Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Chapter 56


__ADS_3

Orang yang disebut 'ayah' oleh Ananda menyahuti ucapannya dan memerintahkan pemuda itu untuk menjaga Kendrick dan Kanilaras.


Selepas menyelesaikan ngerogo sukmo Ananda menatap sangat lama wajah dua orang yang dia bawa ke tempat ini, entah apa yang ada di benak Ananda yang jelas pemuda itu masih menatap lekat-lekat wajah Kanilaras begitu juga dengan Kendrick.


Andai saja, aku benar-benar anak raja ... aku pastikan kau jadi ratuku, gumam Ananda dalam hati.


Pemuda bertubuh kurus tinggi tersebut mengelus lembut pipi Kanilaras, sejak pandangan pertama ada gejolak di hatinya terhadap gadis itu. Namun, dia tidak dapat mengutarakannya karena terhalang status dan juga tujuannya.


Ketika Ananda hendak mengecup kening Kanilaras, dia merasakan ada sepasang matang yang tengah mengawasinya. Tentu saja dia melakukan serangan dadakan ke arah orang yang telah lancang masuk ke dalam goa sakral ini.


"Siapa kau? Dan apa maumu?" berondong Ananda dengan cengkraman kuat di leher orang itu.


Mulut orang itu ternganga dan pupil matanya melebar, paru-parunya seakan menyempit sehingga napas mata-mata tersebut berulang kali tercekat. Bukan tidak mau menjawab, hanya saja cekikan tangan Ananda sangat kuat sehingga dia cuma bisa mengeluarkan erangan dalam. Ya, Ananda bukanlah pemuda biasa dia pendekar tangguh dan dapat dipastikan jika berurusan dengan pemuda itu akan mati detik itu juga.


"Kau mau menjawab atau mati hari ini?" Rahangnya mengetat, terlihat urat di pelipisnya mengeras.


Sedangkan orang itu bergolak lemah, tangannya berulang kali menepuk-nepuk lengan Ananda—berharap pemuda itu berhenti menyiksanya. Ketika melihat lawannya hampir mengembuskan napas terakhirnya, Ananda melempar kasar pria itu kesamping sehingga tubuh lemah itu terbentur ke dinding goa.


Bersusah payah dia bangun, tangannya memegang dada dan suara batuk yang disertai sesak di dada terus terdengar. Pandangan mata pria itu memudar akibat benturan keras kepalanya di dinding goa. Sedangkan Ananda duduk tegap dengan tatapan tajam yang selalu terarah kepada pria itu, dengan wajah congkaknya dia kembali bertanya.


"Kau mau mati atau mau hidup?" Menundukkan kepala sebentar lalu kembali mendongak menatap intens wajah pria itu.


"Apa kau mau—" Ananda menggantung ucapannya sehingga menimbulkan ketakutan yang begitu besar di hati lawan bicaranya.


Pria yang memiliki tanda lahir di pipinya merangkak cepat mendekati Ananda—orang yang mengancamnya.


"A-aku mohon ja ... jangan sakiti aku," ucapnya tergagap-gagap, dengan wajah yang memelas dia memohon pengampunan Ananda.


Pria yang diperkirakan berusia 40 tahunan itu selalu memukul dadanya kala berucap. Mendengar permohonan tersebut Ananda tertawa terbahak-bahak.


...****************...


Suara dentuman terdengar jelas sehingga menimbulkan kemacetan panjang bagi pengendara lain di jalan tol yang menuju jantung kota.


Ya, mobil yang dikendarai Katra menyerempet beberapa mobil lain. Tatkala Katra siuman dia menyadari bahwa mobilnya lepas kendali, netra lelaki itu terbelalak ketika melihat mobil Alphard melaju dari arah berlawanan sehingga Katra membanting setir. Dalam hitungan detik mobil berwarna hijau tersebut menabrak pembatas jalan dan meledak.


Tanpa perlu waktu lama pengendara lain keluar demi melihat dengan jelas mobil Avanza tersebut telah hancur dan hangus. Salah seorang sopir memperhatikan ke dalam mobil yang terbakar tersebut dengan mata mendelik dia menarik rekannya.

__ADS_1


"Lo lihat! Di dalam sana kagak ada orangnya," ucapnya tersentak.


"Ngacok lo!" cibir orang yang ditarik paksa tadi.


pria itu kembali menarik baju temannya hingga koyak.


"Noh lihat!" katanya sambil membungkukkan tubuh pria bertubuh tambun.


"Astage nage cicit dragon ... beneran kagak ade orangnye!" sahut lelaki itu dengan mata yang mendelik.


Sontak pria itu berteriak memberitahukan pada semua orang bahwa mobil itu kosong tanpa pengendara. Tentu saja ucapannya menarik perhatian pengendara lain, seper menit kemudian semua orang berdiri di dekat mereka yang masih terheran-heran ke mana jasad korban.


"Coba cari disekitar sana! Siapa tahu korban terpental akibat mobil ya yang terguling," teriak seorang gadis yang sibuk merapikan rambutnya yang tersapu angin.


Para pria yang masih berkerumun menatap satu sama lain dan membernarkan perkataan gadis yang berpenampilan rock and roll. Orang-orang yang memutuskan mencari jasad korban masih sibuk mencari keberadaan korban, tapi tidak satu orang yang menemukan pengemudi malang itu sampai rombongan polisi datang dan melakukan investigasi.


Satlantas polres X dipimpin oleh Iptu Yudi Kurniawan memasang garis polisi dan meminta para pengendara untuk koorperatif dalam memberi keterangan kejadian saat ini. Dari semua keterangan yang Iptu Yudi dapatkan, tidak ada satu hal yang bisa menjelaskan awal kejadian dan dari berbagai titik kamera pengawas juga tidak memperlihatkan keluarnya pengendara.


Empat kamera pengawas tidak merekam jelas pengemudi bahkan yang paling janggal ketika mobil itu terguling dua kali, tidak sedetikpun yang memperlihatkan pengemudi, bisa dibilang mobil itu keadaan kosong tanpa pengendara dan yang jadi pertanyaan besar. Siapa dan ke mana pengemudi itu menghilang?


...****************...


Belum pernah mereka merasakan ketenangan yang teramat nyaman ini. Mereka selalu disuguhi aroma kematian dan aroma tubuh manusia yang sekarat. Sebelum mereka tersadar dengan keberadaan mereka, dua orang itu tanpa sadar menghempaskan tubuhnya di atas sofa lembut nan empuk.


"Nyaman sekali," ujar Raja Gendra penuh rasa bangga.


"Benar Baginda. Ini begitu lembut dan harum," timpal Alingga tanpa ragu-ragu.


"Aku belum pernah merasakan hal seperti ini," cetus Raja Gendra yang masih mengatupkan kelopak matanya.


"Yang Mulia, kita berada di mana?" ucap Alingga terkaget mendapati dirinya sudah berpindah tempat.


Netranya, menyapu setiap sudut ruangan luas yang diberi sentuhan warna hijau pupus yang memberi kesejukan di setiap mata memandang.


"Kau membawaku ke mana, manusia bodoh!" bentak Raja Gendra yang mengedarkan pandangan mencoba mencari keberadaan Katra.


"Katra ...!" Teriakan Raja Gendra yang kuat serupa dengan raungan serigala dan teriakan itu membuat semua benda bergetar, kaca jendela retak dan pecah begitu saja.

__ADS_1


Dari lantai atas Katra lompat dan mendarat sempurna di hadapan Raja Gendra. Pria bertubuh kecil itu memutar kedua tangannya lalu membungkam mulut Raja Gendra dengan segera.


"Sudah cukup membuat kekacauan!" cegah Katra sambil melirik Alingga yang sudah bersiap dengan jurus jitunya.


"Kau pikir bisa mencelakai ku, heum?" Matanya mendelik sambil mendengus.


Tiga pria dari zaman kuno tersebut melakukan pertarungan di dalam rumah minimalis—tempat Katra melarikan diri dari kejaran polisi. Mungkin dia bisa menghilang dan muncul tanpa harus bersusah payah melakukan perjalanan panjang, tapi aksinya selalu terekam kamera pengawas—itu sebabnya dia selalu merenggut raga orang yang hidup di zaman modern ini.


Ini bukan kali pertama, melainkan hal ini sudah Katra lakukan sebelum menggantikan ayahnya sebagai penasehat kerajaan Kastara.


Bisa dipakai? Tentu saja kalian bingung, ketika Katra masih muda tanpa sengaja dia menemukan pintu gerbang menuju dua dunia paralel. Karena rasa penasaran Katra yang besar mendorongnya untuk masuk dan menjelajah dunia baru yang dia lihat pada zaman 1890 dan entah kenapa saat dia menginjakkan kakinya di sana, penampilan dan wajahnya berubah.


Awalnya dia tidak percaya. Di suatu ketika saat dia berjalan menyusuri gang dirinya tertabrak hingga tewas dan ketika dia mengerjakan matanya, dia sudah berada di zaman kuno—di mana dia masih anak-anak bertubuh mungil nan lucu. Sedangkan di tempat asing itu Katra lebih dewasa dan dia mengenakan baju yang sama dengan manusia yang tinggal di sana.


Sejak kejadian itu Katra lebih sering mengunjungi tempat itu dan mempelajari semua kepribadian orang. Setelah sepuluh tahun berlalu, atau lebih dipahami Katra dengan 120 bulan purnama terlewat. Hasrat jahatnya tergugah dan dia memiliki niat buruk terhadap keturunan Raja Daneswara—yakni Kanilaras.


"Ayah, apa ayah tahu ada tempat indah dan damai dari tempat ini?" kata Katra sumringah.


Kening ayah Katra mengerut dan pria tua yang mengabdikan dirinya di kerajaan Kastara langsung berbalik badan menatap intens putra bungsunya.


"Apa maksudmu?"


"Katra menemukan jalan suci yang menuntun kita ke tempat damai itu," ujar Katra tanpa menjelaskan maksud ucapannya.


Pria yang berpenampilan menarik itu berjalan cepat lalu, menampar pipi putranya sangat keras sehingga sudut bibir tipis tersebut pecah dan mengeluarkan darah.


"Bisakah kau mengendalikan nafsumu!" ucap ayah Katra penuh penekanan.


"Nafsu?" Katra mengulangi kata ayahnya, "apa yang Ayah maksud, Katra tidak mengerti?" Keningnya mengernyit.


"Kau pikir bisa hidup tenang saat melihat dunia penuh kecongkakan itu? Kau kira bisa hidup tenang dengan melakukan perjalanan ke sana? Apa kau memikirkan imbas dari tindakanmu ini?" Tiada hentinya ayah Katra mengeluhkan tindakan yang anaknya lakukan.


"Tinggalkan tempat itu! Jika tidak—" Ayah Katra menggantung perkataannya lalu pergi meninggalkan rumah untuk melakukan pertemuan besar dengan sekutu kerajaan Kastara yang dipimpin oleh Raja Daneswara beberapa bulan purnama ini.


Pertemuan itupun berlangsung sampai larut malam, ayah Katra yang bernama Weloyuno masuk ke dalam dan menenggak air yang ada di kendi hingga tinggal separuh. Selang beberapa detik saja, pria itu merasakan dada dan juga perutnya terasa terbakar, parahnya pria itu memuntahkan darah segar yang sangat banyak.


Di luar sana ada seseorang yang tengah menikmati detik-detik tewasnya Weloyuno, senyum kemenangan terukir jelas di bibir itu.

__ADS_1


"H-hadapi aku! J-jangan membokong seperti pengecut," katanya selepas jatuh terduduk di lantai.


Tubuh pria itu kejang dan matanya membulat, bukan membulat melainkan melotot ketika rasa panas di dada dan perutnya semakin membuncah.


__ADS_2