
Selepas melakukan aktivitasnya Kendrick memutuskan untuk melihat Kanilaras atau yang lebih dia kenal sebagai Aras. Kendrick mengenakan stelan jas berwarna abu-abu dan dipadu-padankan dengan dasi berwarna hitam terlihat sangat tampan. Auranya sebagai ketua mafia terpancar jelas, sorot matanya yang selalu tajam terkesan lebih sensual.
Sebelum dia menemui Kanilaras, Kendrick terlebih dahulu masuk ke ruangan penjaga untuk melihat keadaan rumahnya pada malam hari. Soldier yang bernama Murano menunjukkan segala sudut rumahnya tidak lupa pria itu memperlihatkan taman belakang dan juga depan rumahnya yang jauh dari jalan raya.
"Bagus semua terkendali." Sebelum pergi Kendrick menepuk bahu Murano beberapa kali.
Semua soldier yang berada di ruangan pengawasan sedikit tegang ketika tuannya itu masuk ke sana, sudah bertahun-tahun tapi mereka tetap saja gugup tatkala Kendrick menemui mereka dan berbicara secara dekat seperti tadi. Tuan black house itu melangkah ke luar dan saat sampai di depan pintu Kendrick menekan salah satu tombol di jam tangannya.
"Buatkan aku sandwich dan bawa ke atas!" pinta Kendrick lirih.
Kakinya begitu cepat melangkah menaiki anak tangga, perlahan dia membuka pintu.
Kanilaras yang menyadari pergerakan pintu segera mengatur posisinya di atas kasur, sungguh jantungnya berdegup kencang akibat ke datangan Kendrick yang tiba-tiba.
Mata pria tampan bertubuh kekar melotot sempurna ketika melihat gadis cantiknya tengah tertidur dengan balutan piyama berwarna maroon. Benar, Kanilaras lupa menutupi tubuhnya dengan selimut sehingga Kendrick bisa melihat dirinya yang terbalut kain sutra yang memiliki warna cantik yang terlihat cocok sekali dengan kulitnya yang kuning Langsat.
"Apa boleh aku memakan mu?" tanya Kendrick menyeringai kecil.
Apa maksud ucapannya barusan? Jangan bilang dia akan melakukan hal aneh padaku! gumam Kanilaras dalam hati.
Takut, tentu saja dia takut setengah mati itu sebabnya dia nekat membuka matanya sedikit untuk mengetahui Kendrick hendak melakukan hal apa padanya, ketika dia membuka kelopak matanya dia melihat Kendrick tengah menungguinya.
Dia berbicara dengan siapa? Lantas, apa tujuannya ngomong seperti tadi? Sungguh manusia yang tidak waras! lagi-lagi Kanilaras merutuki Kendrick—pria yang dia bilang tidak waras itu.
Rupanya Kendrick tengah berbicara dengan ikan yang dia inginkan selama ini. Koi Black Dragon ikan hias termahal di dunia ini, dibanderol hingga 2,8 miliar karena coraknya yang unik dan langkah—terdiri dari warna putih, merah, hitam. Ikan ini berasal dari indukan berkualitas dan jarang sekali ditemukan kecacatan.
Netra tuan black house tersebut berbinar saat menatap Beril.
"Kau memang soldier handal Beril," katanya menyanjung kepiawaian Beril.
Soldier-nya tersebut tersenyum puas mendengar pujian, "Terima kasih Tuan!"
__ADS_1
Tangan kanan Kendrick mengibas layaknya mengusir serangga dari hadapannya, inilah sifatnya sejak kecil kala menyuruh soldier atau worker pergi dari hadapannya.
"Hei, gadis ayu!" sapa Kendrick pada Kanilaras yang masih berpura-pura tidur, "apa tidurmu nyenyak semalam?" imbuhnya sembari mengelus pipi mulus Kanilaras.
Andai kau tahu perbuatanmu ini bisa mengantarkanmu ke akhirat lebih cepat! ucap Kanilaras sarkasme dalam hati.
"Nanti malam aku akan pergi meninggalkanmu selama 5 hari. Jadi, kau harus bersabar menungguku kembali!" tuturnya lembut, walau wajahnya terlihat datar dan menyeramkan.
Namun, dia berusaha bersikap baik dihadapan Kanilaras, gadis yang sangat dia kagumi.
"Bibi Kenny akan selalu menemanimu. Kau tidak perlu khawatir akan keselamatan ku!" ucapnya seraya beranjak berjalan menatap matahari dari jendela kamar Kanilaras.
"Kau masih ingat janji kita pada malam bulan purnama yang ke 4 pada tahun lalu?" Berbalik menatap Kanilaras yang masih dalam posisi tidurnya, "saat itu kau berjanji akan selalu menemaniku sampai aku tiada, sebagai gantinya kau meminta black house ini sebagai kenang-kenangan. Sungguh murah harga dirimu, Aras," cemooh Kendrick terkekeh.
"Sialan, cepat sekali waktu berlalu!" umpat Kendrick dalam kegembiraan hatinya.
"Waktu berharga kita terlewat begitu saja. Dan kau ... dengan bodohnya terjun ke danau, apa kau tidak takut mati!" tanya Kendrick dengan kedua tangan yang mengepal keras.
Derap langkah kakinya terdengar menggema di kamar ini dan tiba-tiba derap langkah kaki itu menghilang. Tidak ada pergerakkan apa pun, hening sangat hening. Ketika Kanilaras hendak membuka kelopak matanya, tiba-tiba saja Kendrick duduk di ranjang tempat tidur Kanilaras.
"Cepatlah bangun Kanilaras, Aku sangat merindukan dirimu yang lincah. Bergelayutan di lengan ini, meminta sesuatu yang susah aku dapatkan. Mau sampai kapan kau menghukum ku seperti ini, heum?" Wajah mereka yang berdekatan hanya berjarak beberapa cm saja.
Deg, tiada suara apa pun yang Kanilaras dengar hanya ada suara dedaunan yang tertiup angin. Tanpa sadar dia membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur menatap serius pria yang tengah membungkukkan tubuhnya.
"Apa kau tadi memanggilku dengan nama Kanilaras?" tanya Kanilaras pelan.
Kendrick yang terkesiap menatap Kanilaras dengan mata yang berkaca-kaca.
"K-kau s-sudah bangun?" tanya Kendrick tergagap-gagap, "s-sejak kapan kau pulih dari fase vegetatif? Apa kau sudah menipuku?" cecarnya seraya menghamburkan pelukan.
"Jawab dulu pertanyaanku?" Kanilaras kembali menanyakan hal yang sama, "apa kau memanggilku dengan nama Kanilaras?"
__ADS_1
Kendrick mengangguk pelan dengan posisi yang sama, tubuh yang masih berpelukan.
"Dari mana kau tahu nama asliku? Bukankah kau mengenal tubuh ini dengan nama Arastya Ningrum?" Kali ini Kanilaras yang memberondong pria itu.
"Lupakan! Aku tidak mau membahas nama sialan itu!" tukas Kendrick mengendorkan dekapan tangannya.
"Kenapa? Ada apa dengan nama itu? Nama itu pemberian orang tuaku!" bentak Kanilaras yang sudah tidak tahan bersandiwara lagi.
"Iya orang tua sialan yang tidak mengerti penderitaan anaknya!" pekik Kendrick yang tidak mau kalah dengan gadis yang telah membentaknya tadi.
Mata Kanilaras melotot tidak terima dengan pernyataan Kendrick pria yang mengidap penyakit dissociative identity disorder atau lebih dikenal sebagai DID.
"Cukup! Jangan menghina orang tuaku yang terhormat," tukas Kanilaras seraya menyilangkan kedu tangannya di depan dada.
"Ha-ha-ha ...." Bukannya diam Kendrick malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gadisnya.
Kanilaras benar-benar bingung dengan sikap Kendrick yang mudah sekali berubah, dari sedih, bahagia dan murka.
"Coba ulangi lagi ucapanmu tadi!" pinta Kendrick dengan menampilkan smrik-nya.
"Mereka orang terhormat." Ulang Kanilaras pelan.
Kendrick mencengkram pipi Kanilaras dengan sangat kuat.
"Mereka tidak pantas dipanggil orang tua!" Kendrick lebih menekan kata 'dipanggil orang tua', "Kau sudah dijual kepadaku akibat pria bajingan itu kalah berjudi. Apa dia pantas disebut sebagai orang terhormat, huh?" desis Kendrick dengan mata yang mendelik.
Amarah Kendrick semkin meningkat kala melihat wajah angkuh Kanilaras, pria itu melempar lampu tidur yang terletak di nakas dekat ranjang tempat tidur Kalinaras. Cengkraman tangannya juga semakin keras sampai Kanilaras merasakan sakit yang amat luar biasa.
Apa dia akan kembali mengamuk seperti saat itu? Aku harus melakukan sesuatu agar dia kembali mengingatku.
Mata indah itu melirik ke sana kemari berharap menemukan hal yang bisa membuat pria dihadapannya itu sadar.
__ADS_1
"Kau harus mati wanita sialan!" sergah Kendrick seraya menodongkan pistol di kepala Kanilaras.
Di situasi menegang ini Kanilaras memejamkan matanya sambil mengucapkan sepatah kata yang membuat Kendrick cukup terkesiap, tapi pria itu kembali menampilkan smrik-nya.