Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Cerita


__ADS_3

"Lu, kok, nginep di apartemen, sih?" Sari bertanya saat aku baru saja memasuki mobilnya.


"Panjang ceritanya. Itu nanti aja terakhir," sahutku sambil memakai seatbelt.


"Oke, lu harus jelasin semuanya ke gue secara detail!" Sari mulai melajukan mobilnya.


"Iya. Btw, ini kita berdua aja, nih?"


"Iye, si Rani pas gue ajak nggak bisa. Ada urusan katanya."


"Siti?"


"Jan tanya dia, gue pusing! Dah nggak ngerti lagi sama jalan hidupnya. Miris bet tuh anak. Kalau lu liat tampilan dia sekarang, lu bakalan kaget!" seloroh Sari dengan menggebu-gebu.


"Kenapa emangnya?" tanyaku penasaran.


"Dahlah, simpen dulu ceritanya. Nanti kita bahas semua di kafe."


Sesampainya di kafe, Sari langsung memesan dua coffe latte. Sebetulnya aku tidak terlalu suka minuman berbau kopi, dan Sari tau itu. Tapi karena ini katanya ditraktir, boleh lah ya mencoba sesekali. Sedikit saja. Sari juga bilang, kopi itu katanya candu.


Kita berdua memilih duduk di kursi dekat jendela.


"Permisi," seorang waiters membawakan minuman yang Sari pesan.


Mencium aromanya, seketika membuat perutku terasa mual. Lekas aku berlari menuju toilet. Muntah-muntah di pagi hari seperti hari-hari sebelumnya.


Sari ternyata menyusul.


"Sorry, ya. Gara-gara gue, lu jadi begini. Eh, tapi padahal lu baru nyium aromanya doang kan, ya? Belum sempet minum. Kok udah muntah-muntah?" cerocos Sari sembari memijat ceruk leherku.


"Iya, gue juga nggak ngerti kenapa. Di Jakarta pun hampir setiap pagi selalu begini." ucapku sambil mengusap mulut dengan tisu.


"Lu kek orang lagi bunting tau, nggak?"


Tubuhku terpaku mendengar itu. Sudah tidak berharap lagi mengandung benih Mas Gibran. Karena sebentar lagi aku akan mengajukan gugatan cerai pada lelaki tampan tersebut.


Dan lagi, bukan kah aku sudah sempat diperiksa oleh dokter? Hasilnya pun negatif. Jadi mungkin ini cuma meriang biasa.


"Hey! Kok, bengong?!" Sari menjentikan jari di depan wajahku. Aku hanya tersenyum kaku.


"Sudah, ayo kembali. Kopi gue takut dihinggapin laler nanti."


Karena drama muntah tadi, Sari mengganti minuman coffe latte-ku dengan lemon tea.


"Oke, gue bakal buka cerita pertama mulai dari Sari."


"Cyeileh, cerita, cerita aja kali. Nggak usah pake pembukaan segala. Kek orang lagi rapat aje, lu!"


"Ahahaha. Eh, bentar!" Sari tiba-tiba memperhatikanku dengan tatapan aneh. Dia menunda kembali gelas yang hampir menyentuh mulutnya.


"Badan lu gemukan, ya." ucapnya sambil terus memindaiku dengan dahi mengernyit dan tatapan menyelidik. Semoga saja di nggak mikir macem-macem.


"Ah, perasaan lu aja kali. Kita kan lama nggak ketemu, jadi mungkin itu yang buat lu liat gue terasa kaya beda." Aku berusaha mengelak agar omongan Sari tak menjurus ke mana-mana.


"Apaan, orang tiga bulan doang kita nggak ketemu."

__ADS_1


"Ya, itu hmm--"


"Ah, sudahlah!" Dengan cepat Sari memotong ucapkanku. Dasar ferguso! Tapi bagus sih, aku jadi tidak perlu repot-repot mencari alasan apa untuk menjawab pertanyaannya. Jujur, masih ragu buat ceritain semuanya.


"Yang gue denger tentang Siti, katanya dia itu dihamilin om om di night club. Sekarang mungkin kandungannya dua bulan jalan. Gue pernah nggak sengaja ketemu dia di supermarket. Dia bersama seorang laki-laki tinggi besar, yang kurasa orang itu lah yang ngehamilin Siti."


"Dan lu tau, nggak?" Sari ngajak tebakan yang jelas saja aku tidak tau jawabnnya.


"Apa?"


Sari memajukan wajahnya ke arahku.


"Siti terlihat bahagia dengan penampilan barunya yang super duper seksoy!" Kata kata itu tersembur indah tepat di depan wajahku.


"Dia juga kayaknya sudah nerima tuh om om. Siti beneran nggak terlihat seperti seorang korban. Dan menurut gue om-nya juga lumayan. Nggak yang tua tua banget," sambung Sari.


Kok berasa kayak aku yang diomongin ya. Nasib Siti sama banget kaya yang aku alamin.


"Cakep?" tanyaku kemudian.


"Huum. Bule."


Tuh, kan!


"Wow, Amazing!"


Lalu aku teringat sesuatu. Soal racauan Siti tentang Bapaknya ketika dia lagi mabuk waktu di club malam itu.


"Kalau soal keluarganya lu tau, nggak?"


"Benar."


"Iya. Jadi dia dan nyokapnya itu mengalami kekerasan oleh lelaki kasar itu. Tapi alhamdulillah sekarang Siti sama nyokapnya sudah aman."


"Because Siti sudah married?"


"Bukan lah, dodol!" Sari menepuk tanganku yang berada di atas meja.


"Lalu?"


"Lelaki kasar itu dipenjara. Seseorang sudah melaporkannya."


"Syukur, deh. Dan menurut gue, Siti tuh masih beruntung karena orang yang udah buat dia hamidun mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Kan, banyak di luar sana yang ketika benih si laki sudah numbuh di rahim, si cewek malah dicampakan."


Berasa lagi bahas diri sendiri.


"Iya, sih. Tapi alangkah lebih baiknya si laki kagak nanem benih sembarangan. Dikira kaum betina hanya sekedar pemuas nafsu!" Sari berucap penuh penekanan.


Sebelum bertanya lagi, aku lebih dulu menghabiskan milk tea yang hanya tersisa setengah. Takut juga liat Sari ngamuk begitu.


"Btw, tuh si om dah punya bini, belum?"


"Katanya juga sih, kawin cerai," jawab Sari. Ia lalu membuka ponsel yang sepertinya ada pesan masuk.


"Seenggaknya tidak ada hati wanita lain yang tersakiti."

__ADS_1


"Hm."


"Ri, sekarang Siti masih mau temanan sama kita nggak, ya?"


Aku merasa kasihan sama Siti. Bagaimana pun juga kita berempat sudah bersahabat baik sejak lama. Dari menduduki bangku mulai Esdeh.


"Entahlah."


Brak!


Astaghfirullah al 'adzim!


"Bloso! Ngapain lu pake gebrak meja segala? Bikin orang hampir jantungan aja!" sentakku pada Sari yang tiba-tiba menggebrak meja dengan lumayan keras. Kuelus dada karena saking terkejutnya.


Hal itu sontak membuat beberapa pasang mata tertuju pada kita berdua dengan tatapan tidak suka.


"Sorry. Nggak niat tapi sengaja." Dia malah nyengir cengengesan.


"Gue kemplang juga, lu." Aku pura-pura hendak melayangkan ponselku ke arah Sari.


"Sudah, jangan banyak bacot! Ceritakan semuanya!" desak Sari. Ia bersedekap dada dengan raut jutek.


"Cerita apa?" tanyaku beneran tak mengerti.


"Pake pura-pura amnesia segala."


"Apasih, Ri?"


"Tentang lu!"


Oke, aku faham sekarang. Tinggal menyusun ide harus mulai dari mana aku menceritakan semuanya. Eh, nggak semua ding. Ada beberapa hal yang memang cukup aku, Mas Gibran, dan Tuhan saja yang tau.


"Gue kenapa?" tanyaku sengaja memancing emosi.


"Coba tanya rumput bergoyang." Sari mulai jengah. Pandangannya ia alihkan ke luar jendela.


"Hahaha. Oke, gue sebenernya udah nikah."


"What?!"


"Biasa aja, keles!"


"Seriusan lu?" Lagi-lagi dia memajukan wajahnya. Meyakinkan apa yang baru saja didengarnya.


Kujawab hanya dengan deheman.


"Gimana asal muasalnya?"


"Ya, makanya diem dulu!"


"Oke, lanjutkan!"


Kemudian aku bercerita dari bagaimana awal aku bertemu Mas Gibran di night club malam itu, lalu accident yang membuat kami menikah, tentang aku yang hampir diusir oleh Bapak sama Ibu karena saking murkanya mereka saat tau putrinya ternoda, hingga bayi yang belum juga hadir dalam rahimku sampai saat ini.


Sari menggeleng tak percaya mendengar ceritaku.

__ADS_1


__ADS_2