Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Ruang Interogasi


__ADS_3

"Kau kenapa, Aras?" Mengelus lembut kepala Kanilaras.


Alih-alih menjawab, Kanilaras mendorong pelan tubuh Kendrick hingga pelukan erat itu terlepas begitu saja. Kendrick kebingungan melihat tingkah Kanilaras yang brutal, tapi wajah gadis itu tampak datar dan tatapan matanya kosong.


"Hei, kau kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" berondong Kendrick sembari menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Kanilaras.


"Diam Ken! Jangan banyak bicara atau aku akan membungkam mulutmu menggunakan ini," tukas Kanilaras seraya menunjukkan bogeman pada pria berusia 33 tahun tersebut.


"Fine, I will follow your orders. But... after this you have to do as I say! Baiklah, aku akan mengikuti perintahmu. Tapi ... setelah ini kau harus melakukan apa yang aku katakan!" tawar Kendrick dengan sebelah alis yang terangkat.


Bukannya mengiyakan Kanilaras malah menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menghela napas panjang nan berat.


"Why? Kenapa?"


Gadis itu sungguh-sungguh kesal terhadap Kendrick yang selalu menggunakan bahasa asing yang di mana dia tidak mengerti sama sekali.


"Apa bibirmu itu tidak bisa mengucapkan kata-kata yang bisa aku mengerti!" protes Kanilaras sembari merobek kemeja putih yang membalut tubuh kekar Kendrick.


Pria itu tersentak ketika gadis yang dia akui sebagai istri merobek baju yang dia kenakan.


Tangan lembut Kanilaras meraba punggung Kendrick, "Apa ini sakit?" tanyanya lembut.


"Tidak!" bantah Kendrick cepat.


"Tapi, dulu kau menangis ketika wanita biadab itu mencambuk punggung mungil mu!" cetus Kanilaras emosional.


Kendrick menatap lekat-lekat bola mata Kanilaras yang terus bergerak meneliti setiap inci wajah pria yang menakup wajahnya dengan kedua tangan kekar itu.


"Dari mana kau tahu?" Masih menatap intens.


"Tanpa sengaja aku tahu barusan," ungkap Kanilaras.


"Siapa yang memberitahumu!" bentaknya sekuat tenaga.


Gadis itu tidak menjawab, dia meletakan tangan kirinya di dada bidang Kendrick lalu tangan satunya menutup kedua kelopak mata indah Kendrick.


Bak menonton bioskop, pria itu melihat dirinya yang dulu. Di mana selalu menerima perilaku kasar dari pengasuhnya sendiri. Detik demi detik terulang begitu jelas, hingga dia berteriak ketakutan kala wanita yang bernama Puspa mencambuk punggungnya hingga berdarah dan sampai saat ini luka itu meninggalkan jejak di punggung lebar Kendrick.


Melihat wajah Kendrick yang memucat, Kanilaras menghentikan kilasan masa lalu yang Kendrick alami.


"Kau baik-baik saja, Ken?"

__ADS_1


Bak pahatan patung, Kendrick tidak menjawab ataupun bergerak. Pria itu syok dengan apa yang dia lihat barusan, mau tidak percaya nyatanya dia bisa melihat jelas pergerakannya di masa lalu. Mau percaya nyatanya di dunia ini tidak bisa memutar kehidupan, entah maju atau pun mundur.


"Siapa kau sesungguhnya?" tanyanya dengan tatapan kosong.


"Kau masih bertanya siapa aku? Aku—" Ucapan Kanilaras terhenti karena Kendrick menyambar perkataan Kanilaras yang belum sempat dia selesaikan.


"Menjauh dariku!" usirnya dengan nada rendah.


Kanilaras masih mencoba meyakinkan pria yang duduk di hadapannya, tapi Kendrick malah membentaknya dengan suara yang menggelegar.


"Pergi dari sini!"


"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu sendiri, aku akan tetap berada di sisimu. Aku berharap pada-Nya," kata Kanilaras seraya menunjuk ke atas.


"Kau dan aku bisa terus berjalan beriringan," sambungnya dan pergi meninggalkan Kendrick yang masih terduduk tanpa berdetak sejengkal saja.


Hanya kelopak matanya saja yang bergerak, selain dari itu membeku bak terkubur tumpukan salju. Otak pria itu masih terus berputar memahami peristiwa yang baru saja dia lewati, meski berusaha keras nyatanya dia tidak bisa menyimpulkan keadaan ini.


Dia sentuh luka gigitan ajag tadi, rasa sakit menyatu menimbulkan ngilu dan nyeri. Barulah dia tersadar kalau gadis 3 tahun lalu yang dia beli bukanlah gadis biasa pada umumnya.


Manusia macam apa kau, Aras? Kenapa kau selalu membuat aku bingung? gumam Kendrick dalam hati.


Di luar sana tepatnya di ruang interogasi, Beril tengah menatap tajam pemuda yang mengenakan baju adat bisa dibilang baju zaman kerajaan kuno.


Aksesoris yang melekat pada Ananda sangat mirip dengan yang ada di foto-foto laman internet. Sedikit tidak percaya, tapi Beril melihat bentuk dan warna emas yang mengkilap dari kalung yang dikenakan Ananda sangat mirip dengan aslinya.


"Dari mana dan mau apa kau ke sini?" Pertanyaan pertama yang Beril lontarkan.


"Aku tamu tuanmu," jawab Ananda santai dengan bola mata yang terus bergulir mengamati ruangan.


Kaki tangan Kendrick masih menatap serius lelaki remaja yang dia interogasi.


"Jangan main-main denganku! Atau kau mau aku jadikan santapan binatang kesayangan tuan kami?" ucap Beril mencoba memprovokasi Ananda.


Pemuda konyol itu malah tertawa terbahak-bahak, dia pikir dia tengah digertak.


"Kau mau apa?" Memiringkan kepala sambil mendekatkan telinganya.


“Perlihatkan Feris padanya!” titah Beril sembari menyandarkan tubuhnya.


Kamera pengawas masih mencari keberadaan Feris—singa Afrika yang Kendrick pelihara sejak kecil. Tampak jelas di sudut kandang, mulut singa itu terbuka lebar membuat Ananda merkidik ketakutan.

__ADS_1


“J-jauhkan binatang itu dariku!” ucap Ananda terbata-bata.


“Aku akan menjauhkannya darimu, tapi ... jawab semua pertanyaanku dengan jujur. Atau kau akan masuk ke dalam perut Feris!" ancam Beril sembari mengisap rokok yang sedari tadi terselip di jarinya.


Ananda mengangguk cepat dan tatapan mata Beril masih terlihat mengancam. Segera dia menurunkan kedua kakinya yang naik di atas kursi.


"Kalau boleh tahu, Binatang apa itu? Tubuhnya Kecil dan mulut yang lebar," tanyanya polos, matanya terus melihat layar monitor.


Beril tidak memberi jawaban, tapi dia malah menggebrak meja sampai tubuh kerempeng Ananda tersentak.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab saja pertanyaanku!" desisnya dengan mata yang mendelik.


"Dari mana kau datang dan apa tujuanmu?" Pertanyaan kedua yang terucap dari bibi Beril.


Ananda membusungkan dadanya dan dengan mata yang berbinar pemuda itu menyerukan identitas dirinya.


"Aku anak Raja Darmawangsa dan aku putra mahkota kerajaan Sertayosa," ucapnya jumawa.


"Jangan main-main!" tukas Beril dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.


Pemuda itu ikut berdiri tegap sambil memperlihatkan smrik-nya.


"Sudah bosan hidup kau rupanya." Beril menggerakkan kepalanya kesamping memberi perintah kepada bawahannya untuk melakukan siksaan terhadap Ananda.


Empat soldier maju mendekati pemuda bertubuh kerempeng itu, lalu dipaksanya Ananda duduk di kursi.


"Apa yang kalian lakukan padaku!" pekik Ananda sembari meronta menolak perlakuan kasar para soldier Kendrick.


Empat soldier tersebut tidak mengindahkan ucapan pemuda itu, bahkan mulut Ananda disumpal dengan kain. Setelah selesai mengikat kedu kaki dan tangan Ananda, salah satu soldier mengambil tongkat setrum yang akan digunakan untuk menyiksa pemuda itu agar mau buka mulut.


Aliran listrik terlihat jelas tatkala Beril menyentuhkan alat itu ke manekin yang ada di pojok ruangan, melihat hal itu Ananda menggelengkan kepalanya untuk memberi tahu bahwa dia tidak mau disiksa dengan alat itu.


"Kau tidak akan keluar hidup-hidup dari sini," katanya menakut-nakuti Ananda.


Terdengar gemericik air yang mengalir dari tempat duduk Ananda, terlihat jelas celana yang pemuda itu kenakan telah basah sebagian.


"Kau mengompol?" Pertanyaan Beril terdengar menghina Ananda.


Meski Ananda mengeluarkan air seninya, Beril tetap melangkah maju sambil mengarahkan tongkat itu kepada Ananda. Jeritan terdengar jelas di ruangan itu, tapi suara gaduh yang ada di ruangan itu tidak akan bocor sampai keluar karena ruangan interogasi tersebut kedap suara.


"A-mpun ...!" jeritan minta ampunan terdengar jelas.

__ADS_1


__ADS_2