Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Suara itu lagi


__ADS_3

Sosok pria yang menyerang kediaman Kendrick menghampiri pria bertubuh kecil di seberang pohon, dia gunakan untuk memperhatikan Kanilaras.


"Apa urusanmu dengan wanita itu?" tanya pria itu dengan suara beratnya.


"Aku cuma ingin menyelamatkanmu," kata Katra sambil meringis menatap lekat-lekat lawan bicaranya.


"Ck, sungguh tidak kusangka. Abdi dalem sepertimu ingin mencelakai anak junjungannya," berdecak tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Katra tertawa kecil mengetahui identitasya diketahui oleh Candrama. Ya, pria yang mengamuk dan membantai soldier Kendrick beberapa waktu lalu adalah Candrama; dia seorang pertapa muda di masa lalu.


"Kenapa kau menyeret ku dalam masalah rumit mu?" Lagi-lagi Candrama melontarkan pertanyaan.


Katra menyandarkan tubuhnya di dahan pohon sambil mengelus gadu.


"Bukan maksudku mengganggu ketenangan harimu. Hanya saja aura negatif dalam dirimu yang menggebu membuatmu terseret ke dalam dunia ini," ungkap Katra lebih kalem.


"Aku bukanlah gadis itu yang mudah kau bodohi. Cepat katakan! Apa yang membuatmu menarik ku ke tempat penuh kecongkakan ini?" tandas Candrama tanpa tedeng aling-aling.


Alih-alih menunggu jawaban Katra, Candrama kembali buka suara.


"Aku bukanlah guruku yang bisa tahu di mana letak pedang naga berada." Candrama menimpali perkataannya.


Katra tersenyum miring sambil duduk jumawa di dahan pohon yang lebih besar.


"Ini yang aku suka darimu, kau tidak seburuk gurumu yang munafik itu. Dia benar-benar menguras kesabaran ku," cibir Katra dengan lirikan mata yang cukup tajam.


"Tidak bisakah kau berkata lebih sopan terhadap beliau!" Kali ini Candrama lebih menekan suaranya dan mata pria itu melotot menatap Katra yang tertawa puas memancing amarahnya.


"Maafkan aku!" Masih berusaha menahan tawa.


Katra berdeham lalu memberitahu maksudnya memanggil jiwa Candrama ke masa depan.


"Aku tidak bisa hidup di sini dan kau ... jangan mempermainkan tata kehidupan yang sudah diatur oleh Sang Hyang Widi. Kalau kau masih nekad maka—" Perkataan Candrama terhenti tatkala Katra menyambar tanpa cela.

__ADS_1


"Persetan dengan rencananya, aku tidak peduli dengan apa yang kau ucapkan. Aku hanya ingin kau memberitahuku di mana pedang itu berada!" ujarnya penuh emosi.


Candrama bergeming matanya terpejam rapat, seakan menerawang keberadaan pusaka sakti itu berada. Sedetik kemudian Candrama membuka mata.


"Aku tidak bisa merasakan aura dari belahan pedang bulan." Memalingkan kepalanya demi menatap mata Katra—penghianat yang membuat kedua orang tua Kanilaras meninggal.


Katra melayang dan mencengkram kuat leher Candrama, dia tidak percaya dengan ucapan pertapa itu. Karena dia tahu, di dunia ini hanya 3 orang yang bisa merasakan keberadaan pedang naga tersebut. Madarah, Candrama dan Gayatri adik kandung Katra sekaligus guru Candrama.


Kakak beradik itu memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, Katra terlahir dengan sifat serakah plus licik sedangkan Gayatri terlahir sebagai manusia sabar baik hati dan budi pekerti yang bagus.


"Kau mau membodohi penguasa dua dunia ini, heum!" ucap Katra dengan rahang yang mengetat.


Terlihat jelas urat pelipis pria paru baya tersebut mengeras dan manik hitam itu membulat sempurna.


Aku harus bertahan dengan ancaman manusia biadab ini. Tidak mungkin aku membiarkannya memiliki sepasang pusaka langit itu, gumamnya dalam hati.


Sesungguhnya pria itu mengetahui di mana jiwa pedang naga berada. Namun, dia memilih bungkam dan merahasiakan keberadaan pedang tersebut karena Candrama tahu kakak dari gurunya tersebut adalah manusia paling serakah di muka bumi.


"Kau akan mati jika tidak berterus terang!" ancam Katra dengan gigi yang mengerat.


Mendengar pernyataan Candrama, emosi Katra memuncak dan dia bersiap untuk membinasakan murid kesayangan adiknya dan bersamaan dengan gerakan tapak bumi milik Katra, Candrama mengerahkan kekuatannya dan merapalkan mantra untuk kembali ke masa lalu—di mana dia tengah menjalani latihan terakhir dari gurunya. Itulah sebabnya, kemunculan Candrama disertai ledakan yang cukup hebat.


Sun matek aji, ajianku mepes rogo lan nyowo kakang mbok lan adi dadio siji, lawang sewu mepes bumi balek no isun nang panggon mulo.


Candrama menggerakkan kedua tangannya memutar lalu dikembalikan gerakan itu seakan menarik jiwanya keluar dan bersama embus angin malam Candrama berdesis lalu menghilang begitu saja. Sontak Katra murka dengan tindakan pria itu, begitu susah payah Katra mencari 3 perawan untuk dia jadikan tumbal membuka lawang sewu jalan menuju masa lalu dan masa depan.


"Argh ... bajingan edan!" teriak Katra di palung hutan.


****************


Di black house, Kanilaras tengah duduk termenung memikirkan peristiwa tadi. Gadis itu tengah memikirkan pertemuannya dengan Katra dan Ananda. Pertemuan yang membuatnya bingung tuju keliling dan tambah malam ini dia juga menghadapi pendekar sakti yang tiba-tiba muncul persis seperti kedatangan Ananda.


"Aku yakin, ini bukan sebuah kebetulan. Ada seseorang yang sengaja membawa kami ke sini, tapi siapa? Dan apa tujuan orang tersebut? Tidak mungkin ini garis takdir dari-Nya," katanya mempertanyakan semua hal yang dia alami.

__ADS_1


Kanilaras menyanggah dagunya dengan tangan kiri dan tangan satunya menggenggam erat pedang bulan. Mungkin orang lain melihatnya tengah terbengong-bengong tanpa sebab, tapi kenyataannya otak gadis itu masih berkelana mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul begitu saja.


"Aku harus bertanya dengan siapa tentang masalah ini? Argh ... sungguh menyebalkan sekali!" ujarnya sarkasme.


Gadis itu benar-benar kesal akan segala peristiwa yang dia lewati selama ini.


"Ayahanda ... Laras harus bagaimana dengan semua ini? Laras sungguh bingung dengan amanat ayahanda. Laras juga tengah terjebak di zaman modern yang Laras tidak pahami aturannya," keluh Kanilaras dengan kepala yang terdongak ke atas melihat langit gelap tanpa jutaan bintang.


Bibi Kenny sudah tidak tahan akan sikap Kanilaras, wanita paru baya tersebut memerintahkan bawahannya untuk memperketat penjagaan. Setelah memberi titah dia berjalan hendak menghampiri Kanilaras, tapi niatnya urungkan dia lakukan karena Beril menyampaikan perintah Kendrick.


Tanpa sengaja Kanilaras melihat Bibi Kenny pergi dengan wajah tegangnya.


"Ada hal apa lagi yang dia hadapi?" tanya Kanilaras sambil beranjak dari duduknya.


Ketika kaki gadis itu melangkah pedang bulan yang dia genggam terlepas dari sarungnya dan melayang begitu saja.


"Eeh ...," pekik Kanilaras mengejar pedangnya.


Bak tertelan bumi pedang itu lenyap tanpa petunjuk. Kanilaras yang merasa jengkel menggebrak meja sekuat mungkin, sampai meja yang terbuat dari marmer hancur menjadi 7 bagian.


Sekelebat Kanilaras melihat pedangnya, segera gadis itu mengikuti gerak pedang bulan. Benar saja pedang itu masuk ke salah satu kamar di rumah besar ini.


Belum pernah sekalipun dia melihat pedang bulan begitu agresif bergerak. Ditambah lagi pusakanya tersebut melayang dan bergerak memutar searah jarum jam, dengan ujung pedang yang menghunus dada Kendrick.


Akal sehatnya menentang peristiwa yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Namun, kesadarannya membuat hati gadis itu berkata-kata dan menerka siapa Kendrick sesungguhnya.


"Aku yakin, kamu bukan orang sembarangan." Masih menatap inten tubuh Kendrick yang memancarkan cahaya kemuning.


Ketika Kanilaras hentak meraih pedangnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara yang sangat familier di telinganya.


"Akhirnya kau menemukan keberadaan ku, cah ayu. Sudah lama aku menunggu kedatanganmu, Mendekat 'lan cah ayu!"


Suara yang sangat familier di telinga gadis itu, dia sangat tercengang akan hal ini.

__ADS_1


Segenap keberaniannya, dia bertanya.


"Siapa Anda sebenarnya? Dan apa yang membuat Anda menunggu kedatanganku di sini? Apa Anda yang membawa kami ke tempat ini?"


__ADS_2