Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Mengunjungi rumah ibu


__ADS_3

Sekitar jam setengah enam, Mas Gibran pulang kerja. Setelah sebentar menghabiskan bubur kacang ijo, tanpa mengganti baju terlebih dahulu, lelaki itu menyuruhku untuk segera bersiap karena akan langsung meluncur ke kota kediaman orang tuaku.


Tidak banyak barang yang kubawa.


Bersama Om Vino, kita bertiga melakukan perjalanan. Selama di jalan, aku lebih fokus pada ponsel untuk membalas satu per satu pesan yang masuk, baik di aplikasi ijo maupun biru.


[Nad, ada salam dari Davin. Buka blokiran WA katanya] Pesan dari Sari.


Hah? Iya tah aku nge-blok kontak si Davin?


Segera aku mengecek daftar kontak terblokir. Dan benar saja. Ada beberapa nomor berderet di sana, termasuk milik Davin. Kok aku ngga ngeuh ya. Pantas saja Davin tidak pernah menghubungiku.


Lekas aku membuka blokiran itu. Tak berselang lama muncul notifikasi di layar atas. Pesan dari Davin.


[Thanks sudah buka blokirannya. Btw kenapa? Apa aku ada salah?]


[Iya. Nggak Davin. Kamu nggak ada salah apa-apa, kok. Aku juga nggak sadar kalo kontak kamu keblok.] Aku membalas disertai emot tangan menangkup meminta maaf.


[Oh gitu. Sekarang lagi ada di rumah nggak?]


Duh, Gawat!


[Aku lagi di luar] balasku jujur.


[Padahal tadinya aku mau main ke sana]


[Hehe. Lain kali saja, ya]


Berharap lain kalinya itu beberapa tahun kemudian. Sory, ya, Vin. Kamu terlalu baik untukku.


[Oke. Tapi kamu sehat, kan?]


[Alhamdulillah, sehat, Vin]


Davin kemudian terus mengirimi pesan berturut-turut, tapi aku tak membalasnya. Jariku meluncur mengarah ke aplikasi biru.


Ada update berita terbaru dari my idola. Justin Bieber. Suami haluku sejak masa SMP.


'Justine Bieber mengatakan kepada penggemar dalam sebuah video yang diposting ke insta**** bahwa dia telah didiagnosis menderita syndrom Ramsay Hunt, yang menyebabkan dia lumpuh sebagian wajah.'


"What?! Ya, ampun, Ayang!"


Astaga! Wajah tampan dia bermasalah.


Kedua lelaki yang berada di depanku seketika menoleh, lalu saling melempar pandang.

__ADS_1


"Kemarikan ponselmu!" pinta Mas Gibran.


Entah kenapa aku patuh saja dan langsung menyerahkan ponselku padanya. Kutunggu hingga beberapa menit, namun belum juga dikembalikan.


'Lama sekali. Cek apaan, sih. Ayangku itu cuma kamu! Itu juga sementara.'


Emang nggak ada yang abadi, sih, di dunia ini.


Aku melongok, melihat sedang bermain apa Mas Gibran di ponselku. Aish, gedek sekali. Rupanya ponsel dengan logo apel digigit itu sedang diputar mainkan di tangannya.


"Kalau sudah, kembalikan!"


Dia menoleh.


"Ini?" tanyanya seraya menunjukan ponsel berwarna putih milikku--hadiah dari Mas Gibran di hari pertamaku menginjakan kaki di rumah besarnya di kota Jakarta.


Tanpa babibu aku langsung merebut benda itu dari genggamannya. Namun sial, suami bule itu malah menjauhkan tangannya, dan membuatku kesulitan untuk menggapai ponsel itu.


"Balikin, ish!" Aku menarik-narik lengan jas berwarna navy yang dia kenakan.


Dia mencebik dan malah memasukan ponselku ke dalam saku jas. Apa dia cemburu, yah lihat foto Mas JB di ponselku? Nggak mungkin!


***


Hooekk!


"Mas, nggak usah. Kamu masuk mobil aja sana!"


"Aneh. Istri sedang begini malah nyuruh suami masuk mobil." Dia mendengkus. Tangannya tak berhenti memijat ceruk leher belakangku.


"Tuan, ini."


Aku mendangak, melihat Om Vino membawa minuman bersoda dan menyerahkannya pada Mas Gibran. Tadi memang Mas Gibran menyuruh sahabatnya itu pergi untuk membeli sesuatu. Ternyata ini.


"Minumlah!" Dia menyodorkan minuman botol hijau itu ke arahku, namun aku langsung menggeleng.


"Nggak mau. Aku nggak suka minuman soda."


"Jangan ngeyel. Soda bagus buat meredakan mual."


Hah?! Teori dari mana itu. Gila aja saat perut perih begini dimasukin soda.


"Lagian ini muntahnya udahan." Aku berdiri dan melenggang masuk ke dalam mobil mendahului dua lelaki berjas yang masih mematung.


Selang beberapa menit mereka berdua masuk menyusulku. Kita kembali tancap gas.

__ADS_1


Setelah melanjutkan lima belas menit perjalanan, kita akhirnya sampai di tempat tujuan. Om Vino memarkirkan mobil di tanah kosong samping bekas rumah Mas Gibran dulu.


Usai menunggu Om Vino memarkirkan mobil, aku segera melangkah menuju rumah Ibu. Di belakang, dua orang pria gagah mengikutiku layaknya seorang bodyguard. Om Vino dan Mas Gibran.


Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum," seruku antusia, tidak sabar bertemu Ibu.


Tidak ada sahutan dari dalam.


Puluhan menit berlalu, namun Ibu dan Bapak tak juga membuka pintu. Aku mengintip dari jendela, sepi. Lalu kemudian bolak balik mengecek ke halaman dapur, barangkali Ibu ada di sana.


"Ada?" tanya Mas Gibran saat aku kembali dari halaman dapur.


Aku menggeleng dengan raut lesu.


Ibu bilang sudah menerima, tapi kenapa saat aku berkunjung bersama Mas Gibran, Ibu dan Bapak malah tidak ada di rumah.


"Hari sudah hampir maghrib, lebih baik kita cari penginapan saja." Mas Gibran terlihat kecapean.


"Tapi aku mau ketemu Ibu."


"Nanti malam kita ke sini lagi."


Aku mengembuskan napas pasrah.


"Baiklah, tapi janji dulu." Aku mengacungkan jari kelingking pada Mas Gibran. Kulihat Om Vino tersenyum. Senyuman yang kemudian menular pada bibirku saat Mas Gibran mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku. Meski dengan wajah ditekuk. Masa bodo, pokoknya malam ini aku harus ketemu Ibu!


***


Mas Gibran memilih penginapan di apartemen Marigold NavaPark. Lokasinya berada di kawasan BSD yang memiliki akses menuju tol JORR, Jakarta-Merak dan Jakarta-Pondok Indah. Beliau bilang mau menginap di sini selama satu bulan.


Aku yang belum pernah sama sekali menginap di sebuah apartemen, sedikit katro pada fasilitas yang tersedia di indoor maupun outdoor halaman bangunan mewah ini. Ternyata begini rasanya menikah dengan orang kaya.


Tak ingin membuang kesempatan, aku akan menikmati masa-masa indah bersama Mas Gibran sebelum kuputuskan untuk pergi jauh dari hidupnya.


"Mas, mana? Kok, Om Vino nggak datang datang?" tanyaku yang sedari tadi gelisah hanya karena menunggu baju ganti.


"Tunggu saja."


"Sampe kapan? Badanku sudah gerah, pengen mandi. Ini sudah jam delapan malam. Belum lagi kita harus siap-siap buat ke rumah Ibu." Aku mencak-mencak pada lelaki di hadapan yang dengan santuynya duduk sandaran di dashboard ranjang sambil bermain ponsel.


"Mas!" Karena kesal, aku melempar bantal ke arah Mas Gibran. Dengan sigap lelaki itu menangkap bantal yang hampir mengenai wajahnya.


Mas Gibran kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah melewatiku.

__ADS_1


"Bocah nggak sabaran," ucapnya pelan, namun masih bisa kudengar. Dia menyambar jas yang terlampir di sisi sofa, lalu keluar meninggalkanku seorang diri di dalam kamar yang begitu luas ini.


Waktu baru sampai di apartemen, atas suruhan Mas Gibran, Om Vino pergi ke pusat perbelanjaan untuk membelikan beberapa stel baju untukku dan juga Mas Gibran. Tapi hampir dua jam sahabat suamiku itu tak juga kembali. Nggak mungkin, kan, dia nyasar? Atau jangan-jangan Om Vino di kerubungi cewek-cewek saat sedang memilih baju sehingga dia tidak bisa pulang?


__ADS_2