Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Chapter 59


__ADS_3

“Keparat, dasar bajingan! Dia pikir bisa mengelabuiku dengan mudah?” ucap Raja Gendra dengan rahang yang mengetat, pria setengah iblis itu murka saat mengetahui keberadaan Katra saat ini.


“Mohon ampun Paduka! Apa yang paduka lihat, sehingga Paduka Raja semurka ini?” Alingga berlutut dengan tangan yang terkatup di atas kepala.


Alih-alih menjawab, Raja Gendra malah memberinya suatu tugas yang harus dia lakukan saat itu juga.


“Sediko dawuh,” sahut Alingga sembari berjalan mundur meninggalkan rumah minimalis modern yang Katra jadikan pelindung buat mereka berdua.


Di luar sana Alingga dapat melihat banyak wanita berpakaian aneh dan dia juga melihat beberapa orang yang tengah sibuk menjajakan dagangannya di pinggir jalan.


Ekspresi wajah Alingga dapat ditebak bahwa dia tidak mengerti dunia apa yang saat ini dia lihat. Kesibukan pejalan kaki dan gedung-gedung menjulang tinggi, isi kepala masih terus mencari jawaban atas apa yang dia lihat.


“Permisi, silakan kunjungi toko kami yang berada di ujung jalan!” Seorang wanita menggunakan stelan rok span menyodorkan selebaran promo awal bulan.


Sikap ramah tama wanita itu dibalas dengan tatapan tajam dan makian dari seorang panglima perang. Mendapati respons yang kurang baik SPG cantik tersebut pergi menjauh, tapi bola matanya tidak pernah berpaling dari Alingga.


‘Bagaimana caranya aku melaksanakan titah paduka raja, di tempat asing ini? Kehidupan aneh yang membuat aku bingung,' keluh Alingga yang sudah duduk di pinggir taman.


Netranya nyalang menatap sekeliling, saat Alingga beranjak dari tempat duduknya dia melihat 3 gadis yang masih mengenakan seragam sekolah. Segera pria yang mengenakan kaos merah itu mendekati 3 ABG yang baru pulang sekolah.


“Kalian mau ke mana?” Suara bariton Alingga membuat salah satu murid itu menjerit karena terpesona.

__ADS_1


“Bisa diem enggak!” ancam gadis lain yang rambutnya diikat dua.


Alingga memicingkan matanya melihat ekspresi gadis yang menjerit selepas mendengar suaranya.


“Kami mau pulang Om,” jawab gadis berponi.


“Om ini tipeku,” kata gadis yang menjerit tadi.


Tidak mau mendengar basa-basi lagi Alingga melontarkan pertanyaan lain.


“Di mana rumah kalian?” Alingga menatap satu per satu wajah 3 gadis itu.


Tiga gadis tersebut melempar pandangan, salah satu dari mereka curiga dengan sikap Alingga yang sok kenal dan sok dekat.


Gadis yang rambutnya diikat dua setuju dengan saran temannya, dia juga merasa kalau pria yang berdiri di hadapannya tersebut akan melakukan hal buruk terhadap mereka.


“Permisi Om, kami buru-buru.” Gadis berponi mengakhiri percakapan lalu menarik tangan kedua sahabatnya.


Bukan Alingga namanya jika tidak dapat mengatasi masalah kecil seperti ini, sekejap mata 3 gadis itu dia bawa pulang ke rumah yang dia tinggalkan tadi. Tentu saja 3 gadis itu tercengang melihat kepindahannya secepat kilat, beberapa detik tadi mereka masih melewati taman yang tidak jauh dari sekolah mereka.


Namun, kini mereka sudah berada di rumah minimalis modern yang cukup mewah, tapi rasa terkesima mereka lenyap begitu saja saat melihat penampilan Raja Gendra yang sangat menyeramkan.

__ADS_1


“Siapa kalian sesungguhnya?” tanya mereka dengan serempak.


Berbarengan kaki 3 gadis itu melangkah mundur berharap bisa lari secepat angin dari rumah ini, tapi harapan mereka hanya mimpi yang tidak bisa terwujud.


“Kau memang panglima andalanku Alingga.” Raja Gendra menampilkan smrik-nya lalu mendekati 3 ABG cantik itu.


Suara teriakan terdengar menggema di ruang tamu dan beberapa burung gereja yang hinggap di atas pohon terbang karena terkejut.


****


Di goa itu Katra dan Ananda masih kebingungan mencari makna kalimat syarat yang di ucapkan jiwa pedang naga.


“Sebaiknya kita bertanya saja ada Putri Kanilaras, Ayah!” usul Ananda kepada Katra.


Katra terdiam seperti memikirkan perkataan Ananda, tapi sedikit kemudian pria itu berlalu meninggalkan Ananda.


Tentu saja dalam kepalanya bertanya-tanya, kenapa ayahnya begitu sensitif saat membicarakan hal ini. Terlebih ketika membahas keterlibatannya soal dua pusaka yang saat ini berada di depan mata.


Ingin rasanya dia mendesak sang ayah untuk menjelaskan secara detail rencananya ke depan, tapi mustahil melakukan hal itu apa lagi Katra yang dia kenal adalah seorang pria yang teguh pendirian. Jika sudah bilang tidak dia akan kukuh dengan ucapannya.


“Maafkan aku ya, Putri. Aku telah berbuat tidak pantas terhadapmu,” tutur Ananda yang menyibak rambut Kanilaras yang menutupi wajah ayunya.

__ADS_1


“Jangan lancang!” Suara bentakan yang menggelegar membuat Ananda tersentak sampai pemuda itu menjauhkan diri.


"Apa yang kau perbuat, heum?"


__ADS_2