
Kanilaras masih mencerna semua ucapan Bibi Kenny dan dia juga mengingat-ingat peristiwa yang dia alami sebelum terdampar ke dunia yang berbeda ini.
Apa ada sesuatu yang aku tidak aku ketahui? Atau memang Yang Widi mengirimkan aku ke sini untuk membantu pria tidak waras itu. Tapi, bagaimana caraku membuatnya sembuh? Aku saja tidak tahu dia sakit apa.
Tiada henti hati Kanilaras berkata-kata sampai dia mengabaikan Bibi Kenny yang tengah mengomelinya, karena sudah menipunya dan juga Kendrick.
"Aku mohon! Jangan biarkan dia mengetahui bahwa aku sudah dapat bergerak dan berbicara," pinta Kanilaras memelas.
Wanita paru baya itu menganggukkan kepalanya sembari memperhatikan Kanilaras dari ekor matanya.
"Nona harus kembali ke kamar Nona! Sebentar lagi Tuan akan bangun dari tidur lelapnya," usul Bibi Kenny sembari mendorong Kanilaras keluar dari kamar.
"Bibi, Kanila—" Segera gadis itu menutup mulutnya menggunakan kedua tangan lentiknya.
"Apa Non?" tanya Bibi Kenny lirih.
"Anu, Aras belum selesai bertanya-tanya," jawab Kanilaras yang memberhentikan langkahnya.
Bibi Kenny menggeleng cepat dan terus mendorong Kanilaras sampai naik ke anak tangga, ketika mereka sampai di depan pintu kamar. Lamat-lamat gendang telinga mereka mendengar suara bariton Kendrick.
"Apa yang kalian lakukan di sini!" Bentak Kendrick
"Mata hanzel green milik Tuan terlihat sangat menyeramkan kala mendelik seperti itu." Bibi Kenny merkidik membayangkan sorot mata Kendrick.
Jantung dua wanita itu berdegup keras seakan mau meledak dan derasnya aliran darah mereka membuat mereka bermandikan keringat dingin. Sekian detik terdiam, tidak terdengar lagi kelanjutan dari ucapan Kendrick, Bibi Kenny memberanikan diri untuk mengintip kamar tuannya yang bersebelahan dengan kamar Kanilaras.
Bibi Kenny menelan kasar salivanya dan perlahan menolehkan kepalanya ke arah kamar Kendrick, ketika kepala itu menoleh sempurna sosok pria yang mereka takuti tidak ada.
__ADS_1
"Tuan tidak ada Nona. Ayo, cepat masuk!" putus Bibi Kenny seraya meraih gagang pintu.
Lega, itulah yang mereka rasakan saat ini. Namun, kekhawatiran masih merayap di hati mereka berdua.
"Bukankah tadi itu ... suara Kendrick?" cetus Kanilaras mengawali pembicaraan mereka.
"Tuan Ken! Jangan panggil Tuan dengan sebutan nama saja. Nanti Tuan akan murka," tukas Bibi Kenny menasihati Kanilaras.
Gadis itu menghela napas berat dan bola matanya berputar malas.
"Kenapa memangnya Bik? Bukankah dia menyayangiku?" tanya Kanilaras sembari mendudukkan dirinya di pinggir ranjang tempat tidurnya.
"Jangan menanyakan hal yang tidak penting Non! Lakukan saja semua seperti yang bibi katakan dan jangan banyak membantah!" tandasnya dengan sangat tegas.
Sepertinya mereka ini sudah sangat tergila-gila dengan pria aneh itu. Aku dibuat penasaran dengan kepribadian orang itu dan ... siapa sebenarnya gadis yang mirip denganku ini? Kenapa paras kami sama persis dan kenapa aku bisa di sini? gerutu Kanilaras tiada hentinya.
"Non, Nona!"
"I-iya Bik, ada apa?" sahut Kanilaras tergagap-gagap.
"Seharusnya bibi yang nanyak, kenapa Nona terus-terusan bengong? Ada yang salah?" Bibi Kenny merapikan majalah yang jatuh berserakan.
"Saya juga kurang paham, Bik. Kenapa saya suka bengong, apa karena kecelakaan itu?" tutur Kanilaras Sabtu menyuguhkan senyuman manis.
"Nona jangan terlalu formal dengan bibi! Bibi sama seperti worker lainnya," ucap Bibi Kenny yang saat ini menyelimuti Kanilaras yang terbaring di ranjang, "bibi permisi, Nona jangan keluar lagi!" saran Bibi Kenny demi kebaikan Kanilaras.
wanita paru baya itu menutup pintu kamar, Bibi Kenny berniat memeriksa kamar Kendrick. Dia ingin memastikan bahwa tuannya itu tidak mengetahui bahwa Kanilaras atau Atas telah bisa berjalan seperti sediakala. Ketika di hendak membuka pintu samar-samar dia mendengar dengkuran, alih-alih masuk ke dalam kamar Kendrick.
__ADS_1
Bibi Kenny mengurungkan niatnya dan memeriksa sumber suara dengkuran tersebut, perlahan Bibi Kenny berjalan menjinjit mencari sumber suara dengkuran tersebut. Ketika sampai di ruang tengah lantai dua netranya menangkap sosok pemimpin black ninjutsu (ninpo) tengah tertidur lelap di sofa besar berwarna maroon.
"Rupanya tadi dia tengah mengigau, syukurlah kalau begitu." Bibi Kenny kembali menjinjit meninggalkan pria yang dia emong sejak usia 4 tahun.
...****************...
Selepas keluarnya Bibi Kenny dari kamarnya, Kanilaras mencoba memulihkan tenaganya dengan melakukan pemanasan kanuragan. Dari gerakan ringan sampai dia melayang di dekat langit-langit kamarnya. Dirasa sudah pulih Kanilaras memutuskan untuk menyudahi pemanasan fisiknya yang sebulan ini nyaris tidak dapat berger lagi, atas izin yang Maha Kuasa dia bisa bergerak seperti sedia kala.
"Aku harus mencari tahu alasan aku bisa datang ke tempat aneh ini!" tekad Kanilaras yang saat ini terbaring di atas ranjang, "terbuat dari apa benda ini? Sangat nyaman dan empuk seperti kue buatan Mbok Mijem. Oallah, Mbok kenapa ini terjadi pada Laras?" tanyanya di sela kebingungan.
"Seandainya Raja Gendra tidak menyerang kerajaan kita, pasti saat ini Laras masi bisa bermanja-manja pada Bunda Ratu." Buliran bening itu menetes dari pelupuk matanya.
Suara tangis yang dia taha membuat dadanya sesak, napas yang tercekat menambah sakit yang dia rasa sejak tadi. Tanpa sadar gadis itu tertidur akibat kelelahan menangis semalam.
Jarum jam terus bergulir, Kanilaras juga masih menikmati tidur nyenyak ya di atas tanjak empuk nan lembut. Sebagai rutinitas sehari-hari, Kendrick berlari mengelilingi sebagian halaman rumahnya yang tidak bisa diperkirakan hektarnya.
Kalian bayangin sendirilah ya! Halaman paling belakang sendiri adalah lapangan golf dan sebelumnya ada lapangan sepak bola dan di sebelahnya lagi taman bunga. Lantas di belakang lapangan golf ada hutan belantara, jadi rumah itu tidak bisa di hitung luasnya, yuk balik lagi ke aktivitas Kendrick manusia cool yang selalu mahal senyum.
Setelah puas mengelilingi halaman, Kendrick naik ke atas untuk melanjutkan olahraganya sambil mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat Ares—pria yang menyandang gelar kakak laknat. Ya, itulah julukan yang diberikan oleh Kendrick.
Pria itu selalu mengusik ketenangan Kendrick di manapun dia berada, tidak pernah sekalipun dia membiarkan Kendrick tenang walau semenit pun. Dia akan melakukan hal yang menyulut kemarahan adiknya sendiri.
"Bagaimana kabar gadis itu? Apa dia sudah mandi?" tanyanya pada dirinya sendiri, "haruskah aku menemuinya dulu? Oh no, this is not good. Look at this bad performance! Oh tidak, ini tidak baik. Lihat penampilan buruk ini!" katanya mencemooh penampilannya sendiri.
Tanpa berpikir panjang pria berwajah maskulin itu masuk ke dalam ruangan lembab dan setelah melakukan ritual bersih-bersih Kendrick membalurkan serum ke wajahnya, tidak lupa dia memanjakan dirinya dengan parfum Calvin Klein Eternity. Parfum ini menciptakan wangi citrus yang menyegarkan serta menenangkan, sehingga cocok untuk pria seperti Kendrick yang memiliki kegiatan yang padat dan yang mengharuskan dia terus bergerak setiap saat.
Matanya melotot sempurna ketika melihat gadis cantiknya tengah tertidur dengan balutan piyama berwarna maroon.
__ADS_1
"Apa boleh aku memakan mu?" tanya Kendrick menyeringai kecil.