Jiwa Pedang Legenda

Jiwa Pedang Legenda
Tega


__ADS_3

"Tolong lepaskan saya, Tuan!" pinta Kanilaras dengan wajah memelas-nya.


"Maaf Nona! Ayah Anda telah menukar Anda dengan sejumlah uang," tutur Beril menjelaskan.


Mendengar hal itu Kanilaras diam tidak meronta lagi, bahkan dia meminta Beril untuk menurunkannya.


"Saya bisa jalan sendiri Tuan, tidak perlu Anda repot-repot memanggul saya seperti ini. Saya janji tidak akan lari!" katanya meyakinkan Beril—suruhan Kendrick pengusaha batu bara dan saku-saku.


Mereka berdua pun berjalan beriringan sesekali Beril memandangi Kanilaras, bukan karena wajahnya yang ayu. Namun, dia takut gadis itu berbohong dan lari dari sana.


Sekian detik berjalan, kini mereka telah sampai di mana ada Kendrick dan juga Broto—bapak Kanilaras di abad 21 ini. Tanpa rasa bersalah Broto menyerahkan anak gadisnya pada orang yang tidak dia kenal.


"Malam ini kamu harus ikut Tuan ini, ya. Dia akan menjadi majikanmu, setelah hutang bapak lunas segera pulang!" cakapnya tanpa rasa malu.


Kedua alis Kendrick tertaut. ekspresi wajahnya seakan tidak setuju dengan perkataan Broto tadi.


"Aku akan memberikanmu uang lebih. Jadi ... jangan kau mengharapkan dia pulang ke rumahmu." Berbicara tanpa menatap wajah Broto ataupun Kanilaras, pria itu fokus menatap cerutu yang sedari tadi dia isap.


Kanilaras menggenggam erat lengan baju bapaknya dan kepala gadis itu menggeleng cepat menolak usulan dari pria yang dia tatap dari samping sejak tadi.


Wajah muram Broto berganti sumringah, dia sangat tidak percaya bahwa nilai putrinya sangat tinggi. Sehingga tuan muda yang dia temui beberapa menit yang lalu memberikan penawaran yang sangat fantastis.


"Berapa Tuan akan membayar?" Pertanyaan laknat yang menghancurkan hati dan harga diri anak gadisnya.


Kendrick menampilkan smrik-nya dan pria itu mengambil cek yang ada di tas kerjanya.


"Berapa yang kau minta?" tantang Kendrick dengan suara bariton.


"Sebentar Tuan! Saya perlu menghitung semua hutang dan keperluan saya selama Kani tidak di rumah," ujarnya kegirangan.


"Bapak!" rengek Kanilaras dengan air mata yang terus menetes.


Wajah tanpa berdosa itu kembali tersenyum dan tangannya menepuk punggung tangan Kanilaras berusaha menenangkan hati resah anak gadisnya.


Kepalanya tertunduk, rasa takut dan cemas telah ter-aduk menjadi satu, jemarinya tidak berhenti memainkan ujung kaos yang dia kenakan saat ini.


"Siapa namamu?" tanya Kendrick pelan, netra pria itu melirik sekilas penampilan gadis yang masih berdiri dekan pintu mobilnya.


"Kanilaras, Tuan."


"Berapa usiamu?" Kendrick kembali bertanya.


Kepala Kanilaras terangkat dan melihat wajah pria itu lebih teliti.


"Jawab!" ketusnya.

__ADS_1


"Ehm ... d-dua empat Tuan," jawabnya gugup.


Ini bukanlah transaksi pertama Broto, melainkan ini transaksi ke sekian kalinya. Namun, bedanya kali ini Kanilaras tidak akan kembali ke rumah besar milik Brotoseno—bapak yang tergila-gila judi dan mendewakan permainan angka.


Biasanya Kanilaras akan menjadi pembantu di rumah orang yang memberikan pinjaman pada bapaknya dan akan pulang jika 6 bulan setelah hutang ayahnya lunas. Menjadi pembantu di rumah adik kandung Broto, walau status mereka sebagai kakak beradik Suseno tidak menganggap Kanilaras sebagai keponakannya.


Dia hanya menganggap gadis itu adalah mesin bersih-bersih dan dia juga merasa senang menampung Kanilaras di sana karena keponakannya tersebut sangat rajin tidak perlu membayar meski gadis itu bekerja hampir 20 jam sehari.


"Tuan saya telah menentukan jumlah uang yang saya inginkan," tuturnya penuh senyum sembari menyodorkan cek yang telah dia tulis nominalnya.


Kendrick menatap angka yang Broto tulis, alisnya terangkat sebelah dan memandang anak dan ayah itu secara bergantian.


"Yakin ini cukup?" tanya Kendrick meyakinkan bapak biadab tersebut.


Broto celingukan tidak percaya apa yang dia dengar.


"Boleh saya tambahin Tuan?" pungkasnya memastikan apa yang tuan itu katakan, "dua miliar banyak loh, Tuan!" tanyanya kebingungan.


"Ya, sudah deal dua miliar!" kata Kendrick menyetujui uang yang diminta Broto.


"Apa tidak bisa ditambah Tuan?" Lagi-lagi bapak biadab itu menanyakan hal yang tidak masuk akal.


"Bapak jangan biarkan orang ini membawa Kani, Pak!" merengek meminta belas kasih sang bapak.


Di sepanjang perjalanan gadis itu terisak menangisi nasibnya yang mirip seperti bola pingpong, dilempar ke sana kemari demi memuaskan hasratnya gila bapaknya akan perjudian.


"Bisakah kau membungkam mulut baumu itu, heum!" Kendrick menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Pria bermata hanzel green itu sangat risih mendengar tangisan, siapa pun itu. Dia sangat membenci orang yang menangis, baginya tangisan itu mala petaka.


"M-maaf Tuan! S-saya akan menahan suara saya," katanya terputus-putus.


"Bagus! Jika telinga masih mendengar suara tangisan, bersiaplah kehilangan kepalamu yang tidak berharga ini!" Rahang Kendrick mengetat.


Mendengar ancaman Kendrick bulu kuduk Kanilaras meremang, nyalinya menciut dan detak jantungnya sekan melambat berdetak yang mengakibatkan dia lemas. Wajahnya tampak pucat, tapi Kendrick tidak peduli akan apa yang dirasakan oleh Kanilaras.


Setelah melewati banyak waktu kini mereka telah sampai di black house—rumah yang akan Kanilaras tempati untuk selama-lamanya. Netra gadis itu terbelalak menatap keagungan bangunan megah ini, seumur hidupnya belum pernah melihat rumah sebagus dan semegah ini.


Ketika dia turun dari mobil, matanya menatap penuh heran pada pelayan wanita yang berdiri sejajar menyambut kedatangan tuannya yang membawa dia dari kota ke tengah hutan ini.


"Selamat malam Tuan dan Nona," sapa para pelayan menyambut gadis cantik yang mengenakan baju kaos yang lusuh.


Reflek Kanilaras membungkukkan badannya dan menyapa kembali para pelayan yang tampak antusias dengan kehadirannya di sini.


"Sudah tahu tugas Bibi besok pagi?" tanya Kendrick pelan.

__ADS_1


Bibi Kenny mendongak dan menganggukkan kepalanya, "Sudah kami persiapkan perlengkapannya, Tuan."


"Bagus!" sahutnya seraya melenggang masuk meninggalkan gadis itu bersama para worker.


"Mari Nona, kami antar ke kamar Nona." Salah satu worker mempersilahkan penuh sopan untuk Kanilaras melangkah terlebih dahulu.


"Jangan memanggil saya, nona! Saya sama seperti kalian. Hanya seorang pelayan," bisik Kanilaras yang membuat para worker tersentak bingung.


"Anda adalah gadis Tuan, kami. Mana mungkin kami memperlakukan Anda dengan tidak baik," kata Bibi Kenny menyadarkan Kanilaras.


Kedua tangan Kanilaras bergerak cepat menolak apa yang dikatakan pelayan senior di black house.


"Saya bukan tamu atau semacamnya, saya hanya seorang gadis biasa yang di tukar dengan uang." Begitu polosnya Kanilaras membeberkan segala peristiwa yang baru saja dia alami.


"Jaga ucapan Nona!" bentak Bibi Kenny dengan suara yang mencicit.


Sontak gadis itu membungkam mulutnya dan manik cokelat itu melirik ke kiri dan ke kanan, takut orang yang membawanya mendengar suaranya yang menggelegar.


"Jangan banyak membantah! Ikuti saja kami!" tegas Bibi Kenny.


Lagi-lagi Kanilaras hanya bisa mengangguk mengiyakan perintah dari wanita yang lebih tua dari para worker yang dia lihat saat ini.


Deretan para worker membuntut di belakang Kanilaras dan juga Bibi Kenny. Selepas menaiki anak tangga, Bibi Kenny memerintah Olan, Rasti dan juga Berlian untuk membantu Kanilaras bersih-bersih diri.


"Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri!" tolak Kanilaras dengan rasa canggung.


"Jangan membantah!" tukas Bibi Kenny yang membuat Kanilaras tersenyum kecut karena tidak dapat menolak perintah wanita paru baya itu.


Bergegas 3 wanita yang dipanggil worker tersebut menuntun Kanilaras masuk ke ruangan lembab yang sangat luas.


Wah, bagusnya. Jika ini digunakan 10 orang juga akan muat, batinnya penuh gairah.


Tanpa dia sadari bibir tipisnya mengulas senyum. Worker yang bernama Olan melontarkan pertanyaan lugas.


"Hati Nona sangat senang, ya?" Kanilaras mengangguk cepat.


Kegembiraan itu hilang seketika saat Rasti membahas tentang rencana Kendrick besok pagi. Keningnya mengerut dan buliran bening keluar dari sudut matanya, sungguh tidak dapat di percaya.


Sungguh tidak dapat dipercaya kedatangannya kemari akan merubah seluruh kehidupannya.


“Kenapa Nona sangat terkejut? Apa tuan tidak memberitahu Nona?” Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Berlian.


Tiga worker itu saling melempar pandangan dan sedetik kemudian mereka menelan kasar saliva mereka secara bersamaan walau tidak ada aba-aba.


“Maafkan kami, Nona.” Olan, Berlian dan juga Rasti berlutut di hadapan Kanilaras sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2