Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Chapter 57


__ADS_3

Alih-alih membantu Katra malah berlari menjauhi rumahnya. Gerak kaki Katra melambat dan pria itu menghentikan langkahnya di ujung jalan setapak menuju hutan.


Aku tidak bersalah. Ini kulakukan demi masa depanku, gumamnya memantapkan diri untuk tidak berbalik menatap jalan mengarah ke rumahnya.


Sungguh anak durhaka. Anak-anak lain akan berlomba mengambil hati orang tuanya, tapi Katra memilih jalan lain demi mencapai tujuannya untuk menguasai seluruh wilayah tanah Jawa.


Setelah seharian dia menyendiri di hutan, kini dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebelum menginjakkan kakinya di halaman rumahnya, Katra mengatur ritme pernapasan dan dia belajar memanipulasi keadaan. Seakan-akan dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya.


Benar saja, suara ibu dan adiknya terdengar sangat kencang. Perlahan dia berjalan sambil memperhatikan wajah semua orang penting di depan rumah dan juga di dalam sana.


Di sinilah Katra mulai berakting menangis dan mengolah kata agar tidak salah bicara. Seperti anak yang ditinggalkan ayahnya, Katra menangis dan meraung seakan tidak mau ayahnya meninggal begitu cepat.


Saat dia melempar tubuhnya di dekat jasad ayahnya, Raja Daneswara memeluk erat tubuh pemuda licik nan kejam itu.


"Relakan ayahmu pergi dengan tenang, jadilah pemimpin bagi ibu dan adikmu!" ujar Raja Daneswara menasehati anak penasihat sekaligus sahabat karibnya.


Yang aku mau ... menggantikan mu duduk di singgah sana, ucapnya dalam hati.


Raja Daneswara menepuk lembut bahu Katra, lalu dia beranjak membiarkan pemuda berkumis tipis itu terpaku dalam lamunannya. Sesungguhnya ini bagian dari akting Katra mengingat keprihatinan raja ke 6 dari kerajaan Kastara. Katra memiliki rencana agar sahabat ayahnya tersebut mau mengangkatnya sebagai anak ataupun saudara.


Sungguh licik bukan, anak Weloyuno itu? Setelah berusaha sedemikian rupa Katra melakukan siasat dan akhirnya dia berhasil membuat Amongka percaya dengannya. Sekian bulan purnama berlalu Raja Daneswara yang merupakan orang yang susah menerima orang baru kini mulai menerima kehadiran Katra atas saran dari berbagai pihak dan kedekatan itu terjadi karena ada bantuan Amongka si pati atau kaki tangan Raja Daneswara yang kedua, setelah kepergian ayah Katra.


Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuat kalian mengikuti semua perintahku. Ingat aku ... aku Katra! Katra manusia hebat di kerajaan ini.


Tentu saja Katra berkata dengan jumawa tanpa memikirkan hal lain. Waktu terus berlalu, Katra yang dulu abdi biasa di kerajaan ini. Saat ini pria itu mengemban tugasnya sebagai Adipati dan kenaikan Katra awal dari kehancuran Raja Daneswara, satu per satu rencananya berjalan lancar tanpa ada halangan.


Pria licik tersebut juga sudah menghasut berbagai pihak yang berperan penting di kerajaan Kastara.

__ADS_1


Sebentar lagi aku akan mengambil alih kerajaan besar ini, gumam Katra dengan senyum licik yang selalu terbingkai di bibir.


Peperangan terus terjadi, adu domba terus merajalela tanpa lelah. Namun, Raja Daneswara dan para patinya tidak mengetahui bahwa ini adalah siasat yang dilakukan oleh Katra.


Raja Daneswara mulai kelabakan mengatur perekonomian di kerajaannya, tidak ada paceklik, tapi lumbung mereka sudah tidak ada padi ataupun bahan makanan lainnya. Semua anggota kerajaan tidak memiliki jalan keluar selain meminta bantuan pada Raja Darmawangsa. Namun, Raja Daneswara tidak setuju dengan usul para patinya karena sepupunya itu sangat licik dan jahat.


"Ampun beribu ampun Paduka," ujar Amongka dengan tangan yang terangkat ke atas.


"Ada apa?" tanya Raja Daneswara yang sudah menegakkan tubuhnya kembali.


"Hamba mohon! Kesampingkan dulu ketidak sukaan Yang Mulia, kita pentingkan kelangsungan hidup masyarakat." Meski ragu Amongka mengutarakan apa yang dia anggap benar saat ini.


Raja Daneswara terdiam sambil memijat pangkal hidung, dia benar-benar terhimpit masalah yang tidak mudah diatasi. Keterdiaman Raja Daneswara membuat para pati khawatir, terlebih Amongka. Dia takut junjungannya akan menolak dan memilih bertahan dalam keegoisannya, tapi semua orang yang berada dalam pertemuan itu tersenyum bahagia tatkala Raja Daneswara setuju dengan usulan Amongka.


"Baiklah, untuk kali ini aku akan menunduk meminta kemurahan hati Sepupuku itu. Tapi ingat! Jika dia berulang dan menolak membantu ... kalian langsung pulang!" titah Raja Daneswara dengan tangan yang menggenggam erat kain yang membalut tubuhnya.


Setelah berdiskusi panjang, Raja Daneswara memutuskan mengutus Katra dan Amongka pergi ke kerajaan Sertayosa. Semua telah sepakat akan rencana keberangkatan Amongka dan juga Katra, pada malam bulan purnama ke dua pada tahun itu mereka pergi ke kerajaan Sertayosa.


"Jika sampai di sana, sebaiknya kau diam dan dengarkan aku bicara!" pesan Amongka sambil menyunggingkan senyum sangat tipis, "Oh ya, aku lupa menyampaikan pesan Raja Daneswara. Beliau memintamu untuk selalu bersiap dan waspada," timpal Amongka yang masih sibuk memasang plana di kuda kesayangannya.


Mendengar penuturan Amongka, Katra mengeratkan kepalan tangannya. Dia yakin pria itu telah mengejeknya menggunakan tutur kata yang halus dan dibuat sedemikian rupa.


Kau pikir aku bodoh? Tidak mengerti arah tujuanmu mengutarakan hal itu, heum! Tunggu aku bertindak, agar kau tahu siapa Katra sesungguhnya.


Gerutu Katra dengan senyuman palsu yang dia suguhkan dihadapan Amongka.


"Katra, cepat tarik tali kudamu!" teriak Amongka sambil terus memecut pantat kuda.

__ADS_1


Suara sepatu kuda yang nyaring membuat para prajurit menatap punggung dua utusan Raja Daneswara sampai menghilang. Di sepanjang perjalanan Katra memikirkan cara untuk membalas penghinaan yang dia dapat tadi, sebenarnya Amongka benar-benar menyampaikan pesan yang Raja Daneswara ucapkan selepas jamuan makan malam.


Entah kenapa Katra selalu berprasangka burung terhadap semua orang, terlebih lagi dengan para abdi dalem kerajaan Kastara.


"Kang Among!" panggil Katra di belakang sana.


Tentu saja Amongka menarik tali kudanya lalu menolehkan kepalanya.


"Ada apa Katra? Perjalanan kita masih jauh," ucap Amongka yang menyeimbangkan laju kudanya.


"Aku tahu, tapi bisakah kita berhenti sejenak untuk beristirahat? Kepalaku terasa pusing," ujar Katra dengan tatapan sayunya.


"Kau sakit?" tanya Amongka yang memberhentikan secara tiba-tiba langkah kudanya.


Katra mengangguk lalu menjatuhkan dirinya dari atas kuda.


"Katra!" pekik Amongka yang sudah melayang menangkap tubuh Katra yang tergolek lemah.


"Sang Hyang Widi ... ada apa dengannya?" Kepala Amongka memperhatikan dua kudanya yang diam tidak jauh darinya.


Selepas menyandarkan tubuh Katra di salah satu pohon besar pria itu berdiri menarik dua kuda yang membawanya ke tempat sepi ini.


"Kalian istirahat dulu." Menepuk lembut leher kuda sambil melirik ke arah Katra yang masih tidak sadarkan diri.


Amongka berjalan sambil memperhatikan tempat peristirahatan mereka. Aman, tidak ada mata-mata yang mengintai keberadaan mereka di sini, di saat Amongka duduk dekat Katra dia merasakan ada benda tajam yang menancap tepat di tubuhnya. Melirik dengan tajam ke arah orang yang telah menyerangnya.


"Sungguh biadab!" ucap Amongka yang sudah berdiri tegap sambil menatap tajam ke orang itu.

__ADS_1


__ADS_2