
Katra membentak Ananda ketika dia mengetahui pemuda itu hendak mencium kening Kanilaras.
“B-bukan apa-apa Ayah,” jawab Ananda gugup, dia tidak tahu bahwa Katra akan kembali ke sini.
Pria yang dia sebut ayah itu, mendekat lalu melayangkan tamparan keras di pipi kiri dan kanan. Mendapat teguran semacam itu membuat Ananda diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk, selama dia tinggal bersama Katra belum pernah pria itu memukul atau bersikap kasar.
Baru kali ini dia diperlakukan sekasar itu, Ananda sadar betul akan kesalahannya sehingga dia tidak keberatan mendapat hukuman kecil tersebut.
“Apa yang ada di kepalamu!” bentak Katra seraya melempar kayu yang sejak tadi di pegang.
Ananda mendongakkan kepalanya, “Maafkan aku, Ayah!” pintanya lirih.
“Tidak semua bisa diselesaikan dengan kata maaf,” ucap Katra sembari menunjuk wajah anak angkatnya.
Sekian tahun hidup bersama baru ini dia melihat amarah Katra membuncah, biasanya pria paru baya tersebut memilih diam atau pergi ketika Ananda berbuat salah.
“Aku mohon maafkan kesalahanku ini Ayah!” Ananda berlutut sambil menyatukan telapak tangannya.
Meski tidak menitikkan air mata, tapi tutur kata Ananda cukup membuat Katra tersentuh. Namun, pria keji itu menyembunyikan perhatiannya kepada Ananda, dia juga lebih memilih terlihat kejam dari pada lembek.
Entah sejak kapan dia merasa sayang terhadap pemuda itu.
“Jangan pernah menyentuh gadis ini! Kau paham?” tandas Katra dengan suara nyaring.
Pemuda bertubuh kurus tersebut mengangguk dan menjauhkan diri dari Kanilaras. Sungguh malang, dia memiliki perasaan, tapi tidak bisa memadu kasih.
Cuaca yang semula cerah kini berubah mendung, awan hitam seakan menyelimuti langit biru. Suara petir yang menyambar-nyambar membuat Katra sedikit gelisah, terburu-buru dia keluar dari sana untuk memeriksa keadaan.
__ADS_1
Tatkala netranya menatap langit gelap tersebut, jiwanya gusar dan hatinya berkata bahwa akan ada malapetaka yang akan melanda dunia modern ini.
“Ananda cepat bawa mereka keluar!” titah Katra sangat khawatir.
Dia ingat betul dengan tanda-tanda ini, dari petir menyambar dan awan gelap menyamar. Kicauan burung dan suara binatang lainnya hilang dan digantikan dengan gemuruh angin.
“Ananda cepat!” teriak Katra dengan kepala menoleh ke belakang.
“Memang ada apa Ayah? Dan kenapa kita harus pergi dari sini?” desak Ananda sambil melangkah mendekati Katra yang berdiri di ambang pintu goa.
Jelaga hitam yang mengilat seketika mendelik mendapati cuaca berubah dengan sangat cepat, dia pikir sore ini hanya akan turun hujan semana mestinya. Namun, dugaannya meleset.
“Apa ini Ayah?” Memalingkan wajahnya untuk mendapati sosok pria yang dia sebut ayah.
“Ini kehancuran Ananda,” sahut Katra dengan suara lirih.
Mata pria itu nanar menatap bebatuan melayang dan suara serigala mengaung membuat pria itu mengkhawatirkan dua manusia yang Ananda bawa.
“Apa yang harus kita lakukan Yah?” Ananda—manusia cerdik itu kini berubah layaknya satwa kecil tercebur ke got.
“Menjauh dari tempat ini dan bawa mereka pergi!” titah Katra yang masih terpaku menatap kegelapan langit di sore itu.
“Apa yang kau lakukan? Cepat pergi!” Suara bentakan Katra membuat Kanilaras terbangun.
Gadis kerajaan kuno itu duduk dengan tangan yang memegangi kepalanya. Perlahan dia membuka kelopak matanya dengan lebar, lalu melihat dengan teliti di mana sekarang dia berada.
Apa-apa ini? Kenapa bisa aku berada di sini? Dan ... Kendrick juga! Hati gadis itu terus berkata-kata dan otaknya masih bekerja keras mengingat kejadian sebelum dia berada di goa ini.
__ADS_1
Masih berkutat dengan pikirannya sendiri, Kanilaras terkejut tatkala mendengar suara gemuruh angin dan petir menjadi satu.
“Ada apa lagi itu?” Langkah kakinya gontai saat menyusuri lorong goa.
Ketika dia sampai di luar sana, bulu kuduk gadis itu berdiri dan entah kenapa dia mengingat kejadian saat dia melarikan diri dari kejaran ratusan prajurit siluman ular. Namun, ada yang membuatnya bingung, kenapa dia merasa badai ini lebih dahsyat dari yang sebelumnya.
“Sebaiknya kita pergi dari sini Paman.”
Perkataan Kanilaras membuat Katra dan Ananda tersentak.
“T-tuan Putri,” ucapnya gugup.
Hatinya gusar dan khawatir, tapi dia menyembunyikan perasaannya sebaik mungkin agar Kanilaras tidak curiga terhadapnya.
“Sejak kapan Putri berada di belakang kami?” tanya Katra memastikan.
“Jangan banyak bicara! Sebaiknya kita pergi lebih cepat,” saran Kanilaras yang sudah berbalik badan ingin menghampiri Kendrick yang tidak sadarkan diri di dalam sana.
“Tidak perlu repot-repot untuk pergi.”
Penuturan itu membuat Kanilaras menolehkan kepalanya. Terlihat sepasang kaki yang masih melayang di udara dan perlahan sepasang kaki tersebut turun dan berpijar di atas tanah.
Sepasang mata Kanilaras, Katra dan Ananda melotot tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
“Kenapa kalian terkejut?” cibir orang itu dengan wajah beringasnya.
“Kau pikir aku bodoh dan lemah!” ucapnya bersungut-sungut.
__ADS_1
Matanya yang lebar memerah dan saat kedua tangannya mengepal api menyala di kedua kepalan tangan tersebut. Tentu saja mereka bertiga cemas dan khawatir akan keadaan mereka yang semakin terdesak.
Embusan angin sekarang ini tidak menghantar rasa sejuk melainkan menghantarkan hawa panas yang terpancar dari seorang musuh yang sangat kuat nan tangguh.