
"Kenapa kamu diantar om om lagi?" Davin bertanya dengan raut menunjukan ketidak sukaan.
"Suamiku yang menyuruhnya." Aku mengaduk orange juice di hadapan sesaat sebelum meminumnya. "Om Vino juga salah satu karyawan Mas Gibran di kantornya."
"Aku benar-benar tidak menyangka sama kamu, Nad." Wajah Davin terlihat sangat kecewa. Benarkah begitu?
"Mungkin sudah menjadi takdirku harus begini, Vin. Kamu kecewa?"
"Hm, tapi aku bisa apa? Kamu tidak pernah menerimaku." jawabnya setelah sedikit ia menyedot orange juice-nya.
"Maafin aku, Vin. Aku bukan tidak ingin menerima kamu. Saat itu banyak penggemar fanatik kamu yang membuatku merasa risih dan enggan lama-lama sama kamu karena tatapan tajam mereka."
Sebenarnya bukan karena itu saja. Entah kenapa aku merasa tidak cocok dengan Davin. Berharap, semoga kelak Davin dapat yang jauh lebih baik dariku.
"Harusnya kamu bilang sama aku. Aku juga tidak tau kenapa mereka bisa sefanatik itu."
"Itu karena kelebihan yang kamu miliki, Vin. Banyak di antara mereka yang ingin menjadi kekasihmu."
"Sayangnya kamu tidak termasuk dari salah satu diantara mereka."
Aku terkekeh. Benar ucapan Davin. Aku tidak pernah berharap untuk menjadi kekasih pria tampan yang kini sedang duduk berhadapan deganku itu.
Saat ini kita sedang duduk di warung depan dekat taman. Davin mentraktirku makan dan minum apa saja di sini. Anggap saja ini sebagai kencan singkat aku bersama Davin.
Sementara Om Vino, teman suamiku itu aku minta tunggu di mobil saja karena aku bilang tidak akan lama-lama. Beruntung kali kini Om Vino mau menuruti.
"Btw, selamat ya. Bentar lagi kamu akan jadi seorang ibu. Selamat juga atas pernikahan kamu. Maaf telat ngucapinnya." Davin mengulurkan tangannya untuk kujabat.
"It's okey. Tengkyu, ucapannya."
Ponselku bergetar. Terlihat nama si pemanggil di layar. Om Vino. Aku berfikir, sejak kapan aku punya nomor Om Vino. Kurasa aku tidak pernah memintanya. Dan Om Vino, dari mana dia mendapatkan nomorku.
Kutarik ikon hijau itu ke atas usai lama merenungi hal tidak penting.
"Iya, Om?"
"Tuan bilang, Nona harus segera pulang." Terdengar suara Om Vino dari seberang sana.
"Oke."
Tut! Kuputus sambungan secara sepihak tanpa basa-basi lagi.
"Maaf, Vin, aku harus pulang." Aku berdiri sembari merapihkan tasku dan memasukan ponsel ke dalamnya.
"Tapi kamu belum makan apa-apa."
"It's okey. Aku biar makan di rumah saja."
"Boleh aku tau alamat rumah kamu?" Nampak ragu saat ia menanyakan itu.
"Boleh. Nanti aku sharelok lewat WA saja, ya."
Davin mengangguk.
Belum jauh kaki ini melangkah, aku menoleh.
__ADS_1
"Vin, tengkyu traktirannya." ucapku sambil tersenyum.
Davin hanya merespon dengan jempol tangannya dengan sedikit menaikan bibir. Lalu kembali kuteruskan langkah.
Mobil Om Vino terparkir tidak jauh dari tempatku makan tadi. Hanya saja untuk sampai ke sana aku harus menerjang matahari yang sedang terik-teriknya.
"Om, nanti kita mampir dulu, ya ke indoapril." ucapku saat baru memasuki mobil.
"Baik, Non."
Sepuluh menit perjalanan, sampailah kita di indoapril, lalu Om Vino menepikan mobilnya.
"Non mau apa? Biar saya yang belikan."
"Tidak usah, Om. Aku saja yang keluar."
"Tidak apa. Di luar panas. Non Nada lebih baik tunggu di dalam mobil saja."
"Oke, deh, kalo Om Vino maksa. Aku mau es krim coklat sama nata de coco."
Tak berapa lama Om Vino kembali dengan membawakan pesananku. Aku suka sama cara kerja Om Vino yang sat set. Saat diberi tugas oleh Mas Gibran pun Om Vino selalu menyelesaikannya dengan baik dan rapih. Hanya heran dengan statusnya yang masih single hingga detik ini.
Padahal Om Vino sudah punya segalanya. Harta, pekerjaan bagus, visual pun sangat oke dengan tubuh tinggi hampir sama dengan Mas Gibran, dan memiliki kulit putih seperti layaknya orang barat.
"Om?"
Lelaki tampan di sampingku itu menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke arah jalan.
"Ya, Nona?"
Om Vino tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.
"Saat ini belum."
"Kenapa? Om Vino cakep, lho." Refleks kubekap mulut ini. Bukan aku banget muji cowok di depan orangnya langsung. Sama suami sendiri saja tidak pernah. Kalau ketahuan Mas Gibran, bisa mampus aku. Untungnya Om Vino tidak bereaksi apa pun saat mendengarku mengatakan begitu.
Setelahnya hening mengiringi perjalanan kami.
*****
Sore hari sebelum Mas Gibran pulang, aku memutuskan jalan-jalan sebentar dengan mengayuh sepeda.
Mampir ke toko bunga, aku memilih mawar putih untuk kubawa pulang. Rencana akan kutaruh bunga itu di dalam kamar sebagai hiasan. Paling nanti kena semprot.
Aku kembali mengayuh sepeda sembari memasang headset di telinga. Musik mendadak terhenti dan berubah menjadi getaran dering.
Kuhentikan sepeda di pinggir jalan.
Rupanya ada telpon masuk. Dari Sari.
"Halo, Ri?"
"Nad, gue lagi di Jakarta. Rumah lu di mana? Gue mau numpang dulu sebentar sampe nemu kosan. Boleh nggak?" Riuh suara Sari membuatku refleks mengelus telinga.
"Lu di mana sekarang?"
__ADS_1
"Kagak tau gue tempatnya. Cuma ini kayak tempat pemberhentian bus gitu."
"Lah gimana bisa lu kagak tau?"
"Dah jangan bahas itu. Buruan sharlok. Gue takut ini." Sari terdengar cemas.
"Lu sama siapa?"
"Sharelock, Markonah!"
"Oke, oke. Buka WA."
Aku segera mengirim alamat rumahku pada Sari. Sialnya aku baru ingat kalau aku sedang keluar dan berada lumayan jauh dari halaman rumah. Gegas kukayuh sepeda secepat mungkin. Berniat memberitahu alamat rumahku yang sebenarnya pada Sari. Moga aja dia nggak marah.
Tiba di rumah aku berpapasan dengan mobil Mas Gibran yang baru memasuki gerbang.
Tin!
Lelaki itu mengklaksonku dengan kaca jendela yang sengaja diturunkan.
"Habis dari mana?" Kepala Mas Gibran melongok dari jendela.
"Jalan-jalan sama beli ini." Aku menunjukan setangkai mawar putih yang kubeli tadi pada Mas Gibran.
Dia manggut-mangut, lalu pergi memarkirkan mobilnya. Aku mengikuti di belakang. Menaruh sepeda, tepat di pinggir kendara roda dua lainnya.
"Mas!" Langkah Mas Gibran terhenti di depan pintu utama kala aku memanggilnya.
Lelaki itu menoleh.
"Apa?"
"Bunga ini rencananya mau aku taro di kamar. Boleh, ya?"
"Bukannya itu bunga hidup?"
"Ya, emang."
"Mending taro di taman samping aja. Kalo di dalam kamar nanti dia mati karena nggak kena sinar matahari."
"Kalo gitu di balkon kamar aja gimana? Kan di situ belum ada bunga?"
"Ya, udah. Sesenangnya kamu aja."
Usai Mas Gibran masuk, aku memanggil Mbak Iyah, hendak minta tolong membuatkan tempat bunga untuk bunga mawar putihku.
"Ini, Non." ucap Mbak Iyah seraya menyerahkan pas bunga yang sudah ia isi dengan tanah ples pupuknya.
"Tengkyu, Mbak Iyah."
"Sama-sama."
Lantas aku naik ke lantai dua dan meletakan bunga baruku di lantai balkon.
Karena sebentar lagi mau masuk waktu maghrib, asal saja aku menaruh bunga itu dan membiarkannya sendiri di luar. Biarlah. Nanti aku akan berburu bunga lagi buat menemani mawar putih itu sembari merpapihkan balkon kamar yang akan kusulap menjadi taman bunga.
__ADS_1
🌹🌹🌹