
Kanilaras memijat kepalanya karen tidak percaya akan ucapan worker Kendrick. Bagaimana bisa seorang gadis biasa akan menikahi pria tampan nan kaya seperti dia.
"Aku saja baru melihatnya sekarang dan tidak mengenal siapa dia. Bagaimana ceritanya kami akan menikah besok siang!" keluhnya dengan suara yang melemah.
Tersirat di benaknya akan melakukan hal yang tidak masuk akal.
"Bantu aku keluar dari rumah megah ini! Jasa kalian akan aku ingat sampai akhir hayatku," katanya meminta bantuan para worker.
"Tidak bisa Nona."
"Kenapa tidak bisa?" cela Kanilaras tidak menerima.
Kali ini Rasti yang menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Kanilaras—calon nyonya di black house.
"Siapa pun yang masuk ke sini—" Lagi-lagi Kanilaras menyambar ucapan Rasti.
"Kenapa? Apa yang akan terjadi?" cecar Kanilaras.
"Tiada ada yang bisa keluar hidup-hidup. Kami juga belum pernah mendengar para soldier atau worker yang kabur dari black house," ungkapnya panjang lebar sembari melirik kedua temannya yang masih berlutut.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau menikahi orang yang tidak aku cinta," ucapnya terisak-isak.
Ketiga wanita itu terdiam membisu seribu bahasa.
Suasana dalam kamar mandi hening tidak ada suara percakapan lagi, hanya ada suara tangisan Kanilaras. Walau gadis cantik ini masih menangis para worker menjalankan tugasnya dengan sangat baik, dari memandikan Kanilaras menyisir rambut panjang itu sampai membantu mengenakan piyama berwarna lavender.
"Silakan istirahat Nona! Kami akan datang lagi besok pagi," ujar Berlian dengan seulas senyum menghiasi bibir thin lips-nya.
Kanilaras hanya mengangguk tanpa bersuara, tapi di dalam kepalanya memikirkan cara untuk pergi dari rumah mewah ini.
Catatan! Kendrick tidak menceritakan sedetail ini, dia menceritakan hal bohong kepada Kanilaras dan pernikahan itu belum terjadi sampai Kanilaras terjun ke danau.
__ADS_1
...****************...
Kanilaras mengernyitkan keningnya, dia tidak percaya dengan ucapan pria yang duduk jumawa di hadapannya.
"Kau membohongiku bukan!" celetuk Kanilaras menebak niat dari Kendrick.
Bukannya menyangkal pria itu malah meninggalkan Kanilaras di kamar besar itu, langkah lebar Kendrick diikuti oleh Kanilaras dengan terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
"Tidak bisakah kau menceritakan kebenarannya? Apa begini-kah sikap seorang pemimpin? Berbohong dan menipu orangnya sendiri," cibir Kanilaras tanpa rasa takut.
Tiba-tiba saja Kendrick mencengkram kuat pipi gadis itu.
"Jaga ucapanmu! Aku tidak terima ada orang yang menghinaku! Siapa kau yang berani menghina Kendrick Adinata penguasa di dunia ini!" Semua ucapannya dia tekan sebagai tanda bahwa perkataannya tidak main-main.
Pendekar wanita itu menepis kasar tangan kekar Kendrick dan menudingnya.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu! Pantang bagi pendekar untuk menakuti ancaman seperti ini," tukasnya dengan mata yang mendelik.
Pendekar wanita tersebut menyeringai akan perkataan Kendrick, segenap jiwa raga dia sudah menyiapkan diri.
"Majulah!" kata Kanilaras dengan sombongnya.
Kendrick maju dengan pukulan yang mengarah ke segala arah, tapi dengan tangkasnya gadis itu menghindar dan kini gilirannya untuk menyerang. Kanilaras membuka kakinya cukup lebar dan memutar tubuhnya menghunuskan tendangan ke kepala Kendrick hingga pria itu terhempas jauh dari tempatnya berdiri.
"Keparat!" teriak Kendrick mengundang soldier dan juga worker beserta pemimpinya yakni Bibi Kenny.
Seisi black house menyaksikan perkelahian antara tuan dan nona yang selama ini mereka jaga.
"Apa yang terjadi Beril?" tanya Bibi Kenny yang masih tegang melihat kedua orang yang dia sayang baku hantam.
"Tidak tahu," balas Beril cepat matanya masih memperhatikan pergerakan Kanilaras yang sangat lincah.
__ADS_1
"Tapi Bu, sejak kapan dia bangun dari fase vegetatif-nya?" Telunjuk Beril mengacung ke arah Kanilaras yang sudah bergelantungan di lampu gantung.
"Semalam," sahut Bibi Kenny santai.
"Semalam? Seharusnya dia masih lemah dan tidak dapat mengeluarkan tenaga sekuat itu," kata Beril menyadarkan Bibi Kenny.
Kenapa aku tidak memikirkan hal ini? Dia sudah koma 1 tahun dan di tambah lagi kondisinya yang memasuki fase vegetatif. Kenapa bisa dia bangun dengan tenaga sekuat itu.
Hati Bibi Kenny bertanya-tanya akan kejadian yang saat ini dia nonton.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat bantu Tuan Ken!" bentak Bibi Kenny pada soldier yang masih terbengong.
"Baik!" sahut mereka kompak.
Meski hatinya dilema akan keselamatan Kanilaras, tapi dia tidak dapat mengabaikan keselamatan tuannya—Kendrick Adinata.
Empat soldier bergegas menaiki anak tangga sesampai di lantai dua, Kanilaras dikeroyok 5 orang termasuk Kendrick. Bagai tupai Kanilaras loncat ke sana kemari sambil melawan ke lima orang tersebut.
Ilmu Kanuragan mereka jauh di bawahku, mana mungkin aku menggunakan seluruh ilmuku. Batin Kanilaras seraya memperhatikan dua orang yang maju dengan serangan.
Pendekar wanita tersebut melangkah mundur dan menangkis pukulan tangan soldier, lalu mentotok leher dan juga dada pria-pria tersebut. Lagi-lagi Beril, Bibi Kenny dan juga para anggota black house tercengang akan kejadian ini.
"Stop Ken! Lebih baik kau ceritakan siapa aku sebenarnya!" titah Kanilaras yang masih di sibukkan melawan anak buah Beril.
Alih-alih menjawab Kendrick malah meneriaki semua soldier-nya untuk melawan Kanilaras, tidak terima akan perbuatan Kendrick. Gadis yang menggunakan piyama tersebut mengeluarkan jurus kembang bayangan menggunakan bunga mawar yang ada di vas bunga.
Sekejap mata sepuluh soldier Kendrick tewas seketika, Kanilaras menyisakan Kendrick yang berdiri dekat railing void. Akibat tidak hati-hati tubuh Kendrick menabrak railing void hingga terpelanting, naasnya tangan pria itu tidak dapat meraih railing sehingga tubuhnya terjun bebas ke bawah.
Semua orang yang melihat peristiwa tersebut berteriak, begitu pula dengan Kanilaras.
"Tuan ...!" jerit Bibi Kenny.
__ADS_1
Gadis yang bernama Arastya Ningrum tidak menyangka bahwa lelaki yang berdiri dihadapannya tadi telah jatuh.