
Kilatan jelaga menyapu hamparan langit biru yang tidak berdebu. Desiran angin membuai menyapa hati yang sepi.
Kesunyian dan kesepian tidak terlepas dari kata rindu. Rindu? Iya, rindu. Rindu akan perhatian seseorang yang telah lama pergi tidak pernah kembali.
Lentera abadi tidak akan mudah tertiup angin atau pun disentuh tangan-tangan jahil yang akan membahayakan keberadaannya. Lantas, apakah semua aman dan bisa hidup berdampingan? Tentu saja, jika Tuhan menakdirkan.
Tiada kuasa dan upaya jika Dia berkehendak maka terjadilah, sama halnya dengan hidup Kanilaras—wanita yang hidup di zaman kuno kini menjelajah di kehidupan masa depan.
Bagaimana, kenapa dan apa? Gadis itu tidak pernah tahu kenapa dia bisa datang ke zaman ini. Situasi yang berbeda membuatnya kebingungan dan terlebih lagi dia hidup bersama seorang lelaki yang memiliki sifat tempramen yang sangat buruk.
Jika dia tidak suka dengan hal apa pun maka itu akan dia buang jauh-jauh dari hidupnya. Namun, jika dia sudah jatuh hati diakan memanjakan siapa pun dan apa pun itu.
Sangat sulit mengambil hati Kendrick Adinata yang hidup bergelimang harta dan lagi profesinya sebagai bos dari segala bos mafia yang sewaktu-waktu menghadapi lawan. Kelebihannya dalam membaca situasi dan gestur tubuh lawan bicaranya memudahkannya untuk mengatasi situasi berbahaya.
Kendrick mengajak Kanilaras ke sebuah pantai terkenal di kota Papua Utara. Suara deburan ombak yang menggulung menenangkan jiwa, Kanilaras yang semula ingin protes kini terdiam tatkala matanya dimanjakan pandangan panorama pantai yang sangat indah.
Netra gadis itu tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, berulang kali bibir tipisnya mengulas senyum. Pendekar wanita itu membuka alas kakinya untuk merasakan butiran-butiran pasir putih yang dia injak.
“Hati-hati kalau melangkah!” kata Kendrick memperingati.
Gadis itu menolehkan kepalanya sebentar dan kembali melangkah dengan girang menuju ke bibir pantai.
__ADS_1
“Apa ini yang namanya bulan madu?” tanya Kanilaras sedikit berteriak.
Kendrick yang tidak begitu mendengar ucapan Kanilaras segera mendekat.
“Kau bertanya apa?” kata Kendrick dengan suara khasnya.
Kanilaras menghela napas, “Apa ini namanya bulan madu!” sahutnya dengan penekanan.
“Ayolah, Aras!” ujar Kendrick.
“Ayo ke mana?” sambar Kanilaras dengan kening yang mengernyit.
“Jangan main-main!” balasnya dengan alis yang bertaut.
Pria itu tidak menjawab perkataan Kanilaras dengan kata-kata melainkan dengan tatapan yang membunuh. Mungkin jika orang lain yang ditatap seperti itu akan merkidik takut, tapi gadis ini berbeda dia malah membalas tatapan itu tidak kalah tajamnya dengan sorot mata Kendrick.
Merasa disaingi Kendrick mendekatkan diri dan semakin dalam menatap bola mata Kanilaras yang berwarna cokelat kehitaman tersebut.
“Sejak kapan kau mulai berani padaku!” Suara bariton Kendrick membuat Kanilaras nervous.
“A-apa?” jawab Kanilaras gugup.
__ADS_1
Mencengkeram pipi Kanilaras, “Kau benar-benar membuatku marah, Aras!” gerutu Kendrick seraya mendorong Kanilaras ke belakang.
Sabar Laras! Jangan melawan manusia lemah ini, gumam Kanilaras menasihati dirinya sendiri.
“Kau takut, heum?” tanya Kendrick sembari menaikkan kedua alisnya.
Kepala Kanilaras mendongak sebari menjawab ucapan Kendrick, “Takut? Ck, kau bukan lawanku.”
“Kalau begitu. Ayo, kita bertarung!” tantang Kendrick dengan suara yang lantang.
“Sudah lupakan! Ilmu Kanuragan-mu tidak sepadan denganku,” ejek Kanilaras yang saat ini tengah bermain dengan air laut.
“Apa yang harus aku lupakan, huh? Semua perlakuan baikku kau abaikan bahkan kau membalasnya dengan perilaku burukmu.” Mencekal pergelangan tangan Kanilaras hingga wanita itu merasa nadinya tidak berdenyut dengan baik.
Kanilaras berputar membalik posisinya sampai dia bisa menguasai gerak tangan Kendrick.
“Tenagamu yang lemah inikah yang kau banggakan? Aku masih menggunakan sebagian kecil dari ilmu kanuraganku,” bebernya berbisik di telinga Kendrick—pria yang mengancamnya barusan.
Suara gemuruh angin membuat kedua orang tersebut mendongakkan kepala menatap sebuah helikopter tempur yang terbang tidak begitu jauh dari mereka. Terlihat ada seorang pria tengah bersiap membidik mereka dari atas, tanpa aba-aba lagi pria itu menghunjam timah panas ke arah Kanilaras dan juga Kendrick.
Kanilaras menarik tangan Kendrick pergi dari sana menuju mobil mereka, belum sampai ke mobil sebuah bom dilempar dari atas ke arah mereka. Reflek Kendrick memeluk Kanilaras hingga mereka jatuh berguling-guling di atas pasir.
__ADS_1
“Biadab! Siapa yang berani menyerang ku tiba-tiba,” katanya pelan, tapi tajam.