Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Luka dan Tawa


__ADS_3

"Biadab!" jerit Kanilaras melihat Kendrick tergeletak bersimbah darah.


"Keluar kau pengecut! Jangan bersembunyi!" pekik Kanilaras seraya mengayunkan pedang bulan ke sembarang arah.


Embusan kekuatan pedang bulan menghancurkan beberapa tiang Kokok yang menopang sebuah paviliun dan juga pepohonan yang ada. Betapa murkanya dia melihat pria yang dia sayang dicelakai. Merasa tidak ada balasan atas tindakannya Kanilaras berlari meletakkan kepala Kendrick di pahanya, lalu mencabut ranting pohon yang menancap di dada dan juga perut Kendrick.


"A-aku baik-baik saja, Ras. Uhuk ... uhuk ...," jelasnya di sela batuk yang mengeluarkan darah.


"Jangan banyak bicara!" bentak Kanilaras dengan air mata yang terus berurai.


"Kau m-menangis untukku?" godanya sembari mengulas senyum bahagia.


Di saat genting dan mendebarkan Kendrick malah mengajak gadis itu bercanda. Sesudah mencabut ranting pohon yang tertancap di dada dan perut Kendrick, Kanilaras meraba pelan dua titik luka tersebut. Dia dapat merasakan dan melihat seberapa parah luka yang dialami oleh pria yang dia sayang.


Tangan Kanilaras berputar mengumpulkan tenaga dalam. Tampak jelas aura kehijauan muncul dari telapak tangannya, lalu menempelkan telapak tangannya tepat di luka Kendrick. Sekejap mata luka itu berhenti mengeluarkan dara, tapi rasa nyerinya masih terasa walau tidak sesakit tadi.


"Apa yang kau rasa saat ini, Ken?" Menatap penuh harap.


Kendrick yang sudah terpanah dengan perhatian Kanilaras memilih berpura-pura masih merasakan sakit yang luar biasa di bagian dada dan juga perut.


"Apa kau lupa ingatan! Sudah tahu aku kena panah masih bisa kau bertanya dengan apa yang aku rasakan saat ini," ketus Kendrick menutupi kebenaran.


Alis Kanilaras hampir menyatu saat mendengar pernyataan Kendrick tentang lukanya.


"Jadi, ini masih sakit?" tanya Kanilaras penuh heran.


"Tentu saja!" sahutnya kepura-puraan.


Apa aku gagal menutup luka dalamnya? Tapi, aku sudah merasakan bahwa organ di dalam sana telah tertutup rapat, gumam Kanilaras seraya menyentuh kedua titik luka Kendrick.


Agar bisa meyakinkan Kanilaras, pria itu merintih kesakitan ketika jari lentik Kanilaras menempel pada bekas lukanya.


"Argh ... tidak bisakah kau menyentuhku dengan lembut?" oceh Kendrick memanipulasi keadaan, "apa kau mau membunuhku secara perlahan lewat luka ini, heum!" tandasnya lebih tegas.


Alih-alih bersikap kalem, Kanilaras malah berteriak memanggil Soldier yang selalu mengikuti gerak langkah Kendrick ke mana pun.


"Bibi Kenny, Beril ... Anton!"

__ADS_1


Sia-sia saja dia berteriak kalau tiga orang itu sudah berdiri tepat di belakang tiang yang tinggal separuh.


"Kami di sini Nona!" jawab Bibi Kenny seraya membungkuk.


"Kalian sudah bosan hidup!" bentak Kanilaras yang membuat tubuh 3 orang itu tersentak.


Ini kali pertama gadis itu membentak orang yang lebih tua darinya, kurang lebih 6 bulan dia di sini tidak sekalipun dia berkata kasar kepada 3 orang tersebut. Walau Kanilaras pernah mengacaukan keadaan black house. Namun, dia tahu batasan dan sopan santun.


"Maafkan kami, Nona." Beril dan juga Anton membungkuk bersamaan.


"Cepat bawa dia ke dalam! Dan bawakan orang yang bisa menyembuhkan lukanya ini!" titah Kanilaras yang sudah berdiri tegap menatap keluar bangunan.


Jelaga hitam itu mendapati sosok pria yang menutupi semua wajahnya tengah berdiri di dahan ranting. Kanilaras hanya bisa memperhatikan sosok itu tanpa mendekati ataupun menyerang, karena dia tahu hal buruk akan datang jika dia nekat mendekati pria itu.


"Mari Nona! Tidak baik di luar saja." Perkataan Bibi Kenny membuat Kanilaras memalingkan pandangannya dan ketika dia balik menatap ke arah semua, pria itu telah menghilang dari sana.


Di dalam sana, Kendrick memerintahkan Anton dan juga Beril untuk memanggil dr. Lukman untuk menghadapnya di ruang belajar. Bukannya cepat melaksanakan perintah, Beril dan Anton saling bertatapan. Dua pria itu sesekali melirik tuannya yang tengah duduk santai di kursi kebanggaannya.


"Sebaiknya kita ke ruang medis Tuan," usul Anton penuh kehati-hatian dalam menuturkan kalimat tersebut.


Kendrick yang awalnya sibuk mengibas-ngibaskan kemejanya kini mendongak menatap intens dia soldier kepercayaannya.


"Maafkan kami Tuan!" pinta Beril memohon agar Kendrick lebih mengontrol emosi.


"Lihat aku," titahnya kalem.


Namun, dua soldier tersebut makin menundukkan kepalanya.


"Cepat lihat aku!" teriaknya seraya menggebrak meja.


Segera Beril dan juga Anton menatap Kendrick yang sudah bertelanjang dada. Reflek Beril menyentuh sebuah titik hitam di dada dan juga perut sebelah kiri, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat Beril mendongak menatap wajah Kendrick.


"Ke mana luka itu, Tuan?" tanyanya polos dan wajah konyol itu membuat emosi Kendrick lenyap begitu saja.


Pria yang memiliki tubuh atletis itu menepis tangan Beril lalu memerintahkan Anton pergi ke ruang medis untuk memanggil dr. Lukman.


Dr. Lukman berlari tergopoh-gopoh menuju ruang belajar, dia takut dapat masalah jika telat datang.

__ADS_1


Decitan pintu membuat Kendrick melirik sebentar memastikan bahwa itu dr. Lukman.


"Saya di sini, Tuan." Membungkuk lalu berdiri tegap lagi.


"Perban luka ini!" Jarinya menunjuk bekas luka yang terkena ranting pohon tadi.


Sebenarnya Kendrick juga bingung kenapa luka yang dia dapat menghilang begitu saja tanpa operasi ataupun pengobatan medis lainnya.


Dr. Lukman adalah dokter senior di black house pria itu juga membimbing semua dokter dan perawat yang berkerja di sini. Kendrick tidak main-main menyeleksi calon soldier dan worker, dia selalu memberikan pelatihan dan Kendrick juga memperlihatkan betapa berbahayanya kerja dengannya.


Semua keadaan telah di jelaskan, oleh sebab itu semua pegawainya dan juga buruh batu bara akan tetap terikat oleh Kendrick. Tidak ada sela untuk berkhianat, apa lagi ingin mencelakakannya.


Kanilaras yang merasa bersalah masih duduk mematung menatap langit malam di depan black house. Worker yang telah tewas satu per satu di bawa masuk ke dalam paviliun yang terletak di belakang kediaman Kendrick, rumah megah ini memiliki 2 bangunan rumah kecil di belakang dan juga depan rumahnya.


Setiap worker atau soldier yang mengambil cuti karena sakit akan tinggal di rumah petak tersebut.


Bibi Kenny duduk di sebelah Kanilaras, dia kasihan pada gadis itu. Hidupnya selalu dipermainkan takdir. Ya, gadis polos itu dijual oleh orang tuanya demi uang dan parahnya ini bukan kali pertama Arastya Ningrum alias Kanilaras ditukar dengan uang, dia sudah merasakan hal keji ini berulang kali tatkala bapaknya kalah bermain judi.


Ini cerita Kanilaras pada abad ke 21 beda lagi dengan Kanilaras putri kebanggaan Raja Daneswara. Meski usianya masih muda, dia sudah menjadi pendamping panglima perang. Namun, ilmu Kanuragan tidak begitu tingga, kendati demikian Kanilaras bisa membunuh musuhnya dengan 4 gerakan pedang saja.


Inilah alasannya dia selalu diikut sertakan dalam perang apa pun di zamannya dulu. Gadis ketus dan tidak begitu peduli dengan pria, kali ini dia merasakan sakit yang teramat dalam saat tidak bisa mencegah keburukan yang menimpah orang yang dia sayang.


"Ini sudah terlalu malam, Nona. Sebaiknya kita masuk menghangatkan diri!" usulnya lirih dengan sentuhan tangan yang lembut di pundak Kanilaras.


"Aku gagal membantunya, Bik." Menundukkan kepala sambil mengusap pipi dan menyelipkan rambutnya daun telinga.


"Gagal dalam hal apa, Non?" tanya Bibi Kenny dengan nada tegas, "sudah berapa lama Nona tinggal di sini?" Bibi Kenny kembali menimpali pertanyaan.


Kanilaras yang tidak begitu mengerti dengan perhitungan di zaman ini hanya bisa diam.


"Bingung mau jawab apa?" Menarik dagu Kanilaras agar bisa menatapnya.


"Jangan dipikirkan! Lebih baik kita masuk," kata Bibi Kenny yang sangat bijak tanpa berpura-pura.


Kanilaras beranjak dari duduknya dengan tangan kiri menggenggam erat pedang bulan. Tiba-tiba saja pedang sakti itu melepaskan diri dari sarungnya.


"Eeh ...," pekik Kanilaras mengejar pedangnya.

__ADS_1


Bak tertelan bumi pedang itu lenyap tanpa petunjuk. Kanilaras yang merasa jengkel menggebrak meja sekuat mungkin, sampai meja tersebut hancur menjadi 7 bagian.


Sekelebat Kanilaras melihat pedangnya, segera wanita itu mengikuti gerak pedang bulan. Benar saja pedang itu masuk ke salah satu kamar di rumah besar ini.


__ADS_2