Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Bertemu


__ADS_3

Davin memang bilang kalau papanya bekerja di ibukota. Tapi aku tidak menyangka bahwa yang dimaksud dia di ibukota itu ternyata di kantor Mas Gibran.


"Badan kamu agak berisi. Jadi makin cantik." Aish! Pemuda itu selalu saja memperhatikan penampilanku.


"Hm, thanks." Aku menatap Davin sekilas, lalu kembali menunduk. Teringat Mas Gibran yang kutinggal sendirian di sana.


Apa aku jujur saja ya sama Davin, kalau sebenarnya aku sudah menikah. Biar dia bisa jaga jarak denganku karena ada hati yang harus kujaga. Juga agar Davin tak berharap lebih padaku.


Tentu aku bukan perempuan polos yang tidak mengerti arti tatapannya. Dari perhatiannya pun aku bisa melihat, kalau Davin... halah! Aku nggak mau GR.


"Vin, aku harus ke sana." Aku menunjuk meja dimana Mas Gibran sedang duduk sambil berbincang dengan seseorang yang mungkin itu temannya.


"Jelasin dulu om-om itu siapa? Kenapa kamu bisa bareng sama dia?"


"Hmm ... dia suamiku." ungkapku akhirnya. Aku masih setia menunduk, menatap high heels cantik yang kupakai. Tak berani melihat Davin yang saat ini sedang tertawa renyah, seolah apa yang kukatakan itu hanya sebuah lelucon.


"Jangan bercanda, Nad. Kamu baru lulus, masa sudah menikah?"


"Tapi itu kenyataannya." Ekspresi Davin seketika berubah. Ada gurat kecewa yang tergambar di wajah tampan itu.


"MBA?"


"Nggak. Kami menikah atas dasar suka sama suka." Aku berbohong. Bukankah itu adalah aib yang harus kututup? Biarlah cukup orang-orang terdekatku saja yang tahu. Davin tidak perlu. Aku juga tidak mau mengingat kejadian itu.


Tiba-tiba pandangan Davin tertuju pada bagian perutku yang sedikit menyembul. Spontan tanganku mengusapnya.


"Dokter menyatakan positif setelah pernikahan kami berjalan satu bulan."


"Jadi yang datang di acara wisuda kita itu dia?"


"Kau melihatnya?"


"Hm." Pemuda dengan balutan tuxedo itu membuang pandangannya.


"Sayang!" Istri Pak Dito menghampiri kami yang sedang mengobrol. Wanita itu mengalungkan lengannya di leher Davin.


"Acara akan segera dimulai. Ayo ke sana!" Dia menunjuk meja yang di atasnya terdapat kue ulang tahun berukuran besar.


"Lho, istrinya Pak Gibran kok ada di sini?" Mamanya Davin baru menyadari.


"Hmm, iya."


"Eh, kalian kok malah pada di sini?" Kali ini Pak Dito. Pria itu kemudian mengajak kami kembali bergabung dengan yang lain karena acara sudah akan dimulai.


Tiba di acara potong kue, mata Davin melirikku tajam saat dia akan memotong kue besar itu. Maafkan aku Davin. Sungguh aku tidak bermaksud mengecewakanmu.


***


"Mas, kamu nggak cemburu, kan?" Aku memastikan kalau Mas Gibran benar- benar tidak cemburu karena tadi Davin memberikan potongan kue pertamanya padaku.


"Biasa saja. Dia hanya bocah. Sama sepertimu." sahutnya seraya fokus menyetir.


"Mas bilang aku sudah dewasa?" tanyaku kesal.


"Tapi sifat dan kelakuanmu masih kayak bocah." ujar Mas Gibran terdengar ketus.


"Dan orang yang Mas sebut bocah ini adalah istrimu!"


"Hm. Bocah tengil."

__ADS_1


Sampai di rumah, aku buru-buru berlari menaiki tangga. Aku sadar jadi makin sensitif akhir-akhir ini. Apa semua ibu hamil begitu ya?


[Bisa bertemu besok?]


Pesan dari Davin kala aku sedang duduk di sofa kamar.


[Di mana?] Balasku dan langsung ceklis biru.


Davin mengetik...


[Taman S. Jam 9 pagi]


[Bentar. Aku izin suamiku dulu]


Kali ini dia tidak langsung membalas.


"Mas," panggilku saat Mas Gibran baru saja masuk kamar.


"Apa?!"


Aku sedikit terkejut dengan sahutan Mas Gibran yang tidak seperti biasanya. Kali ini sepertinya sedang marah. Sedari tadi nada bicaranya terkesan jutek dan arrogant.


"Lho, kok, galak?"


Lelaki yang kini tengah melapas kemeja putih itu menghela nafas panjang.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang mulai melembut.


"Davin pengen ketemu aku besok jam sembilan pagi."


"Di mana?"


"Sama siapa?"


"Aku sama Davin doang."


"Ajak Vino."


"Kan Om Vino harus kerja sama Mas Gibran."


"Nanti aku suruh dia menemanimu."


"Mas ...."


"Tidak ada penawaran. Kalau tidak mau tidak usah pergi."


Aku menghela nafas berat.


Fix dia cemburu.


Mas Gibran sudah memakai piyama tidurnya setelah beberapa menit di kamar mandi. Berganti aku. Aku mengikuti caranya yang langsung keluar dengan pakaian lengkap setelah lima belas menit membersihkan tubuh.


Menyusul Mas Gibran, aku menarik bantal yang Mas Gibran sengaja gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Mas,"


Dia membalas dengan gumaman. Satu tangannya ia gunakan sebagai bantal.


"Aku sama Davin itu cuma temen."

__ADS_1


"Tau." Matanya terpejam, tapi mulutnya masih menjawabi.


"Kalau gitu Mas nggak usah marah."


"Aku ngantuk, bukan marah."


"Tapi, tadi--"


"Tidurlah! Besok aku ada meeting."


"Hmm, baiklah."


Kurebahkan diri dengan tangan memeluk tubuh kekar Mas Gibran. Lelaki itu langsung memiringkan badannya dan balas memelukku.


Keesokan paginya, sesuai bagaimana semalam. Mas Gibran menyuruh Om Vino menemaniku yang akan bertemu dengan Davin di taman S.


"Nona, maaf, apa bajunya tidak terlalu terbuka?" Om Vino bertanya penuh hati-hati saat ia melihatku mengenakan pakaian tanpa lengan dengan dada rendah dan belahan paha tinggi.


"Hari ini panas. Jadi aku mau sedikit terbuka."


"Tapi Nona akan bertemu laki-laki."


"Memangnya kenapa? Dia hanya temanku, tidak lebih!"


"Tuan akan marah."


"Tidak akan kalau Om Vino tidak memberitahunya."


"Tapi itu salah satu tugasku, Nona."


Haish, ribet! Aku kembali masuk kamar dan mengganti pakaianku dengan sangat tertutup. Jeans longgar dengan hoodie kebesaran. Puas kalian!


"Aku mau naik motor saja." ucapku pada Om Vino yang membukakan pintu mobil untukku.


"Tidak bisa, Nona. Tuan menyuruh saya memakai mobil."


Lagi-lagi aku berdecak kesal dengan semua ini. Sepertinya Mas Gibran sudah benar-benar mengatur itu pada Om Vino.


Aku memasuki mobil dengan menekuk wajah. Kesal!


Di tengah perjalanan saat lampu merah, aku seperti melihat Mama bersama seorang wanita, tetapi sepertinya itu bukan Rara. Wanita itu sedikit gemuk, tidak bukan gemuk. Hanya bagian dada dan pant*tnya saja yang terlihat membesar.


"Om, itu Mama bukan, ya?"


Mata Om Vino mengikuti arah jempolku yang menunjuk pada dua orang yang sedang duduk berhadapan di sebuah cafe outdoor.


Belum sempat Om Vino menjawab, suara klakson dari belakang membuat ia mau tidak mau menjalankan kembali kendaranya. Rupanya lampu sudah berubah jadi warna ijo.


"Iya, bukan, Om?"


"Tidak tahu, Nona. Saya tidak melihatnya dengan jelas."


Lalu Om Vino merogoh ponsel di saku jasnya.


Tiba di taman S, kulihat Davin sudah berada di sana. Dia duduk di bangku panjang yang menghadap ke air mancur.


"Davin!" seruku sedikit berteriak.


Dia menoleh, lalu berdiri. Davin menyambutku dengan senyuman. Pemuda itu terlihat sangat tampan dengan setelan jeans hitam dan jaket levis berwarna senada. Tak lupa gaya rambutnya yang membuat ia semakin berkarisma. Seketika senyumnya sirna saat menyadari aku tidak datang sendiri.

__ADS_1


Apakah ini yang dinamakan rumput tetangga lebih hijau?


__ADS_2