
Di ruang kerjanya, Kendrick tengah melakukan zoom meeting bersama dengan kolega bisnis yang di luar negeri.
"What about the new formula? Is it ready for distribution? Bagaimana dengan formula barunya? apakah sudah siap untuk didistribusikan?" tanya Kendrick pada mantan dokter di farmasi kesehatan.
"Don't worry! Everything we discussed a week ago has borne fruit. Probably next week it will be ready, jangan khawatir! Semua yang kita diskusikan sepekan lalu sudah membuahkan hasil. Kemungkinan pekan depan sudah siap," jawab dr. Joe dari seberang.
"Great, I really like the way you work! hebat, saya sangat suka cara Anda bekerja!" sanjung Kendrick, wajah datar itu selalu menampilkan keseriusan dalam berkomunikasi, "don't forget to ask country mouse for help, jangan lupa untuk meminta bantuan tikus negara," tambahnya menyeringai.
"Don't worry sir, jangan khawatir Tuan," sahut dr. Joe mengulas senyum.
Kendrick menutup zoom meeting mereka secara sepihak tanpa basa basi lagi. Kebiasaan buruk Kendrick memperlakukan rekan kerja saku-sakunya, beda lagi jika dia sedang menghadapi kolega tambang batu baranya. Dia akan sedikit lebih sabar mendengarkan semua presentasi perkembangan bisnis itu.
Bola matanya bergulir melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam kecil itu menunjukkan pukul 18.45 menit.
"Sudah waktunya." Kendrick beranjak dari kursi kebanggaannya menuju ke kamar Kanilaras yang terletak di lantai dua.
Ketika masih sibuk menata rambut, Bibi Kenny dan juga Kanilaras dikejutkan oleh gebrakan pintu kamar yang dibuka paksa.
Seketika gadis itu menatap tajam pria yang tidak memiliki sopan-santun, siapa lagi kalau bukan Kendrick—pria tinggi kekar itu selalu berbuat sesuka hatinya tanpa ada rasa ragu atau takut.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu!" bentak Kanilaras berkacak pinggang.
"Bukan tipeku untuk menunggu dan menyuguhkan kepalsuan," balas Kendrick seraya menampilkan sorot matanya yang tajam.
"Ck, sungguh tidak mencerminkan sikap kepemimpinan!" cibir Kanilaras tanpa takut.
"Dua menit, dia harus sudah siap! Aku tidak suka menunggu lama," katanya seraya melangkah meninggalkan dua wanita yang selalu dia sorot.
"Kita harus bergegas menggunakan dress Non. Jika tidak nanti tuan akan mengamuk seperti tadi dan hilang kendali," tutur Bibi Kenny menjelaskan.
"Bibi, bolehkah aku bertanya sesuatu tentangnya?" Kanilaras menatap Bibi Kenny dari pantulan cermin.
Bibi Kenny mengangguk disela kesibukan tangannya menata rambut panjang Kanilaras.
__ADS_1
"Sebenarnya dia kenapa, Bik? Setiap kali bersamanya aku di buat bingung. Kadang dia bersikap datar dan sekian detik sifatnya berubah beringas persis seperti harimau yang siap menerkam. Apakah dia sedang sakit?" Mendongakkan kepalanya menatap wajah flat pelayan setia Kendrick.
"Iya, Non. Tuan memang sedang sakit dan kecelakaan yang menimpa Nona membuat penyakit itu semakin parah," kata Bibi Kenny memaparkan keadaan Kendrick.
"Benarkah?" Mengangkat sebelah alisnya.
Bibi Kenny mengangguk pelan dan tangan wanita paru baya itu memberi sentuhan akhir di tatanan rambut Kanilaras.
"Apa ada cara untuk menyembuhkan penyakitnya, Bik?" Lain di bibir lain di hati inilah yang menggambarkan situasi saat ini.
Semakin cepat dia sembuh semakin cepat pula aku keluar dari istana gila ini, gumam Kanilaras di hatinya.
"Kata dokter, penyakit tuan tidak bisa disembuhkan tapi ...." Ucapan Bibi Kenny yang menggantung membuat Kanilaras harap-harap cemas.
"Tapi apa Bik?" Kanilaras memutar tubuhnya menatap penuh harapan.
"Bisa mengurangi dari resiko terburuk dari penyakit itu," tutur Bibi Kenny pelan, "ayo, cepat kenakan dress ini!" Tangan Bibi Kenny melambai.
Kanilaras menuruti perintah Bibi Kenny dan sekejap penampilan gadis itu sudah berubah, lipstik berwarna peach blossom menambah keayuan wajah sang putri dan bahu yang terekspos membuat penampilan gadis itu semakin menarik. Sungguh penampilan Kanilaras malam ini terlihat cantik nan elegan, kalau dideskripsikan penampilannya malam ini mirip miss universe dan tidak lupa Bibi Kenny memakaikannya ankle strap heel.
"Bibi!" jerit Kanilaras memanggil tetua para worker.
"Ada apa Non?" Menelisik Kanilaras yang tengah gemetaran.
"Bisakah aku memakai seperti Bibi saja," ucap Kanilaras seraya menunjuk sendal teplek milik Bibi Kenny.
Kening Bibi Kenny mengerut dan segera dia menggelengkan kepalanya.
"Anda harus menggunakan semua yang tuan siapkan!" tegas Bibi Kenny dengan sorot mata tajamnya.
"Aku tidak bisa berdiri!" bentak Kanilaras sembari memegang erat korden jendela.
__ADS_1
"Mari saya bantu berjalan!" Bibi Kenny merangkul bahu Kanilaras dan perlahan-lahan kaki jenjang pendekar wanita tersebut melangkah, walau ragu-ragu dia tetap mengikuti Bibi Kenny yang sedari tadi menuntun langkahnya.
"Bik, aku benar-benar tiada tahan lagi menggunakan benda ini." Bola matnya bergulir menatap sepasang kakinya yang gemetaran akibat mengimbangi high heels yang tingginya 8 cm.
Sungguh sangat melelahkan, tapi Bibi Kenny terus memaksanya untuk memakai angkle strap heel. Mengeluh pun percuma karena wanita paru baya tersebut akan tetap menuntun Kanilaras menuruni anak tangga.
Di ruang tamu, Kendrick duduk santai menikmati kopi sambil membaca ulang korannya tadi pagi. Suara derap langkah kaki yang tertatih membuat pria itu menolehkan kepalannya ke arah sumber suara. Netra hanzel green itu memandangi Kanilaras tanpa berkedip sedikit pun, orang yang dia pandangi tertunduk malu.
Pipi Kanilaras memerah bukan karena blush on melainkan rasa malu yang timbul tatkala Kendrick menatap intens dirinya yang masih terpaku di atas anak tangga.
Degup jantung Kendrick tidak beraturan dan napasnya memburu, pria itu merasa tubuhnya seakan terbakar. Berkali-kali Kendrick mengatur ritme pernapasannya untuk mengurangi hasrat iblis yang menguasai dirinya.
"Ehm, Beril semuanya sudah siap?" tanya Kendrick yang berulang kali melirik ke arah Kanilaras yang masih tertatih saat berjalan.
"Sudah Tuan. Qian juga sudah siap dengan jed pribadinya," tutur Beril seraya Menyodorkan berkas yang harus ditandatangani.
"Kau siapkan mobil, aku ada urus lain sebentar." Menepuk punggung Beril.
Pria itu mengusap rahangnya dan mengintip sebentar wajah cantik Kanilaras yang sangat mempesona.
"Tidak bisakah kau berjalan lebih cepat!" ucap Kendrick dengan suara baritonnya.
"Kalau saja benda ini tidak melekat di kakiku sudah dapat dipas—" Perkataan Kanilaras terhenti ketika Kendrick membopongnya keluar menuju mobil mewah berwarna silver.
Jangankan menolak, gadis itu tidak meronta sedikitpun bahkan tangan kanannya merangkul leher Kendrick—pria yang memiliki bentuk tubuh yang atletis.
Aroma tubuhmu merasuk dan mendesak diri ini untuk melakukan hal lain, hati Kendrick tidak berhenti berkata-kata saat membopong gadis cantik idamannya.
"Mau sampai kapan kau menggendongku seperti ini?" tanya Kanilaras sambil menggerakkan tubuhnya.
Di depan pintu gerbang ada seorang pria dan wanita tengah berdiri tegap, entah apa yang mereka nantikan. Dua orang itu berteriak ketika melihat Kanilaras dan juga Kendrick.
"Ken!" Suara yang sangat familier di telinga Kendrick.
__ADS_1
Gadis bertubuh ramping tinggi berjalan cepat menghampiri Kendrick yang merangkul Kanilaras. Tanpa malu gadis itu menepis tangan Kanilaras dan dia bergelayut manja di lengan kekar Kendrick.