
"Lepas rangkulan tanganmu!" Kendrick memalingkan wajahnya.
Kanilaras melihat intens mobil mewah yang ada di hadapannya, berulang kali dia menyentuh benda yang terbuat dari besi itu.
"Ini benda apa?" Mengetuk body mobil berulang kali.
"Apa otakmu kembali tidak berfungsi!" desis Kendrick seraya menyentil kening Kanilaras.
Gadis itu menatap tajam pria yang sudah lancang terhadapnya. Namun, Kanilaras mencoba lebih sabar menghadapi Kendrick karena saat ini dia sudah tahu bahwa pria itu memiliki penyakit aneh (DID).
"Kita mau ke mana tadi?" Kanilaras kembali bertanya demi mencairkan suasana.
"Ujung Indonesia Nona," sahut Beril membukakan pintu.
"Aah, itu. Apa kita akan naik kereta ini? Aku lebih suka naik kuda," ujarnya polos, "dan di mana itu ujung ...." Jarinya mengetuk-ngetuk keningnya sendiri berusaha mengingat ucapan Beril.
"Indonesia Nona," jawab Beril pelan.
"Ah iya, itu. Di mana itu? Aku tidak pernah tahu daerah itu," beber Kanilaras dengan wajah polosnya.
"Jangan banyak bicara! Cepat masuk dan duduk!" sambar Kendrick dan dilanjutkan dengan perintah.
Selepas Kanilaras duduk Kendrick masuk dan duduk bersebelahan dengan gadis yang membuat emosinya naik turun bak wahana rollercoaster.
"Jaga semua soldier dan juga worker," pesan Kendrick kepada Bibi Kenny, "elang akan membawa seekor anak ayam dan juga ular," katanya sebelum menutup pintu mobil.
Kanilaras yang bingung langsung melihat sudut mobil dan sedikit menegakkan tubuhnya mengintip bagian belakang mobil. Padahal ucapan Kendrick itu sebuah kode rahasia yang hanya Bibi Kenny dan dia yang tahu.
"Apa lagi yang kau cari!" Menarik Kanilaras sampai dia terduduk di jok mobil.
"Aku mencari elang, ayam dan juga ular. Kau tahu sendiri ular itu sangat berbahaya," cakapnya dengan kepala yang masih celingukan.
"Astaga," cicit Kendrick mendengar ucapan Kanilaras.
Bibi Kenny membungkuk melihat rombongan mobil Kendrick pergi, tuan mudanya yang sudah dia jaga sejak kecil kini telah bertumbuh dewasa dan kecakapannya dalam mengolah bisnis membuat Bibi Kenny kagum. Namun, ada perasaan sedih yang terpendam dalam hati wanita paru baya tersebut.
"Kenapa kita tidak menunggangi kuda saja?" Menatap Kendrick sebentar dan kembali melihat ke arah luar jendela.
Pria yang berusia 33 tahun tersebut menarik dagu Kanilaras sampai wajah cantik itu menatapnya.
"Zaman sudah modern tidak ada yang menggunakan kuda untuk berpergian, paham!" ucapnya pelan, tapi penuh penekanan.
Kanilaras ya Kanilaras. Gadis itu tampak tidak peduli dengan penjelasan Kendrick bahkan dia tetap memandang pemandangan jalan yang sepi tanpa ada mobil lain yang menyalip. Maklumlah rumah Kendrick berada di tengah hutan jadi untuk menuju ke jalan raya saja perlu memakan waktu 4 jam, bukan tanpa alasan.
Pria anak dari penguasa ternama di sebagian negri itu memilih tinggal jauh dari per kotaan untuk menghindari kakak tirinya dan juga awak media. Dia sangat tidak suka dengan kehidupan yang ramai, Kendrick lebih menikmati hidup penuh dengan ketenangan walau kenyataannya pekerjaan gelapnya mengundang banyak masalah dan musuh.
Kendrick lebih memilih berperang dengan musuh dari pada menghadapi keramaian kota, baginya hidup jauh dari sang kakak dan juga ayahnya itu lebih baik dan nyaman. Semenjak kepergian sang ibu membuatnya lebih menutup diri dari khalayak.
"Sejak kapan kereta kencana berubah menjadi seperti ini? Sungguh nyaman kereta kencana ini," gumamnya lirih sekali, tapi gendang telinga Kendrick dapat mendengar jelas ucapan gadis yang duduk bersebelahan dengannya.
__ADS_1
"Membutuhkan waktu berapa hari kita pergi ke ujung Indonesia?" tanya Kanilaras pelan.
Melihat Kendrick diam tanpa bersuara gadis itu menyenggol lengan Kendrick menggunakan sikunya.
Seketika Kendrick menatapnya dengan tatapan sinis, "Apa?"
"Butuh berapa hari kita sampai ke ujung Indonesia?"
"Diam dan nikmati perjalanannya. Berhenti menyebut ujung Indonesia, nama kotaknya Papua!" pungkas Kendrick yang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Kau sudah lupa? Tadi kamu sendiri yang menyebut daerah itu dengan sebutan ujung Indonesia!" Mendengus kesal.
"Kalau boleh tahu daerah apa lagi itu?" Menyentuh bahu Beril, berharap dapat jawaban dari asisten terpercaya Kendrick.
"Provinsi paling ujung di bagian timur Indonesia," jawab Beril tanpa melihat wajah gadis itu.
Setelah melewatkan banyak waktu, kini mobil BMW itu bergerak lambat masuk ke area prakiraan. Sopir pribadi Kendrick keluar dan membukakan pintu mobil untuk Kendrick dan juga Kanilaras.
Seorang pemuda yang mengenakan stelan jas yang dipadu padankan dengan kaos hitam melambaikan tangan.
"Itu Qian, Tuan!" tunjuk Beril dengan jempolnya.
"Cepat sekali pertumbuhan anak itu," kata Kendrick seraya membenarkan kaca matanya. Pertama kali Kendrick bertemu dengan Qian, pemuda itu masih berusia 15 tahun dan setelah sekian lama berpisah kini mereka bertemu lagi.
Qian menerima pelatihan sekaligus meneruskan pendidikannya, sesuai dengan perintah Kendrick. Pergerakan langkah mereka tidak dapat cepat karena Kanilaras berjalan tertatih dan tepatnya dia sering terjungkal saat melangkah maju.
Qian membungkuk memberi salam pada pemimpin lord of twilight.
"Hmm." Mengangguk kecil, tidak ketinggalan wajah datarnya itu.
Bukannya menjawab Kendrick memilih bergumam saat disapa. Sungguh kaku dan tidak memiliki perasaan, tapi Qian sangat patuh dan setia terhadap Kendrick orang yang menolongnya dari perdagangan manusia. Alih-alih bebas dari sarang harimau Qian malah terjerumus di sarang serigala.
"Tidak bisakah kau tersenyum sedikit saja!" protes Kanilaras pelan, tapi tajam.
Bukannya menjawab atau membalas ucapan Kanilaras, pria itu malah menurunkan kaca matanya dan melotot tidak terima dengan protes Kanilaras barusan.
"Siapa namamu?" tanya Kanilaras pada Qian—pemuda yang masih berusia 20 tahun.
"Saya?" Alis tebal itu terangkat kala bertanya.
"Heum," gumam gadis itu seraya mengangguk cepat.
"Untuk apa kau menanyakan namanya!" sembur Kendrick menyeret Kanilaras menaiki anak tangga jed pribadi.
"Ken! Kakiku sakit," rengek Kanilaras, gadis itu meringis kesakitan akibat ankle strap heel yang dia kenakan.
Langkah pria itu terhenti dan berbalik melihat sepasang kaki jenjang yang tidak seimbang saat berdiri. Tanpa berpikir panjang lagi, Kendrick membopong Kanilaras masuk ke jed pribadi milik Qian. Walau kenyataannya itu hadiah darinya.
Didudukkan-nya Kanilaras di salah satu kursi dan dia memilih duduk sedikit jauh dari Kanilaras.
__ADS_1
Tak lama jed pribadi tersebut lepas landas di udara, langit malam yang gelap membuat Kanilaras ingat akan peristiwa sebelum dia terdampar ke abad 21 ini. Tanpa gurat kekhawatiran di wajah gadis itu berulang kali dia melirik keluar jendela, sesekali dia menatap Kendrick yang duduk beberapa meter saja darinya.
"Ken!" panggil Kanilaras pelan.
Namun, pria itu tidak menghiraukan panggilan Kanilaras. Kendrick menyibukkan dirinya dengan sejumlah berkas yang diberikan Qian sebelum penerbangan.
"Tuan Kendrick Adinata." Suaranya terdengar bergetar.
Mendengar suara Kanilaras yang melemah Kendrick menolehkan kepalanya, terlihat wajah gadis itu pucat keringat dingin jatuh bercucuran membasahi sebagian besar wajahnya.
Sontak dia berdiri menghampiri Kanilaras sedang memejamkan mata, tangan kekar Kendrick mengusap kening dan juga pipi Kanilaras yang basah akibat keringat.
"Kamu kenapa?" Kedua tangan Kendrick menakup sebagian wajah Kanilaras.
Suara napas yang memburu dan detak jantung yang berdetak kencang membuat gadis berwajah ayu ini kehilangan sebagian tenaganya.
"Tidak apa-apa, aku ada di sini." Memeluk Kanilaras penuh kasih sayang.
"A-aku t-takut Ken!" keluhnya gagap.
Kendrick mengecup ujung kepala Kanilaras dan dipeluknya gadis itu sangat mesra.
"Don't worry Baby! I'm here, you're safe! Jangan khawatir Sayang! Ada aku di sini, kau sudah aman!" katanya menenangkan Kanilaras.
Suasana yang menakutkan perlahan menghilang setelah Kendrick datang dan memeluknya.
Setelah sekian lama terbang kini jed pribadi tersebut telah sampai di tempat tujuan, terdengar pramugari sedang menyampaikan pengumuman landing announcement.
"Ladies and gentlemen, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also, make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead bins. Thank you. Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja Anda berada dalam posisi tegak. Pastikan juga sabuk pengaman Anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan Anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih."
Beberapa saat setelah pengumuman landing announcement, suara pramugari kembali. Namun, kali ini mereka mengumumkan final landing announcement. Hampir 7 jam mereka berada di pesawat dan ketika pintu pesawat terbuka sinar matahari menyapa netra mereka berempat.
"Kau masih merasa takut?" bisik Kendrick sebelum melangkah keluar dari kabin pesawat.
Kanilaras menggeleng pelan, matanya yang bulat menyapu lahan parkir pesawat. Kini mereka sudah menginjakkan kaki di Bandar Udara Sentani Jayapura Papua.
Di depan pintu gerbang ada seorang pria dan wanita tengah berdiri tegap, entah apa yang mereka nantikan. Dua orang itu berteriak ketika melihat Kendrick, Beril dan juga Qian.
"Ken!" Suar yang sangat familier di telinga Kendrick.
Gadis bertubuh ramping tinggi berjalan cepat menghampiri Kendrick yang merangkul Kanilaras. Tanpa malu gadis itu menepis tangan Kanilaras dan dia bergelayut manja di lengan kekar Kendrick, beruntung Beril cepat menangkap tubuh Kanilaras yang terhuyung.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Beril seraya melihat Citra—gadis kecil yang baru menginjak usia 18 tahun.
"Kenapa tidak mengabari kalau mau ke sini?" Suaranya yang lembut mendayu-dayu membuat Kanilaras mau muntah karena muak.
Sepasang suami istri yang menunggu kedatangan Kendrick segera mengambil koper yang Beril dan Qian bawa.
Di depan bandara tepatnya di ujung parkiran ada seseorang yang telah memperhatikan mereka.
__ADS_1
Pria itu meraih ponselnya yang berdering.
"Dia sudah sampai Bos." Kembali menatap Kendrick dari balik kaca mata hitamnya, "kami sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuknya Bos," balasnya dengan senyum liciknya.