Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Apa hanya halusinasi?


__ADS_3

"Apa Anda baik-baik saja?" tanya salah satu relasi Kendrick.


"Perintahkan semua orang kalian untuk keluar dari ruangan ini!" titah Kendrick dengan suara baritonnya.


Semua orang saling melempar pandangan, tercetak jelas kebingungan di wajah mereka.


"Cepat lakukan perintahku!" bentak Kendrick seraya menggebrak meja.


Lima pria yang duduk semeja dengannya terkejut sampai tubuh mereka berkedik.


"Baik Tuan!" seru salah satu pria paru baya yang duduk berdampingan dengannya.


Lima orang pria tersebut mengeluarkan ponsel dan masing-masing dari mereka menelepon sekertaris dan kaki tangan mereka untuk keluar dari gedung ini.


Kanilaras yang sudah menyadari ketidak beresan mendekatkan bibirnya di telinga kiri Kendrick.


"Ada apa Ken?"


"Menjauh dariku Aras! Aku tidak mau menyakitimu," katanya lantang seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Menyakiti?" Mendongak menatap wajah tampan Kendrick.


"Cepat! Aku sudah tidak tahan menahan siksaan ini!" bentak Kendrick berlari menjauhi Kanilaras yang masih duduk terbengong, melihat prianya berlari terbirit-birit.


Kepala Kanilaras celingukan mencari keberadaan Beril, tamu undangan yang banyak membuatnya kesulitan mencari kaki tangan Kendrick tersebut.


"Kalau terus begini aku tidak akan pernah menemukan abdi setia Kendrick." Kanilaras menepi dari lautan manusia yang tengah serius menikmati pertunjukan Opera Cina.


Perlahan Kanilaras merayap naik di pilar dan memperhatikan wajah setiap pria berjas hitam, pandangannya menyapu aula pertemuan sampai pandangannya terhenti di pojokan.


Benar, pria yang sedari tadi dia perhatikan adalah Beril, ketika dia hendak berpindah dari pilar lainnya Kanilaras mengingat ucapan Kendrick agar menghindari pandangan aneh dari orang-orang.


"Banyak aturan yang harus aku ikuti," keluhnya seraya turun dari pilar.


Setelah kakinya napak di lantai, Kanilaras berusaha berjalan. Meski langkahnya tertatih dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk menghampiri Beril, tanpa sengaja kaki jenjangnya menyandung kursi dan naasnya dia tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya sehingga dia terjatuh.


"Ini semua gara-gara kau, Ken. Awas kau nanti!" gerutu Kanilaras sambil memegangi topengnya yang hampir terlepas.


Ketika dia mengangkat kepala terlihat sepasang kaki yang berada tepat di depan wajahnya.


"Nona tidak apa-apa!" Suara Beril terdengar panik dan ketegangan yang Kanilaras rasa seketika musnah tatkala dia mendengar suara Beril.


Segera dia menatap wajah kaki tangan Kendrick Adinata.


"Cepat selamatkan Ken! Aku yakin dia sedang dalam keadaan kacau," katanya memerintah Beril.

__ADS_1


"Saya sudah mengerahkan semua orang untuk mencari keberadaan tuan. Black watch juga tidak memberikan tanda-tanda keberadaan tuan," Penuturan Beril meningkatkan kekhawatiran Kanilaras.


Gadis bergaun cokelat keemasan tersebut membuka sepatu yang dia kenakan, dengan langkah yang pasti Kanilaras berjalan seraya menatap satu per satu wajah tamu yang ada di ruang pertemuan. Sesekali dia membalikkan tubuh para tamu agar bisa memastikan itu Kendrick atau bukan.


Langkah gadis itu kini menjauh dari aula yang dipenuhi pengusaha ternama dari segala penjuru. Kepalanya masih celingukan mencari Kendrick, ketika dia hendak meraih gagang pintu toilet ada seseorang yang menarik tangannya.


Beril yang berjalan tidak jauh dari Kanilaras kini sudah berada di depan toilet yang hendak Kanilaras periksa tadi.


"Tuan, kau ada di sana!" pekik Beril lirih.


Merasa tidak ada jawaban, pria itu membuka satu per satu pintu toilet.


"Oh Tuhan bantu aku untuk menemukan Kendrick!" Matanya menatap langit-langit toilet sambil merogoh saku celana.


Dadanya merasakan sebuah pergerakan di saku jas sebelah kiri, terlihat nama Santos tertera di layar ponsel berwarna biru.


"Ada apa?" Suara tegas pria itu menggema di ruangan kecil ini.


"Jangan lakukan apa pun!" Setelah memberi peringatan Beril menutup panggilan telepon secara sepihak dan bergegas kaki panjangnya berlari.


Setelah kepergian Beril dari toilet, Kanilaras menggerakkan tubuhnya untuk melawan seorang pria yang telah menariknya paksa.


"Berani-beraninya kau menyentuhku!" ucap Kanilaras sarkas.


Perintah pria tersebut tidak membunuh niat Kanilaras untuk menyerang.


Kanilaras memutar tubuhnya untuk mengikat gaun yang menjuntai menutupi kaki jenjangnya yang mulus.


"Tunggu Tuan Putri!" Panggilan pria itu membuat Kanilaras menahan pukulan yang siap menghempaskan tubuh kecil pria yang berdiri dihadapannya tersebut.


"Siapa kau?" tanya Kanilaras sedikit lebih sabar.


"Hamba ...." Ucapan pria itu terhenti tatkala ada seseorang yang masuk ke dalam toilet.


Lantas, Kanilaras mengingat kejadian beberapa saat yang lalu kala Beril masuk. Di mana Beril hanya menatap kosong ruangan ini.


Bukannya tadi ada Beril di dalam sini? Lantas, kenapa dia tidak bisa melihat kami? Dan ... kenapa dia tidak dapat mendengar percakapanku dengan pria ini? Pertanyaan yang terlontar dalam hati Kanilaras.


Rupanya pria yang bersama Kanilaras bukanlah pria biasa, asal usul beliau sama dengan Kanilaras—itu sebabnya dia bisa bersembunyi di ruang terbuka.


Di sisi lain dan di ruang yang berbeda Kendrick tengah menggila dengan keadaan. Pria bertubuh tinggi kekar tersebut telah memporak-porandakan ruang pribadi salah seorang artis yang diundang untuk mengisi sesi hiburan.


Di dalam sana ada dua orang perempuan berpenampilan acak-acakan tengah meringkuk ketakutan akan perilaku buas Kendrick, dua perempuan itu juga telah menjadi korban kebrutalan pria yang ditakuti banyak pihak.


Salah seorang dari perempuan tersebut memberanikan diri berlutut dengan tangan yang menyatu memohon ampunan dan meminta Kendrick melepaskannya.

__ADS_1


"Saya mohon Tuan, biarkan saya pergi!" rintihnya lirih, air mata terus menitik tiada henti.


Kendrick yang terduduk di kursi menghalangi pintu, tertawa jahat melihat raut wajah perempuan yang sedang berlutut di kakinya.


"Tenangkan dirimu! Aku tidak jahat. Hanya saja aku perlu hiburan," katanya sambil mengelus kasar rambut perempuan itu.


Bagaimana mereka tidak takut, Kendrick masuk ke dalam sana dengan sorot mata yang membunuh dan suara napas yang tersengal menambah kegusaran bagi kedua perempuan yang bertugas membersihkan ruang make up artis ternama yang hadir pada malam ini.


Tanpa babibu lagi, Kendrick melempar dan membanting semua barang, tidak cukup sampai di sana. Pria itu juga mendorong, menjambak dan memukul dua perempuan bertubuh kecil molek. Riasan wajah mereka yang sedikit menor membuat Kendrick semakin beringas untuk menyiksa mereka dan lagi-lagi alunan melodi Opera Cina terdengar dan memacu kemurkaan pengusaha muda tersebut.


"Sebelum kalian mati, aku tidak akan pergi dari sini." Ucapan Kendrick yang pelan itu membuat tubuh dua perempuan tersebut gemetar ketakutan.


Bulu kuduk mereka meremang dan suara isak tangis kembali terdengar.


"Diam!" bentak Kendrick sambil melempar bongkahan vas bunga yang berada tidak jauh dari kakinya.


Suara pecahan keramik tersebut menambah ketakutan di hati dua perempuan yang saling berpelukan. Melodi musik yang riuh terdengar kini perlahan berhenti, Kendrick yang masih duduk terdiam dengan sorot mata yang tajam, tapi kosong.


Keheningan melanda ruangan tersebut suara isak tangis dua perempuan itu juga menghilang entah ke mana. Perlahan kelopak mata Kendrick terpejam sebentar lalu dia membuka kedua kelopak matanya yang terkatup rapat tersebut.


Pria berpakaian jas tersebut terkesiap menatap are sekitar dan entah dari mana datangnya puluhan bahkan ratusan kunang-kunang memenuhi ruangan yang hancur karenanya.


A-apa ini? batin Kendrick tergagap.


Sungguh tidak dapat dipercaya dia bisa melihat ruangan seluas ini dipenuhi kunang-kunang, sehingga dia sulit bergerak. Ketika dia masih syok dengan keadaan ini, di luar sana Beril memanggil-manggil namanya.


Namun, bibirnya sulit bergerak dan pita suaranya seakan tidak berfungsi, yang membuat Kendrick panik Kunang-kunang itu berbalik serempak menatap wajahnya dan merayap masuk dari telinga, hidung dan juga mulut.


Mata Kendrick melotot tubuhnya meronta kesakitan akibat binatang kecil bercahaya tersebut menerobos paksa organ dalam Kendrick. Sekuat tenaga dia meraih gagang pintu, tapi semakin dia bergerak semakin ganas Kunang-kunang itu merobek semua organ tubuhnya.


Suara yang melengking membuat gendang telinganya berdengung, rasa sakit yang dia rasakan melebih sakit yang dulu diberikan oleh ibu tirinya.


"Aargh ... biadab!" makinya dalam kepanikan.


Kendrick meronta kuat sampai ribuan Kunang-kunang yang mengerubunginya lenyap sekejap mata. Pria itu menghela napas lega bisa terbebas dari hewan golongan Lampyridae tersebut, saat Kendrick masih mengatur ritme pernapasan tiba-tiba cahaya lampu di ruangan itu redup.


Bayangan-bayangan hitam kini datang menghantuinya dan bayangan tersebut seakan mengeluarkan suara tawa yang nyaring membuat telinganya kembali berdengung. Bola mata Hazel Green itu bergulir kebawa memperhatikan rembesan darah yang mengalir deras dan menenggelamkan dirinya.


Bau anyir dari darah itu membuat perut bagian atas tidak nyaman dan Kendrick dapat merasakan bahwa isi perutnya ter-aduk hingga menimbulkan rasa mual yang sangat kuat. Meski demikian rasa mual tersebut tidak mengeluarkan apapun karena tubuh Kendrick perlahan melemah dan tenggelam jauh di dasar lautan darah. Kendrick mengingat momen di mana dia bertemu Kanilaras pertama kali, senyuman kecil terulas jelas di bibirnya dan batin pria tersebut terus berkata-kata.


*Ada beberapa momen yang menjadi, semakin jelas seiring berjalannya waktu. pertemuan dan perpisahan yang tak terhitung jumlahnya yang ada untuk saat ini. Adapun persimpangan jalan yang dilalui pada akhirnya yakin bahwa itu semua ditakdirkan untuk mengarah ke tempat ini, suara hujan yang deras sejenak berhenti. Dalam kesunyian yang tiba-tiba hadir aku menyadari betapa indahnya dunia yang ku tempati ini bersama denganmu, semuanya menjadi berbeda walau saat ini adalah sebuah kebohongan, aku ingin tetap berada di sini. Kenapa saat-saat terindah di dalam hidup membuat kita sangat gelisah? Jika aku melihat ke belakang, aku sudah tahu bahwa di bawah permukaan dari dunia yang bersinar adalah kebohongan yang ku ciptakan sendiri. Sebuah mimpi yang sempurna dapat hancur dengan hembusan angin yang menusuk semesta, aku telah berpaling menghindarinya dan menutup mataku karena aku takut ... aku tidak memiliki kepercayaan diri akan dicintai dengan apa adanya diriku. Jika aku dapat memutar kembali waktu, ke mana aku harus kembali? Jika aku sampai ke tempat itu, dapatkah aku memperbaiki semua kesalahan yang aku lakukan? Sehingga aku dapat menjadi bahagia. Bahkan jika aku mengubah musim yang sama yang tak terhitung jumlahnya ada beberapa tempat yang tidak akan pernah bisa aku capai. Pa*da akhirnya, semua yang harus kita hadapi adalah badai yang berbeda dari hari kemarin. Maafkan aku Aras! Aku tidak bisa menjadi sandaran mu lagi, aku harap kau dapat mencari pengganti diriku.


Perlahan Kendrick menutup kedua matanya dan menikmati tubuhnya terhempas di dasar permukaan lautan darah.


"Ken ...." Kelopak matanya terbuka saat mendengar seruan namanya, dari kejauhan terlihat seberkas cahaya yang bersinar terang menembus pekatnya lautan darah, pupil matanya melebar karena tidak mampu menahan sinar cahaya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2