Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Acara ulang tahun di gedung C


__ADS_3

Kalau boleh jujur, rasanya ingin sekali keluar dari zona seperti ini. Aku tinggal bersama suami yang ibunya tidak merestui. Sedangkan mau pulang pun rasanya enggan karena masalah itu.


Andai janin ini belum ada, mungkin aku akan kabur saja dari kehidupan mereka. Pergi sejauh mungkin dan bekerja untuk menghidupi diri sendiri.


"Nada, buruan siap-siap!" teriak Mas Gibran dari dalam. Aku yang sedang memandang langit malam di balkon kamar, segera masuk kala mendengar suara itu.


Malam ini Mas Gibran mengajakku datang ke acara ulang tahun putri salah sartu koleganya di gedung C.


Sebenarnya aku nggak mau ikut, tapi Mas Gibran bilang, katanya buat apa punya istri kalau kemana-mana masih sendiri. Entahlah. Lelaki itu sudah mulai jinak sejak menikah denganku.


"Aku bingung mau pake baju apa." ucapku yang sedang berdiri di depan lemari dengan pintu terbuka lebar dimana para baju berderet rapi di dalam sana. Kalau saja baju-baju itu bisa ngomong, mungkin mereka sudah protes karena aku menganggap adanya seperti tiada.


"Kamu pake baju apa saja tetap cantik." Mas Gibran mencium pipiku sekilas sebelum berlalu.


Halah!


Melihat Mas Gibran yang sudah rapih dengan jas hitam, Akhirnya aku mengambil dress edelweiss berwarna putih dengan motif bunga berwarna merah. Dress berlengan mini dengan panjang di atas lutut dan belahan dada rendah.


Kata Mas Gibran tidak ada dresscode di acara itu. Jadi kita bisa bebas mengenakan baju warna apa saja.


Setelah memakai dress yang tadi kupilih, dan sedikit berdandan, aku dan Mas Gibran langsung berangkat dengan mengendarai mobil sport kesayangan.


Dibilang kesayangan karena Mas Gibran pernah mengatakan bahwa mobil ini hasil pertama dari kerja kerasnya.


Merasa sepi dan hening, aku meminta Mas Gibran menyalakan musik.


"Mas, musikan, dong!"


"Nyalain aja." sahutnya tanpa menoleh.


"Nggak bisa aku."


Mas Gibran memelankan laju kendaranya dan menekan-nekan tombol untuk menyalakan musik. Dia mengimbangi fokusnya pada jalan dan layar di sampingnya.


"Mau lagu apa?"


"Sambungin dari hp aku bisa nggak?"


"Salain bluetooth-nya."


"Oke!"


Usai ponselku terhubung, aku memilih lagu yang akhir-akhir ini sering kuputar. Lagu mengalun dengan sangat merdu. Dibagian reff aku ikut bernyanyi.


"Ternyata hanya kamu ... tempat untuk hatiku ...


Takkan lagi aku men ... cari karena hanya kamu ...."


"Kamu suka nggak Mas sama lagunya?"


"Nggak."


Aku menautkan alis. "Kenapa?"

__ADS_1


"Melow."


"Lho ... emang Mas sukanya lagunya apa?"


"Aku nggak terlalu suka musik."


"Ya, sudah. Kalo gitu matiin aja musiknya." ketusku dengan wajah cemberut. Aku membuang pandangan ke luar jendela.


"Udah biarin aja. Biar nggak sepi."


"Tapi kamu kan nggak suka."


"Bukan nggak suka, tapi nggak terlalu suka."


"Sama aja!"


Kulihat Mas Gibran menggaruk lehernya. Entah karena gatal atau hanya refleks saja.


***


Sebelum memasuki area dalam gedung pesta, orang-orang yang datang terlebih dulu memberikan kertas undangan pada si penjaga. Termasuk Mas Gibran.


Orang-orang di sana langsung menyambut kedatangan Mas Gibran dengan antusias.


"Mas, aku takut malu-maluin." bisikku pada Mas Gibran.


Lalu Mas Gibran memegang erat tanganku, seolah memberiku kekuatan, saat beberapa pria berjas datang menghampiri.


"Pak Andre," Mas Gibran balas menyapa mereka satu per satu. Dan Pak Andre ini yang terakhir disapanya.


"Apa ini istri baru Pak Gibran?" Pria yang diketahui bernama Pak Andre itu menunjukku dengan wajah sumringah.


"Benar. Kenalkan."


"Nada." Aku menjabat tangan mereka satu per satu.


"Cantik dan masih sangat muda."


"Pak Gibran sangat pintar memilih pasangan."


"Habis ini Pak Gibran harus kasih tau saya gimana caranya mendapat istri yang sangat cantik." ucap pria berjas navy yang terlihat paling muda diantara mereka.


Mas Gibran hanya tertawa kecil menanggapinya. Pun denganku.


"Wah, Pak Gibran sudah datang rupanya." Seorang wanita yang wajahnya terasa tidak asing menyambut kedatangan Mas Gibran dengan tidak kalah antusias.


Dia menggandeng seorang pria yang kurasa itu adalah suaminya. Mereka berdua membungkuk pada Mas Gibran beberapa kali. Wajah pria itu mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa, ya?


"Sebuah kebanggaan bagi keluarga kami Pak Gibran bisa hadir di sini." ucap si pria. Sepertinya dia pemilik acara ini.


"Iya. Buat orang sepenting Pak Gibran, tentu kami sangat berterima kasih karena Pak Gibran sudah meluangkan waktu berharganya untuk datang ke acara receh kami malam ini." Wanita itu ikut menimpali.


"Terima kasih kembali sudah mengundang saya ke acara ini."

__ADS_1


"Itu sebuah keharusan seorang karyawan mengundang bos-nya."


Lagi-lagi Mas Gibran hanya tertawa kecil menanggapi itu. Sepertinya Mas Gibran membatasi diri dari para karyawannya.


"Oh ya, perkenalkan, ini istri saya. Nada."


"Nada." ucapku sambil tersenyum.


Dua orang itu bergantian menjabat tanganku sembari memberikan beberapa pujian yang menurutku sangat berlebihan.


"Cantik banget. Cocok sama Pak Gibran yang rupawan."


"Iya. Dia pasti sangat pintar."


"Nggak kebayang bakal secakep apa anak-anaknya nanti."


"Mari mari silakan duduk."


"Iya, Pak Dito. Terima kasih."


Sepasang manusia itu kemudian menuntun aku dan Mas Gibran duduk di meja yang katanya sudah mereka khususkan untuk kita berdua.


Netraku menyapu seluruh ruangan yang sudah didekorasi sebagus ini. Aku memakan secuil kue yang terhidang di atas meja. Mas Gibran menuangkan minuman untukku.


Dari tempatku duduk, aku melihat seorang pemuda tengah bercengkrama dengan dua orang. Mereke terlihat seperti sebuah keluarga. Dan pemuda itu, dia mirip seperti Davin. Aku terus memperhatikan, hingga kemudian pandangan kami bertemu.


"Nada?"


Aku mengrnyit kala dia memanggil namaku. Benarkah dia Davin yang kumaksud?


Pemuda itu melangkah menghampiri.


"Nada?" Dia nampak heran dengan kehadiranku.


"Davin?" Sama seperti Davin, aku pun tak menyangka akan bertemu cowok superstar sekolah itu di sini. Seketika jantungku berdetak tak karuan. Davin belum tau kalau aku sudah menikah. Bagaimana kalau semuanya terbongkar.


"Kamu kenal sama dia?" Mas Gibran bertanya.


"Iya. Dia teman sekelasku."


Davin menarik tanganku dan sedikit menjauh dari keramaian.


"Kamu ngapain ada di sini? Kenapa sama om-om?" tanyanya setengah berbisik sembari sesekali menoleh ke arah Mas Gibran.


Walau pun Davin sering main ke rumahku, tapi laki-laki itu tidak kenal dan tidak tau siapa Mas Gibran.


Aku menggenggam kedua tangan gugup. Bingung harus cerita bagaimana.


"Kamu sendiri kenapa ada di sini?" Alhasil aku malah balik bertanya.


"Papa ngerayain ulang tahunku di gedung ini. Yang datang ke sini juga hanya teman-teman terdekat Papa, sama bos di kantornya."


Deg!

__ADS_1


__ADS_2