
"Maafkan aku!" lirih Kanilaras sembari memberi totokan di dada kiri Kendrick.
Mata hanzel green itu bergolak cepat ketika menyadari tubuhnya tidak dapat bergerak.
"Apa yang kau lakukan pada diriku, sialan!" teriaknya dengan tubuh yang masih mematung.
Akibat teriakan Kendrick alarm black house berbunyi sangat nyaring dan lampu darurat juga menyala. Gadis kerajaan kuno tersebut panik melihat perubahan warna lampu kamarnya.
"Apa ini? Kenapa seperti ini?" Kanilaras memperhatikan segala penjuru kamarnya yang sangat luas.
"Kau takut?" tanya Kendrick yang masih mematung.
"Aku tidak takut, tapi ini kali pertama aku mengetahui kerajaan semacam ini. Bagaimana caranya membangun istana seperti ini?" Perlahan kepalanya tertunduk menatap lurus wajah Kendrick.
Pria itu bingung bukan main kala mendengar ucapan Kanilaras yang terdengar aneh.
"Istana?"
"Iya," sahut Kanilaras cepat seraya menganggukkan kepala.
Terdengar suara derap langkah yang menggema di lantai dasar, Kendrick tahu betul apa yang akan dilakukan pasukan soldier dan worker-nya.
"Lock all the doors of the black house! Kunci semua pintu rumah hitam!" titah Kendrick pada rumah canggihnya.
"Approved to lock up, disetujui untuk dikunci."
Kanilaras semakin bingung mendengar suara perempuan yang menjawab ucapan pria yang telah dia buat kaku.
"Siapa? Siapa yang berbicara tadi?" Kembai menyapu ruangan luas ini.
Soldier, worker dan juga Bibi Kenny sangat panik mendapati semua pintu dikunci.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi Bu?" bisik Beril di telinga ibu angkatnya—Bibi Kenny.
"Aku juga tidak tahu." Sebagai tetua di black house Bibi Kenny bertugas untuk mencari solusi dalam situasi ini.
Masih sibuk memikirkan solusi dan keadaan tuannya, Bibi Kenny mendapat sinyal dari pin yang dia pakai setiap hari dan setiap waktu.
"Bubar! Kalian harus bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa!" ujar Bibi Kenny memerintah semua bawahannya.
Kembali ke dalam kamar. Di sana dua insan itu masih dalam keadaan yang sama, Kanilaras masih bingung menatap langit-langit kamarnya. Sedangkan Kendrick masih membeku layaknya pahatan es yang terdiam tanpa pergerakan apa pun.
"Aras!" panggil Kendrick lantang.
"Apa?" jawabnya ketus.
"Bantu aku! Seluruh tubuhku seperti mati rasa," katanya minta belas kasih gadis yang masih bergerak mondar-mandir memperhatikan ruangan yang disebut kamar, padahal luas dan juga bentukannya sama persis seperti rumah petakan.
"Jika kamu masih mau mengamuk, aku tidak akan melepaskan totokan itu. Biarlah kamu dalam kondisi seperti ini agar semua terasa damai tanpa ada keributan," cetus Kanilaras tanpa melihat Kendrick.
"Cepat bantu aku!" teriak Kendrick berulang kali.
"Bisa tidak kamu pelan 'kan suaramu!" pungkasnya sambil mendudukkan dirinya di samping pria yang sedari tadi emosi.
"Kumohon Aras!"
"Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat. Jawab semua pertanyaanku dan jangan banyak berkelit! Bagaimana?" tandanya tegas.
"Deal! Aku akan menuruti semua ucapanmu hari ini saja," Kata Kendrick mengiyakan perkataan Aras atau Kanilaras.
"Bagus," tuturnya singkat sembari menotok di bagian dada yang sama, seketika tubuh kekar itu tersungkur beruntung dia berada di atas ranjang sehingga tiada bagian tubuhnya yang terluka.
"Aah ... tubuhku terasa lemah tiada berdaya," katanya sambil memejamkan mata hanzel green yang indah itu.
__ADS_1
"Dasar pecundang," sindir Kanilaras pelan.
Kendrick bangkit dari pembaringan empuk itu dan mencekal pergerakan tubuh mungil gadis yang telah mencibirnya habis-habisan.
"Akan aku tunjukkan iblis yang tersembunyi selama ini. Jangan merengek jika energi iblis ini membuncah!" Tatapan mereka bertemu dan semkin lama sorot mata Kendrick menajam seakan menjelma menjadi ratusan jarum yang siap menghujam jantung dan juga hati Kanilaras.
Menelan saliva saja sulit dilakukan gadis yang memiliki dua nama.
"Menjauh dariku, Ken!" lirih Kanilaras seraya memalingkan pandangannya.
"Uwoh ... sudah berani memanggil namaku rupanya." Dia rela memiringkan kepalanya demi melihat kegugupan Kanilaras.
"Siapa yang mengajarimu memanggil namaku, heum?" tanya Kendrick, sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Tidak ada!" tampiknya tegas penuh percaya diri.
"Hmm, sungguh gadis pemberani. Sayang—" Kendrick sengaja menggantungkan ucapannya.
Pria itu melepas kungkungan tangannya yang mencekal segala pergerakan Kanilaras.
"Nanti malam aku akan pergi ke ujung Indonesia. Jangan sampai aku mendengar kau berbuat sesuatu yang merugikan ku!" Ucapannya terdengar seperti larangan yang ditekankan agar Kanilaras tidak berbuat sesuka hatinya saat Kendrick meninggalkan black house.
"Siapa kau yang berani mengaturku!" Menelisik pria bertubuh kekar tinggi itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kau pasti sangat suka melihatku seperti ini." Menyeringai kecil.
"Ck, sungguh sulit dipercaya. Penjahat sepertimu memiliki rasa yang terlalu tinggi," desis Kanilaras mencibir Kendrick.
"Kau jangan terlalu meremehkan aku! Aku ini seorang penguasa di atas penguasa di dunia ini," ujar Kendrick dengan mata yang menajam.
"Jika aku bosan kau akan aku lempar dari bukit itu. Atau kau mau mati sekarang?" Kendrick menjilat ujung pisau lipatnya dan sebelah alisnya terangkat, sungguh suasana yang menyeramkan.
__ADS_1
Namun, Kanilaras membalas ucapan Kendrick dengan sebuah kalimat yang tidak kalah sengit dan kejamnya. Hal tersebut membuat Kendrick geram tangan kirinya yang tersembunyi di saku celana telah tergenggam keras sampai kukunya memutih.