
Pria bertubuh tinggi kekar tersebut memejamkan kedua kelopak matanya. Begitu santainya dia menikmati tubuhnya yang kekar jatuh dari lantai dua, secepat kilat Kanilaras menangkap Kendaraan. Tatapan mata mereka bertemu, tapi tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka berdua.
Pendaratan yang cukup sempurna membuat semua orang yang berdiri di ruang tengah tercengang. Sungguh pertunjukan yang tidak pernah mereka lihat. Bibi Kenny tergopoh-gopoh menghampiri dua orang tersebut.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Bibi Kenny panik.
"Tidak," jawabnya singkat.
Bibi Kenny menatap tajam Kanilaras yang masih memeluk erat tubuh Kendrick—pemilik black house ini.
"Tinggalkan kami berdua di sini!" titah Kendrick seraya mengibaskan tangannya.
Ketika Kanilaras hendak melepas pelukan tangannya Kendrick malah merangkul bahu gadis itu.
"Diam! Jangan bergerak!" desis Kendrick sembari melirik wajah datar Kanilaras.
Mata hanzel green itu menyapu ruang tengah yang sudah sepi tidak ada pergerakan manusia selain mereka berdua.
"Siapa kau sebenarnya?" Tatapan tajam Kendrick menghunus ke arah Kanilaras berdiri.
Gadis cantik idaman Kendrick tersebut mendudukkan dirinya di sofa empuk berwarna cream.
"Harus berapa kali aku mengulang perkataan ku?" ujar Kanilaras yang saat ini menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Cepat jawab pertanyaanku!" Suara teriakan Kendrick menggema di ruang tengah, "aku tidak suka menunggu," sambungnya lirih.
Bola mata Kendrick bergulir menatap lurus Kanilaras yang tengah menyekat butiran keringatnya.
"Apa kau benar-benar Aras-ku?" tanya Kendrick dengan kening yang mengernyit.
"Menurutmu siapa aku ini?" Kanilaras balik melontarkan pertanyaan.
"Entahlah aku tidak yakin." Mengedikkan kedua bahu sambil melemparkan tubuhnya di atas sofa.
Pria itu memejamkan matanya sejenak sebelum kembali melirik Kanilaras.
"Bagaimana kau melakukan hal itu?" Pria itu masih dengan posisinya yang telentang dengan pandangannya menatap langit-langit ruang tengah.
"Yang mana?"
"Membunuh beberapa solder-ku dan ... menyelamatkanku dari kecelakaan tadi." Melirik tajam gadis yang masih duduk santai.
"Aku seorang pendekar dan tujuanku hidup di dunia ini untuk menumpas kejahatan. Wajar saja jika aku bisa melakukan hal mustahil itu," ucap Kanilaras penuh percaya diri.
__ADS_1
Kendrick menarik sudut bibirnya yang membentuk senyuman miring, pria itu bangkir dari sofa dan berjalan menghampiri Kanilaras yang duduk di sofa sebrang.
"Aras-ku tidak akan melakukan kekerasan seperti dirimu tadi," bisiknya di telinga Kanilaras.
Bisikan lirih itu menimbulkan emosi yang berbeda, bukan marah atau kesal. Namun, rasa lain yang membuat gadis itu sulit berkata-kata. Bukan Kanilaras saja yang merasakan hal tersebut, Kendrick juga sama pria itu tidak bisa melanjutkan perkataan yang terendap di kerongkongan.
Damn, why am i getting weak? His flat stare intimidated me. Sial, kenapa aku jadi lemah? tatapan datarnya mengintimidasi ku.
Kendrick berdeham untuk menghilangkan rasa nervous yang melanda dirinya.
"Mau aku bantu bikin ramuan agar tenggorokanmu kembali enakkan?" tawar Kanilaras dengan mata yang menatap sendu.
"Lupakan!" Mengibas-ngibaskan tangan, "kau harus bertanggung jawab atas kematian soldier-ku! Mereka tidak bersalah dalam hal ini," timpal Kendrick seraya tersenyum miring.
Senyuman penuh misteri itu membuat Kanilaras sedikit bingung, tapi dia mencoba memahami keadaan dan situasi saat ini.
"Kenapa kau tersenyum jahat seperti itu?" tunjuk gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Tidak ada alasan apa-apa!" bantah Kendrick sembari memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Apa yang harus aku lakukan? Untuk menebus kesalahanku kepada mereka."
Akhirnya dia menawarkan diri. Maafkan aku soldier! Bukan maksudku memanfaatkan kepergian kalian. Hanya saja, aku perlu dia berada di sisiku. Sudah cukup aku berpisah dengannya, gumam Kendrick dalam hatinya.
"Ikut denganku ke ujung Indonesia. Aku jamin kau akan suka!" balasnya meyakinkan Kanilaras.
Bukannya menerima, Kanilaras malah menolak keras tawaran Kendrick.
"Aku akan diam di rumah ini sampai aku tahu tujuanku," sahut Kanilaras tegas menolak ajakan Kendrick.
Gebrakan meja terdengar lantang memenuhi ruang tengah, suara yang menggelegar tersebut membuat soldier yang berjaga tidak jauh dari sana berlari menghampiri Kendrick dengan senjata laras panjang yang sudah siap membidik musuh. Kemudian pemimpin black house tersebut mencegah tindakan yang akan membahayakan nyawa Kanilaras.
"Apa kau memiliki uang untuk membayar denda?" cemooh Kendrick, pria itu sangat tahu betul bahwa gadis yang duduk di sebelahnya itu tidak memiliki uang sepeserpun.
"Denda?" Kening Kanilaras mengernyit tidak paham akan maksud ucapan Kendrick.
"Apa!" ketus Kendrick.
"A-apa maksudmu upeti?"
Menatap intens Kanilaras, tiada satu senti saja yang dia lewatkan.
"Apa kau mau membayar upeti-mu saat ini?" Menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
Kanilaras yang menyadari dirinya tidak memiliki koin emas atau perak hanya bisa diam dan kemudian dia menggeleng kecil sambil mengulum bibir bawahnya.
"Kalau begitu kau harus ikut denganku saat ini juga." Kendrick bertepuk tangan tiga kali, Bibi Kenny berjalan cepat menuju ruang tengah.
Wanita paru baya tersebut berdiri tegak menatap tuannya.
"Siapkan dia! Aku akan membawanya ikut denganku," titah Kendrick seraya melempar jas yang baru saja dia lepas.
Bibi Kenny mengangguk dan membawa Kanilaras menuju kamarnya di lantai dua. Tempat di mana dia bertarung tadi sudah rapi dan bersih seperti semula, jangankan noda darah sehelai rambut pun tidak ada.
Emban di sini sungguh cekatan, gumam Kanilaras sembari terus melangkah maju melewati dua soldier yang mengangkat kantong jenazah.
Sesampainya mereka di kamar Kanilaras, Bibi Kenny melayangkan tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri gadis cantik yang memiliki lesung pipit.
"Apa-apaan ini, Bik?" tanya Kanilaras dengan mata yang membulat.
"Ini untuk kelancangan Nona yang hampir melenyapkan nyawa Tuan." Kini tangan kanan Bibi Kenny terangkat dan menampar lagi pipi gadis itu, "dan ini untuk rasa kekecewaan bibi. Nona telah menipu Bibi semalam," ungkapnya lirih seraya menyekat air matanya.
"Maaf, jika Bibi masih belum puas. Bisa pukul aku lagi!" tawar Kanilaras dengan senang hati.
"Tidak, itu sudah cukup Non. Bibi sangat tidak percaya akan kemampuan Nona tadi, dari mana Nona belajar gerakan seperti itu?" berondong Bibi Kenny sambil mengikat rambut panjang Kanilaras.
Aku yakin dia tidak akan percaya padaku.
"Bibi 'kan yang mengajariku ilmu meringankan tubuh!" jelasnya ragu-ragu.
"Bibi tidak pernah mengajari gerakan seperti Nona lakukan tadi. Bibi hanya tahu cara tembak menembak dan ilmu memanah yang jitu," katanya membantah halus pernyataan Kanilaras.
Apa yang harus aku katakan? Tidak mungkin aku katakan kalau aku mendapatkan ilmu itu dari Guru Maheswari. Kenapa semakin rumit saja kehidupanku ini?
Tanpa sadar gadis itu menjambak kasar rambutnya dan yang membuat Bibi Kenny semkin khawatir. Kanilaras bergerak gelisah dan mulutnya yang komat-kamit seakan sedang berbicara dengan seseorang.
"Nona, sadar!" Mengguncang tubuh Kanilaras cukup keras.
"Ada apa Bik?" tanya Kanilaras bingung.
"Apa yang Nona pikirkan? Sejak Nona siuman selalu bengong." Mengusap mata berulang kali.
"Tidak ada Bik."
Detik berganti menit dan menit menggerakkan laju jarum jam. Ketika masih sibuk menatap rambut, Bibi Kenny dan juga Kanilaras dikejutkan gebrakan pintu kamar yang dibuka paksa.
"Apa kau sudah puas melihatku seperti ini, heum?" Matanya mendelik menatap sekeliling.
__ADS_1