
Selesai memoles sedikit make up tipis-tipis, aku memberi sentuhan bibir dengan warna yang soft agar tidak terlihat pucat. Tidak menyala, namun terlihat calm.
Pagi ini aku sudah rapih dengan kebaya warna pastel yang melekat pas di tubuh mu...ngil? tunggu! Perutku sepertinya membesar.
Aku menatap cermin lekat-lekat. Memastikan bahwa apa yang kulihat ini salah. Tapi ternyata tidak. Perutku beneran sedikit membuncit.
Hamil? Ah tidak mungkin. Mungkin ini karena aku yang akhir-akhir ini suka makan banyak.
Nafsu makanku sulit terkontrol entah sejak kapan.
Mas Gibran datang, lalu melingkarkan tangannya ke pinggangku. Dia memelukku dari belakang. Lelaki itu menatapku dari cermin dengan sorot mata penuh tanya.
"Kayaknya aku harus diet." Sengaja aku mengatakan itu agar Mas Gibran tidak berfikir bahwa aku sedang hamil. Aku tidak mau dia kecewa.
"Tidak perlu. Aku menyukai wanita sedikit berisi," sahutnya, lalu mencium pipiku sekilas karena aku buru-buru mendorongnya.
"Mas, jangan mulai, deh." Kudorong dada bidang itu saat Mas Gibran akan melancarkan aksinya.
Jangan sampai aku datang terlambat di acara wisudaku gara-gara melayani suami yang tidak ada puasnya. Padahal semalam sudah kukasih jatah lama banget. Eh masih pagi sudah mulai nyosor saja.
"Sebentar saja." ucapnya dengan suara berat. Setelahnya, lelaki itu menyusuri leherku dan membuat beberapa tanda kepemilikan di sana.
Melihat hasil karyanya, aku berkacak pinggang dengan sorot mata membunuh. Kesal, emosi, gemas, berpadu jadi satu. Aku tau melayani suami itu kewajiban, tapi nggak gini juga, kan?
"Kamu itu nggak ngertiin banget sih, Mas!"
"Lihat ini! Bentar lagi kita berangkat. Tapi kamu malah bikin aku emosi." Aku menunjuk tiga tanda merah keunguan di area leherku.
"Kalau gitu sekarang kita berangkat," serunya tanpa beban.
"Kamu mau aku pergi seperti ini?"
"Mau pake syal?" Dia malah balik tanya. Gemes banget. Membuatku ingin sekali mencubit ginjalnya.
Dia kenapa tiba-tiba jadi kayak orang oon gini, sih.
Aku mencari foundation yang diletakan di atas meja rias. Lalu menutupi tanda-tanda di leher ini hingga terlihat samar.
*****
"Nada!" Teriakan dari dua orang bestiku saat aku baru saja turun dari mobil mewah Mas Gibran.
Dua gadis yang mengenakan kebaya berwarna hampir sama itu (coksu dengan cream), seakan menyambut kedatanganku. Keduanya terlihat sangat cantik dengan riasan make up yang kurasa itu hasil polesan tangan MUA.
Sementara Mas Gibran memarkirkan mobil, aku bergabung bersama teman-teman yang lain.
__ADS_1
"Keren banget bestiku ini. Dianter cogan pake mobil mewah. Ckck, dah berasa kayak nggak punya beban hidup!" Sari berdecak kagum sembari menggeleng.
"Sa ae lu ketombe!" Aku mencolek dagunya membuat dia menggeram kesal dengan alis mengkerut.
"Om Gibran makin ganteng, yah. Aku juga pengen punya suami kaya gitu." Rani menimpali dengan terus memperhatikan mobil Mas Gibran yang memasuki area parkir.
"Lu mau, punya suami duda?" tanya Sari dengan sedikit sentakan.
"Ya kalo dudanya modelan Om Gibran, siapa yang nolak?"
Sontak aku dan Sari melongo, lalu saling tatap mendengar jawaban Rani yang mengatakan demikian. Tidak kusangka dia bisa berkata begitu.
"Ini beneran lu, Ran?" Sari menempelkan punggung tangannya di kening Rani. Bocah itu lalu membolak-balik badan Rani hingga membuat sang empu marah.
"Apaan sih kamu, Ri." Dengan tegas Rani menepis tangan Sari yang berada di pundaknya.
"Udah, udah. Masih pagi. Tunda dulu berantemnya." Aku menengahi.
"Widih ... pengaruh dinikahi cogan berduid, jiwa keibuan lu nongol juga."
Sari bener-bener, ya. Dia suka banget mancing amarah aku. Nggak di rumah nggak di sekolahan, asal nyeplos mulu tuh bibir dower. Kalo ada yang denger kan gawat. Bisa dikejar wartawan aku.
Selang berapa lama Davin datang. Lelaki itu mengulurkan buket bunga ke arahku. Sekelompok bunga berwarna merah itu tersusun rapih dan cantik dalam bungkusan buket berwarna hitam dengan aksen tali pita berwarna hijau.
Davin tau banget hal-hal yang aku suka. Termasuk bunga mawar yang dibawanya pagi ini.
"Pegang dulu aja." Davin membuatku mau tidak mau menerima buket pemberiannya.
Kemudian kita berempat segera menuju aula, dimana orang-orang telah ramai berada di sana.
Barisan kelas tiga duduk di kursi tengah. Dibagi menjadi dua kelompok. Antara cewek dan cowok.
"Siti nggak dateng?" tanyaku pada Sari yang duduk tepat di sebelah kanan.
"Kemarin gue ke rumahnya. Dia bilang sih mau dateng, tapi akhiran. Gue ngerti mungkin dia malu. Secara berita buntingnya sudah kesebar."
Aku manggut-manggut.
"Gimana habis wisuda selesai, kita ke rumahnya?" usulku kemudian. Karena jujur, aku ingin sekali bertemu satu bestiku itu.
"Ide bagus. Tapi lu harus izin dulu sama suami lu."
"Tenang aja. Itu masalah gampang."
"Kenapa?" Rani menyenggol lenganku.
__ADS_1
"Setelah pulang dari sini, kita ke rumah Siti."
"Oh, oke."
Acara dimulai. Beberapa penampilan pentas seni dari adik kelas ikut meramaikan acara wisuda pelepasan tahun ini.
"Neng, ibu mah nyari-nyari. Kirain belum sampe sini."
Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Rani. Rani menyaliminya penuh takdzim. Disusul aku dan Sari yang juga ikut menyalimi.
"Pangling-pangling banget, ya." ucapnya saat aku dan Sari mencium tangannya.
"Hehe. Efek make up, Bu." Aku menyahuti.
"Iya. Bawaan lahir juga, sih." Sari membalas dengan gurauan, dan berhasil mengundang tawa kita berempat.
"Iya, iya. Ibu percaya. Ketiga anak ibu ini emang cantik-cantik dari lahir."
Begitulah. Bu Ely, yang tak lain Ibu dari Rani, memang sudah menganggap kita sebagai anaknya sendiri.
Aku jadi sedih lagi. Ingat Ibu dan Bapak yang tidak hadir diacara wisuda kelulusanku.
"Aku kan udah bilang, aku berangkat duluan biar nggak telat." Rani membela diri. Dia emang paling nggak bisa salahin.
"Ya, udah. Ini hp-nya Ibu bawain." Rani menerima ponsel dari uluran tangan Bu Ely.
"Ya, makasih. Ibu sama siapa?"
"Sama Bapak. Dia di sana. Gabung sama bapak-bapak yang lain." Bu Ely menunjuk ke samping dimana para bapak-bapak duduk berjejer rapih di sana.
"Ya, sudah. Ibu duduk di belakang, ya. Kamu baik-baik di sini. Awas riasannya. Jangan dilap-lap mulu. Mahal itu!" Pesan Bu Ely sebelum berlalu.
Hari sudah mulai panas. Pentas demi pentas telah ditampilkan dari para adik kelas. Dan kini tibalah pada acara inti.
Seluruh siswa siswi kelas tiga akan maju satu persatu, dan naik ke atas panggung saat ibu wali kelas memanggil namanya. Diringi dengan lagu perpisahan yang membuat hampir semua orang menitikan air mata.
Tidak dari absen. Bu Desi, wali kelas kami itu mendahulukan siswa laki-laki sebelum mengabsen para sisiwi.
[Mas, kamu masih di sini, kan?]
Aku mengirim pesan pada Mas Gibran yang dari awal datang malah hilang entah kemana.
[Iya. Namamu belum disebut, kan?]
[Belum. Ini bentar lagi. Sudah masuk huruf M. Mas di mana?]
__ADS_1
[Belakangmu]
Aku menoleh. Hampir saja buket yang kupegang ini terjatuh karena saking kagetnya dengan penampilan Mas Gibran yang berubah pakaian menjadi serba hitam. Persis seperti polisi yang menyamar mencari pelaku.