
Rupanya aku ketiduran. Aku mengucek mata, dan alangkah terkejutnya saat menyadari aku sudah berada di dalam kamar. Refleks kusilangkan kedua tangan menutup dada.
Mataku menyapu seluruh ruangan bernuansa coklat putih yang begitu elegant. Dilihat dari dekorasi, warna dan minimnya barang-barang menandakan si pemilik kamar mewah ini seorang laki-laki. Calm, rapih dan simple. Apakah ini kamar Om Gibran?
Lalu kuturunkan kaki dan melangkah keluar hendak membasahi tenggorokan yang terasa kering.
Menuruni anak tangga, kulihat punggung Om Gibran tengah duduk di sofa sembari sibuk dengan laptop di hadapan. Ingin menghampiri, tapi sungkan. Akhirnya langkahku berbelok ke arah yang kurasa itu adalah dapur.
Aku menuang air dari teko bening ke gelas kecil. Lalu duduk, kemudian menenggaknya hingga tandas.
Kembali mata ini mengamati warna-warna di rumah mewah ini. Kamar bernuansa putih coklat, sofa ruang tamu berwarna coklat, sekarang warna dapur juga sama. Sepertinya Om Gibran pencinta warna manis tersebut.
"Ngapain? Suara bariton membuatku refleks memutar tubuh. Mendapati Om Gibran tengah berjalan membawa gelas kosong dan menaruhnya di wastafel.
"Aku haus," jawabku seraya terus memperhatikannya.
Baru kali ini aku melihat lelaki itu memakai pakaian kasual. Mengenakan kaos hitam polos berlengan pendek dipadu dengan celana di atas lutut berwarna cream. Memperlihatkan kulit putihnya yang bersih dengan bulu-bulu halus di kaki.
Dia manggut-manggut.
"Laper juga?"
"Nggak."
"Itu." Dia menunjuk tanganku dengan menaikan satu alisnya. Entah sejak kapan ada apel di genggamanku. Lekas kutaruh kembali apel itu ke tempat buah yang berada di tengah meja. Mungkinkah tadi aku meraihnya tanpa sadar?
"Om nggak tidur?" tanyaku menghentikan langkahnya yang hendak berlalu.
Dia menoleh. "Ini saya mau tidur. Kenapa? Mau saya kelonin?" tanyanya disertai seringai.
Ish! Aku mencebik. Ngapain juga aku tanya begitu. Nggak penting banget sih. Mau tidur atau nggak itu urusan dia.
Aku beranjak. Mencuci gelas bekas minumku sekaligus bekas minum Om Gibran. Setelahnya kembali naik ke atas untuk melanjutkan mimpi yang sempat terjeda.
Jam masih menunjuk pukul dua dini hari. Masih ada waktu tiga jam menunggu fajar tiba. Di tengah anak tangga hampir saja aku terjatuh karena menguap saking ngantuknya.
"Lho, Om kenapa tidur di sini?!" Aku berkacak pinggang di samping manusia batu yang terbujur tanpa dosa di atas kasur empuk yang tadi kutiduri.
__ADS_1
"Karena ini kamar saya," sahutnya enteng dengan mata yang enggan terbuka. Dia tidur dengan melipat kedua tangan ke belakang kepala.
"Tapi aku nggak mau tidur sekamar sama Om Gibran!"
"Memangnya kenapa? Bukankah kita pernah melakukan lebih dari itu?" Bibir pink-nya masih merespon meski tanpa membuka mata.
"Pokoknya tidak mau!"
"Berisik! Kalau begitu keluar lah. Kamu bisa tidur di sofa tamu."
"Nggak mau! Om yang harus keluar." Aku menarik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Lalu kugelitik perutnya agar dia terbangun dan berpindah tempat.
Bukannya bangun, Om Gibran malah menangkap tanganku dan menariknya ke dalam dekapan. Aku sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya berontak.
"Om apa-apaan sih. Jangan curi-curi kesempatan, yah!" Aku memberi peringatan sambil terus berusaha melepaskan diri.
"Diamlah, jangan bergerak. Kau akan membangunkannya."
Aku mendelik menunggu beberapa saat. Mana? Katanya mau bangun. Matanya saja masih rapet begitu.
"Emang itu tujuanku. Membuat Om bangun dan keluar dari kamar ini." Aku terus meronta sampai kurasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah sana. Apa itu?
Sepersekian detik aku menatapnya bingung. Namun di detik berikutnya aku merasa lega karena Om Gibran mau mengalah dan membiarkanku tidur leluasa di kasur empuk miliknya.
'Ini pasti mahal banget harganya. Secara bahannya saja halus dan lembut begini.' gumamku dalam hati sembari mengelus guling berwarna dark choco dalam pelukan.
Sebelum benar-benar memejam, aku memandangi Om Gibran yang terlihat pulas di atas sofa sana. Ada rasa yang sulit dijabarkan di dalam sini. Entah itu rasa bersalah, benci, atau rasa suka yang masih sedikit tersisa. Aku tidak tahu. Yang jelas aku merasa seperti terperangkap, entah oleh siapa. Atau, aku kah si pelaku itu?
Kejadian malam itu sungguh membawa efek besar dalam hidupku. Hilangnya kehormatan, dibenci orang tua hingga diusir dari rumah, lalu dijauhi sahabat yang sampai saat ini tidak ada kabar.
Padahal nomorku masih sama dan selalu aktif. Tapi Rani, Siti, dan Sari tak sekalipun menghubungiku untuk sekedar tanya kabar atau mengirim pesan singkat hanya untuk berbasa-basi seperti biasanya. Aku seakan terlupakan oleh mereka.
Kuraih ponsel yang diletakan di atas nakas lampu tidur.
Andai tiga orang itu masih menganggapku sahabat, dan masih menyimpan nomorku di kontaknya, mereka pasti membalas pesan singkat yang kukirim sore tadi.
Namun nyatanya sampai saat ini pesan itu hanya ceklis dua berwarna abu-abu. Yang artinya hanya diread atau mungkin diabaikan.
__ADS_1
Lepas dari itu, tanganku bergerak mencari kontak Ibu.
[Ibu, besok aku akan menikah. Aku mohon restui dan ridhoi kami. Salam untuk Bapak.]
Send. Langsung ceklis dua warna biru. Artinya Ibu telah membaca pesan itu. Lalu aku mengirim lokasi di mana sekarang aku tinggal.
***
Aku mematut wajahku di cermin. Keajaiban make up benar-benar membuat wajah seseorang berubah 180°. Bahkan diriku sendiri pun tak mengenali saat tangan cantik itu telah selesai memberi riasan pada wajahku.
Kupindai diri dari atas sampai bawah di depan cermin. Kebaya putih yang melekat di tubuhku ini sangat cantik dan elegant. Aku menyukainya. Dan lagi-lagi, ukurannya sangat pas di badanku.
Tinggiku yang hanya 155cm membuatku terlihat begitu mungil dengan berat badan tak lebih dari 45. Mungkin karena aku belum memakai high heels.
"Permisi, saya mau memakaikan ini." Seorang wanita muda masuk dengan membawa kotak yang kutebak itu adalah sepatu.
Benar. Dia menyuruhku duduk, lalu mengeluarkan sepatu cantik berwarna putih dari kotak tadi, kemudian memasangkannya ke kakiku.
Pas lagi. Size 38 seperti yang biasa aku pakai.
Setelah aku selesai didandani, dua orang wanita muda yang tadi meriasku menuntunku untuk turun ke lantai satu di mana mungkin sang mempelai pria telah menunggu.
Tiba di tangga terakhir, seorang gadis cantik--yang kulihat dari wajah dan perawakannya seperti seumuran denganku, berlari menghampiri sambil berteriak.
"Wah! Pengantinnya cantik sekali," pujinya sembari menatapku dari atas sampai bawah.
"Terima kasih," sahutku seraya tersenyum. Kulihat di sana Om Gibran juga tengah memperhatikan. Sesaat pandangan kami bertemu dan saling mengunci. Lelaki itu ... kenapa selalu saja membuat jantungku berirama tak karuan. Selalu berhasil membuat segenap jiwaku begitu memujanya. Mungkinkah aku batal membenci duda nyebelin yang sebentar lagi akan menjadi suamiku itu?
Sialan! Aku termakan omonganku sendiri.
Tuhan, maafkan aku yang tak bisa membohongi perasaanku. Sungguh Engkau lebih mengetahui segalanya.
Senyum di bibirku seketika sirna kala mengingat ketidak hadiran Bapak dan Ibu di hari pernikahanku. Mereka pasti malu.
Aku faham, bahwa pernikahanku ini tak lebih dari sebuah aib yang harus ditutup rapat-rapat. Aku telah mencoreng nama baik keluarga.
Sebisa mungkin aku menahan bulir bening yang hampir menetes di sudut mata.
__ADS_1
Meski aku belum dinyatakan hamil, tapi tetap saja aku 'melakukannya' sebelum akad.
Setelah akad selesai, lembaran baru hidupku telah dimulai.