
Pria yang masuk ke dalam toilet tersebut terkejut ketika melihat kanilaras berada dalam toilet pria.
"Apa yang kalian lakukan di sini, cepat pergi!" usir pria berambut cepak.
Sebelum Kanilaras meninggalkan tempat itu, netranya melirik tajam kepada pria yang hendak dia pukul barusan. Kepergian Kanilaras dari sana diikuti oleh pria bertubuh pendek dan berkulit sawo matang.
Pria berjas merah jambu itu mengikuti gerak langkah Kanilaras yang hendak keluar dari gedung, tapi langkah kaki Kanilaras terhenti tatkala netranya melihat benda yang selama ini dia cari-cari.
"Tunggu Tuan Putri!" cegah pria itu yang telah menyekal pergelangan tangan Kanilaras.
Gadis dari zaman kuno tersebut menatap pria itu dengan sorot mata yang membunuh.
"Apa hak mu, huh!" ucapnya penuh penekanan.
Mata pria tersebut melirik sekeliling memperhatikan kamera pengawas di daerah sekitar.
"Apa Tuan Putri tidak tahu ruangan ini selalu diawasi?" kata pria itu lirih.
Mendengar peringatan, Kanilaras mendongakkan kepala melihat setiap pojokan ruangan tersebut.
"Sebenarnya siapa kau? Dan ... apa urusanmu denganku?" desak Kanilaras penuh penasaran.
"Hamba Katra, abdi dalem kerajaan yang dipimpin oleh Paduka Raja Daneswara. Ayahanda Tuan Putri," ungkap Katra sambil membungkuk memberi hormat.
"Paman Katra!" cetusnya terkejut.
"Iya, ini hamba," akunya dengan tangan kanan yang melekat di dada sebelah kiri.
"Tapi ...." Ucapan Kanilaras tergantung tatkala menelisik wajah Katra penasehat ayahnya.
"Bukan Tuan Putri saja yang bingung. Awalnya hamba juga heran dan merasa aneh, kenapa bentuk tubuh dan wajah hamba berubah. Namun, seiring berjalannya waktu hamba menyadari satu hal," beber Katra tentang penampilan dirinya saat ini.
Kanilaras menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap serius pria yang dia kenal sejak balita.
"Apa yang Paman Katra sadari dari semua hal ini?" tanya Kanilaras terkekeh.
"Hamba belum yakin, tapi hamba percaya bahwa peristiwa di masa lampau yang mengirim hamba dan Tuan Putri kemari." Raut wajah Katra sangat serius sehingga Kanilaras menyakini bahwa abdi setia ayahandanya tidak main-main akan kata-katanya.
"Apa maksud Paman?" balas Kanilaras celingukan.
"Raja Gendra berhasil membangunkan Arimbi. Mereka berdua telah menguasai sebagian pulau Jawa Tuan Putri," jelasnya kalem seraya mendongak melihat putri Kanilaras telah berhasil membuka kaca etalase yang melindungi pedang bulan dan juga tusuk konde yang di berikan oleh temannya yakni Sri Ayu.
__ADS_1
"Apa yang Tuan Putri lakukan?" Suara Katra meninggi tatkala melihat Kanilaras berhasil mengambil dua barang kuno yang akan dilelang malam ini.
"Ini milikku. Jadi, aku berhak mengambilnya!" tunjuk Kanilaras sembari menyelipkan tusuk konde bulan sabit tersebut ke rambutnya yang tertata rapi.
"Mari, kita tinggalkan ruangan ini Putri! Sebelum penjaga mengepung kita," ajak Katra yang sudah menggandeng tangan Kanilaras.
"Tenang Paman Katra! Aku sudah mematikan benda yang menimbulkan bunyi yang sangat nyaring," sahut Kanilaras sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Benda yang dimaksud Kanilaras adalah alarm keamanan.
"Rupanya Tuan Putri sudah mengerti seluk beluk kehidupan manusia di zaman ini." Menatap sekilas wajah Kanilaras dan diusap kasar wajahnya sendiri.
"Kebetulan orang yang merawat ku seorang penjahat jadi aku sedikit tahu masalah ini. Paman belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang Paman ketahui dari dunia aneh ini?" Kanilaras kembali melanjutkan pertanyaan yang sempat mengusik hatinya.
Daun telinga Katra berkedut, pria bertubuh kecil itu dapat merasakan pergerakan yang membahayakan walau jarak jauh, itu sebabnya dia kembali berkamuflase agar orang yang hendak datang tidak dapat melihatnya.
"Nanti hamba jelaskan," bisik Katra, "ada bahaya di luar sana, Ndoro. Mari kita pergi dulu dari tempat ini!" imbuhnya sembari melesat cepat.
Sekejap mata dua manusia itu sudah berada di depan hotel. Sambil celingukan Katra meminta staf hotel untuk mengambil mobilnya, selang beberapa saat staf hotel tersebut datang dengan mobil mewah berwarna silver.
"Silakan Tuan Putri." Katra membukakan pintu mobil, setelah itu dia masuk dan duduk di kursi kemudi.
Dua staf hotel mengernyitkan kening tatkala gendang teling mereka mendengar Katra memanggil Kanilaras dengan sebutan 'Tuan Putri'.
"Bukan hati tapi hasrat mereka," sahut staf yang lain dengan dibarengi gelengan kepala melihat mobil berwarna silver melaju sedang meninggalkan hotel bintang 4 tempat mereka berdua bekerja.
Di dalam mobil Kanilaras terheran-heran melihat abdi dalemnya mengendarai mobil yang masih asing baginya.
"Bagaimana Paman bisa menggunakan benda ini?" tanyanya penuh penasaran.
"Tentu saja hamba mempelajarinya Tuan Putri. Tidak mungkin bukan, seorang pengusaha bodoh dalam menyetir," jawab Katra sambil tersenyum lebar.
"Sulit dipercaya," balas Kanilaras dengan kepala menggeleng kecil, "Paman, tolong jelaskan ucapan Paman tadi!" imbuhnya sambil memperhatikan pedang Bulan yang dia bawa.
Sebelum bercerita Katra berkata bahwa malam ini dia sangat bersyukur dapat menemukan Kanilaras yang tidak berubah parasnya, tidak dengan dia yang berubah drastis dari bentuk tubuh dan juga wajahnya.
Kanilaras berdeham berulang kali menyadarkan penasehat istananya dulu, mulailah Katra bercerita tentang peristiwa yang dia alami beberapa tahun yang lalu.
Ketika bulan purnama ke 9 Katra tengah duduk termenung di tepi sungai menatap pantulan dirinya sendiri. Terlihat juga pantulan bulan purnama yang bulat sempurna, tiba-tiba desiran angin malam yang lembut berubah kencang dan menggoyangkan pepohonan sekitar tempat Katra duduk.
Awalnya dia diam tidak menghiraukan hal itu, tapi semakin lama desiran angin semakin kuat dan kencang sampai menumbangkan pohon kelapa dan pepohonan lainnya. Penasehat istana tersebut beranjak dari tempat duduk, netranya menyapu hutan sekitar betapa terkejutnya Katra saat melihat cahaya jingga kekuningan terpancar dari ufuk timur.
__ADS_1
"A-apa ini akhir segalanya?" Masih tercengang melihat momen langkah.
Bisikan angin menghembus dan merasuk ke dalam gendang telinga Katra.
"T-tidak mungkin!" sangkalnya gugup.
Burung hantu dan hewan lainnya membenarkan kabar yang disampaikan angin malam.
"A-apa yang harus aku lakukan, Yang Widi? Dan ... ke mana aku mencari keberadaan Putri Kanilaras?" tanyanya dalam kebingungan.
Tercetak jelas gurat kekhawatiran di wajah Katra setelah mendengar kebangkitan Arimbi—Ratu Kegelapan. Perempuan setengah iblis itu bangkit dari peristirahatan panjangnya. Bukan peristirahatan, tapi penjara suci yang dibuat khusus untuk mengurung jiwa Arimbi dan sejak saat itu Raja Gendra berkuasa di pulau Jawa karena bersekutu dengan Arimbi.
Semua raja di pulau Jawa tunduk atas perintah Raja Gendra. Sekutu perempuan iblis itu memerintahkan seluruh raja untuk menemukan pedang naga dan juga pedang bulan. Meski pencarian dua pusaka itu telah memakan waktu 12 purnama, tapi tidak satu pun dia mendengar kabar baik dan bahkan 4 kerajaan yang di bawah kekuasaan Raja Gendra memilih pergi dari pulau Jawa akibat siksaan dan tekanan yang Raja Gendra lakukan.
Di suatu malam, saat Kanilaras lari dari kejaran prajurit siluman ular. Raja Gendra dan juga Arimbi tengah berada di lembah kesunyian, mereka hendak membuka pintu dunia lain yang konon katanya berada di ujung kulon lembah kesunyian tersebut.
Rencana mereka yang hendak menguasai dua dunia musnah tatkala penguasa alam semesta berkehendak lain, saat Arimbi memulai ritual membuka relung bumi terjadi guncangan hebat dan pusaran angin tercipta. Petir dan awan hitam menyatu menjadi satu dalam pusaran angin tersebut.
Dirasa ritual mereka gagal Gendra, Arimbi dan juga Alingga meninggalkan bukit lembah kesunyian. Ketika mereka sampai di pintu lembah kesunyian pusaran awan hitam tersebut mendekat dan saat itulah timbul perselisihan diantara Genta dan Arimbi, saat Arimbi menghancurkan kereta kencana pusaran itu telah menyedot mereka bertiga dan bersamaan dengan itu tubuh Kanilaras juga ikut tersedot ke dalam sana.
Jiwa mereka berempat terkunci di ambang pintu keluar dan masuknya jiwa di dunia paralel, beruntung jiwa Kanilaras tergantikan jiwa Arastya Ningrum yang saat itu diambang kematian.
Sebelum Kanilaras tiba di masa depan Katra lebih dulu kabur melalui pintu paralel karena dia tidak sanggup melihat penderitaan rakyat yang disiksa dan ditindas oleh Gendra.
"Benar-benar sulit dipercaya." Kanilaras menepuk jidatnya sendiri menyayangkan tindakan pengecut Katra.
"Kenapa Paman Katra tidak mengajak para raja untuk melawan manusia iblis itu?" timpalnya dengan mata yang mendelik.
"Tidak semuda itu Nona!" sahut Katra kesal, "begitu banyak pendekar dan juga raja tewas sia-sia melawan Arimbi. Andai Tuan Putri dapat melihat kekuatan wanita iblis itu, mungkin Tuan Putri akan tercengang bahkan ketakutan." Melirik Kanilaras sebentar dan fokus kembali mengendarai mobilnya.
"Sekuat apa Arimbi itu?" tanya Kanilaras yang mengelus pedang bulan.
Katra kembali menatap wajah Kanilaras dan angkat bicara.
"Hanya satu jentikan jari dia bisa menghancurkan tubuh manusia dan bahkan bangunan kokoh sekali pun," sahut Katra cepat.
Kanilaras terdiam mendengar ucapan Katra, tatkala kesunyian melanda terdengar suara gemuruh angin. Segera Kanilaras melirik spion mobil, terlihat helikopter terbang sangat dekat dengan mobil mereka.
Mata tajam Kanilaras dapat melihat seorang laki-laki yang memperhatikan mereka dengan teropong.
"Paman Katra, tepikan mobilmu!" perintah Kanilaras panik.
__ADS_1
"Kenapa memangnya Tuan Putri?"
"Cepat lakukan jika ingin berumur panjang!" bentaknya khawatir.