Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Club


__ADS_3

Jam sudah menunjuk angka 21.15 tapi aku masih berjalan tidak jelas ke sana kemari bersama Siti. Rasa kantuk yang tadi menyerang mendadak hilang seketika karena kejadian tak terduga yang sangat tak diinginkan.


Sari dan Rani sudah pulang di jemput oleh orang tua masing-masing. Tadi, saat rem mendadak itu, tak lama setelahnya Sari tak sadarkan diri. Ternyata do'aku yang minta Sari jangan pingsan tidak terkabul.


Lalu aku menelpon Om Adit--Papanya Sari untuk menyusulnya di jalan. Kemudian saat setir diambil alih oleh Om Adit--hendak mengantar kita-kita pulang, tiba-tiba saja mesin ikutan mati.


Alhasil Om Adit pulang menggunakan motor yang dibawanya dengan membonceng Sari. Meninggalkan mobil merah yang teronggok tak berdaya di pinggir jalan. Tapi tak lama kemudian mobil di derek untuk dibawa ke bengkel. Bersamaan dengan itu Om Cipto, Ayah Rani datang untuk menjemput anaknya.


Om Adit juga balik lagi setelah mengantar putrinya pulang. Dia menjemputku dan Siti untuk di antar pulang. Sialnya si Siti sok-sok an menolak dan nggak mau dianterin.


Dan sini lah kita berdua berada. Berjalan luntang-lantung tak tentu arah. Sesekali aku melangkah sambil menendang kerikil dengan ujung sendal. Melampiaskan kekesalan pada bocah tak tahu diri yang berjalan di sampingku.


Lalu kita berhenti di depan sebuah gedung dengan lampu berkelap-kelip menembus luar. Di atas tertulis 'night club'.


"Nad." Siti menarik tanganku, lalu membisikan sesuatu di telinga."


"What?!" pekikku saat dia mengajakku masuk ke club tersebut.


"Kita liat-liat aja. Terus itu keluar lagi." Enteng banget dia ngomong begitu.


Bagiku masuk ke sebuah club bagaikan masuk ke kandang buaya. Kita tidak akan bisa keluar dengan keadaan utuh seperti semula. Aku takut di seret Om-Om lalu di bawa ke kamar untuk jadi pemuas nafsu. Persis seperti yang ada di novel-novel yang sering kubaca.


"Lu aja sono. Gue nggak!" Kulipat tangan di dada. Mengacuhkan ajakan konyol Siti kamvret.


"Yah, Nad ... kalo sendirian gue mana berani."


Aku mengernyit.


"Nyali ciut gitu sok-sok an ngajak ke club. Dah, jangan aneh-aneh. Mending kita pulang!" Aku masih memikirkan bagaimana cara nyampe rumah sebelum jarum jam menunjuk tepat di angka sepuluh.


Namun dengan tanpa dosa-nya Siti menarik kuat tanganku membuatku mau tidak mau mengikutinya. Aku benar-benar telah memasuki rumah penghibur. Suara dentuman musik begitu menggelegar di telinga.


Gila! Nih bocah bener-bener ngajak uji nyali.

__ADS_1


"Kita duduk di sana!" Sari menunjuk dua kursi kosong dan mengajakku untuk ke sana.


Setelah duduk, seorang waria datang menawari minuman yang kutebak itu anggur merah. Minuman memabukan yang sangat diharamkan dalam agamaku. Dengan cepat aku menggeleng. Tapi kelakuan Siti membuatku melotot tak percaya.


"Sedikit saja." Dia mengulurkan gelas kecil yang langsung diisi minuman oleh waria tersebut.


"Lu mau mabok?!" sentakku seraya menatap ke sekeliling yang begitu ramai. Banyak adegan pria dan wanita yang tak seharusnya aku lihat.


"Dikit doang mah nggak bakal mabok kali, Nad." Siti mulai menenggak sedikit minuman di gelas kecil. Ekspresinya langsung berubah saat merasakan cairan haram tersebut. Mungkin itu pengaruh dari rasa minuman untuk seorang pemula seperti Siti. Kemudian dia menenggak lagi, dan lagi.


Aku menarik gelas di tangan Siti yang masih menyisakan sedikit cairan berwarna merah keunguan itu. "Inget dosa, Ti!" ucapku lantang dan penuh penekanan.


"Di sini nggak usah ngomongin dosa. Kalo mau minum, minum aja. Nggak usah sok suci!" Seorang lelaki setengah mabok berkata ketus saat melewati meja kami. Mungkin dia mendengar ucapanku tadi. Kulihat dia berjalan sempoyongan menghampiri meja meja lain.


Bodoh banget emang. Ngomongin dosa di tempat seperti ini. Yang jelas-jelas menginjakkan kakinya saja sudah salah.


"Nah, bener kata orang itu, Nad. Kali ini aja kita pesta. Lupain sejenak masalah kehidupan." Omongan Siti mulai ngawur. Apa dia sudah mabok, yah?


"Mata lu pesta!"


'Bapak' gumamku menatap layar datar di genggaman. segera kugeser tombol hijau.


"Bapak harap kamu sedang dalam perjalanan pulang."


Glek! Suara Bapak terdengar dingin dan mengerikan. Aku bahkan tak mampu untuk sekedar mengatakan 'iya'. Kulirik jam di ponsel 21.45. Yang berarti 15 menit lagi aku harus sudah sampai rumah. Sedangkan di sini aku masih duduk-duduk di dalam club. Mampus kamu, Nada!


Tuhan, aku berharap Engkau masih melindungiku.


Sambungan terputus secara sepihak. Tanpa kusadari Siti menambah minumannya. Kali ini dia benar-benar mabuk. Meracau tidak jelas, meraung dan terkadang tertawa sendiri.


Aku berusaha menghentikan dengan merebut gelas dari tangannya. Tapi Siti sudah terlanjur mabuk. Kesal, bingung, takut, dan perasaan buruk lainnya bersatu padu dalam otakku.


"Aku sudah tidak tahan menjadi pelampiasan amarah Ayahku. Lelaki pecundang yang hanya menumpang hidup di rumah Ibu." Siti kembali meracau tidak jelas.

__ADS_1


Meski begitu, aku masih setia menyimak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bukankah orang yang sedang mabuk selalu berkata jujur? Dan barusan Siti bilang dia jadi pelampiasan amarah Ayahnya. Apakah dia sedang ada masalah dengan keluarganya?


"Pelampiasan bagaimana? Apa Ayah lu main tangan?" Aku berdebar menanti jawaban yang keluar dari mulut Siti.


"Hahaha, lu emang pandai menebak. Setiap pulang sekolah, aku selalu jadi tujuan utama amukannya. Dia jahat, Nad." Siti tertawa kemudian menangis.


"Lu diapain sama bokap Lu?" Aku kembali bertanya dengan perasaan cemas.


"Kadang lelaki bajingan itu menempelkan putung rokok yang masih menyala di kulit gue hanya karena Ibu tak memberinya uang. Lu tahu rasanya gimana? Sakit ... Nad. Batin dan jiwa gue disiksa habis-habisan oleh si baJingan itu."


"Dan lucunya Ibu cuma jadi penonton kesakitanku. Hahaha." Siti muntah setelah mengatakan itu semua.


Bulir bening meluncur bebas dari sudut mataku. Ada rasa nyeri di dalam sini saat mengetahui salah satu sahabatku mengalami kekerasan dalam keluarganya. Tak bisa kubayangkan betapa tertekannya Siti selama ini.


Aku memang melihat beberapa luka di tubuh Siti. Tapi aku tak pernah curiga pada pelaku yang membuat jejak sadis tersebut di tubuhnya.


"Kita harus segera pulang." Aku berdiri sebelum akhirnya seseorang mencekal lenganku hingga membuatku kembali terduduk.


"Mau ke mana, cantik? Sini aja dulu. Om sudah pesan kamar buat kita senang-senang." Lelaki dengan tubuh bongsor itu mencolek daguku yang langsung kutepis secara kasar. Sungguh! Aku merasa jijik disentuh olehnya.


"Jangan macem-macem, yah!"


"Cup, cup, cup. Jangan galak galak gitu, dong. Gimana kalo kita langsung ke kamar saja?" Dia mencoba meraih tubuhku. Aku benar-benar takut. Kilatan bayangan buruk kembali melintas dalam benakku.


"Najis! Jangan mimpi bisa tidur bareng gue!" Aku berusaha mendorong tubuh besarnya, tetapi gagal. Dia berhasil menyergap dan mendekapku dari belakang dengan sekali tarikan. Aku menjerit minta tolong. Namun suara musik yang begitu keras membuat semua orang hanya fokus dengan dunianya sendiri. Pun dengan Siti.


Tak kehilangan akal, aku mencoba menggigit sekuat mungkin tangan yang melingkar di bahuku. Berhasil. Dia melepas dekapnnya dan meringis kesakitan.


Namun begitu, dia tak juga menghentikan aksinya. Aku terus mundur saat dia semakin melangkah maju mendekatiku. Sampai kurasakan jalan sudah buntu.


Aku terjebak pada dinding. Lelaki itu memegang kedua bahuku seraya memiringkan kepalanya hendak mengarahkan bIbIr hitam itu ke wajahku, entah di bagian mananya. Aku melengos sambil memejamkan mata.


Tuhan, help me, please. Aku sangat berharap Tuhan masih mau menolongku.

__ADS_1


Aku membuka mata saat tak kurasakan lagi tangan besar itu di bahuku. Ternyata lelaki bongsor itu sedang di hajar oleh ... Om Gibran?


__ADS_2