADS_1


"Kira-kira siapa, ya, yang ngajak Ibu sama Bapak pergi?"


"Coba lu inget-inget, sodara atau sepupu kamu ada nggak yang ciri-cirinya mirip dengan yang disebutkan Bu Laksmi tadi."


Keluarga Nenek dari Bapak, semua di Bandung. Dan kayaknya nggak ada yang begitu. Sedangkan keluarga Ibu, aku tidak terlalu dekat dan hanya tau beberapa saja.


"Stres gue lama-lama." ucapku frustasi. Sari malah terkekeh.


"Sabar, sabar. Orang sabar hidupnya ambyar!"


"Nggak lucu, ya!" ketusku sembari berlalu meninggalkan Sari yang malah asyik menertawakan kisah rumit keluargaku. Kewalat kamu nanti.


"Ampun, Nyonya."


Aku duduk di teras seraya menatap langit yang tampak mendung. Sama halnya seperti hatiku saat ini.


Kemudian kuarahkan kedua netra keseluruh halaman rumah. Tepat detik itu, aku menemukan sesuatu yang menggantung di bingkai jendela. Benda itu bersembunyi dibalik kemoceng yang tergantung di anak paku.


Aku beranjak dan meraihnya. Kunci rumah.


"Kenapa, Nad?"


Kuperlihatkan kunci rumah itu pada Sari. Pikiranku semakin kalut. Mataku menghangat menduga hal buruk akan terjadi padaku.


Kenapa Ibu sama Bapak seperti sengaja meninggalkanku? Apa maksud mereka. Rasanya ingin aku berteriak sekeras mungkin.


"Sini," Sari merebut kunci itu dari tanganku, lalu melangkah menuju pintu dan membukannya.


"Coba sekarang lu masuk. Siapa tau di dalam ortu lu ninggalin surat atau apa kek gitu." ucap Sari.


Aku yang mematung segera tersadar dan masuk ke dalam bersama Sari. Tidak ada yang aneh di dalam rumah ini. Semua tampak biasa dan tak berubah. Hanya penghununya saja yang tidak ada.


Tak terasa hampir satu jam aku berada di dalam. Kucek ponsel yang tadi sempat berdering. Ada dua panggilan tak terjawab dari Mas Gibran.


[Ada apa, Mas?] Aku mengirim pesan.


Tak lama setelahnya, panggilan masuk dari Mas Gibran. Segera aku menekan ikon hijau.


"Di mana?" tanya Mas Gibran di seberang sana.


"Rumah ibu. Bentar lagi pulang, kok."


"Tetap di situ. Aku akan ke sana."


Klik!

__ADS_1


Mas Gibran memutus sambungan secara sepihak.


Dilihat dari jam, lelaki itu sepertinya baru keluar kantor dan akan menjemputku. Padahal Sari sudah bilang, bahwa dia yang akan mengantarkanku pulang.


__ADS_2