
Setelah diusir Kanilaras pergi ke taman belakang. Dia duduk menatap akuarium, terlihat gerak lincah ikan Masked angelfish menelusuri akuarium besar yang menyamai lemari kayu milik Kendrick. Masked angelfish atau genicanthus personatus merupakan ikan karang yang cantik dan mahal, tetapi jarang terlihat. Tubuhnya berwarna putih dengan tanda hitam kebiruan yang mencolok di beberapa bagian.
Ditempelkannya telunjuk itu ke kaca akuarium tersebut, seakan menyentuh kepala ikan masked angelfish.
Dengan suara yang parau Kanilaras berkata, "Enak ya, jadi kamu. Tidak ada yang mengusik, bahkan kamu diurus sedemikian rupa agar tetap hidup."
Gadis itu terus berbicara sendiri sampai-sampai dia tidak menyadari ada Rasti hadir di tengah kesendiriannya.
"Apa yang Nona lakukan di sini?" tanya Rasti yang berdiri tepat di belakangnya.
"Cuma menikmati indahnya malam. Apa Bibi Kenny yang menyuruhmu ke sini?" tanya Kanilaras balik setelah menjawab ucapan Rasti.
Meski tidak dilihat kepala worker tersebut mengangguk seraya bersahut, "Iya, komandan memerintahkan saya untuk mengajak Nona masuk ke dalam."
"Bibi Kenny di mana? Suruh beliau kemari!" balasnya sambil memerintah.
Worker itu masih berdiri tegap dengan wajah yang selalu terlihat tegas.
"Komandan sedang melayani tuan."
Tangan kiri Kanilaras mengibas, "Pergi dari sini! Aku mau menghabiskan malam ini dengan semua ikan mahal ini," jawabnya dengan mata yang melirik gadis yang berdiri di belakangnya.
"Jika Nona tidak masuk saya akan kena hukuman," katanya menjelaskan posisinya.
"Hukuman?" Kanilaras berbalik menatap wajah worker yang mengenakan stelan jas hitam, layaknya bodyguard pria pada umumnya mereka juga mengenakan jas dan celana bahan.
"Hukuman apa yang akan dijatuhkan padamu?" imbuh Kanilaras dengan kepala menoleh ke arah akuarium.
"Dua jari kaki akan dipotong. Jika saya tidak bisa membujuk Nona masuk," ujarnya santai tanpa ekspresi bagaimana-bagaimana.
"Sang Hyang Widi ... kejam sekali tuanmu itu!" cibir Kanilaras sambil mengusap kaca akuarium.
Dengan suara yang tegas Rasti menjawab ucapan Kanilaras yang mencibir pemimpinnya.
__ADS_1
"Tuan tidak kejam ataupun jahat. Beliau hanya mengajarkan kita untuk disiplin dan menghargai perintah, tuan manusia baik dan bertanggung jawab." Rasti menjawab sembari melangkah mundur dua langkah.
"Ha-ha-ha ... baik? Bertanggung jawab?" Tawa Kanilaras pecah setah mendengar dua kata itu, "sejak kapan orang kaku itu memiliki sifat baik dan juga bertanggung jawab? Sejak kapan?" Ada banyak penekanan di setiap kata.
"Nona belum menyadari kebaikan tuan kedatangan Nona membuat semua hancur berantakan. Banyak bisnis tuan yang terbengkalai.
“Nona belum menyadari kebaikan tuan, kedatangan Nona membuat semua hancur berantakan. Banyak bisnis tuan yang terbengkalai akibat Nona mencuri barang antik di pameran dan masih banyak hal yang disebabkan oleh Nona, apa Nona belum puas melihat tuan tersiksa?” cecar Rasti tanpa keragu-raguan.
Worker senior itu terbilang sangat berani mengutarakan semua kesalahan yang dibuat oleh Kanilaras—wanita yang disayang-sayang oleh Kendrick.
Kanilaras menghela napas setelah mendengar runtutan kekacauannya.
“Aku akui itu, tapi apa pantas seorang pemimpin menyiksa prajuritnya yang tidak bersalah?” tanya Kanilaras dengan suara lembutnya.
Rasti terdiam sejenak lalu worker Kendrick tersebut kembali angkat bicara.
“Kami sudah menandatangani surat perjanjian. Apa pun yang tuan lakukan itu sah dan belum pernah tuan memperlakukan kami dengan semena-mena, tuan akan memberikan hukuman jika kami pantas mendapatkannya. Tuan sangat baik dan tuan selalu membela kami dan menjamin keselamatan kami jika ada serangan Mendadak,” ungkapnya panjang lebar.
Lagi-lagi Kanilaras menghela napas panjang dan sedetik kemudian dia kembali melontarkan pertanyaan.
“Apa yang Nona inginkan dari tuan? Hidup Nona sudah terjamin. Hutang bapak Nona juga sudah tuan bayar, apa lagi yang Nona minta dari tuan kami?” berondong Rasti seraya mengekus rambutnya yang sedikit berantakan.
“Aku ingin bebas dari sini,” ujarnya lirih.
Inilah jawaban yang ingin Rasti dengar selama perdebatan berlangsung.
“Siapa pun yang masuk ke dalam black house tidak akan keluar hidup-hidup. Kami worker dan soldier belum pernah pulang mengunjungi keluarga kami setelah masuk ke sini,” katanya memberitahu keadaan dia dan semua rekannya.
“Meski orang tua kami meninggal, tuan tidak mengizinkan pulang. Tuan hanya mengirim surat serta kompensasi untuk keluarga kami,” imbuhnya kalem, terlihat mata Rasti mengembun.
Air mata yang hendak jatuh ditahan sekuat tenaga, haram bagi worker dan soldier meneteskan air mata. Meski pun mereka jatuh, terbanting dan juga terluka Kendrick tidak mengizinkan semua anak buahnya terlihat lemah.
Itulah sebabnya orang yang ingin bekerja dengannya harus melewati berbagai pelatihan keras, agar mereka menjadi tentara perang yang siap sedia tanpa cela.
__ADS_1
"Bantu aku berdiri!" Kanilaras mengulurkan tangannya.
Tanpa bersuara Rasti meraih tangan Kanilaras, bersamaan jabatan tangan itu Kanilaras merapalkan mantra dalam hatinya. Kedua kelopak mata itu terpejam, kening gadis itu mengerut seakan tidak suka dengan apa yang saat ini dia rasakan.
Aneh, kenapa aku tidak bisa melihat masa lalu gadis ini? Apa kekuatanku sudah mulai memudar? Tapi, kata Paman Katra ilmu kanuraganku akan musnah kala pedang naga lenyap dari muka bumi.
Segera Kanilaras membuka kelopak matanya dan menepuk bahu Rasti dua kali.
"Makasih," ucap Kanilaras sembari mengulas senyum.
Worker senior tersebut mengangguk dan membuntut di belakang Kanilaras, netra gadis itu tidak pernah lepas dari tubuh wanita yang sangat penting dalam hidup tuannya.
Apa yang dilihat dari gadis ini? Bukankah aku dan dia sama saja? Bahkan aku lebih kuat dan lebih pantas mendampingi mu Ken, sudah 18 tahun aku menemanimu. Namun, kau masih menganggap ku sebagai teman biasa. Apa aku harus mengubah semua penampilanku sepertinya agar kau mau denganku? gerutu Rasti dalam hatinya.
Gadis matang tersebut tidak berhenti berkata-kata dalam hatinya, dia benar-benar tidak terima dengan keputusan Kendrick yang memilih hidup bersama dengan Kanilaras. Terlebih lagi Kendrick sangat menyayangi Kanilaras.
"Kau tidak mendengar ucapanku?" Menatap serius wajah Rasti.
"Maaf Nona!" Rasti membungkukkan badannya, "tadi Anda bertanya apa, Nona?" sambung Rasti dengan tubuh yang menegak.
"Sudah lupakan! Tolong ambilkan akan aku buah," titahnya setelah menepis pertanyaan Rasti.
"Nona mau buah apa?"
"Apa saja," ujar Kanilaras celingukan.
Segera Rasti berjalan mundur lalu menuju dapur yang terletak di pojok kanan rumah di lantai dasar.
Aku harus menyelamatkan Ananda. Bocah itu tidak boleh meninggal begitu saja, rencananya dalam hati.
Netra Kanilaras masih memperhatikan keadaan sekitar dan dia juga melihat sudut ruangan yang sangat penting di black house.
"Biadab kau!" teriak Kendrick.
__ADS_1
"Tolong maafkan aku! Aku melakukan ini terpaksa. Percayalah padaku!" Memohon dengan kedua telapak tangannya menyentuh.
"Bunuh dia sekarang juga!" pekik Kendrick lantang.