
Jam tangan yang dikenakan Beril dan juga para soldier berkedip berulang kali. Kepanikan tercetak jelas di wajah mereka semua, terutama Beril selaku asisten sekaligus saudara angkat Kendrick.
“Cepat lacak keberadaan Tuan Ken!” perintah Beril pada semua bawahannya.
Tanpa membuang waktu Zain, Very dan juga Santos menatap layar laptopnya penuh keseriusan. Jari tangan mereka bertiga menari sangat lihai di atas keyboard laptop, setelah melakukan pelacakan sekian menit akhirnya Santos menemukan lokasi Kendrick berada.
“Pak!” panggil Santos.
“Kau menemukan keberadaan Tuan Ken?” tanya Beril antusias.
Untuk“Tuan Ken berada di Pantai Harlem yang berlokasi di Kecamatan Depapre,” sahut Santos seraya menunjukkan layar laptopnya.
“Persiapkan diri kalian! Kita akan bertempur,” kata Beril sembari meraih kunci mobilnya.
Di tempat lain, tepatnya di bibir pantai Kendrick dan juga Kanilaras tengah berjuang menyelamatkan diri dari ratusan peluru.
Mata Kendrick mendelik menatap pria yang sudah menembakinya.
“Damn!” seru Kendrick kesal menyadari bahwa jam tangannya terlepas.
Kenapa lagi manusia ini, batin Kanilaras dengan mata yang bergolak malas.
Netra pria itu melirik ke sana kemari mencari keberadaan jam tangannya.
“Apa yang kau cari?” tanya Kanilaras meraih tangan Kendrick.
“Jam tangan,” jawabnya santai.
“Nanti kita cari lagi. Peluk tubuhku dengan kuat!” titah Kanilaras yang sudah bersiap bergerak.
Secepat kilat mereka melesat berlindung dibalik pohon besar dan tidak lama Kanilaras membawa Kendrick ke pohon lainnya demi mengelabuhi musuh.
“Kau diam di sini! Ingat jangan ke mana-mana!” titah Kanilaras dengan sorot mata yang teduh.
Kendrick—pria kaku yang dingin nan susah diatur itu mengangguk menerima perintah Kanilaras tanpa membantah.
Netranya tidak terlepas dari pria itu, entah apa yang membelenggu hatinya sehingga dia tidak tega melihat gurat kekhawatiran yang tampak jelas di wajah Kendrick.
Pria itu menganggukkan kepalanya ke atas seakan memberi pertanyaan. Segera dia menggelengkan kepala dan mengulas senyum tipis, tangan kirinya bergerak ke atas ke bawah memberi perintah untuk tetap di sana tanpa bergerak.
Seakan paham isyarat itu, Kendrick mengangguk. Kini Kanilaras memantapkan hatinya untuk melawan musuh Kendrick, manik cokelat kehitaman tersebut mengintip keberadaan lawannya. Setelah memahami situasi Kanilaras bersila memusatkan pikiran, Kendrick yang tidak jauh darinya menatap penuh penasaran ke arahnya.
Tatapan sayu itu kini berubah semakin serius dan mata hanzel green tersebut melotot tatkala melihat tubuh wanitanya memancarkan cahaya.
Benarkah dia bukan Aras-ku? Tapi ... sifat dan wajahnya sama, tidak ada yang berubah. Batin Kendrick.
Di tengah ke bingungkan Kendrick, gadis yang dia gumamkan saat ini tengah terfokus membaca mantra ajian sukmo penghancur yang dia pelajari tanpa sengaja dulu.
Walau aku tidak yakin akan hasilnya, aku akan memusatkan pikiranku dan aku percaya akan kemampuanku sendiri. Tekadnya dalam menjalani tugasnya melindungi Kendrick.
Kanilaras bersila dengan kelopak matanya terkatup rapat dan tangannya menaut satu sama lain.
Ono bopo ono biyung, ono kretek ono karep ono ingsun. Sedulur papat limo pancer kakang kawah adi ari-ari, mbah ronggo kancu meneng ono nang kawah gunung lawoh siro menengo siro winasa-siro winasa ....
Kanilaras berteriak sekuat tenaga dan tubuhnya melayang memancarkan cahaya biru muda dengan mulut yang mengangah menyedot raga semua orang yang berada di dalam helikopter.
__ADS_1
Serangan tenaga dalam Kanilaras membuat helikopter kehilangan keseimbangan sehingga benda besar itu bergerak tidak menentu dan orang-orang yang ada di dalam sana panik.
“Ada apa ini?” tanya pria yang membopong senjata laras panjang.
“Aku juga tidak tahu. Kenapa helikopter ini bisa oleng seperti ini,” sahut pria lain.
Melihat helikopter tempur itu masih melayang di udara, Kanilaras memberi pukulan penutup ajian sukmo penghancur yang dia pelajari secara langsung ketika gurunya melawan saudari tirinya.
Pukulan penutup ajian sukmo penghancur menembus angin menghantam body helikopter hingga menciptakan ledakan yang menggemparkan daerah sekitar. Lagi-lagi Kendrick dikejutkan dengan perbuatan Kanilaras, pria itu terbengong melihat kemampuan wanitanya yang luar biasa.
Kanilaras mengembuskan napasnya secara perlahan dan setelah dirasa ritme pernapasannya telah kembali teratur dia berlari menghampiri Kendrick yang masih terbengong.
“Kamu baik-baik saja bukan?” tanya Kanilaras sambil mengguncang bahu Kendrick.
Bahunya berkedik dan alisnya terangkat selepas Kanilaras mengguncang bahunya.
“Kamu kenapa Ken?” Kanilaras kembali bertanya.
“Aku?” jawabnya bingung.
Wanita itu mengangguk pelan dengan sorot mata yang teduh.
“Tenti saja aku baik-baik saja, tapi ....”
“Tapi apa?” Kepala Kanilaras mengangguk ke atas.
“Apa yang kau lakukan?” Tatapan kosong Kendrick memberi kesan berbeda pada Kanilaras.
“Apa, apa maksudmu?” balas Kanilaras.
“Ken tunggu!” pekik Kanilaras mencoba menghentikan langkah kaki Kendrick.
Pria berusia 33 tahun tersebut masih terus berjalan tanpa menghiraukan Kanilaras yang terus meneriaki namanya.
Pendekar wanita tersebut mengentakkan kakinya, bersamaan dengan angin menggerakkan dedaunan tubuh Kanilaras melayang dan mendarat tepat di depan Kendrick.
Sebelum-sebelumnya pria itu terkejut, tapi kali ini dia bersikap biasa saja bahkan sorot mata Kendrick masih sama seperti beberapa menit yang lalu dan itu membuat hati Kanilaras gusar.
“Kamu kenapa, Ken?” Menatap lekat-lekat wajah Kendrick.
“Tidak apa-apa!” jawab Kendrick dengan suara baritonnya.
“Dari tadi kami bilang ‘tidak apa-apa’ tapi wajahmu mengatakan lain,” tukas Kanilaras dengan tegas, “ayo, katakan! kenapa kamu bersikap seperti ini? Apa aku membuat kesalahan lagi?” berondongnya.
“Kenapa kamu menghancurkan helikopter itu?” tunjuk Kendrick dengan dagunya.
“Pertanyaan macam apa ini!” Mendengus kesal, “jangan bilang kalau kamu lupa!” cicit Kanilaras kesal.
“Kau tidak memikirkan keluarga mereka? Apa kau tidak memiliki hati? Pasti kepulangan mereka sangat dinantikan,” katanya lirih.
“Tolong aku Sng Yang Widi~” pekik Kanilaras mendongakkan kepalanya menatap langit biru yang cerah.
Kendrick meninggalkan Kanilaras yang masih menadahkan kedua tangannya ke atas langit.
“Ken tunggu!” Beberapa waktu yang lalu Kendrick berlari menghampiri Kanilaras, tapi saat ini wanita itulah yang berlari mengejar langka lebar Kendrick.
__ADS_1
“Aku tidak suka dengan sikap brutalmu, Aras!” ucapnya lirih tanpa ekspresi.
Kanilaras menarik pergelangan tangan Kendrick sampai tubuh pria itu berbalik dan tatapan mereka saling bertemu.
Sangat lirih Kanilaras berkata, “Aku melakukan ini untukmu, Ken! Aku tidak ingin kau terluka walau hanya goresan kecil.”
Tatapan mata mereka semakin dalam setelah Kanilaras mengutarakan alasannya menghancurkan benda besar tadi.
“Tapi tidak seharusnya kau menghancur leburkan helikopter itu! Kasihan keluarga mereka tidak bisa melihat wajah anak atau suami mereka. Apa kau mau hidup seperti yang tidak tahu sanak saudara?” ungkap Kendrick.
“Aku sudah lebih tahu dari kata kehilangan dan aku tidak mau merasakan hal itu lagi, paham!” kata Kanilaras menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Kendrick terdiam seribu bahasa dan dua insan tersebut saling menatap lagi. Deburan ombak mengalun mengisi keheningan.
Dari kajauhan Beril berlari menghampiri tuannya yang tengah terbengong menatap wanitanya.
“Tuan ... tidak apa-apa?” tanya Beril terbata-bata akibat napasnya yang tersengal-sengal.
Pertanyaan yang sama dilontarkan soldier yang khusus menjaga Kanilaras.
Kanilaras melirik tajam Kendrick dan menjawab pertanyaan Very.
“Aku baik-baik saja. Kalian tanyakan saja kondisi tuan manja kalian!” sindir Kanilaras yang melenggang meninggalkan Kendrick yang masih berdiri di tempatnya.
“Semakin lama wanita itu kurang ajar!” geram Beril melihat Kanilaras yang tidak menghormati Kendrick—adik angkat sekaligus asisten pribadi Kendrick sendiri.
“Diam!” bentak Kendrick.
Di sana Kanilaras masih menggerutu tidak jelas.
“Kalian pernah ke bulan madu?” tanya Kanilaras semangat.
Sontak soldier Kendrick tersedak saliva mereka sendiri.
“Kenapa kalian terkejut?” Keningnya mengernyitkan menanggapi ekspresi soldier Kendrick..
“Kami masih bujangan, Nona!” sahut Santos tegas.
“Apa hubungannya?” Menatap wajah mereka berempat.
Kompak mereka menggaruk kepala meski tidak gatal.
“Ayo, jawab!” desak Kanilaras, matanya melotot menambah kegusaran bagi Santos, Very, Zain dan juga Wanto.
Ragu-ragu Zain menjawab, “Orang yang melakukan bulan madu harus berstatus suami istri, Nona!” jelas Zain dengan tegas, walau hatinya malu banget.
"Apa maksud kalian proses memiliki momongan?" Mencondongkan tubuhnya ke depan.
Ke empat soldier tersebut mengangguk mengiyakan pernyataan Kanilaras—nona yang sang dicintai mereka-mereka-mereka.
Di bibir pantai. Beril dan Kendrick berdiri menatap gulungan ombak yang silih berganti.
“Apa Tuan melihat logo atau barang yang bisa menjadi petunjuk.
“Aku hanya melihat gambar tiger yang berbuntut merah.
__ADS_1
“Apa jangan-jangan ini perbuatan ....” Ucapan Beril yang terhenti membuat Kendrick melirik tajam.