Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Apa Lagi


__ADS_3

Suara dentuman membuat Beril menginjak pedal rem secara mendadak sampai menimbulkan suara decitan yang sangat hebat. Dua ban mobil belakang yang dia kendarai sampai mengepot akibat gesekan yang sangat kuat.


Kendrick segera keluar. Netranya melihat Kanilaras yang tergeletak di tengah jalan. Langkah kakinya yang semula berlari, perlahan melambat tatkala dia merasakan ada buliran bening keluar dari pelupuk matanya dan tangan kekar itu mengusap lembut pipinya.


Apa aku menangis? Tanyanya dalam hati seraya menatap telapak tangan kirinya yang basah.


Kendrick memberhentikan langkah kaki panjangnya, memperhatikan kembali telapak tangan itu dan kembali mengusap pipi seakan tidak percaya bahwa dia bisa menangis kembali. Ini kali ke tiga dia menangis setela mengenal Kanilaras wanita yang dia beli dari seorang ayah yang gila akan judi.


Tiba-tiba saja dia mengingat ancaman di hari kelam pada malam naas tersebut.


“Jangan menangis! Atau kau akan bernasib sama dengannya!” Mata itu melotot dan tamparan keras mendarat tepat di pipi Kendrick.


“Aargh ....” Kendrick meringkuk menutupi kepala dengan kedua tangannya.


Dengan gesit Beril mendekati Kendrick yang tengah ketakutan.


Tidak disangka Beril dengan berani memanggil tuannya hanya nama depan saja.


“Ken, lihatlah Aras!” Mengguncang tubuh Kendrick dengan keras.


Kendrick mendongakkan kepala. Sorot matanya yang sayu membuat Beril iba tanpa disangka tuan mudanya langsung berdiri.


Kendrick merasa pandangan matanya pudar dan dia tidak terbiasa dengan warna ini. Warna langit yang semula dia lihat cerah seketika menjadi gelap, dengan langkah kaki yang gontai Kendrick mendaki wanitanya yang tidak sadarkan diri.


Diangkat kepala Kanilaras dan diusap lembut pipi mulus itu.


“Belum puaskah kau membuatku khawatir setahun ini?” katanya lirih sambil memandangi wajah ayu Kanilaras.


“Warna yang kau sebarkan memudar bersamaan menghilangnya kau dari sisiku. Apa kau mau menyiksaku lagi?” tanya Kendrick dengan tawa.


Bukan tawa bahagia melainkan tawa depresi, tawa yang menyiratkan sakit yang teramat sakit.


“Aku tidak ingin hidup sendirian lagi, Aras. Bangun pukul dan maki saja aku! Tapi ... jangan meninggalkanku, aku mohon!” pinta Kendrick pelan.


Buliran bening itu masih mengalir deras di pipinya dan tangan besar tersebut bergetar hebat seakan tidak kuasa menyentuh rambut panjang Kanilaras.


“Aargh ....” Bos mafia yang terkenal garang dan kejam kini tengah menangis dan memohon.

__ADS_1


Perbuatan yang tidak pernah dia lakukan sejak kecil hingga sekarang. Namun, hari Sabtu di tanggal 31 Desember pria kaku nan dingin tersebut tengah menangis tanpa suara.


Meminta dan memohon pada Tuhannya untuk mengembalikan orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Hanya dua tahun dia dekat dan kenal dengan Kanilaras, tapi dia sangat memperhatikan segala urusan yang terkait pada wanita itu


Dia juga nekat mengganti nama Kanilaras menjadi Arastya Ningrum, Kendrick meminta Beril dan Bibi Kenny untuk memalsukan kematian Kanilaras. Hal itu dia lakukan agar ayah Kanilaras tidak menuntut lebih dari Kendrick, karena yang sudah-sudah orang tua itu selalu meminta uang dengan alasan Kanilaras masih berada di sana.


Bisa saja Kendrick membunuh ayah Kanilaras dan membuat pembunuhan itu sebagai kecelakaan, tapi itu tidak lakukan karena dia tidak mau melukai hati wanita yang dia sayang. Selama dua tahun Kanilaras hidup bersama Kendrick, tidak pernah sedikit pun dia mengetahui bahwa pria itu sangat mengagumi dan mencintainya.


“Ken, uhuk ... uhuk ....”


Sontak mata hanzel green itu terbuka menatap wanita yang dia peluk.


“Aras! Kau baik-baik saja?” Menelisik tubuh Kanilaras dari ujung kepala sampai ujung kaki, “apa kau merasa pusing? Bagian mana yang sakit?” lanjutnya sembari mengangkat tangan dan menggerakkan kaki Kanilaras.


“Aku baik-baik saja, Ken!” ucap Kanilaras lirih.


“Bagaimana bisa kau mengatakan baik-baik saja, heum!” decak Kendrick dengan sorot mata yang tajam.


Kanilaras menghela napas panjang dan tangan kirinya mengusap kasar wajah Kendrick.


Mata pria itu semakin menajam dan tatapannya menukik bak mata elang yang tengah mengintai mangsanya.


“Semakin lama semakin melonjak!” sungut Kendrick seraya melepaskan dekapan tangannya.


Tentu saja tubuh Kanilaras jatuh sampai kepalanya terbentur aspal, bukan kepalanya juga punggungnya juga.


“Aargh ...,” pekik Kanilaras sembari mengelus kepalanya.


Kendrick melirik wanitanya dengan ekspresi yang dibuat setenang mungkin.


“Itulah karma membuatku marah!” kilah Kendrick.


Sesungguhnya dia khawatir ketika mendengar rintihan Kanilaras, tapi dia tidak mau Kanilaras mengetahui yang dia rasakan saat ini


Alih-alih membantu pria itu malah memerintahkan Kanilaras agar berlari mengejarnya menuju mobil BMW M3 320i yang dikendarai soldier-nya.


“Cepat bangun! Jika terlambat kau akan bermalam di sini” ancamnya tanpa menolehkan kepalanya.

__ADS_1


“Kecil,” cicitnya sambil beranjak.


Kanilaras menghentakkan kaki dua kali, seketika tubuhnya melayang di udara. Tanpa butuh waktu lama Kanilaras sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil yang telah dibukakan oleh soldier.


“Apa kamu mau aku tinggal di sini, Ken?” ejeknya sambil tersenyum menyeringai.


Kendrik yang semula berjalan santai kini telah berlari terengah-engah mengejar mobil yang ditumpangi Kanilaras, dengan sengaja wanita itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.


“Bastard! I am your master! Bajingan! Aku ini tuan kalian!” teriak Kendrick yang berlari ditemani Beril.


Santos segera menginjak pedal rem, tercetak jelas gurat kekhawatiran di wajah pria berjambang tersebut.


“Maafkan saya, Nona. Saya tidak berani menghadapi kemurkaan tuan!” ujar Santos seraya membungkukkan badannya sedikit.


“Ck, kau ini tidak asyik!” protes Kanilaras dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.


“Maaf, Non!” kata Santos mengulangi ucapannya.


Dengan napas yang tersengal-sengal Kendrick memaki Santos.


“Kau mau kehilangan kepalamu!” Matanya mendelik menatap tajam Santos—soldier yang bertugas menjaga Kanilaras.


Jangankan membantah, menjawab perkataan Kendrick saja dia tidak berani. Begitu takutnya dia sampai menundukkan kepala tanpa berniat melirik Kendrick.


Di belakang sana, Beril mengencangkan gerakan kakinya menghampiri Kendrick.


“Tuan!” panggilan Beril.


Kendrick menolehkan kepalanya dengan mata yang molotot, “Ada apa?”


“A-ada akbar buruk, Tuan!” ujar Beril sambil mengatur ritme pernapasan.


“Apa!” bentak Kendrick seraya membuka pintu mobil BMW M3 320i.


Beril melirik Kanilaras dan menatap Santos sebentar, pria yang usianya hanya selisih 2 tahun dari Kendrick mendekatkan diri dan berbisik.


“Apa katamu!” tanya Kendrick dengan suara yang menggelegar.

__ADS_1


__ADS_2