Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Party kelulusan


__ADS_3

Aku memukul pelan Mas Gibran dengan buket bunga dari Davin.


"Mas, kamu ngagetin aku tau, nggak?!"


"Kenapa?" tanya lelaki itu tanpa dosa.


"Itu baju kamu. Kenapa ganti jadi serba hitam gitu? Mana pake topi lagi!" Aku menunjuk sembari memindai penampilan Mas Gibran dari atas sampai bawah.


"Harusnya--"


"Udah, udah. Tuh dipanggil."


Aku segera maju ke atas panggung. Menerima medali kelulusan, lalu menyalimi para guru yang berbaris rapih di atas panggung.


Setelah semua siswa siswi menerima medali kelulusannya, kami melanjutkan dengan foto bersama.


Semua anak kelas tiga naik ke atas panggung, ikut berbaris bersama guru-guru. Photoghrafer mengatur barisan dengan beberapa siswa duduk jongkok di depan yang berdiri.


Kemudian sang photoghrafer menghitung satu sampai tiga sebelum mengambil gambar.


Pada saat hitungan ketiga aku memberikan senyuman. Bukan pada kamera sang photoghrafer. Melainkan pada Mas Gibran yang mengarahkan ponselnya ke arahku.


Aku berdiri dengan diapit Rani dan Sari. Dua siput absurd itu terus menggodaiku dengan saling menyenggol lengan dan mengeluarkan kata-kata yang hampir saja membuatku menyemburkan tawa.


"Ekhem! Manisnya yang lagi difoto doi."


"Berbagi itu indah tau, Nad."


"Satu jam juga nggak papa. Nggak usah lama-lama."


"Iya. Pen nyoba dikit ... aja."


"Celupin ujungnya doang, kok wkwk."


Ucapan-ucapan luck-nut itu terlontar dari mulut Sari dan Rani. Dua orang teman durjana yang suka menggangguku sejak tahu aku sudah menikah dengan Mas Gibran.


Awalnya aku menunda untuk memberitahu Rani. Tapi ternyata dia sudah tau dari mulut ember Sari.


*****


"Iya, nggak papa. Mas pulang duluan aja. Aku ke rumah Siti dulu."


Entah sudah keberapa kali aku membujuk Mas Gibran supaya membolehkanku pergi dengan teman-teman.


Hari ini lelaki itu sangat posesif. Katanya pesta kelulusan biasanya tak jauh dari hal negatif. Maka dari itu dia tidak mau aku pergi-pergi untuk merayakan kelulusan kecuali bersamanya.


"Sama dua teman kamu juga?"


"Iya. Mereka udah nunggu di seberang jalan."


"Ya, udah, ayo aku seberangin." Dia menarik tanganku keluar dari pagar sekolah.


"Lebay, deh! Aku bisa sendiri, kok." gerutuku sambil terus berjalan mengikutinya.

__ADS_1


"Nggak usah lebay-lebay! Dulu kamu tidak sengaja tertabrak karena ini."


Deg! Benar juga. Kenapa dia malah ngingetin, sih.


"Hai, Om." Rani dan Sari menyapa saat aku tiba di hadapan mereka. Keduanya berdiri menyender di mobil mewah Sari.


Kulihat Rani dan Sari merapihkan rambut-rambut mereka.


"Titip Nada." pesan Mas Gibran pada dua orang yang sedang berlaga genit itu.


"Titip benih juga boleh," sahut Sari dengan mode sa*ge on.


"Amit-amit gue punya madu." Aku mencibir dengan tangan refleks mengelus perut.


"Kalau gitu aku mau jadi selingkuhannya saja." ucap Rani enteng.


Aku lagi-lagi terkejut mendengar kata telak dari Rani. Dia benar-benar berubah bukan seperti Rani yang kukenal. Kalau kemarin-kemarin dia telmi dan lola, Rani yang sekarang otaknya jadi lebih encer dan cepet nangkep. Kejedot apaan ya tuh bocah?


"Busyet! Si Rani maennya kagak tanggung-tanggung. Ngomong langsung di depan bini sah-nye." seloroh Sari yang membuatku teringat akan ucapanku pada Mbak Nilam waktu itu. Saat aku bicara terang-terangan bahwa aku menginginkan suaminya. Dan kini semua itu jadi kenyataan. Semoga saja aku nggak kwalat.


"Aku akan menjemputmu pulang. Kabari jika pestanya sudah selesai." Mas Gibran kemudian pergi tanpa berniat meladeni ocehan Rani dan Sari yang menggodanya.


"Ya Tuhan, sisain satu yang kaya Om Gibran." pinta Sari dengan menengadahkan tangannya sembari menatap langit.


"Aku juga mau, Ya Tuhan." Rani ikut-ikutan.


Melihat itu aku hanya geleng-geleng. Sepengen itu kah mereka?


Setalah dua puluh menit berada di rumah Sari, akhirnya kita tancap gas menuju pantai. Wisata tujuan yang sudah direncanakan tepat sehari sebelum kelulusan.


*****


"Satu, dua, tiga!" teriakan kompak dari kita bertiga saat akan mulai lari dan nyebur ke pantai.


Seolah tanpa beban, aku, Sari dan Rani tertawa lepas dan menikmati keindahan suasana alam ini.


Berkali-kali kita kejar-kejaran, berkali-kali juga kita terjatuh berbarengan. sampai kurasakan ada yang nyeri pada perutku. Seperti mules, sakit, dan diremas-remas. Lalu kuabaikan sakit itu karena aku merasa aku tidak sedang datang bulan.


Kembali aku meloncat ke sana kemari. Menjatuhkan bobot ke dalam air dengan sekuat tenaga. Lalu berlomba untuk sampai ke daratan paling cepat.


Setelahnya, aku berlari menggelindingkan ban besar dari darat sampai ke air. Menarik, membawa dan mendorong benda berat itu membuatku sangat lelah.


Dan lama kelamaan perutku semakin sakit.


Aku berhenti sejenak untuk mengistirahatkan diri. Meluruskan kaki yang terasa pegal, juga agar sakit di perutku ini menghilang.


Saat netra ini menatap kaki yang berselonjor, saat itu lah kudapati sesuatu berwarna merah mengalir dari area sel*ngkanganku. Short longgar yang kupakai, separuhnya telah terkena noda darah. Mungkinkah tamu bulananku datang? Tapi mengapa darahnya sampai sebanyak itu? Aku panik.


"Nad, lu kenapa?" tanya Sari tak kalah panik. Dia memegang kakiku sambil memperhatikan darah yang terus mengalir dari sel*ngkangan.


"Kamu sakit, atau gimana, Nad?"


Aku masih bengong sambil menahan rasa sakit yang semakin teramat.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang."


Dengan cepat, Sari membantuku berdiri dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kita ganti baju dulu saja." Terdengar Rani mencegah.


"Alah, kelamaan!"


Akhirnya, kita bertiga pergi ke rumah sakit dalam keadaan basah-basahan. Sakit di perutku tak kunjung hilan dan malah semakin menjadi-jadi.


"Aakkkhhh! Sakit, Ri." Aku meringis sambil meremas perut. Tak terasa air mata lolos begitu deras. Aku takut terjadi suatu hal yang serius padaku. Ibu tolong aku.


'Jangan panggil aku dulu, Ya Tuhan, kumohon...!' jeritku dalam hati.


"Iya, Nad, iya. Sabar. Bentar lagi kita sampai."


"Nad, kamu makan sebelumnya?"


"Gue nggak makan apa-apa."


"Nah, mungkin itu penyebabnya. Perutmu sakit karena belum makan."


"Maksud gue, gue nggak makan yang macem-macem!" ucapku emosi. Rani kenapa kumat disaat seperti ini, sih. Pen aku jitak rasanya tuh bocah.


"Udah, udah. Semuanya diem. Jan berisik. Gue nggak bisa fokus nyetir, nih!" Sari sepertinya gelisah hingga beberapa kali mobil berjalan tidak beraturan.


"Duh, gusti! Sakit banget ...." aku kembali merintih. Jujur, baru kali ini aku merasakan sakit perut luar biasa sampai rasanya mau pingsan.


"Sialan! Lampu merah lagi!" Pekik Sari sembari memukul setir.


"Kenapa, Ri?"


"Diem, lu!" sentaknya pada Rani yang duduk tepat dibelakang dia.


Beberapa menit kemudian, rambu lalu lintas belum berubah warna ijo. Membuatku kesal setengah mati dan berasa ingin menghancurkan benda itu saat ini juga.


"Mana ponsel, lu?"


"Di tas." Aku menjawab dengan suara yang mulai lemah.


"Ambil, Ran." suruh Sari. Tas yang kubawa ditaruh di samping Rani duduk.


Lampu berubah ijo saat Sari menerima ponselku. Dia kemudian kembali melajukan kendara sambil berusaha menghubungi seseorang yang entah siapa aku tidak tahu.


Dengan kecepatan diatas rata-rata, akhirnya kita tiba di sebuah rumah sakit. Gerak cepat Sari dan Rani membantuku turun sembari berteriak memanggil para medis.


.


.


.


Mian baru update. Bikes baru nulis😴

__ADS_1


__ADS_2