Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
kelicikan


__ADS_3

“Good job. Terus awasi dia dan jangan sampai lengah!” ucapnya sebelum mengakhiri sambungan telepon.


Arsen tersenyum penuh arti pada seorang pria yang tengah duduk di sofa.


“Apa kau yakin dengan rencana tidak masuk akalmu ini?” Meneguk habis wine yang sedari tadi hanya dia putar di gelas bergagang.


“Tentu saja. Adik tiriku itu tidak setangguh yang kau kira,” jawab Arsen menyeringai.


“Sudah 7 tahun aku bekerja sama dengannya dan selama itu juga aku mencari tahu titik lemah Kendrick Adinata.” Memejamkan kedua matanya mengingat sebuah peristiwa di mana dia dihina dan cemooh oleh rekan bisnisnya sendiri di depan umum, hal itu sangat membuatnya malu dan marah.


Oleh sebab itu Deny bertekat akan menghancurkan Kendrick, tapi dia tidak pernah menemukan cara untuk melaksanakan niatnya tersebut.


Deny Pratama melempar gelas yang ada di genggamannya. Iya, rekan bisnis Kendrick ini menyimpan dendam selama 7 tahun.


“Bajingan!” teriaknya sarkasme.


“Ehm, sabar bung! Permainan akan segera dimulai,” kata Arsen menertawai sikap Deny—orang yang duduk menegang di sudut ruang kerja Arsen.


Pria berjenggot tipis tersebut sangatlah membenci Kendrick, tapi dia masih bekerja sama dengannya walau sakit hati yang dia rasa telah merong-rong dalam hatinya.


“Aku mau kau segera menghancurkan biadab itu! Bagaimana pun caranya aku tidak peduli. Kalau bisa bunuh dia agar aku tenang menjalani hidup ini,” ucap Dany gusar.


“Itu memang menjadi tujuanku selama ini.” Arsen meraih botol red wine dan dituangkan wine tersebut.


“I'm fed up with all the comparisons that come out of my daddy mouth, Aku sudah muak dengan segala perbandingan yang keluar dari mulut daddy-ku,” katanya pelan, tapi tajam.


Tiba-tiba saja Deny tertawa terbahak-bahak sampai suaranya keluar dari ruangan.


“Apa ada yang lucu dari ucapanku?” Menatapnya dengan tatapan yang membunuh.


“Sorry, I got too excited about this. Maaf, aku terlalu bersemangat dengan hal ini.” Deny berdeham setelah menyahuti ucapan kakak tiri dari atasannya.

__ADS_1


“Tidak salah jika ayahmu melakukan hal itu.” Melirik sekilas Arsen yang tengah berdiri malang kerik, “kau pintar, tapi ... tidak cerdik seperti Kendrick,” imbuhnya dengan suara yang pelan.


“Dan itu sebabnya kau tidak bisa mengalahkan Ken,” ejek Ares.


"Jaga mulutmu!" bentak Deny tidak terima dnegan ucapan Arsen.


“Kau dan aku memiliki tujuan yang sama, dari pada saling mencela lebih baik kita bekerja sama menghancurkan adik tiriku itu.” Manik hitam itu menatap ke luar jendela.


...***...


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Matius, Kendrick Adinata tengah berbincang santai sambil menikmati kopi pahit yang selama ini dia suka.


“How is your company? Any progress or .... Bagaimana usahamu? Ada kemajuan atau ....” Matius menggantung ucapannya yang membuat Kendrick menatapnya tajam.


“Atau apa?” sembur Kendrick, “apa pun yang ada dalam kendaliku akan baik-baik saja. Anda tidak perlu turut campur!” tuturnya penuh penekanan.


“Bukan aku mencampuri urusanmu. But, I want to know your ability in business, tapi, aku ingin tahu kemampuanmu dalam berbisnis,” katanya seraya mengangkat cangkir teh.


Pria tua yang bernama Matius adalah orang yang mengajari Kendrick dalam mengolah bisnisnya yang saat ini dia geluti. Namun, orang tua itu tidak mengetahui bahwa anak asuhnya memiliki bisnis haram yang menunjang bisnisnya selama bertahun-tahun.


Matius berdeham untuk mengurangi nervous, tidak dapat dipungkiri pria yang usianya hampir menginjak 70 tahun itu selalu dibuat minder saat berbincang dengan Kendrick yang usianya terpaut sangat jauh darinya.


Tatapan tajam Kendrick selalu membuat lawan bicaranya salah tingkah dan lagi wajahnya yang datar menambah aura mafianya terpancar jelas. Belum pernah dia menunjukkan senyumannya pada siapa pun kecuali Arastya Ningrum alias Kanilaras, gadis yang Kendrick cintai setelah ibunya.


“Apa kau tidak menginginkan menjalin asmara Ken?” tanya Matius lirih.


Sontak pria bertubuh tinggi kekar itu menoleh dan tatapan mematikannya menghunus tepat di jelaga hitam milik Matius.


“Apa ada yang salah dari pertanyaanku?” Memiringkan kepala serta menyipitkan matnya.


“Lupakan hal itu! Jangan mau dibodohi anak kecil, aku tahu Paman bertanya soal ini karena Citra yang memintanya. Aku dan dia tidak mungkin menjalin hubungan,” tukas Kendrick tegas.

__ADS_1


Tebakan pria mapan itu sangat tepat, Matius membicarakan hal ini karena anak bungsunya memaksa dan dia tidak dapat menolak permintaan anaknya yang sangat manja.


“Maafkan aku, Ken! Bukan maksudku ikut campur akan urusan pribadimu. Hanya saja anak itu terlalu mengagumimu sehingga dia berangan-angan menikah denganmu,” beber Matius tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


“Itu sebabnya aku malas bertemu dengan Paman,” jawabnya menjelaskan dan tatapan datarnya masih menghunus ke arah Matius—pria berkebangsaan Austria.


“Aku pikir kamu sudah lupa dengan pria tua ini,” kata Matius sembari bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tepat di samping Kendrick.


Pembicaraan Kendrick dan Matius didengar langsung oleh Citra Amanda anak bungsu Matius. Gadis yang sangat amat manja semua keinginannya harus dituruti, dia benar-benar tidak menerima kata penolakan.


Aku yakin ini pasti karena wanita bisu dan tuli itu! batinnya penuh amarah.


“Aku akan beri pelajaran gadis cacat itu, aku tidak terima jika Ken dimiliki oleh orang lain selain aku!” ucapnya dengan rahang yang mengetat.


Terlihat jelas sorot mata Citra sangat tajam dan bisa dibilang tatapan matanya sangat menakutkan. Semua orang mengenalnya dengan sikap yang ramah-tamah, sopan santun. Tidak ada yang mengetahui sifat kejam dan sombong Citra, karena gadis itu selalu menyuguhkan senyuman tipis yang memikat.


Sebelum keluar dari kabin pesawat Kendrick berpesan agar Aras atau Kanilaras untuk berpura-pura bisu dan juga tuli, awalnya gadis itu menolak perintah Kendrick. Menurutnya berbohong hal buruk dan itu sangat bertentangan dengan dirinya yang berstatus putri raja, oleh sebab itu dua orang tersebut sedikit berdebat dalam pesawat.


Namun, selang beberapa menit terdiam. Kendrick memulai pembicaraan lagi dan kali ini putri Raja Daneswara tersebut mengiyakan titah yang keluar dari bibir pria yang sudah memeluknya tadi.


Citra melenggang meninggalkan ruang kerja ayahnya yang di mana ada pria yang sangat dia cintai sejak kecil. Sungguh liar imajinasi gadis itu, ketika masih berusia 8 tahun dia sudah membayangkan Kendrick melamarnya saat dia lulus SMA kelak.


Namun, bayangannya kala itu buyar ketika mendengar penolakan keras dari Kendrick Adinata. Isi kepala Citra seketika kacau sehingga dia menyalahkan Kanilaras, gadis berusia 18 tahun tersebut menuruni anak tangga sambil merencanakan kejutan besar untuk Kanilaras.


“Aku tidak akan berhenti begitu saja Ken. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun! Aku tidak terima penolakanmu tadi,” tutur Citra terisak, air mata kesedihannya mengucur deras.


Netra gadis itu nyalang memperhatikan ruang tengah sampai ruang tamu yang tidak jauh dari ruang tengah.


“That's the cripple! itu dia si disabled, cetus Citra dengan wajah judesnya.


Gadis cantik penuh pesona tersebut melangkah anggun menuruni sisa anak tangga. Senyuman licik terulas jelas di wajah mulus sang bungsu.

__ADS_1


“Lebih baik kau mati dari pada kau hidup menghujam ribuan silet padaku,” decak Citra seraya melirik benda yang ada di sakunya. Gadis itu terus berpikir supaya tindakkannya tidak diketahui oleh orang sekitar.


"Apa yang kau lakukan, heum?"


__ADS_2