Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Belajar Motor


__ADS_3

"Telpon dari siapa?" Om Gibran bertanya saat aku baru saja menutup ponsel. Dia baru saja keluar kamar mandi seraya mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk kecil.


"Ibu. Beliau nitip salam katanya."


Om Gibran menunjuk dirinya sendiri yang langsung kuangguki.


"Om tahu nggak?"


"Nggak."


"Ih ... dengerin dulu!"


"Ya, udah. Apa?"


"Tadi Ibu bilang, kalau kita mau datang ke sana, datang aja. Gitu katanya," kataku dengan wajah berseri-seri.


"Terus?"


Mendapat responnya, seketika rautku berubah datar. Memang harus mempersiapkan beribu kesabaran saat akan berbicara dengan manusia batu ini. Aku ngomong panjang lebar, dia jawabnya singkat banget. Semoga hubungan kita tak sesingkat itu.


"Aku tunggu di luar!" ketusku sambil meraih ponsel di atas kasur. Memanyunkan bibir, lalu keluar dengan mengentakkan kaki.


"Om Vino?!" Baru keluar pintu, aku melihat Om Vino juga keluar dari ruang kerja Om Gibran. Kulirik jam di ponsel, baru jam enam pagi. Biasanya Om Vino akan datang dan berangkat bareng dengan Om Gibran di jam tujuh pagi. Apa lelaki itu bermalam di sana?


"Pagi, Nona," sapa Om Vino sembari membungkuk hormat. Lelaki itu sudah rapih dengan setelan jas-nya.


"Pagi. Semalam Om Vino nginep di sini?"


Yang ditanya merespon dengan anggukan di sertai senyuman. Menimbulkan lekongan kecil di pipi kanannya.


"Kenapa tidak tidur di kamar tamu saja. Atau seenggaknya di sofa. Di ruang kerja apa bisa tidur?"


Pikirku jika tidur di ruangan kerja, paling hanya bisa menyender di kursi kebesaran yang akan mengakibatkan sakit di bagian punggung dan kepala. Kan kasian nanti kalau tidak bisa masuk kerja.


"Bisa, Nona. Malah lebih nyaman di ruang kerja."


"Oh begitu. Berkas apa itu, kenapa banyak sekali?" Kini fokusku mengarah pada tentengan di tangan Om Vino.

__ADS_1


"Ini berkas-berkas penting yang akan saya bawa ke kantor, Nona."


"Ekhem!"


Refleks kepalaku menoleh. Om Gibran sudah siap-siap. Dia mengenakan celana joger hitam dengan hoodie warna senada. Dilengkapi dengan topi putih, membuatnya semakin terlihat calm.


Rencana hari ini, Om Gibran akan mengajakku ke sebuah tempat--entah di mana karena semalam dia tidak menyebutkan namanya, untuk olahraga terlebih dahulu sebelum mengajarkanku menyetir.


Katanya, dia sudah lama tidak olahraga dan sangat ingin mengunjungi tempat itu--tempat biasa Om Gibran ber-olahraga bersama teman-temannya termasuk Om Vino.


"Kalau begitu, saya pamit duluan, Tuan, Nona,"


"Iya. Eh, tunggu! Lebih baik kita sarapan dulu saja." tahanku membuat langkah Om Vino terhenti.


"Dia sedang buru-buru. Kerjaan di kantor sudah menantinya," sahut Om Gibran.


Mata Om Vino melirikku kemudian berganti melirik Om Gibran. Tampak senyum aneh di wajah suamiku. Sementara Om Vino, dia terlihat menelan salivan dan menatap kesal pada Om Gibran yang terlihat seperti sedang menekannya.


"Ya ampun! Om ini, sarapan doang selama apa, sih. Dah yuk, kita turun!"


Sebenarnya ada tiga ART di rumah ini dengan tugas yang berbeda-beda. Bik Munah, karena usia beliau paling senja jadi di tempatkan khusus hanya dibagian dapur, sedang dua lainnya bekerjasama membereskan rumah.


Hanya saja kata Om Gibran dua orang itu sedang izin pulang kampung, hingga pekerjaannya terlempar ke Bik Mun.


Namun begitu, Bik Mun sama sekali tidak mengeluh dan tetap semangat melakukan pekerjaannya. Pernah kutanya pada beliau tentang gimana rasanya bekerja di rumah Om Gibran.


"Bik Mun ini sudah lama kerja di rumah Tuan Gibran, mungkin hampir sepuluh tahun. Kerasan banget di sini. Tuan Gibran itu, meski terlihat jutek dan cuek, tapi sebenenarnya dia itu orangnya humble, nggak neko-neko, dan sangat peduli. Tuan sering ngasih Bik Mun tip ketika Bik Mun akan pulang kampung. Katanya buat anak cucu di rumah. Bik Mun seneng Tuan Gibran balik ke rumah ini lagi. Setahun lalu, pasca Tuan besar tiada, para penghuni rumah ini mencar karena suatu pekerjaan." Panjang kali lebar Bik Mun menjelaskan kala itu.


Kesimpulanku, mencar dari rumah ini, Om Gibran kemudian bertetanggaan dengan rumahku di kota Tangerang hingga akhirnya kami menjadi pasangan suami istri.


"Om Vino kok, tumben berangkat lebih pagi?" tanyaku disela mengunyah roti bakar.


"Iya, Nona. Di kantor, kerjaan sedang menumpuk. Bos lagi sibuk bulan madu."


"Uhhuk!" Pria di sampingku tersedak. Lekas aku mengambilkan air minum dan memberikannya pada Om Gibran. Dapat panggilan mantan kali, ya, ampe kesedak gitu?


"Kunyah dulu, Om, makannya. Jangan langsung telen!"

__ADS_1


Kulihat Om Gibran melirik tajam ke arah Om Vino. Sedang yang ditatap, terlihat pura-pura tidak peduli dan tetap asyik menyantap sarapan.


"Oiya, kalo di kantor lagi banyak kerjaan, kenapa Om Gibran dibolehin izin?"


"Iya, itu, Nona. Bosnya kayak ABG labil. Ngasih izin seenaknya, terus melemparkan banyak pekerjaan pada saya. Membuat saya harus bekerja dua kali lipat dari biasanya." Om Vino terlihat emosi ketika mengatakan itu.


"Kalau begitu Om Vino minta tambah gaji saja pada bosnya. Kan, kerjanya double."


"Harusnya begitu. Tapi kadang si bos suka ngamuk kalo karyawannya protes. Apalagi kita buat kesalahan. Bisa habis kursi kantor dia tendang." Kali ini Om Vino berbicara disertai seringai seraya melirik ke arah Om Gibran yang sedang fokus dengan roti bakar selai kacang.


"Serem banget sih, bosnya. Tapi kok kalian betah, ya kerja di sana."


"Ekhem! Vin, segera selesaikan sarapanmu dan cepatlah ke kantor!" Perintah Om Gibran pada Om Vino.


"Siap, Tuan." Dengan suapan lebar Om Vino mengahabiskan roti bakarnya. Lalu gegas pergi setelah meneguk susu hangat yang kubuat.


Aku tidak tahu kenapa Om Vino begitu patuh pada Om Gibran. Apa karena mereka sahabatan dan bekerja di tempat yang sama? Entah.


***


Usai olahraga, kita berdua menuju lapangan bola dengan mengendarai motor gede yang kemarin aku bawa. Apa cuma aku yang belajar motornya langsung pake moge?


"Jangan langsung digas. Pelan-pelan saja!" titah Om Gibran yang duduk di belakangku. Dia terus memberi aba-aba sambil sesekali memegangi tanganku dari belakang.


Aku menyetir hanya dengan kecepatan di bawah 30. Belum berani diatas itu karena masih sangat takut juga risih. Seperti yang Om Gibran bilang, pelan-pelan saja.


"Gimana Om, aku sudah mahir belum nyetirnya?"


Kini aku dan Om Gibran tengah menikmati jajanan kaki lima yang tersedia di dekat lapangan. Cuma aku sih yang makan. Karena Om Gibran nggak mau.


Awalnya pun Om Gibran menolak untukku ajak jajan. Dia bilang makanan pinggir jalan tidak higenis dan minim vitamin.


Tapi melihatku memohon, akhirnya Om Gibran mau menemaniku duduk lesehan di rerumputan sembari menikmati jajanan yang tadi kubeli.


"Tinggal lancarin dikit lagi," kata Om Gibran tanpa mengalihkan fokus pada ponsel di genggaman.


Dulu, memang aku pernah sempat belajar nyetir sama Bapak selama kurang lebih satu bulan. Tapi karena aku nabrak domba tetangga dan berujung ganti rugi yang lumayan besar, akhirnya belajar motorku terhenti dan nggak dilanjutin lagi.

__ADS_1


__ADS_2