Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
chapter 54


__ADS_3

Masih mendengarkan dengan setia omelan Katra yang tiada ujungnya, dia juga mengeluh tentang kebodohannya membuka segel dua manusia yang kini tengah anteng memandangi kesibukannya yang tengah mengemudi.


Raja Gendra angkat bicara karena tidak tahan lagi mendengarkan pria itu menggerutu.


"Aku bunuh kau sekarang!" ancam Raja Gendra pelan, tapi penuh penekanan.


Bukannya menyahut Katra hanya berdeham untuk merespon ucapan Raja Gendra. Melihat ketidak sopanan Katra, Raja Gendra mengarahkan pukulan secara tiba-tiba, tentu saja tindakan bodoh Raja Gendra membuat Katra tidak sadarkan diri dan mobil yang dikendarai Katra oleng.


Dua manusia itu tidak panik ataupun gusar, ekspresi wajah mereka datar seakan tidak akan terjadi apa-apa. Bahkan Alingga tampak menikmati pemandangan jalanan yang dipadati oleh kendaraan lain yang melintas, tidak sedikit yang menekan klakson berharap pengendara mobil Avanza hijau tersebut bisa mengurangi kecepatan dan mengendalikan mobilnya.


Alih-alih mengindahkan ucapan pengemudi lain, Raja Gendra malah membuat embusan angin agar bisa menyingkirkan mereka dari pandangannya. Di depan sana, lebih tepatnya 100 meter lagi ada belokan yang cukup tajam dan mobil itu semakin melaju cepat. Ketika sampai di dekat belokan tersebut Katra tersadar dari pingsannya, lalu menyadari mobilnya masih melesat cepat.


Mulutnya menganga dan matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, Sudah tidak ada waktu untuk bersantai ataupun menghiraukan ucapan tak masuk akal dari Raja Gendra.


****************


Di pagi hari yang cerah seekor burung hinggap di Railing void seakan menyapa seorang gadis yang tengah duduk bersantai di kursi balkon.


Gadis yang mengenakan piyama cokelat susu mengulas senyum sangat manis, Perlahan dia beranjak mendekati buruk greja tersebut.


"Kenapa sendirian? Di mana teman-temanmu, heum?" tanya Kanilaras dengan senyuman yang selalu terbingkai di bibir tipisnya.


Lagi-lagi burung itu bersiul seakan menjawab pertanyaan Kanilaras—sang putri Raja Daneswara.


"Aah, begitu rupanya. Lantas, apa tujuanmu kemari?" Kanilaras kembali bertanya dengan sedikit berbisik.


Burung greja tersebut memiringkan kepalanya dan terbang begitu saja meninggalkan Kanilaras di balkon.


"Tidak sopan!" gerutunya dengan alis yang bertaut.


Telinga gadis itu mendengar derap langkah kaki yang cukup pelan.

__ADS_1


Hmm, dia pikir aku gadis bodoh! sungut Kanilaras sembari melirik.


Dengan seksama dia menghitung langkah kaki seseorang tersebut dan ketika kurang 3 langkah lagi Kanilaras berbalik seraya melayangkan tinjuan ke arah orang yang mengintainya sejak tadi.


"Argh ...!" teriak pria itu dengan suara yang menggema di kamar itu.


Darah segar mengalir begitu saja tanpa permisi dan ketika menyadari siapa pria itu, Kanilaras segera membantunya untuk berdiri.


"Tolong maafkan aku!" mohonnya dengan telapak tangan yang menyatu.


"Yes okay," jawab Beril yang mengusap hidungnya yang masih berdarah.


"Apa yang membuatmu mengendap-endap seperti itu?" Kanilaras mencebik tidak karuan.


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan soldier Kendrick satu itu. Setiap kali dia mengawal pasti derap langkahnya tidak terdengar dan gerak tubuhnya juga lumayan cepat. Namun, tidak mengalahkan kecepatan Kanilaras yang sudah terlatih sejak kecil.


"Saya sudah berjalan seperti biasa, Nona." Berdiri tegap seperti biasanya.


"Apa tujuanmu kemari?" Menatap Beril tanpa ekspresi, tapi seper detik kemudian Kanilaras kembali berkata.


"Ken, baik-baik saja bukan?" ujar Kanilaras gusar.


"Tuan baik-baik saja, Nona. Tujuan saya ke sini karena tuan ingin sarapan bersama Anda," jelas Beril dengan tangan yang mempersilahkan Kanilaras berjalan lebih dulu.


"Bilang sama tuanmu, untuk menungguku sebentar saja!" titah Kanilaras lembut.


Namun, perintah Kanilaras tidak serta-merta membuat soldier atau kali tangan Kendrick itu keluar dan menyampaikan titahnya. Bahkan pria itu tetap berdiri di depan Kanilaras dengan sorot mata yang memaksa gadis itu untuk ikut keluar dari ruangan luas ini.


"Kau dan dia, sama-sama tidak memiliki perasaan!" cibir Kanilaras, dia sungguh kesal dengan tindakan Beril.


"Saya hanya menjalankan perintah. Mohon mengerti dengan posisi saya," tutur Beril sembari menundukkan kepala.

__ADS_1


Di lantai dua mungkin masih berdebat dengan keinginan dan perintah yang diberikan. Namun, berbeda dengan dapur, di bawah sini ada banyak ahli gizi dan chef ternama yang tengah sibuk menyiapkan makanan lezat dari berbagai negara.


Seakan dihipnotis, dua soldier Kendrick yang menjaga pintu dapur membiarkan lelaki itu melenggang dengan bebas ke dalam dapur dan kedatangannya menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana.


Salah satu asisten chef pribadi Kendrick menghampirinya dan melontarkan pertanyaan yang cukup menyita perhatian.


"Apa kau urusan tuan?"


Meski bingung lelaki itu mengangguk dan menyunggingkan senyuman semanis mungkin yang dibarengi dengan kepala yang menunduk.


"Ya, aku urusan tuan."


"Apa beliau meminta masalah spesial?" katanya menimpali ucapan lelaki asing tersebut.


Pria berpakaian jas tersebut menyentuh dagunya, seperti soldier yang tengah mengingat pesanan tuannya.


"Tidak ada ... tapi tuan menyuruhku untuk membawakan makanan yang bisa dia makan untuk menunggu Kani—" Perkataannya tergantung membuat para chef menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Nona Kanilaras. Dia tengah bebersih badannya di atas," sambung lelaki itu setelah menggantung pernyataannya sekian detik.


Asisten chef pribadi tersebut mengangguk lalu berjalan menghampiri chef berpengalaman. Dia berbisik lirih di telinga kepala chef, seperti telah mengerti kepala chef itu mengangguk-angguk mengiyakan ucapan asistennya.


Pesanan kilat lelaki itu telah tersaji dan dengan bangga asisten chef itu memuji keahlian kepala chef yang dia idolakan sejak dulu.


"Wah semudah ini menyiapkan makanan?"


Alih-alih menjawab asisten itu pergi meninggalkan lelaki itu berdiri dekat pintu dan tanpa melirik ke mana-mana lagi lelaki tersebut bergegas keluar menghampiri Kendrick yang masih setia menunggu ke datangan sang pujaan hatinya. Kurang 10 langkah lagi makanan yang ada di nampang akan segera mendarat selamat di meja.


Seperti sudah ditakdirkan ketika lelaki itu menuangkan serbuk putih di piring, Kendrick tidak melihat hal itu meski dia sedikit membalikkan tubuhnya. Lelaki tersebut menampakkan seringai sambil berjalan cepat menghampiri Kendrick yang tengah duduk menanti makanan ringannya.


"Silakan Tuan, makanannya!" ujar lelaki itu tanpa takut ataupun khawatir.

__ADS_1


__ADS_2