
Di saat Kanilaras celingukan mencari keberadaan Ananda, dia merasakan aura negatif yang sangat kuat. Sangking kuatnya tubuh Kanilaras bergetar akibat aura itu yang semakin menyebar di black house.
Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak? Apa jangan-jangan ... mereka telah terbebas, gumam Kanilaras yang masih terpaku di depan pintu interogasi.
Tiada hujan dan angin tiba-tiba saja petir menyambar-nyambar dan disertai suara ledakan yang cukup mengguncang bangunan kokoh ini.
Hampir saja gadis itu jatuh akibat guncangan hebat barusan. Worker yang berdiri tidak jauh darinya berlari cepat menghampirinya yang masih tertegun.
"Anda baik-baik saja Nona?" tanya salah satu worker.
"Hmm ...." Itulah respons yang diberikan Kanilaras atas pertanyaan worker.
Bingung? Tentu saja. Namun, kendati demikian Kanilaras mencoba kembali fokus dan memperhatikan sekitar. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap para wanita yang mengabdi pada Kendrick—pria yang membuatnya jatuh hati.
"Ken ada di mana?" tanya Kanilaras sembari meneliti setiap sudut ruang tengah.
"Tuan bersama dengan komandan. Nona," jawabnya penuh hormat.
"Lindungi dia! Jangan sampai terjadi apa-apa degannya," perintah Kanilaras tegas.
Para worker saling melempar pandangan, dia tidak percaya dengan perintah yang baru saja mereka dengar. Melihat tidak ada pergerakan, Kanilaras membentak mereka semua agar cepat bergerak.
"Cepat cari!" Jari telunjuknya menunjuk ke sembarang arah.
Di tengah kepanikan Kanilaras masih berusaha mencari keberadaan Ananda yang sebenarnya ada di ruangan yang dia lewati tadi.
"Oh Sang Hyang Widi ... bantulah aku untuk menemukan bocah itu," pintanya seraya merasakan keberadaan Ananda.
Ketika dia berjalan tidak jauh dari balkon, tanpa sengaja netranya melihat sebuah petir yang mengeluarkan api menyambar bumi. Di sanalah Kanilaras dapat melihat sosok pria yang menurutnya sangat berbahaya.
Bagaimana dia tidak tercengang. Pria itu muncul bersamaan dengan kilatan petir yang disertai api besar. Ketika dia masih memperhatikan keadaan, tiba-tiba saja pria itu melompat tinggi dan memposisikan dirinya tepat di atas pendopo black house.
Kepala Kanilaras menggeleng seraya melangkah cepat kembali ke ruang tengah.
"Di manapun kau berada. Aku mohon! Jangan keluar dari tempat persembunyianmu, Ken!" Kanilaras berteriak dan teriakkan itu dibarengi dengan suara ledakan di luar bangunan kokoh nan megah ini.
Kendrick yang berada di ruang kerjanya dapat mendengar jelas peringatan yang diberikan oleh wanitanya. Wajah datar Kendrick berubah menegang dan terlihat keningnya mengerut sampai kedua alis itu hampir menyatu.
"Apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Bibi Kenny dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Menyelamatkan istriku!" tandasnya tanpa melihat wajah Bibi Kenny sedikitpun.
"Apa Tuan tidak mendengar? Nona sudah melarang Tuan untuk keluar dari ruangan ini," ucapnya menasehati Kendrick yang kekeh mau keluar.
Beginilah Kendrick, dia tidak akan mendengar ucapan siapa pun jika dia tidak setuju dengan usulan dari orang lain. Kendrick tidak akan sungkan atau berat hati membantah ataupun menolak perintah siapa pun itu.
Pintu pun terbuka lebar dan dengan hati yang mantap Kendrick keluar. Dengan gagahnya dia menuruni anak tangga dan menelisik setiap sudut black house.
Hatinya sangat gelisah tidak melihat keberadaan kekasih hatinya, saat dia sampai di depan pintu utama Kanilaras memanggilnya dengan suara yang menggelegar.
"Apa yang kau lakukan!"
Sontak Kendrick menolehkan kepalanya yang diikuti putaran tubuh atletisnya. Kanilaras melompat dari lantai tiga dan mendarat tepat di hadapan Kendrick—lord of twilight.
"Aku tidak akan memaafkan diriku jika kau terluka," kata Kendrick yang menelisik setiap inci wajah gadis berwajah imut.
"Tolong, ikuti arahan yang aku ucapkan!" Tutur Kanilaras dengan kedua telapak tangannya yang menyatuh.
"Aku mafia, Aras. Pantang bagiku untuk mundur ketika memasuki arena pertarungan," tandasnya seraya menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Kanilaras.
"Omong kosong apa—" Perkataan Kanilaras terpotong karena dia mendengar rintihan dan tawa yang bersamaan.
Kanilaras dan Kendrick berlari melihat keadaan di luar sana. Kendrick terkesiap melihat puluhan soldier-nya terkapar tidak berdaya di teras dan halaman black house
Kanilaras mencekal pergelangan tangan Kendrick yang besar.
"Apa yang akan kau lakukan? Apa kau pikir bisa membinasakannya dengan mudah?" berondong Kanilaras sembari menyelip masuk.
Kendrick—sang mafia ternama memiliki kesombongan yang sangat luar biasa. Sehingga dia menatap tajam Kanilaras, berharap gadis itu terintimidasi dengan tatapannya. Alih-alih takut Kanilaras malah mendelik seraya mendorong Kendrick dengan kasar.
"Jangan keluar!" pungkasnya sebelum menghadapi pria yang menewaskan banyak orang.
Gadis yang mengenakan Maxi dress tersebut meloncat dengan lincah dan mendarat di atas patung Kendrick.
"Siapa kau?" tanya Kanilaras yang telah mempersiapkan dirinya.
"Aku tidak berurusan denganmu!" putusnya dengan tangan yang mengibas.
"Kau sudah membunuh sebagian prajuritku. Bagaimana bisa, kau tidak berurusan denganku!" bentaknya dengan mata yang melotot.
__ADS_1
"Manusia lemah seperti mereka kau bilang prajurit?" tunjuknya jumawa.
Kedua tangan gadis itu mengepal keras, emosinya juga sudah mulai memuncak kala pria itu menatapnya dengan tatapan penuh gairah.
"Berhenti menatapku setan!" pekik Kanilaras yang kini melayang menghunuskan pedang bulan ke arah pria yang tidak diketahui identitasnya.
Melihat serangan dadakan Kanilaras, pria itu menyunggingkan senyuman miring yang meremehkan kemampuan Kanilaras. Sekian hapal dengan gerakan lawannya, Kanilaras mengepalkan kedua tangannya dan menggerakkan sebelah kakinya ke arah tubuh lawannya.
Tendangan tersebut tidak serta Merta membuat pria itu tumbang ataupun bergeser dari tempatnya berdiri.
"Kau bukan tandingan ku," ucapnya mengejek.
Ejekan yang muar dari mulut pria itu tidak diindahkan oleh Kanilaras, bahkan dia tetap menyerang di berbagai arah. Samping kanan, samping kiri dan bahkan dari arah atas pun juga Kanilaras lakukan. Namun, serangannya terasa sia-sia.
Siapa sebenarnya pria ini? Apa dia Raja Gendra? Tidak ... itu tidak mungkin. Kata Paman Katra, manusia biadab itu terjebak diantara pintu paralel.
Kanilaras menarik keluar pedang bulan dari sarungnya, kilatan ukuran pedang tersebut membuat pria itu terkesima. Lantas dia menghindar dan sedikit menjauh dari putri Raja Daneswara.
"Kau ...."
Kanilaras membungkam mulut pria itu dengan tendangan yang terarah ke telat di wajahnya.
"Hiaak ...!" teriak Kanilaras dengan tangan yang terangkat ke atas.
Sekejap mata lawannya itu menghilang dan berpindah di suatu tempat yang Kanilaras tidak tahu. Sontak saja Kanilaras kebingungan dengan menghilangnya pria berkulit hitam tersebut.
Ya, bisa dibilang kulit pria itu bagai ubi yang terbakar hangus. Itu sebabnya Kanilaras tidak dapat melihatnya di mana pun, gadis berpakaian Maxi dress tersebut masih kebingungan mencari keberadaan lawannya.
"Aku tahu siapa kau sebenarnya," ujar pria itu yang entah di mana dia berada.
"Hadapi aku biadab!" pekik Kanilaras sembari meneliti sekeliling.
"Kau bukan lawanku!" sahutnya entah di mana dia bersembunyi.
Kanilaras terdiam sejenak lalu dia memejamkan mata untuk merasakan keberadaan pria itu.
"Jangan jadi pengecut!" bentak Kanilaras sambil melempar daun ke sembarang arah.
Daun tersebut menancap kuat di tembok dan juga pohon besar yang ada di halaman itu. Lagi-lagi Kanilaras memusatkan pikirannya dan dia merasakan
__ADS_1
Embusan angin lembut yang menajam membuat Kanilaras waspada, dia dapat merasakan sebuah benda tajam meluncur menembus angin malam. Benar saja dua anak panah bergerak berirama menembus udara dan bersiap menembus benda apa pun yang ada di hadapannya.
"Argh ...." Matanya terbuka lebar saat melihat darah yang mengucur deras dari dada dan juga lengannya.