
Setelah dapat melumpuhkan Beril dan kedua bawahannya, Ananda memilih bersembunyi di ruang pemeriksaan selama beberapa hari.
Hari ini dia memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Ketika dia melangkahkan kaki keluar ruangan, dia melihat ada beberapa soldier yang berjaga di berbagai titik. Meski ragu, Ananda tetap membulatkan tekad untuk melumpuhkan salah satu soldier yang saat ini tengah berjaga di pintu samping.
Perlahan, tapi pasti Ananda mendekati pria yang disebut soldier tersebut. Lantas dia memutar leher pria itu sampai tewas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Ananda bergerak cepat menarik tubuh pria yang dia lumpuhkan beberapa saat yang lalu dan setelah itu dia memakai setelan soldier Kendrick sebelum memasuki black house kebanggan semua penghuni termasuk Kanilaras.
Dengan gaya khasnya, Ananda berjalan dengan jumawa menyusuri setiap ruangan sampai dia menemukan ruangan yang dia cari sejak tadi.
"Apa tujuanmu ke sini?" tanya Darius—soldier keamanan dapur.
Ananda menyunggingkan senyuman tipis, lalu mendekati pria berkumis tebal tersebut.
"Aku utusan Tuan Kendrick. Beliau memintaku untuk datang ke sini," jawab Ananda seraya mengibaskan tangan kirinya.
Tanpa sepatah kata lagi Darius memberi jalan untuk Ananda masuk ke dalam dapur. Pria itu terkekeh melihat soldier Kendrick mudah dikendalikan, tanpa harus mengeluarkan tenaga dalam yang lebih.
Setelah melewati soldier dan juga para chef di dapur, Ananda keluar membawa sepiring makanan ringan yang biasa Kendrick makan sebelum menyantap sarapan. Kenapa Ananda bisa tahu makanan ringan yang biasa Kendrick makan sebelum sarapan? Karena selama tiga hari ini Ananda mengamati semua gerak gerik Kendrick dan semua penghuni rumah ini begitupun Kanilaras yang tidak luput dari pandangan matanya.
Pemuda bertubuh kurus itu telah berhasil menaburkan serbuk putih atau lebih tepatnya obat tidur di atas makanan tersebut. Tanpa menunggu lama Ananda langsung menyajikan makanan itu di hadapan Kendrick yang tengah menunggu kedatangan Kanilaras.
"Sejak kapan kau menjadi soldier-ku?" tanya Kendrick heran.
Lagi-lagi Ananda melakukan hal yang sama pada Kendrick agar pria pemilik bangunan megah ini tidak ingat siapa dia yang sesungguhnya.
"Silakan dimakan, Tuan!" perintah Ananda kalem.
Bersamaan dengan piring yang diletakan di atas meja Kanilaras telah mendaratkan kedua kakinya di ujung anak tangga.
“Kenapa kau harus mengutus dia masuk ke dalam kamarku, Ken?” protes Kanilaras yang tidak terima akan kelancangan Beril.
Kendrick yang hendak mendaratkan makannya ke dalam mulut, harus mengurungkan niatnya karena kedatangan Kanilaras yang tiba-tiba dan Ananda yang terkejut akan kedatangan Kanilaras buru-buru meninggalkan meja makan tanpa mengatakan apa pun. Tidak lupa dia menuangkan sisa obat tidur itu ke dalam teko yang berisikan orange jus.
__ADS_1
“Apa maksudmu, Aras?” Alih-alih menjawab Kendrick malah balik menanyakan hal yang diributkan oleh Kanilaras.
Gadis yang masih mengenakan piyama itu berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri pria yang berpenampilan sangat rapi. Kanilaras diam dan matanya mendelik menatap Kendrick, jari telunjuk gadis itu mengacung ke arah Beril yang berdiri tidak jauh darinya.
“Maafkan saya Tuan!” Beril membungkukkan tubuhnya dan kembali angkat bicara, “saya telah mengetuk pintu kamar Nona berulang kali, tapi tidak ada jawaban ataupun suara Nona yang terdengar dari dalam. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk masuk meski tanpa izin,” imbuh Beril menjelaskan keterpaksaannya masuk ke dalam kamar Kanilaras.
Kendrick menggulirkan bola matanya sampai menemukan wajah imut Kanilaras. Kening pria itu mengkerut dan kedua alisnya hampir menyatu. Meski tanpa berucap Kanilaras dapat mengetahui bahwa Kendrick tengah memprotes sikapnya.
"Apa?" bentak Kanilaras yang mencomot makanan Kendrick.
"Kau lapar?" tanya Kendrick dengan lantang.
Mungkin orang lain akan mengira jika pria itu tengah membentak Kanilaras. Kendrick memanglah seperti itu, dia tidak pernah bisa berkata lembut ataupun berbasa-basi dengan lawan bicaranya dan dia juga tipe manusia yang ceplas ceplos tanpa filter.
"Ya sudah makan!" tawar Kendrick mendorong piring makanannya ke hadapan Kanilaras.
"Kita makan bersama saja, Ken! Ini terlalu banyak," sahut Kanilaras yang saat ini memasukan sendok ke dalam mulutnya.
"Suapi aku!" pinta Kendrick tanpa malu-malu.
"Kau sudah tidak waras?" ujar Kanilaras dengan mata yang memicing.
"Kau lupa?" Melirik dada kirinya sambil menepuk area ulu hati.
Kanilaras mendengus kesal, dia benar-benar tidak percaya akan sikap manja Kendrick yang tidak masuk akal.
"Kau mau menipuku!" bentak Kanilaras sambil menyodorkan sesendok makanan.
Meski berdebat, dua insan tersebut saling menyuapi satu sama lain. Sampai di mana makanan itu telah tersisa separuh.
"Ken, apa kau merasakan hal yang sama denganku?" Kanilaras menggelengkan kepalanya dengan mata yang terpejam lalu sedetik kemudian kelopak matanya terbuka lagi, tapi pandangan matanya sedikit memudar.
__ADS_1
Manusia yang Kanilaras tanyai telah tidak sadarkan diri dengan kepala yang tergeletak di atas meja.
"Hyang Widi ... apa yang mau kau lakukan?" keluh Kanilaras sambil menepuk pipinya sendiri.
Ketika kelopak mata Kanilaras hampir terkatup, telinganya mendengar suara yang cukup dia kenali.
"Apa Bibi bisa mendengar ku?" sapa Ananda seraya melambaikan tangannya di depan wajah Kanilaras.
Berulang kali dia melakukan hal itu demi memastikan tingkat kesadaran dua orang yang dia bikin tidak sadarkan diri.
"Selesai." Ananda menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.
"Apa yang selesai?" tanya Beril mencebik.
Sontak Ananda membalikkan tubuhnya menatap lekat-lekat lawan bicaranya.
"Tidak ada yang istimewa," sahut Ananda dengan mengeluarkan jurus menghilang.
Beril yang mendapati sosok itu menghilang bersama dengan tuan dan juga Kanilaras langsung berteriak memanggil seluruh anggota soldier dan juga worker yang dipimpin oleh Bibi Kenny.
...****************...
Di luar sana tepatnya di jantung hutan Ananda menyeret dua manusia itu ke dalam goa yang biasa dikunjungi Katra. Pemuda yang mengaku sebagai anak Raja Darmawangsa bersila dengan tangan yang menempel di dada.
"Ayah, aku sudah mendapatkan dua pedang yang Ayah inginkan," tuturnya di sela ngerogo sukmo.
Dari tengah goa ada seberkas cahaya yang semakin lama semakin membesar dan menerangi goa yang tadinya gelap gulita, tentu saja Ananda tersenyum lantas sedetik kemudian tampak seringai di wajah pemuda itu.
"Sebentar lagi, kita akan menguasai dua zaman ini ayah."
Entah sejak kapan pemuda itu tahu tentang dua kehidupan yang berbeda yang jelas dia sangat bersemangat saat mengucapkan kalimat 'menguasai dua zaman' dan siapa yang dia panggil ayah. Sedangkan Raja Darmawangsa dan seluruh keluarganya telah tewas saat terjadinya pembangkitan Ratu Kegelapan.
__ADS_1
Beliau berserta seluruh anggota inti meninggal karena dampak pembangkitan tersebut.