Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Heboh


__ADS_3

Akibat aku yang kemarin lupa membenarkan alamat rumahku pada Sari, alhasil bocah itu mencak-mencak dan bilang kalau aku sengaja mengerjai dirinya.


Ternyata Sari datang ke Jakarta bersama Rani. Mereka bilang mau meneruskan pendidikan di salah satu universitas yang ada di ibukota ini.


Aku tertawa terbahak mendengar cerita dua sohibku itu yang katanya sempat nyasar saat baru tiba di Jakarta.


"Nad, lu bener-bener tega! Masa kita disasarin ke tempat penumpukan sampah?!"


"Lokasi yang gue kirim itu bukan mengarah ke situ! Lu nya aja yang nggak bisa baca GPS."


"Om Gibran kok nggak ada, Nad?" Seperti biasa, pertanyaan Rani selalu melenceng. Kita lagi bahas tentang tempat-tempat di Jakarta, dia malah nanyain laki aku.


"Ran! Lu mendingan diem dulu, deh. Gue belum puas melampiasin kekesalan gue sama Nada! Jan sampai lu kena sasaran juga." seru Sari menggebu-gebu.


Sari lalu meneguk habis minuman dalam gelasnya. Padahal tuh gelas gede banget, dan isinya juga masih penuh, karena baru nuang lagi. Tapi si Sari mampu menghabiskannya dalam sekali minum. Positif thinking saja, mungkin dia saudarnya onta.


For you information-> kita bertiga sedang duduk di ruang tamu, namun tidak di atas sofanya. Sari dengan Rani meminta untuk duduk lesehan saja di bawah dengan meja yang sudah kita geser sebelumnya.


"Lagian gue juga heran sama lu, Ri. Lu orang kaya, masa nggak pernah ke Jakarta?"


"Noted! Gue nggak pernah pergi jauh sendiri!" Sari menekan setiap ucapannya.


"Yayaya, percaya. Anak papi." ucapku mengejek.


"Asal lu tau ya, Nad." Sari menjeda ucapanya karena harus menuang kembali minuman ke dalam gelasnya yang sudah kosong. "Gue hampir di kejar orang gila gara-gara salah ngenalin orang!" Dia lalu menaruh kasar gelas itu ke lantai beralas karpet setelah meneguk setengah isinya.


Tak sampai disitu, bocah yang seperti tiga hari nggak makan itu menyendok sadis mie ayam dalam mangkok, lalu memasukannya ke dalam mulut dengan suapan besar. Melihat itu, aku sampai meneguk ludahku sendiri sambil menatapnya tak percaya.


"Ri, kamu makan kaya orang kesurupan gitu aku ngeri ngeliatnya." sahut Rani mewakili perasaanku.


"Diam!" sentaknya dengan mata melotot tajam ke arah Rani. Membuat bocah berkacamata itu seketika mengunci mulutnya rapat-rapat.


Tak bisa menahan tawa, aku terbahak melihat mereka.


"Nad, nggak mau tau pokoknya gue nginep di sini seminggu, titik!"


"Ri, lu kok gitu sih?" Aku melipat tangan di atas meja, dengan dagu menumpu di atasnya. "Lu bayangin kalo misal suamiku pengen begitu, emang lu mau denger suara laknat kita?"


"Gue nggak ngomong bakal tidur di kamar lu, pea! Lagian lu kok jadi pelit gitu sih?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa, gue takutnya lu berdua jadi kebelet kawin."


"Ye nggak apa-apa dong. Malah bagus. Biar cepet punya anak juga kayak lu."


Eeeuuuuu!


Sari bersendawa dengan sangat keras setelah menghabiskan semangkuk mie ayam dengan minum tiga gelas besar.


"Idihhh!" Aku dan Rani kompak mengeluarkan ekspresi jijik sembari pura-pura menyingkir. Tak lupa kuelus perut sambil berucap 'amit-amit' supaya bayiku tidak mirip dengan kejorokan dia.


Dengan wajah tanpa dosa Sari malah tertawa.


"Alhamdulillah, kenyang juga nih perut." Dia mengelus perutnya yang membuncit sembari menyender di kaki sofa.


Mata Sari melirik mangkuk mie ayam Rani yang masih tersisa setengah. "Ran, mie ayam lu kagak dihabisin?" tanyanya masih dengan tangan mengelus perut. Jadi kek orang bunting dia.


Sebelum Rani membuka suara, aku lebih dulu menyahuti. "Lu mau habisin?"


"Ya, kagak lah! Bisa jebol ini udel gue."


"Belum jebol, kan?" ucapku disertai tawa sambil menyodorkan mie ayam milik Rani pada Sari.


Waktu aku lagi rebahan di kamar, tiba-tiba Bik Munah mengabarkan dengan wajah panik kalau ada dua orang sedang mencariku. Bik Munah bilang orang itu marah-marah, dan dia takut kalau aku bakal diapa-apain sama mereka.


Baru membuka pintu, aku langsung disembur oleh kekesalan Sari. Bocah itu mengumpatku dengan kata-kata absurd-nya.


Pagi-pagi heboh banget kedatangan tamu yang ternyata dua bocah kampret. Bikin rusuh seisi rumah.


*****


"Busyet! Kamar tamu aja sebagus ini." Sari menghempaskan dirinya di atas kasur sembari menatap wah kamar itu. "Gue jadi penasaran sama kamar utamanya." tangannya bergerak naik turun seperti seseorang yang sedang membuat jejak di atas salju.


"Bener, Ri. Aku juga pengen liat." Rani menimpali.


"Nanti deh, gue bawa kalian ke kamar gue."


"Serius?" Mereka berdua terlihat antusias.


"Iye. Tapi izin Mas Gibran dulu. Cuma liat doang, kan?" tanyaku bercanda.

__ADS_1


"Elah, Nad. Tau batesan kok kita."


Aku menaruh tas Rani dan Sari di dekat lemari bekas Rara selama di sini. "Dah, jangan banyak bacot! Beresin baju lu semua. Ini lemari sementara kalian."


"Siap, Nyonya." Sari kemudian berjalan gontai dan langsung membongkar tas bawaannya, lalu memasukan semua baju-baju itu ke dalam lemari.


Pun dengan Rani. Lemari dua pintu itu akhirnya penuh oleh baju mereka berdua.


"Nggak nyangka gue bisa bareng sama lu lagi." ucap Sari tiba-tiba.


"Iya. Aku pikir setelah lulus SMA kita bakal pisah, dan sibuk dengan urusan masing-masing." Oke, kali ini Rani bicar lurus.


"Mungkin ini termasuk ikatan batin seorang sahabat yang saling menguatkan dan sama-sama tidak mau terpencar."


"Bener, Nad. Cuma satu yang sulit kembali."


"Siti udah bahagia kali sama suaminya."


"Semoga saja." Sari bangkit duduk dan menyilangkan kakinya di atas kasur. "Lu bilang katanya selesai wisuda bakal ke rumah Siti, nyatanya malah ambyar."


"Emang lu nggak inget, sebelum niat ke sana kita ke mana dulu?"


"Renang." jawab Rani dengan polosnya.


"Lalu setelah renang itu ada kejadian apa?"


Sari tampak mengingat-ingat sesuatu, lalu menepuk jidatnya. "Sory, gue lupa. Lu pendarahan hebat yang untungnya bayik lu masih bertahan, kan?" tanya Sari hati-hati.


"Alhamdulillah, dia kuat." Aku lagi-lagi mengelus perutku seraya tersenyum. Tidak sabar rasanya bakal dipanggil ibu.


"Kira-kira bakal mirip siapa, ya."


"Moga aja mirip Om Gibran. Hidungnya mancung, kulitnya putih, badanya tinggi tegap. Ganteng banget." sahut Rani yang seperti sedang membayangkan... entah?


"Emang kalo mirip gue, jelek?!" Aku berkacak pinggang.


"Kamu cantik, Nad. Cuma nggak mancung aja." Rani suka berkata jujur. Padahal menurutku aku nggak pesek-pesek banget. Tapi orang suka banget bilang hidung aku mancung ke dalem.


"Nad, lu nggak pegel apa berdiri nyender di situ?" Pertanyaan Sari membuatku sontak menyadari posisiku yang sejak tadi berdiri menyender pada lemari.

__ADS_1


Lekas aku melangkah dan duduk bergabung di atas kasur bareng mereka berdua. Alamat gibah akan segera dimulai wk.


__ADS_2